kisah orang soleh yang tertipu

Memahami Hal Buruk yang Menimpa Orang Soleh

Taqarrub ilallah dengan cara melaksanakan semua perintahNya dan menjauhi semua laranganNya sudah pasti adalah hal mulia yang mesti selalu kita perjuangkan. Bila kita semakin mampu istiqamah menegakkannya, otomatis kita semakin ‘menyatu’ denganNya. Secara lahiriah, itu adalah karakter orang soleh.

Namun seyogianya kita pun mesti segera memahami dan menyadari bahwa Kasih Sayang Allah kepada hamba-hambaNya yang soleh tidak serta merta berwujud dalam karunia-karunia yang bersifat lahiriah (material-finansial) semata. Memahami ‘pahala-pahala amaliah solehah’ di dunia hanya dalam skala material itu segendang sepenarian dengan menggerus keluasaan Allah pada kebendawian belaka. Sikap begini jelas bukanlah sikap yang terpuji. Ia bahkan dapat dinyatakan sebagai sikap yang berselubung hawa nafsu belaka.

Sayangnya, pemahaman seperti inilah yang semakin ruah bagai bah kita tencapkan ke dalam jiwa kita. Sayang sekali.

Mari kita renungkan sebuah ayat dalam al-Qur’an yang artinya, “Allah lah yang meluaskan rezeki kepada siapa pun yang dikehendakiNya dari hamba-hambaNya dan menyempitkannya. Sesungguhnya Allah Maha Mengatahui atas segala sesuatu.

Kita urai dengan cara begini:

Pertama, sumber terjadinya segala hal dalam hidup kita adalah semata Allah. Tiada lain selain Allah. Ini mutlak kudu kita imani tanpa sedikitpun syak. Sudahkah Anda begitu?

Mari berhati-hati pada prinsip dasar tauhid ini. Umpama suatu hari Anda mendapatkan rezeki yang tak terduga, lalu di dalam hati Anda terbetik bersit pemahaman bahwa datangnya rezeki tersebut berkat kecerdasan otak Anda, kompetensi Anda, atau hasil negosiasi Anda selama ini, bukan karena karunia Allah, Anda sudah sirik. Berhati-hatilah!

Al-Hujwiri, seorang pemuka sufi, sebagaimana dinukil Gus Dur dalam buku Tuhan Tidak Perlu Dibela, mengingatkan dengan ungkapannya yang sangat terkenal:

Bila engkau menganggap Allah itu ada hanya karena Engkau merumuskannya, hakikatnya engkau sudah menjadi kafir.

Duh, ngeri sekali, bukan?

Ya, kita pada prinsip hakiki tauhid beginian memang rawan betul terjerengkang bubrah dari khittah tauhid itu. Sedihnya ….

Rezeki yang kita raih hari ini jika kita rumuskan ia sebagai bukan karena karunia Allah, apa pun itu, tepat di detik yang sama kita sudah musyrik kepadaNya. Ya, bagaimana bisa kita mendaku mukmin yang hanif bila kita masih saja berjarak dari hakikat kepapaan kita di hadapanNya yang sepenuhnya Maha Kuasa?

Maka, yakinilah selalu, dan selalu selalu, bahwa hanya Allah lah sumber segala kejadian.

Kedua, karena Allah lah sumber keberadaan kita, sandaran kita, tujuan kita, dan penentu mutlak segala kejadian pada hidup kita, logis bagi kita untuk semata mendekat kepadaNya. Afdhal bagi kita untuk menyandarkan harapan hanya kepadaNya, baik dalam perkara duniawi ataupun ukhrawi.

Anda ingin punya jodoh yang soleh/solehah, lalu Anda dawamkan ngaji al-Mulk setiap pagi dan sore dan membetikkan permohonan khusus tentang jodoh padaNya tepat di ayat 20, itu bagus sebagai cara Anda untuk memohon pertolonganNya.

Anda istiqamah shalat Dhuha demi memohon padaNya agar dilimpahkan rezeki yang halalan thayyiban, itu tentulah bagian dari ikhtiar yang patut diperjuangkan.

Anda ingin dimudahkan dalam setiap urusan hidup ini, lalu mendawamkan shalat Tahajjud menjelang shalat Subuh, lalu lanjut shalat Subuh jamaah di masjid, itu keren sebagai usaha untuk memohon bantuan-bantuanNya.

Ketiga, namun sungguh tak ada kewajiban bagi Allah untuk memenuhi segala pinta kita, bukan karena Allah tak mampu atau sekadar enggan memenuhinya, melainkan karena Allah lah yang Maha Tahu situasi terbaik buat hidup kita kini dan nanti. “Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui atas segala sesuatu”, begitu pungkas ayat tersebut.

Dalam ayat lain, terang Allah menuturkan: “Boleh jadi apa yang kau benci adalah baik bagimu dan apa yang kau sukai adalah buruk bagimu. Allah lah yang mengetahui dan kalian tak mengetahui.

Bisa diterima?

Pasti, yang mampu menerimanya dengan hati jembar, lapang, dan tanpa keluh kesah sedikitpun hanyalah hati yang senantiasa bermandikan cahaya iman. Hati yang tersambung hanya kepadaNya, sehingga segala sesuatu diimani sebagai keputusan terbaikNya buatnya, sekalipun itu tak selaras dengan cita-citanya.

Sudahkah Anda begitu?

Keempat, makanya kita lalu mudah menalar betapa balasan Allah kepada hambaNya yang soleh, yang rajin beribadah kepadaNya, pun rajin menjalankan amal-amal sunnah sekaligus, bisa berwujud kesesuaian dengan harapan ataupun sebaliknya. Boleh jadi Kasih Sayang Allah dikaruniakan kepada hidup kita bukan dalam limpahan rezeki, tapi kesempitan; bukan dalam kekondangan, tapi kesendirian; bukan dalam keluhungan sosial tapi keterkucilan; bukan dalam kemudahan tapi kesulitan.

Saya punya cerita di sini.

Suatu kali saya berkenalan dengan seseorang yang memikat hati. Ia pintar, penguasaan ilmu agamanya di atas rata-rata, banyak hafal ayat al-Qur’an dan hadits Rasulullah Saw., serta pandai menarasikan gagasan-gagasannya. Itu semua, saya pikir, merupakan cermin dari kedalaman ilmunya. Tentu saja saya akan senang sekali menjadi sahabat dekatnya. Boleh jadi saya akan banyak mendulang ilmu darinya.

Waktu berkelejar, bulan demi bulan, hingga terjadilah hal yang tak pernah saya bayangkan. Orang yang saya muliakan tersebut terjatuh pada suatu kemaksiatan yang tak pernah saya bayangkan berani dilakukan oleh orang yang ahli al-Qur’an. Plus penyelewengan amanah yang menyebabkan saya mengalami suatu kerugian materi.

Saya prihatin. Sedih, kecewa.

Saya bertanya dalam hati–selazimnya kebanyakan kita: mengapa Allah menghadirkan orang itu ke dalam kehidupan saya, menjadikan saya terpikat padanya, lalu karib dengannya, dan kemudian tanpa perlu waktu lama Allah pulalah yang menguak siapa dia sesungguhnya?

Saya diam, tafakur, menyebut namaNya.

Logika saya lalu menguntaikan kejadian itu dengan cara begini: pertama, kejadian tersebut hanya mungkin terjadi atas izin Allah untuk terjadi, kedua, ujian Allah bisa datang dari arah mana saja yang tak sekalipun saya bayangkan, ketiga, Allah seolah menunjukkan contoh nyata kepada saya tentang ketidakmenyatuan minyak dan air sekalipun lisan kita berkumur takbir namun tak mampu menyerap ke dalam hati akibat kita tidak lillahi ta’ala. Walhasil, amaliahnya pun jadi fasik, tak selaras dengan wawasan dan untaian lisannya, dan keempat, apakah saya masih mampu berbuat baik bahkan kepadanya di hadapan perbuatan negatif yang telah ditimpakannya pada saya?

Saya lalu memikirkan pelbagai analisis dan refleksi perihal kejadian negatif itu dan korelasinya dengan amal-amal saya. Saya kemudian menyimpulkan bahwa:

(1) hukum kesekufuan mustahil tidak bekerja dalam bangunan relasi apa pun. Seorang penipu mustahil berjalan langgeng dengan seorang yang jujur. Seorang ahli sedekah mustahil awet semeja  dengan seorang kikir. Dan sebagainya.

Semua proses keterpisahan itu bekerja secara sunnatullah, otomatis tersingkap, terkuak, dan lalu terpisahkan dengan alamiah.

(2) ini adalah bentuk Kasih Sayang Allah untuk menjaga saya, dan lingkungan saya, dari dampak negatif yang lebih jauh dan dalam, maka Ia menyingkapkan tabir itu hanya dalam hitungan singkat.

Jika Anda bertanya di titik ini, kenapa Allah perlu menterjadikan hal negatif itu padahal Dia sangat bisa mencegah kejadian tersebut sehingga tak perlu muncul kesedihan atau kerugian bagi hambaNya?

Jawabannya tiada lain adalah: liyabluwakum ayyukum ahsana ‘amala, untuk menguji kalian siapakah di antara kalian yang (tetap) paling baik amalnya.

Pemahaman ini jelas akan sangat produktif buat hati kita sendiri, tak perlu dihunjamkan pada orang lain. Menimba i’tibar dari kejadian negatif tersebut agar kita tak seturut melakukan keburukan yang telah dilakukannya dengan menggadaikan ayat-ayat Allah jauh lebih penting untuk kita genggam selalu ketimbang terus melanturkan kecewa.

Lalu, mensyukuri karunia Allah atas perlindunganNya yang masih saja menyelamatkan kehidupan sosial-ekonomi kita di hadapan kerugian itu jelas berharga betul untuk membuat mata hati kita kembali (selalu) melek akan luasnya Kasih SayangNya kepada kita.

Maka, tidak selalu suatu kerugian adalah kerugian yang haq, sebab boleh jadi ia adalah cara Allah untuk melindungi, menolong, dan mengingatkan kita untuk kokoh di jalanNya; boleh jadi ia adalah cara Allah untuk menyelamatkan kita dari ancaman petaka yang lebih mengerikan di masa depan; dan boleh jadi ia adalah cara Allah untuk menyiapkan rohani kita untuk menyongsong karuniaNya yang lebih agung di masa depan.

Dan segala bentuk perlindungan, pertolongan, penyelamatan, atau penyiapan Allah itu tentunya tak terpisahkan dari amal-amal soleh yang kita istiqamahkan selama ini.

Logis sekali di sini untuk sekarang dinyatakan bahwa bagi seseorang yang soleh haqqa tuqatih, yang hatinya lillahi ta’ala, dan yang hatinya benar-benar takut kepadaNya, semua kejadian –sesempit apa pun—adalah semata wujud nyata kebaikan-kebaikan Allah kepadanya, sehingga ia tak pernah merasa takut dan sedih pada apa pun (la khaufun ‘alaihim wala hum yahzanun).

Inilah bukti bahwa Allah lah Yang Maha Tahu atas hal terbaik buat kehidupan kita kini di saat kita sepenuhnya tak benar-benar tahu dan betapa Allah tak pernah menyia-nyiakan amal soleh hamba-hambaNya sebagaimana yang telah nyata dijanjikanNya dengan terang dalam al-Qur’an.

Kita sungguh mendesak untuk menjadikan prinsip ini sebagai jangkar kehidupan kita, agar kita terlindungi dari rongrongan hawa nafsu yang rajin betul membisikkan syak ke dalam hati:

“Kapan ya janji Allah untuk membalas amal-amal soleh kita dengan kebaikan-kebaikan yang berlipat ganda akan diwujudkanNya?”

Oleh: Edi AH Iyubenu.

Ilustrasi dari sini

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan