menikah semasa masih kuliah

Menikah Saat Kuliah Itu … Sesuatu Banget Mas

Untukmu, lelaki pendiam yang membuatku penasaran

Mas, ke sinilah sejenak. Akan aku wartakan tentang sebuah kisah. Kisah yang di dalamnya, aku dan kamu sebagai aktornya.

Mas, saat itu tentu kamu belum tahu, bahwa Oktober menjadi bulan bersejarah dalam kehidupan kita. Maka, dengar awal kisah ini dengan baik ya, agar kamu paham, betapa takdir terlalu indah untuk tak diacuhkan.

Hujan kala itu, seakan mengirimkan pesan lain padaku. Sebuah isyarat, bahwa jodoh akan segera datang. Saat itu, tentu aku belum mengenalmu.

“Tapi apa ya mungkin? Aku baru semester enam,” gumamku ragu saat sepucuk biodata dalam amplop coklat kuterima.

Nyatanya, berawal dari kertas beraroma melati, aku mengenalmu. Lelaki pendiam yang semula kuanggap tak mampu membuatku berdebar.

Kamu, mahasiswa teknik dengan style standar. Tak punya keahlian beretorika, apalagi berorasi di depan masa.

Hmmm … jauh sekali dari kriteria idaman, bagaimana jika nanti aku lebih “bersuara” daripada kamu? Apa yang akan orang katakan? Istri durhaka? Atau suami takut istri?

Ah! Rasanya waktu itu, aku tak ingin membayangkan kelanjutan kisah ini.

Buatmu, yang ternyata tampan dan sudah berpenghasilan.

Sampai di mana tadi ceritaku? Oh, ya, sampai pada kebimbanganku akan kriteria yang belum kutemukan padamu. Eit, kamu jangan marah dulu. Bacalah lagi kisah setelah kebimbangan itu.

Mas, aku tahu, salah satu pertimbangan seorang gadis menerima laki-laki untuk menjadi suaminya adalah tentang nafkah lahir. Bagaimana pun, setelah menikah, seorang wanita akan menjadi tanggung jawab suaminya. Bukan lagi tanggung jawab orangtua. Maka, laki-laki berpenghasilan adalah harga normal untuk menukar status dari gadis menjadi seorang istri. Sampai di sini, kamu nggak menganggapku matre kan? Kata teman-teman sesama perempuan, hal itu wajar dan sangat wajar.

Maka, kamu yang saat itu telah merintis usaha jual, beli, servis, serta rakit komputer, dan dengan lantang menyatakan siap untuk menanggung sisa biaya kuliahku, membuatku memberikan penilaian postif tentangmu.

Laki-laki baik dan berpenghasilan, apakah masih ada alasan untuk menolak? Hatiku menggugat saat bisikan ragu meliuk menyusupi hati dan pikiran.

Saat merasa bimbang dan bimbang, maka aku mendekat dan terus mendekat pada Allah. Memintanya dalam salat istikharah, agar memantapkan hati jika kamu memang jodoh terbaik untukku. Atau, supaya aku ringan melepas, jika memang kamu tidak baik untuk iman dan kehidupanku.

Dan ternyata benar, pelan tapi kentara, getar itu hadir tatkala raga khusyuk dalam lantunan munajah pada-Nya. Lamat kuingat, getar ingin segera menikah merambat bagai sulur di musim penghujan, sangat rimbun dan subur. Hijaunya pun menyejukkan mata. Embun yang jatuh dari pucuk sulur, merayapi hati hingga tentram dan mematikan api resah.

Mas, aku telah siap untuk sebuah jawaban.

Lagi-lagi, hanya untukmu, lelaki dermawan yang mengajarkanku cara mengolah perasaan.

Boleh ya, ditulisan ini kupanggil kamu sayang?

Mas sayang, tentu kamu masih ingat, betapa canggung tingkah kita saat pertama kali bertemu setelah akad dalam satu ruang tertutup. Hanya kamu dan aku, tentu ada para malaikat dan juga Allah Yang Maha Melihat, tapi maksudku, makhluk kasat mata itu, hanya kamu dan aku.

Iya, di ruang yang telah dihias sedemikian rupa, akhirnya hanya kita berdua saja. Terjebak atau menjebakkan diri dalam situasi yang serba rikuh.

“Katanya harus minum susu dari gelas yang sama,” ucapku sembari menyodorkan segelas susu setelah salat sunnah dua rakaat dan doa panjang yang kamu tiupkan ke ubun-ubun. “Sama makan kurma,” ucapku lagi dengan tiga butir kurma di genggaman.

Kamu diam tapi mengambil gelas susu dan meminumnya kemudian memberikannya padaku. Aku meminumnya tepat di bekas bibirmu.

“Sudah ngantuk?” tanyamu kemudian, dengan pandangan yang entah.

“Ngobrol dulu boleh kok,” jawabku dengan pandangan yang sama entahnya.

Jarum jam sangat lambat berjalan. Aku sempat gemas dengan detak jarum jam itu, sepertinya semakin lama, suaranya semakin kecil. Aku sangat khawatir, kesunyian malam membuat bunyi detak jantungku sampai di telingamu.

Obrolan seputar tanya – jawab hal remeh sampai pengalaman seru pun mulai mengakrabkan kita. Album foto organisasi yang ada di HP-mu turut menjadi perantara pengakraban kita.

Satu album foto membuatku terkikik saat menyadari bahwa di salah satu foto itu, kita duduk berdampingan tapi terhijab oleh batas kelambu. Loh, kok bisa ya? Ternyata begitulah jodoh. Allah telah atur pertemuannya, hanya saja kita tak mengetahuinya.

Lama bercerita yang hanya kamu tanggapi dengan senyum atau timpalan semacam: Oh, masa, iya, betul, dan lainnya, aku menjadi haus. Tenggorokan rasanya kering dan butuh segera dialiri air.

Selepas minum, kamu sarankan untuk diam dan melanjutkan ceritanya esok hari.

“Lalu kita ngapain?” tanyaku.

Keadaan pun kembali canggung. Dan apa yang harus terjadi, maka terjadilah.  Ah, saat itu, rasanya, baik aku atau kamu menjadi orang lain.

Wahai Mas sayang,

Hampir sepuluh tahun kita bersama. Banyak hal yang terus lekat dalam ingatan. Tentang percik-percik duka serta kecipak gembira. Juga tentang larik-larik khilaf dan simpul-simpul pertaubatan. Semua menjadi warna yang maha unik, menjadikan kita benar – benar sadar bahwa kita masih manusia yang kadang khilaf dan lupa.

Mas, tentang mengelola perasaan itu, ternyata aku yang pandai beretorika tak ada apa-apanya jika dibanding denganmu.

Aku masih tak bisa mengerti, bagaimana perasaanmu bisa nyaman-nyaman saja saat beberapa teman meminjam dan lupa atau mungkin sengaja lupa tak mengembalikan? Bagaimana caranya, dengan lapang membantu kerepotan orang lain di pagi buta sementara kita sendiri masih belum lapang?

Mas, Mas, aku sungguh heran! Hampir saja sikap tergesaku untuk menolak memberi bantuan, menjadi bomerang bagi keberkahan rumah kita. Tapi, berkat nasihatmu, aku urung dan yakin dengan pertolongan-Nya.

Mungkin benar, kita belum lapang dalam hal harta dunia. Tapi, kurasa kelapangan itu datangnya dalam bentuk lain. Rumah yang terasa sangat nyaman, anak-anak sehat, dan hubungan kita? Mudah-mudahan selalu hangat dan senantiasa menyisakan debar harap pada Yang Maha Pengasih.

Sayang, perasaan wanita memang aneh. Begitu sering kukatakan padamu. Maka, kamu pun sudah sangat mafhum, jika istrimu yang pemalas ini tiba-tiba menjadi rajin. Pasti ada yang tidak beres manakala tiba-tiba malam hari aku nekat mencuci, atau mendadak mengeluarkan isi lemari dan bersiap menyetrika. Kamu tahu, kejadian langka seperti itu adalah sebuah kode: “Siaga”

Dengan gaya khasmu yang tak banyak bicara, kamu akan berkata, “Beli baso yuk!”

Dengan judes dan cuek aku akan diam untuk beberapa saat dan terus melanjutkan pekerjaan. Tapi sungguh kamu tahu, hal ini tidak akan lama. Saat semangkuk baso berkuah panas kamu hidangkan dan menyuapkannya padaku, saat itulah, air mataku akan meleleh. Baso panas itu pun perlu tambahan sambal dan kecap agar tidak asin karena lelehan air mata.

Sayang, Mas yang masih saja pendiam dan tidak romantis, masih mau baca lanjutan kisah ini kan?

Selain pendiam, aku baru tahu ternyata kamu mempunyai hati yang sangat lembut. Tergambar lagi dalam siluet bayangan ketika itu. Di Jumat ke sekian bulan Oktober, saat aku kesakitan dalam perjuangan melahirkan. Kamu, suami yang sangat perhatian. Menungguiku sembari meneteskan air mata.

Yah, meskipun aku sempat sebal dan berkata dalam hati, Ya Allah, bukannya kasih semangat! Kok malah nangis sih!

Dan aku pun masih ingat, mata itu kembali basah, tatkala lagi-lagi kamu menungguiku di rumahsakit. Bukan dalam rangka menyambut buah hati, tapi karena istrimu yang bandel ini menabrakkan motornya dengan motor orang lain hingga kakinya harus dijahit.

Tapi kala itu, aku sudah tidak sebal. Aku telah paham, cintamu begitu dalam padaku. Meskipun tanpa kata, walaupun tanpa sepucuk mawar merah seperti yang sering kurengekkan padamu.

Sebelum kutuntaskan tulisan ini, ijinkan aku memanggilmu cinta. Boleh ya?

Cinta, memang pada awalnya aku melihatmu sebagai laki-laki yang mempunyai deretan karena.

Karena kamu meminangku lebih dahulu dari laki-laki lain.

Karena kamu menerimaku dengan keadaan yang sudah kusampaikan.

Karena kamu mempunyai penghasilan.

Karena kamu, dan karena kamu ….

Cinta, sekarang aku telah kamu ajari. Agar melihatmu dari sisi meskipun.

Kamu yang menerimaku meskipun aku sedikit cerewet.

Kamu yang masih mencintaiku meskipun … meskipun … dan meskipun.

Terimakasih Cinta, sisa kehidupan kita, mudah-mudahan tetap hangat dan bergandengan dengan tawa. Jika pun duka sesekali hadir, maka aku yakin, kamu siap dan mampu menggenggam tanganku hingga sigap menerima dan dengan lapang bercengkarama dengan duka. Karena keyakinan kita sama, duka tidak akan lama. Ia akan pulang bersama keikhlasan dan kesabaran.

Oleh: Sri Bandiyah.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan