Mengukur Kualitas Diri dengan Al-Qur’an

Sudah kokohkah iman di hati saya?

Sudah pantaskah saya menyandang pangkat sebagai umat Rasulullah Saw yang “berhak” atas ridhaNya dan syafaatnya kelak di padang Mahsyar?

Hanya Allah Yang Maha Kuasa yang tahu dan berhak memutuskannya. Akan tetapi, sebagai makhluk rasional, bukan berarti kita tak bisa mencari dan membangun ukuran-ukuran rasionalnya. Soal metode itu kemudian benar tidak, lagi-lagi itu menjadi Hak Prerogatif Allah. Setidaknya, dengan menggelar parameter rasional tersebut, kita menjadi bisa lebih memiliki landasan motivasi, standarisasi, dan statistiknya.

Sederhananya, kita bisa lebih gempal untuk mawas diri dengan ukuran-ukuran rasional tersebut. Umar bin Khattab pernah mengingatkan kita untuk “menghitung diri” dengan dawuhnya, “Hasibu anfusakum qabla an tuhasabu, hisablah (hitunglah amal-amal) dirimu sebelum kelak kalian dihisab.”

Di antara cara menakar kualitas diri itu ialah dengan menjadikan al-Qur’an sebagai alat analisanya. Betul, dekat/jauhnya kita dengan al-Qur’an. Intim/tidaknya, rajin/tidaknya, terpengaruh/tidaknya kita pada keberadaan al-Qur’an sangat bisa dijadikan penakar diri kita masing-masing (dari ihwal iman, amal ibadah, hingga akhlak).

Surat al-Waqi’ah ayat 79 bisa kita jadikan landasan berpikirnya, “La yamassuhu illal muthahharun, tidak akan menyentuh al-Qur’an kecuali oramg-orang yang dibersihkan (disucikan).”

Para ulama fiqh mengartikan ayat tersebut sebagai kewajiban bagi siapa pun yang hendak menyentuh al-Qur’an haruslah dalam keadaan suci (dari hadas besar dan kecil). Tentu saya sepakat. Al-Qur’an adalah mushaf suci, sepatutnya memang selalu memperlakukannya dengan mulia, dan salah satu caranya ialah dengan bersuci terlebih dahulu sebelum memegangnya.

Namun itu skala lahiriahnya. Skala yang lebih mendasar lagi ialah bahwa kesucian al-Qur’an yang dijamin keasliannya sepanjang masa oleh Allah langsung (inna nahnu nazzalnad dzikra wa inna lahu lahafidun, sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur’an dan sungguh Kami akan selalu menjaganya) meniscayakan mustahilnya ia dari jangkauan tangan-tangan yang kotor, najis, penuh dosa, fakir iman. Itu muskil!

Bagaimana cara mudah bagi kita untuk memahami “hukum kemustahilan” tersebut?

Begini.

Pertama, semua kita mafhum dan yakin betul bahwa tidaklah mungkin ada ketidakbenaran atau kesalahan dalam al-Qur’an. Jika ada muslim yang menyangsikan doktrin tersebut, sungguh ia telah kehilangan imannya.

Kedua, hukum kemutlakan kebenaran semua kandungan al-Qur’an itu tercermin nyata dalam kehidupan keseharian kita, termasuk ayat 79 tersebut. Mari cerna dan perhatikan lingkungan terdekat masing-masing (jangan lupa melihat kenyataan pada diri sendiri) dan ajukan pertayaan-pertanyaan begini:

Apakah orang yang gampangan meninggalkan shalat akan dekat dengan al-Qur’an? Tidak. Apakah orang yang gemar menipu dan berdusta punya kebiasaan mendaras al-Qur’an? Tidak. Apakah orang yang suka mabuk, memukul, dan menyakiti orang lain bisa rutin tiap hari mengaji al-Qur’an? Tidak. Apakah orang yang suka berghibah dan mengulik-ngulik masalah orang lain, termasuk yang tak benar-benar diketahuinya sehingga rawan jatuh pada fitnah, bakal punya kebiasaan mengaji al-Qur’an setiap usai Maghrib? Tidak.

Mari kita balik materi pertanyaannya: apakah orang yang selalu memelihara shalatnya, sesulit apa pun keadaan dan posisinya, otomatis dekat kepada al-Qur’an? Iya. Apakah orang yang gemar mendahului minta maaf kepada siapa pun yang dirasa telah dikecewakannya karena takut pada dosa otomatis punya kebiasaan rutin mengaji dan merenungkan kandungan al-Qur’an? Iya. Apakah orang yang digoda lawan jenisnya dan mendapat kesempatan untuk berzina tetapi menolaknya, menghindarinya, karena takut sama Allah punya tradisi istiqamah merenungkan makna-makna al-Qur’an? Iya.

Kalian sangat bisa meluaskan pertanyaan-pertanyaan sejenis kepada hal-hal lainnya seputar kebiasaan dan praktik hidup sehari-hari.

Ternyata, sungguh terang faktanya, dari secuil analisis terhadap kenyataan-kemyataan hidup keseharian kita tersebut saja, tercermin konkret tak terbantahkan dua kesimpulan ini:

(1) mereka yang dekat atau lekat dengan dosa, keburukan, kemaksiatan, dan kefasikan –baik kepada sesama maupun kepada Allah; artinya, perbuatannya bertentangan dengan ajaran-ajaran mulia al-Qur’an–sangat sulit benar untuk memiliki kedekatan dan kebiasaan mendaras, mengaji, dan merenungkan, apalagi mengamalkan ayat-ayat al-Qur’an. Istilah sangat sulit tersebut sejajar belaka dengan suatu kemustahilan dan ketidakmungkinan yang besar sekali.

(2) orang yang perilakunya baik, artinya sesuai dan mengikuti ajaran-ajaran al-Qur’an, terhindar dari perbuatan fasik dan merusak, niscaya memiliki kedekatan kepada al-Qur’an. Dekat karena ia terbiasa istiqamah menyentuhnya, membukanya, membacanya, menyelami makna-maknanya, dan mengamalkan dan mematuhinya.

Orang yang berada di posisi begini, niscaya terpelihara perilakunya dari segala bentuk kekejian dan kemungkaran. Dijaga langsung oleh Allah, dan itulah yang dimaksud “muthahharun” (orang-orang yang dibersihkan/disucikan oleh Allah). Bentuk kata pasif (maf’ul bih) “muthahharun” dalam ayat tersebut mengindikasikan keadaan yang “dijaga, dirawat, dikawal, dilindungi untuk tetap dalam kebaikan, kebersihan, dan kesucian.”

Al-Qur’an yang suci, yang senantiasa dijaga kesuciannya oleh Allah, sangatlah tak mungkin sampai jatuh ke tangan orang-orang yang kotor, penuh dosa, ahli maksiat, dan produsen kefasikan.

Kini, berbekal teori menakar kualitas diri ini, mudahlah buat kita semua untuk merenung-renung dengan mengintrospeksi perilaku kita masing-masing: apakah kita termasuk golongan muslim yang karib dengan al-Qur’an ataukah jauh? Jawabannya adalah sebenar-benarnya siapa kita.

Jika masih jauh, mari bersegera memperbaikinya, mendekatkan diri segera pada al-Qur’an dengan cara sederhana saja: taruh gadgetmu, ambil wudhu sekarang juga, lalu ambil al-Qur’an, ngajilah. Ngajilah sebiasamu, sekuatmu. Berikutnya, simak arti-artinya, hayatilah. Insya Allah, takkan lama hatimu akan mulai gemetar. Itulah cermin baru kualitas dirimu, amalmu, dan pula imanmu.

Oleh: Edi AH Iyubenu.

Tinggalkan Balasan