Ilustrasi dari incognito.

Membumikan Hakikat Rahmatan Lil ‘Alamin di Era Digital

Tiada syak secuil pun bahwa Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin, rahmat bagi alam semesta ini, termasuk di masa kita kini (era digital). Cukup saya nukilkan dua ayat pendek saja untuk menegaskan tabiat dasar Islam ini:

Surat al-Anbiya’ ayat 107, “Dan tidaklah Kami mengutusmu (Muhammad) selain untuk menjadi rahmat bagi alam semesta ini.

Surat an-Naml ayat 77, “Dan sesungguhnya al-Qur’an benar-benar menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.

Secara etimologis (lughatan), rahmat bermakna cinta dan kasih sayang. Ia juga berartri karunia. Pendek kata, secara isthilahan, rahmat adalah pengayom, penyelamat, pelindung, penjaga, karunia, anugerah (dan yang sejenis) dalam ekspresi cinta dan kasih sayang.”

Epistemologi ringkas ini selaras betul dengan hadits Nabi Saw yang sangat populer ini, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia.

Saya tambahkan satu hadits lagi agar makin tegas makna rahmat tersebut. Dari Abu Hurairah, telah dikatakan kepada Rasulullah Saw, ‘Wahai Rasulullah Saw, berdoalah untuk menentang kaum musyrikin.’ Rasulullah Saw berkata, “Aku tidak diutus sebagai kutukan, tetapi rahmat.” (HR Muslim)

Kini kita mengerti benar bahwa tabiat kerahmatan Islam kepada alam semesta sebagai agama tidaklah ada hubungannya sedikit pun dengan permusuhan, pertikaian, kebencian, dan hancur-menghancurkan. Islam jelas-jelas adalah agama kasih sayang. Dan, kita tahu, kasih sayang dalam artian luasnya adalah etika (akhlak karimah).

Di dalam al-Qur’an, ajaran-ajaran etika ini sangat berlimpah betul. Baik etika kemanusiaan maupun etika kealamrayaan.

Ayat tentang sedekah, yang secara konkret mendorong pada keadilan ekonomi dan empati sosial, tidaklah sedikit jumlahnya. Ayat tentang pernikahan juga ada. Ayat tentang perceraian juga tersedia yang memberikan konstruksi manis bagi kedua belah pihak yang harus berpisah. Ayat tentang merawat dan mendidik anak berjubel. Ayat tentang menghormati tamu ada.

Ayat tentang larangan memasuki rumah orang lain tanpa izin dari pemiliknya juga ada. Ayat tentang ekonomi pun tak kekurangan. Ayat tentang ta’awun (tolong-menolong), syura (musyawarah), musawah (persamaan derajat) yang sangat kerap dijadikan fondasi bagi aktivitas sosial politik umat Islam, juga ada. Termasuk ayat untuk tidak merusak alam raya ini juga ada. Misal dhaharal fasadu fil ardhi bima kasabat aidin nas, telah tampak jelas kerusakan di muka bumi akibat ulah tangan manusia.

Kalian mau ayat tentang apa lagi yang disangka tak ada dalam al-Qur’an, baik yang sifatnya qat’iyyah (menunjuk jelas maknanya) maupun dzanniyah (perlu tafsir lebih terang). Atas dasar kelengkapan kandungan ajaran al-Qur’an sebagai basyiran (pemberi kabar gembira) dan nadiran (pemberi peringatan), sangat dimengerti pernyataan-pernyataan umum yang menegaskan bahwa al-Qur’an meliputi seluruh aspek kehidupan manusia, dari urusan duniawi hingga ukhrawi.

Dalam praktik nyata kehidupan kita di masa kini yang memang semakin kompleks dibanding realitas hidup era Rasulullah Saw dan para sahabat, alamiah belaka sejatinya bila ada fenomena-fenomena baru dalam masyarakat yang ‘sekilas’ tak memiliki landasan nyatanya (konret) dalam al-Qur’an. Ini tak logis untuk diklaim bahwa al-Qur’an tidak kaffah mengkover seluruh realitas hidup manusia. Tidak.

Yang terjadi adalah bahwa di hadapan realitas-realitas baru masa kini yang belum pernah ada pada masa Rasulullah Saw, sahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in, dan seterusnya, sehingga terkesan tak ada hukum syariatnya, al-Qur’an memerlukan penafsiran-penafsiran segar dan baru terkait hal-hal baru dan segar tersebut. Ini menunjukkan dengan nyata bahwa aktivitas menakwil dan menafsir ayat-ayat al-Qur’an seyogianya tak pernah ada selesainya. Mesti terus dilakukan, seiring dengan terus membuhulnya hal-hal kekinian itu.

Dalam uangkapan sebaliknya, jika kita bersikukuh mengatakan bahwa ayat-ayat al-Qur’an tak boleh ditakwilkan dan ditafsirkan (lagi), sejatinya sama halnya kita sedang membangun jarak antara al-Qur’an sebagai payung kudus umat Islam kekinian dengan realitas-realitasnya. Ini jugalah yang lantas menjadikan sejumlah relaitas hidup yang dihuni nyata oleh umat Islam menjadi liar, tanpa payung hukum dari al-Qur’an akibat mampatnya respons tafsir-tafsir.

Plus, yang paling menyesakkan, al-Qur’an dengan sendirinya akan kehilangan aktualitasnya di hadapan realitas dan ujungnya ialah rontoknya tabiat dasar Islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin. Dampaknya al-Qur’an jadi ahistoris, tak nyambung lagi dengan kebutuhan hidup umatnya sendiri.

Jelas kita semua tak pernah mengangankan umat Islam berada dalam situasi tanpa payung hukum berbasis ayat-ayat al-Qur’an dan sunnah Rasul Saw.

Atas dasar diperlukannya tafsir yang terus bergerak di hadapan realitas yang juga terus bergerak ini, kita memahami dengan sangat teguh bahwa cara menakwil dan menafsir al-Qur’an tidaklah bisa dilakukan dengan sembarangan dan oleh sembarang orang.

Kita telah mewarisi, misal, dari Imam Syafi’i kaidah-kaidah Ushul Fiqh sebagai metode penggalian hukum Islam dari al-Qur’an. Kita pun mewarisi kitab-kitab hadits luar biasa dari khazanah salaf, seperti al-Muwatta’ maupun kutubus sittah yang otoritatif itu. Kita pun punya kitab fiqh istimewa yang telah diwariskan oleh para imam mazhab yang kita yakini otoritasnya.

Semua khazanah luar biasa itu tentu saja bisa dijadikan sumber metode dan rujukan dawuh untuk dipertimbangkan dengan seksama dalam upaya membangun bentuk hukum baru dan segar di hadapan realitas masa kini yang juga baru dan segar. Dan, jelas saja, yang mumpuni untuk mengemban tugas-tugas berat tersebut adalah para ahlinya yang telah berjibaku dengan intensif dan panjang pada disiplin-disiplin ilmu tafsir al-Qur’an.

Tepat pada titik inilah, panorama keislaman kita hari ini menjadi riuh dan ruwet akibat terlampau berjubelnya takwil-takwil yang beredar di beranda kita.

Takwil-takwil yang sebagian besarnya dilontarkan oleh orang-orang yang secara keilmuan belumlah punya kapasitas dan otoritas untuk mengeluarkan fatwa dan pendapat fiqh maupun lain-lainnya, seperti politik dan ekonomi.

Akibatnya, beranda kita begitu bising. Umat Islam yang sungguh-sungguh sedang mencari pandangan, rujukan, dan pengetahuan tentang suatu hukum yang di matanya dirasa baru menjadi rawan terkecoh. Ya, terkecoh oleh serakan fatwa yang bermasalah secara keilmuan dan sekaligus dampat mashlahatnya bagi bangunan sosial kita.

Sampai di sini, Islam malah jadi tercerabut dari tabiat dasarnya yang rahmatan lil ‘alamin itu. Kenapa? Karena efek yang justru timbul dominan di beranda kita ialah perselisihan, pertikaian, perpecahan, bahkan kebencian dan faksi-faksian yang mengenaskan.

Dengan kata lain, mereka yang menyibukkan dirinya dengan mengedarkan lalu lalang fatwa dan hukum di ruang publik (nyata maupun maya), padahal mereka tidak memiliki kapasitas untuk menjadi mufti dan mufassir, sejatinya sedang mengeruhkan status Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Sungguh disayangkan, niat hati ingin menghidupkan Islam agar selalu jadi payung bagi realitas hidup kekinian, nyatanya malah terjatuh pada kekeruhan perselisihan yang jelas bertabrakan dengan sifat kasih sayang, akhlak karimah (etika), Islam sendiri.

Sudah seharusnya kita mengambil sikap yang tepat atas kondisi dan posisi setiap kita. Tidak ada maksud saya untuk mencegah siapa pun memahami sumber-sumber utama Islam. Tidak. Tapi janganlah justru kita jadi pengobar perselisihan dan keributan akibat keawaman yang dirayakan.

Vaksin, misal. Betapa mudahnya kita menjadi gamang dan ribut hanya karena beredar fatwa bahwa vaksin itu haram karena mengandung enzim babi yang haram. Pihak ahli terkait telah memberikan penjelasan sebenarnya dengan panjang lebar. Begitupun sejumlah ulama yang otoritatif telah memberikan uraian yang mudah dipahami.

Sayangnya, riuhnya fatwa vaksin haram tersebut terus meluas sampai mengorbankan bukan hanya anak-anak yang sewajibnya kita jaga kesehatannya dengan segala ikhtiar (termasuk vaksin-vaksin), tetapi secara sosial memecah-belah kohesi umat Islam.

Bagaimana mungkin Islam yang kita yakini rahmatan lil ‘alamin malah tampil kontraproduktif demikian? Mustahil. Dan ini akibat fatwa yang tidak otoritatif.

Lain lagi soal tuding-menuding salah, sesat, dan haram amaliah-amaliah sebagian umat Islam yang telah melembaga kuat dalam masyarakat. Ini pun di lapangan memicu ketegangan-ketegangan yang menyedihkan bagi kohesi umat Islam sendiri.

Semua anomali rahmatan lil ‘alamin tersebut hendaknya kita jadikan pelajaran untuk tidak kita ulangi di masa depan. Betul memang bahwa umat Islam yang sebesar ini populasinya akan mengerucut pada mazhab-mazhab tertentu. Betul memang bahwa ikhtilaf pendapat dan fatwa dalam tradisi dan sejarah Islam telah terjadi sejak era sahabat.

Mestinya, semua perbedaan takwil itu bukanlah benalu besar bagi tegaknya rahmatan lil ‘alamin Islam. Mestinya, perbedaan-perbedaan mazhab itu tidak menjatuhkan Islam pada permusuhan dan perpecah-belahan, tapi tetap pada kasih sayang. Ya, kasih sayang sebagai saudara seiman, sebangsa, dan sesama manusia.

Inilah hakikat terbesar Islam yang rahmatan lil ‘alamin: kesejukan, kedamaian, dan persaudaraan. Bukan yang ontran-ontran, sama sekali bukan yang menang-menangan dalam menyalah-nyalahkan.

Oleh: Edi AH Iyubenu.

Tinggalkan Balasan