Memahami Cara Kerja ‘Takaran Allah’ (Qadha’ dan Qadar) Untuk Setiap Diri Kita

Di antara rukun iman ialah percaya kepada qadha’ dan qadar Allah.

Bahwa segala apa yang akan terjadi kepada seluruh makhluk Allah, termasuk manusia dan alam raya ini, telah ditentukan oleh Allah di Lauh Mahfudz–yang tak satu pun dari kita tahu bentuk-bentuk keputusanNya itu.

Lalu pada satu hari saya mendapatkan order melimpah, misal, itulah keputusan Allah (qadha’) yang telah ditakarkanNya (qadar) kepada saya. Umpama di suatu minggu lainya saya ditimpa suatu kerugian dagang, itu pun keputusan Allah (qadha’) yang telah ditakarkanNya (qadar) kepada saya.

Sekali lagi, wajib hukumnya buat semua kita untuk mengimani qadha’ dan qadar Allah.

“Lalu Kami tentukan (hukum-hukumnya), maka Kami lah sebaik-baik yang menentukan. (QS. Al-Mursalah ayat 23)

Ayat tersebut menggunakan diksi qadar untuk menunjukkan adanya suatu keputusan dariNya. Diksi qadar tersebut diterjemahkan sebagai hukum dan ketentuan. Suatu hukum yang melingkupi hidup kita, dalam segala bentuknya, jelas lebih besar dan berkuasa dibanding diri kita.

Hukum pidana bagi penipu, misal. Siapa pun kamu jika melakukan pelanggaran hukum itu, maka kamu tak bisa lari dari sanksinya. Kamu harus menerima hukumannya. Itu tanda bahwa setiap hukum meliputi dan menguasai diri kita.

Apalagi hukum Allah. Semua keputusanNya yang sudah terjadi (takdir) ataupun belum terjadi yang kita tak tahu, otomatis melingkupi dan menguasai diri kita.

Silakan saja kamu bating-tulang siang malam untuk menggarap sesuatu, tetapi soal hasilnya, semua akan sesuai saja dengan qadar Allah yang ditentukan dan dihukumkan kepada diri kita. Itulah keputusannya (qadha’-Nya) kepada setiap kita.

Dengan memahami dan memegang prinsip fundamental (imani) tersebut seperti itu, buat kita yang beriman ia akan membuahkan watak ketawakalan atas apa pun yang diterjadikan Allah kepada diri kita. Mau pahit atau manis, semuanya keputusan (qadha’) dan takaran (qadar) Allah. Tatkala prinsip demikian selalu menyala di hati kita, masihkah logis untuk menemukan diri kita girang luar biasa ketika mendapatkan limpahan uang, misal, atau sedih luar biasa manakala menghadapi kerugian pada suatu bisnis kita, misal?

Sudah pasti mustahil!

Inna auliya-allah la khaufun ‘alaihim wala hum yahzanun, sesungguhnya para wali Allah (hamba-hamba Allah) tidak akan merasakan rasa takut dan sedih dalam hidupnya,” tutur surat Yunus.

Mau sukses, itu qadar Allah (bukan karena hebatnya saya); mau rugi, itu pun qadar Allah (bukan karena kurangnya ikhtiar saya).

Sukses lantas takkan membuat hati kita jemawa bin pongah dan gagal takkan membuat hati kita kalut dan apalagi depresi. Semuanya adalah qadar Allah–yang kita tak tahu sebelumnya akan seperti apa itu—dan begitu terjadi pada suatu hari pada hidup kita, mau manis atau getir, kita siap menerimanya dengan kelapangan atau pun kesyukuran.

Maka titah Allah kan begini, “Jika kalian bersyukur, akan Kutambahkan tetapi jika kalian kufur sungguh siksa azabKu sangatlah pedih.

Bersyukur dan kufur lalu menjadi ekspresi konkret dari sikap batiniah kita di hadapan dua kemungkinan (manis atau getir) yang telah ditakarkan oleh Allah. Mau bersyukur alias patuh pada hukum-hukum Allah (menjalankan semua perintahNya dan menjauhi semua laranganNya), Allah menjanjikan pertambahan nikmatNya; mau kufur alias ingkar pada qadar Allah, misal mengandaikan dengan pongah bahwa kesuksesannya berkat kecerdasan, strategi, modal, dan jaringan hebatnya, pertanda ia tidak mengimani dan mengakui dalam hati adanya hukum qadar dan qadha’ Allah, tunggulah azabNya, bisa di dunia atau akhirat.

Bila hati dan pikiran kita telah menep pada salah satu rukun iman itu, qadha’ dan qadar Allah, keputusan dan takaran Allah kepada kita, kita takkan lagi sibuk mempertanyakan relasi antara ikhtiar dengan hasilnya (takdirNya).

Tetapi, di sini, sebagai bagian dari usaha memuaskan adanya pertanyaan sejenis, bahkan kegelisahan yang rawan merongrong iman, saya senaraikan dengan cara begini:

Pertama, semua kita tak tahu apa yang telah digariskan Allah kepada kita di minggu depan, tahun depan, dan seterusnya; apakah makin maju atau surut.

Ketidaktahuan kita atas garis hidup masing-masing, sebagaimana disebutkan dalam surat al-Hadid, dimaksudkan oleh Allah “agar kalian tidak berputus asa pada apa-apa yang belum diraih dan tidak berbangga hati pada apa-apa yang telah diraih.” Itu hikmahnya.

Sebab kita tak tahu, sudah seharusnya kita mengejar segala cita-cita yang kita dambakan. Itulah ikhtiar. Berikan ikhtiar terbaik. Konsep, strategi, jaringan, kapital, promo, dll., merupakan bagian dari kewajiban ikhtiar itu.

Faktanya, ikhtiar sebaik apa pun ternyata tidak mesti membuahkan kesuksesan, kadang yang kita tuai adalah kegagalan. Bahkan untuk hal-hal yang kita pernah berhasil di masa sebelumnya. Inilah buahnya, hasilnya, qadar-Nya, qadha’-Nya. Buah ini tak perlu kita pertanyakan, apalagi gugat, tapi cukup terimalah sebagai keputusan atau takaran kita yang ditetapkan Allah sebagai hal terbaik buat diri kita kini–sekalipun itu adalah kegagalan atau kegetiran.

“Bila hasil suatu ikhtiar memang telah ditentukan oleh Allah, misalnya gagal, lalu apa gunanya ada ikhtiar lagi?”

Bila ada soal demikian, ingatlah kembali pada prinsip dan fakta awalnya bahwa semua kita tak tahu apa yang ditakarkan Allah kepada kita di esok hari. Sebab kita tak tahu, logisnya kita melakukan sesuatu, gerakan, obah, atau ikhtiar lahiriah (melengkapinya dengan  doa-doa), sebagai optimisme dan pengharapan pada pertolongan Allah atas tercapainya impian-impian kita. Siapa tahu (sebab kita tak tahu sama sekali) melalui satu ikhtiar kita, atau doa kita, atau doa orangtua, atau doa karyawan, dll., Allah menterjadikan impian kita sebagai kenyataan.

Bila benar begitu, itulah qadar Allah kepada kita yang kita tahu kini (menjadi takdir). Apakah itu berkat ikhtiar lahiriah atau doa kita dan orang lain? Tidak tahu. Jalan terwujudnya suatu impian menjadi kenyataan, amatlah luas sekali kemungkinannya untuk dijelajahi. Bisa karena sedekah kita, bukan karena gencarnya promosi kita? Siapa tahu. Hanya Allah yang tahu.

“Apakah ikhtiar dan doa bisa mengubah qadar Allah yang telah ditentukan di Lauh Mahfudz dan kita tak tahu bagaimana bentuknya?”

Secara logis, jelas harus dikatakan bahwa sangat bisa, sebagai bentuk optimisme atas petolongan Allah kepada diri kita (wala taiasu min rauhillah, janganlah berputus asa dari pertolongan Allah). Kita tidak bisa menjawab sebaliknya.

Kenapa begitu?

Sebab akal kita tak tahu sama sekali bentuk ketentuan atau qadar Allah kepada kita di masa depan. Ketentuan yang misterius itu bisa berbentuk apa saja, yang manis atau getir. Maka, logisnya, jika suatu hari kita mengalami rasa manis, itulah yang kita tahu.

Begitupun sebaliknya. Apakah rasa manis itu adalah ketentuan lama yang telah ditetapkan Allah atau baru (diubah oleh Allah), itu murni keputusan Allah. Hak PrerogatifNya.

Lagi pula, masih secara logis, bukankah proses penentuan keputusan Allah itu “tidak penting” buat kita: satu sisi kita tak tahu dan mustahil menalarnya dan sisi lain yang mampu kita lihat, jangkau, dan nalar hanyalah hasilnya, bentuk nyatanya yang terjadi. Lalu, di mana letak urgensinya untuk mengurus dan mengajukan pertanyaan seperti tadi?

Kita semua lalu mengerti satu hal di sini bahwa mengimani dan mematuhi apa pun qadha’ dan qadar Allah kepada setiap kita, mau manis atau pahit, mau sukses atau gagal, adalah kemutlakan ruhani (spiritual) di satu sisi dan pula satu-satunya cara menalar yang menyejukkan di hadapan realitas apa pun?

Kita hanya berkewajiban mengimaninya dan lalu mematuhinya alias menempatkan diri pada porsi dan posisi takaran-takaran yang kita hadapi atau jalani. Itulah dasein kita, dalam istilah filsafat eksistensialisme, posisi keberadaan kita, kewujudan kita, alias ketasyakuran kita atas apa pun itu yang tentu saja hanya akan bisa tegak dengan prinsip dan nalar ketawakalan.

Buahnya, dengan cara bernalar begitu, pikiran dan hati kita jadi tenteram, sejuk, dan rela menghadapi apa pun bentuk kenyataan kita kemudian.

Maka, di hadapan qadar, Allah meletakkan perintah (amar) untuk mematuhi, alias menerimanya, dan melakoninya dengan lapang dada. Itulah way of life bagi muslim/muslimah yang dibuahkan oleh keimanannya pada qadha’ dan qadar Allah.

Dan dengan alasan yang sama, seluruh makhluk Allah di alam raya ini, termasuk benda-benda langit dan bumi, bertasbih kepadaNya, mematuhi semua qadar-Nya, sehingga alam raya ini berjalan dengan harmonis. Alam raya pun adalah muslim pada hakikatnya.

So, jika kamu ingin memiliki hidup yang harmoni dan sejuk-tenteram, jadilah muslim yang patuh dan ikhlas pada apa pun qadha’ dan qadar Allah.

Lakoni peranmu, takaranmu, porsimu, posisimu.

Oleh: Edi AH Iyubenu.

 

Tinggalkan Balasan