Mencintai Diam-Diam Itu Bukan Diam-Diam Mencintai Lho.

Mencintai itu fitrah.

Setiap manusia dikaruniai oleh Allah rasa cinta kepada sesama makhluk. Manusia boleh mencintai lawan jenis, tidak ada larangan untuk itu. Hati kita tidaklah mati rasa yang akan terasa biasa saat bertemu dengan lawan jenis yang mengagumkan atau sikapnya yang meneduhkan.

Manusiawi jika ada rasa getaran apabila bertemu pandang dengan seseorang yang diam-diam mencuri hati. Namun, sebagai muslim/ah kita harus tahu bagaimana cara mencintai yang sesuai syariat. Bukan dengan melakukan tindakan yang dimurkai Allah seperti pacaran.

Mencintai yang baik itu dengan cara menyebutnya dalam doa dan memantaskan diri agar kelak diberikan jodoh yang pantas pula. Mencintai seperti ini biasa disebut dengan mencintai dalam diam. Menyimpan rasa kepada seseorang tanpa mengungkapkan. Hanya memendam diam-diam, namun ramai dalam lantunan doa untuknya.

Kalian juga pernah mencintai diam-diam? Atau bahkan sekarang sedang mengalaminya? Sering stalking instagramnya, kah? Sering kepo statusnya di facebook? Atau sering tanya-tanya kabar si doi ke temannya?

Kalau jawabannya kebanyakan sering, patut dipertanyakan lagi, sebenarnya perasaan kalian itu mencintai diam-diam atau diam-diam mencintai?

Memang apa bedanya, bukannya sama saja?

Sebenarnya sama saja. Sama-sama tidak mengungkapkapkan perasaan kepada doi. Namun yang membedakan, mencintai diam-diam itu menyerahkan segalanya kepada Allah.

Apabila rindu, menyampaikan kerinduannya kepada Allah yang Maha memiliki hati doi. Bukan memenuhi linimasa media sosial dengan status galau yang memperlihatkan kalau kita sedang rindu dengan seseorang. Jika rindu malah stalking instagram, memandangi foto, dan melihat foto unggahan lamanya.

Mencintai diam-diam itu bukan dengan mencari-cari jalan agar bisa berpapasan, melihat sekilas wajahnya, atau memandanginya dari kejauhan. Namun, menjaga pandangan dari doi yang belum halal. Malahan yang lebih baik, menghindar tidak bertemu agar tidak menumbuhkan perasaan.

Mencintai diam-diam itu bukan dengan memantau facebook atau whatsappnya sedang online atau tidak. Juga bukan menunggu-nunggu update status terbaru darinya. Namun, bersikap biasa saja.  Tidak girang jika melihat unggahan terbarunya dan tidak sedih apabila tidak tahu kabar terbarunya.

Mencintai diam-diam itu tidak sering menyebut namanya di setiap pembicaraan dengan kawan.

Tidak mengumumkan kepada teman-teman, kalau sedang menyimpan perasaan ke doi. Katanya diam-diam, tapi nyatanya diri sendiri yang membocorkan. Aneh, kan?

Mencintai diam-diam itu menyibukkan diri dengan hal-hal baik untuk memantaskan diri, bukan untuk memikirkan doi setiap hari. Galau apabila doi tidak mengunggah fotonya, tidak melihat status terbarunya, atau tidak melihat sekilas sandal jepitnya.

Kalau seperti ini, sama saja kalian mengotori hati dengan perasaan yang belum halal. Katanya mencintai dalam diam, tapi galau kepikiran dan berharap berlebihan. Kalian tahu Fatimah dan Sayyidina Ali, nggak? Kisah cinta mereka bisa kita jadikan teladan.

Jadi ceritanya, awalnya itu Ali tidak pernah tahu apakah rasa yang bersemayam dalam hatinya itu adalah cinta. Ketika hatinya tersentak mendengar kabar Abu Bakar melamar Fatimah. Seorang laki-laki tangguh pembela Islam dengan harta dan jiwanya.

Ali tahu, Nabi pasti menerima lamaran Abu Bakar. Laki-laki seperti Abu Bakar pantas menjadi menantu Nabi. Sedangkan, pemuda miskin seperti dia merasa tak pantas bersanding dengan Fatimah. Nyatanya, lamaran Abu Bakar ditolak.

Lama-kelamaan harapannya yang telah pupus, kembali tumbuh. Dia berusaha memantaskan diri agar bisa bersanding dengan putri Nabi. Nyatanya, ujian perasaan datang bertubi-tubi. Banyak laki-laki datang melamar Fatimah. Namun, seorang Ali tak pernah marah.

Seorang Ali tak pernah merutuki diri dan nasibnya. Dia tak pernah berniat bunuh diri hanya karena wanita yang dia cintai diinginkan dan dilamar banyak laki-laki.

Dengan tulusnya, Ali berkata seperti ini, “Aku mengutamakan kebahagiaan Fatimah atas cintaku. Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian atau pengorbanan.”

Ali semakin heran karena semua laki-laki yang datang melamar Fatimah, tidak ada yang diterima. Menantu seperti apa yang diharapkan Nabi?

Setelah Ali mempersilakan banyak orang, namun nyatanya masih ada kesempatan untuknya, dia mengambil kesempatan itu. Akhirnya, Ali melamar Fatimah dengan harta apa adanya dan ternyata lamaran Ali diterima oleh Nabi.

Ada suatu riwayat yang mengisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fatimah berkata kepada Ali, “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu, aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda.”

Ali terkejut dan berkata, “Kalau begitu mengapa engkau mau menikah denganku? Dan siapakah pemuda itu?”

Sambil tersenyum Fatimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah dirimu.”

Begitulah, kisah kesucian cinta mereka tertulis pada sejarah yang tak termakan oleh zaman. Di zaman Fatimah dan Sayyidina Ali belum ada media sosial. Mereka tidak bisa sering bertukar kabar.

Bahkan, setan saja tidak mengetahui bahwa mereka saling memendam perasaan. Karena mereka berdua begitu menjaga kesucian perasaannya. Tapi nyatanya, mereka tetap berjodoh, kan?

Tidak perlu mengumumkan kepada banyak orang kalau kita sedang rindu dan mencintai diam-diam.

Berjodoh itu tidak ditentukan seberapa sering stalking media sosialnya, seberapa banyak orang tahu perasaan kita, dan seberapa sering kita memandanginya dari kejauhan.

Itu terjadi karena hati takut jika kehilangannya. Setan secara halus sudah masuk dalam hati manusia agar tergoda untuk selalu memantau dan memperhatikannya. Daripada waktu terbuang sia-sia untuk melakukan tidak berfaedah seperti itu, lebih baik sibuk memantaskan diri.

Semakin sering diam-diam memantaunya, perasaan dalam hati akan semakin tumbuh. Meletakkan harapan pada orang yang belum tentu berjodoh dengan kita itu pedih rasanya.

Berharap saja pada Allah. Ada Allah Yang Maha Menjaga Jodoh setiap hamba-Nya. Jaga perasaan karena Allah, insyaallah Allah juga menjaga jodoh kita. Penjagaan-Nya begitu baik melebihi penjagaan kita pada diri sendiri.

Setuju?

Oleh: Anik Cahyanik.

Tinggalkan Balasan