Menikah itu Bukan Sekadar untuk Memilikinya, tetapi Demi Menambah Kecintaan kepada-Nya

Setiap orang punya alasan dan niat saat akan melakukan sesuatu. Tanpa niat yang kuat, seseorang tidak bisa mantap mengambil keputusan. Ibarat skripsi, latar belakangnya harus kuat. Begitu pun juga dengan menikah. Ibadah yang kita lakukan sampai berakhirnya usia kita ini membutuhkan niat yang kuat saat mengambil keputusan untuk mengakhiri masa lajang. Entah karena sudah mapan, sudah berumur, sudah memiliki pasangan, atau sudah siap lahir dan batin.

Begitu juga dengan memilih pasangan untuk menikah, semua orang mempuyai alasan masing-masing. Bila seseorang ditanya kenapa memilih laki-laki/wanita tersebut menjadi calon pasangannya? Kebanyakan orang menjawab karena mencintainya. Meski ada juga yang menjawab, karena dia merasa pilihannya adalah pilihan yang tepat. Kalau seperti ini, sebenarnya menikah itu untuk beribadah atau untuk memiliki seseorang yang kita cintai? Nah loh.

Menikah untuk beribadah seakan hanya menjadi teori.

Semua orang baligh pasti sudah tahu tentang hal ini. Namun yang menjadi pertanyaan, seberapa jauh kita memahami dan mempraktikkan teori ini? Mencintai lawan jenis itu fitrah, bukan hal yang dilarang dalam agama Islam. Tidak ada yang menyalahkan jika kita mencintai seseorang. Akan tetapi, kecintaan kita terhadap manusia jangan sampai melebihi kecintaan terhadap Allah Swt. Sampai-sampai nantinya kita lupa bahwa semua ibadah seperti menikah pun tetap harus Allah yang menjadi tujuan. 

Kita bisa belajar dari kisah Abdullah bin Abu Bakar ra. Memang seperti apa kisahnya?

Jadi, Abdullah bin Abu Bakar ra baru saja melangsungkan pernikahan dengan Atikah binti Zaid, wanita yang rupawan dan berbudi luhur. Abdullah begitu mencintai istrinya yang berahlak mulia, berparas cantik, dan berkedudukan tinggi.

Laki-laki mana yang tidak jatuh hati jika ada perempuan seperti Atikah. Abdullah begitu senang bisa memilikinya dengan sebuah pernikahan. Perasaan cintanya tercurah semata untuk sang istri. Hampir semua waktu dia habiskan untuk bersenang-senang dengan istrinya. Hari-harinya dipenuhi rasa sayang dan cinta yang begitu berlebihan kepada Atikah.

Sampai suatu ketika, Abu Bakar sengaja melewati rumah Abdullah untuk mengajak sholat berjamaah di masjid. Namun, beliau mengurungkan niat itu karena melihat anaknya sedang bermesraan dengan sang istri dan mengabaikan adzan pertanda masuk waktu sholat. Beliau melanjutkan perjalanan ke Masjid tanpa anaknya.

Setelah melaksanakan sholat, Abu Bakar pulang melalui jalan di depan rumah Abdullah. Didapati anaknya masih bersenda gurau dengan istrinya sebagaimana dia lihat sebelum sholat tadi. Tak hanya melalaikan sholat, Abdullah juga melupakan perniagaan dan beberapa urusannya. Kecantikan Atikah menyihir hati dan menyita waktu Abdullah.

Abu Bakar kesal melihat anaknya yang meletakkan cinta kepada istrinya melebihi cinta kepada Allah. Sebagai seorang ayah yang tidak ingin anaknya terjerumus pada jalan yang salah, dihampiri anaknya untuk ditegur. Karena hal seperti ini memang tidak bisa dibiarkan agar tidak terus-menerus menjadi kebiasaan.

Abu Bakar pun menegurnya. “Wahai Abdullah, adakah kamu sholat berjama’ah?”

Tanpa berbicara panjang lebar Abu Bakar berkata lagi. “Wahai Abdullah, Atikah telah melalaikan kamu dari kehidupan dan pandangan hidup malah dia juga telah melupakan kamu dari sholat fardhu, ceraikanlah dia!”

Begitulah, Abu Bakar begitu tegas dengan anaknya yang telah melalaikan hak Allah. Abu Bakar tidak ingin anaknya terlalu sibuk dengan urusan dunia. Bentuk sayang orang tua kepada anaknya bukan dengan memanjakannya, tapi menegur apabila melakukan kesalahan. Tanpa banyak alasan, Abdullah mengikuti perintah ayahnya dengan menceraikan istri yang sangat dicintainya. Meski berat, tapi dia laksanakan. Sesudah perceraian, gundah meliputi hatinya dan dituangkannya dalam syair-syair.

Kadangkala, kita hanya mengukur seberapa cinta dan nyaman perasaan kita kepada seseorang untuk menjadikannya pasangan hidup. Hal ini memang penting. Pernikahan tanpa didasari rasa cinta seperti mobil kehilangan roda, tidak bisa berjalan sebagaimana mestinya. Akan tetapi, bukan cinta kepada makhluk yang harus dijadikan tujuan untuk menikah.

Kalau hanya karena cinta, rasa itu bisa berubah seiring berjalannya waktu. Cinta itu bisa terkikis karena Allah Maha Membolak-balikkan hati. Terbaik dalam kaca mata manusia belum tentu terbaik dalam pandangan Allah Swt.

Apabila cinta kita kepada seseorang menambah kecintaan kita kepada Allah, maka dia adalah sebaik-baiknya pilihan. Jika sebesar apa pun rasa cinta kita terhadap seseorang, lalu nyatanya membuat kita jauh dari Allah, sebaiknya perlu dipertimbangkan lagi pilihan itu.

Menikahlah karena ibadah untuk menambah kecintaan kepada Allah. Bukan seberapa besar kita mencintai pasangan kita, tapi pertanyakan apakah dengan mencintainya bisa membuat kecintaan kita kepada Allah semakin besar?

Lalu bagaimana caranya agar kita terhindar dari cinta kepada mahluk yang berlebihan?

Caranya dengan mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya dengan tidak meletakkan hati pada apa yang belum menjadi hak kita yaitu tidak menuju pernikahan dengan jalan pacaran. Jika dari awal sudah melanggar aturan Allah, jelas menikah itu bukan karena ibadah. Namun karena diri telah terberdaya hawa nafsu yang dibisiki oleh setan.

Tidak perlu khawatir, tanpa pacaran pun kita bisa hidup bahagia dalam sebuah pernikahan. Allah Maha Cinta yang akan menebar rasa cinta pada pasangan yang menikah karena cinta kepada-Nya.

Jika dari awal kita sudah membiasakan untuk mengikuti perintah Allah, melakukan ibadah karena Allah, insyaallah apa pun yang menjadi takdir kita kelak akan dijaga oleh Allah keberkahannya. Apabila dari awal kita sudah menyertakan Allah dalam segala pilihan, maka Allah akan mempermudah segala urusan kita.

Ada sepenggal kalimat dari sebuah film fenomenal Ayat-Ayat Cinta yang bisa kita jadikan pengingat. Pada adegan Maria akan menghadapi sakaratul mautnya, dia mengucapkan seperti ini, “Fahri, sekarang aku tahu mencintai dan ingin memiliki itu berbeda.”

Jadi, menikahlah bukan karena ingin memiliki seseorang yang amat dicinta, namun menikahlah untuk menambah kecintaanmu kepada Allah. Yuk perbaiki niat bersama-sama!

Oleh: Anik Cahyanik.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan