“Mbak, aku mau menikah,” kata Fira secara hati-hati.

Rupanya ini yang membawa adik keduaku sengaja datang dari Bogor ke Depok di hari kerja hanya demi mendapatkan izin menikah dariku. Kakak sulungnya yang juga belum menikah di usia tiga puluh tahun, sedangkan Fira hanya selisih satu tahun dariku.

Entah jawaban apa yang harus ku berikan sebab tiba-tiba saja dada ini sesak. Bukan karena aku tidak suka adikku menikah. Justru aku bahagia, akhirnya ia mengambil keputusan yang tepat karena aku adalah orang yang paling menentang pacaran. Dan selama hampir tiga tahun Fira menjalin kasih dengan Doni, teman satu kampusnya dulu.

Tetapi bila Fira menikah, berarti ia akan melangkahiku karena hingga detik ini belum juga ku temukan calon imam yang mengajakku berlayar bersama.

Bukan aku tidak berusaha menemukan jodoh. Entah sudah berapa kali aku menjalani ta’aruf, bahkan pernah dua kali dikhitbah tetapi akhirnya harus kandas karena alasan syar’i. Aku bahkan sudah sampai ke tanah suci, dengan tujuan sama, berdoa agar segera bertemu jodoh dan dapat menikah ditemani Ayah dan Ibu. Namun, jodoh itu belum juga datang.

“Mbak ….” Fira membuyarkan lamunanku. “Maaf kalau Fira salah bicara. Mbak boleh marah. Fira siap menolak lamaran Doni kalau Mbak nggak setuju.” tetes bening itu mulai turun membasahi pipi adikku yang berparas ayu itu.

“Nggak. Jangan ditolak. Mbak nggak marah, kok. Kalian menikahlah. insyaAllah mbak rela,” tuturku, dengan suara gemetar.

“Mbak.”

Kami berdua berpelukan. Fira menangis sesenggukan. Aku terus meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja, mungkin ini takdirku, harus dilangkahi.Tidak apa-apa lah bila Fira harus duluan, berarti jodohnya yang lebih awal. Toh di dalam Qur’an tidak ada ketentuan bahwa adik tidak boleh melangkahi kakaknya bila ingin menikah.

“Ayah dan Ibu sudah tahu rencana pernikahan kalian?” tanyaku, setelah tangis Fira reda.

“Belum, Mbak. Fira hanya memberi tahu Mbak untuk izin dulu.” jawab Fira.

“Kalau begitu segera beritahu Ayah dan Ibu. Usahakan agar pernikahan secepatnya.”

“Besok Sabtu Fira pulang, Mbak. Fira mau bicara langsung dengan Ayah dan Ibu.”

“Bagus kalau begitu. Nanti kalau ada apa-apa hubungi, Mbak.”

“Iya Mbak, terimakasih Mbak.” Fira kembali memelukku.

Setelah Fira pergi barulah air mata yang sedari tadi kutahan mulai menetes. Kubiarkan saja ia mengalir sambil mendengarkan murottal surat Ar-Rahman. Ya Allah, mengapa dadaku sesak. Ajarkan aku ikhlas menerima takdirMu.

Jangan egois, Dil. Jangan pernah menjadi penghalang kebahagiaan adikmu. Bukankah menikah itu ibadah. Mempermudah orang melakukan ibadah, ada pahalanya juga.

Allah … Aku ikhlas.

***

Ahad pagi, Fira menelpon dengan suara sembab. Sepertinya ia baru menangis atau memang sedang menangis. Fira mengabari bahwa sudah memberi tahu kedua orang tua kami tentang rencana pernikahannya dan Ibu menentang pernikahan Fira karena aku belum menikah.

Ibu bahkan menghubungi seluruh keluarga besar untuk menggagalkan rencana lamaran Doni. Ibu keukeuh menolak pernikahan Fira sebelum aku menikah.

“Fira harus bagaimana, Mbak?” kata Fira, dari seberang.

“Tetap bicara baik-baik, Fir. Orang yang sudah mau menikah cara berpikirnya harus dewasa. Hadapi semuanya dengan tenang, insyaAllah ada jalan keluar.” Kataku.

“Tapi Mbak tahu, kan. Ibu kalau sudah punya keputusan tidak bisa diganggu-gugat. Bisa-bisa Ibu marah besar.”

“Ya sudah, Mbak pulang sekarang. Mbak yang akan bicara pada Ibu,” kataku.

Setelah menutup telepon, aku segera mengemas dua stel pakaian, lalu menuju bandara mencari tiket pesawat yang masih tersisa untuk memberangkatkanku pulang ke kampung halaman di Yogyakarta.

***

Sore harinya, aku sampai di rumah. Semua keluarga besar sudah berkumpul, termasuk yang dari luar kota. Semua orang sepertinya sudah tidak sabar ingin mengadili Fira, apalagi saat mereka tahu aku ikut pulang.

Sebenarnya aneh saja, ada anak yang ingin menikah untuk menghindari dosa, tetapi malah ditentang habis-habisan dengan alasan kakaknya belum menikah. Kalaupun ingin kakaknya dulu menikah, harusnya tidak perlu dihujat begitu seolah Fira tidak peduli perasaanku. Cukup dikatakan baik-baik tanpa harus mengeluarkan racun yang menyakitkan.

“Sebelumnya, boleh Dila bicara sama Ayah, Ibu dan Fira?” pintaku.

Perjalanan dari Depok ke Jogja cukup menguras tenagaku, apalagi sepekan kemarin aku disibukkan dengan urusan kantor, karena itu ku putuskan untuk melobi kedua orang tua terlebih dahulu. Menghadapi keluarga besar butuh energi dan rasanya, saat ini aku belum sanggup.

“Ayah, Ibu … Dila ikhlas bila Fira harus menikah terlebih dahulu.” ucapku.

“Tidak bisa. Ibu enggak setuju!” ucap Ibu, dengan nada suara tinggi.

“Bu, Fira dan Doni kan sudah menjalin hubungan cukup lama. Apa Ibu tidak kasihan dengan mereka. Kalau kita terus menentang maka Doni akan memilih mundur dan mencari calon lain karena orang tuanya ingin ia segera menikah.” aku berusaha menjelaskan apa yang sudah pernah diutarakan oleh Fira.

“Kalau mereka butuh dimengerti, mengapa mereka tidak mau mengerti kita juga?” ucap Ibu masih keras kepalanya.

“Lalu mau berapa lama lagi Fira dan Doni menunggu. Satu tahun, dua tahun, tiga tahun atau berapa tahun, Bu?” tanyaku. “Jodoh, tidak ada yang tahu kapan datangnya. Kita hanya bisa berusaha dan berdoa. Dila sudah melakukan itu Bu. Tapi rupanya Allah masih ingin melihat Dila berusaha lebih keras lagi sambil terus memperbaiki diri, karena itu izinkanlah Fira dan Doni menikah, Bu. Restuilah mereka.”

“Dil ….” tangis Ibu pecah.

“Relakan, ya Bu. Dila baik-baik saja, kok. Dila nggak akan down bila diolok orang-orang.”

Allah … Aku faham keresahan Ibu. Beliau hanya ingin mengurangi sesak yang kurasakan karena belum juga mendapatkan jodoh. Ibu adalah orang yang paling tahu bagaimana beratnya hari yang kulalui sebab pertanyaan-pertanyaan orang-orang yang mungkin peduli atau hanya sekedar usil saja sebab aku yang tidak kunjung menikah.

Bila adikku menikah lebih dahulu, Ibu meyakini bebanku akan semakin bertambah karena pertanyaan akan semakin bertambah. Tapi aku tidak ingin mempedulikan itu. Meskipun sesak, aku belajar ikhlas. Mau bagaimana lagi? Apa aku harus protes sedangkan itu adalah takdir dari Allah yang aku sangat yakin berlaku adil untukku.

“Dil, kenapa belum menikah juga? Kamu mau cari calon suami seperti apa? Jangan terlalu milih-milih lah.” Ujar salah seorang teman.

“Bukannya kamu sudah dikhitbah ya Dil?” sahut yang lainnya. “Lalu mengapa tidak menikah juga. Apa lagi yang kurang, Dil?”

“Jangan lama-lama jomblo, apalagi perempuan, nanti kalau sudah berumur makin susah nyari calon.” Sindir yang lain.

Begitulah ucapan-ucapan yang dilontarkan, bahkan kadang lebih keras dari itu. Ucapan yang menurut orang mungkin biasa, tetapi dahulu selalu sukses membuatku menitikkan air mata.

“Baiklah, kami setuju bila Fira memang harus menikah lebih dulu.” ucap Ayah.

“Alhamdulillah ….” kataku dan Fira, bersamaan.

“Tapi kami tidak mau mengeluarkan biaya sepeser pun untuk pernikahan mereka,” ucap Ibu.

Kembali wajah Fira tertunduk lesu usai mendapat setetes air guna membasahi dahaganya. Aku faham ia begitu karena memang Fira belum punya tabungan. Usai lulus sarjana, Fira menunggu aku menikah sambil melanjutkan kuliahnya hingga menyelesaikan doktoral dengan biaya sendiri.

InsyaAllah Dila yang akan membiayai pernikahan Fira.” ucapku.

“Mbak ….” Fira langsung memelukku sambil mengucapkan terima kasih berulang kali.

“Lalu pelangkahnya bagaimana? Kamu juga yang mau membelinya?” kata Ibu padaku, yang terlihat masih belum rela.

“Dila tidak minta pelangkah, Bu.” kataku.

“Tidak bisa. Kalau kamu nggak diberi pelangkah, bisa kualat Dil.” Ibu tampak histeris.

“Bu, secara syariat tidak ada aturan tentang pelangkah. Jangan mengada-ada sesuatu yang tidak ada, Bu,” aku menjelaskan sedikit pengetahuan agama yang kudapat. Termasuk tentang mempermudah proses pernikahan agar mendapatkan berkah.

Ibu tidak bisa membantah lagi, meskipun masih terlihat berat. Sedangkan Ayah menerima dengan lapang dada karena aku yakin sebenarnya Ayah dan Ibu pun sudah ingin melihat Fira menikah, tetapi terhalang olehku.

Acara pernikahan sederhana namun penuh hikmat itu pun berlangsung. Aku sudah ikhlas melihat adikku diperistri oleh Doni. Aku rela dilangkahi dengan harapan mendapatkan berkah dari Allah karena memang dalam agamaku tidak ada aturan kakak harus lebih dahulu menikah dari adik.

***

Oleh: Fitria Susanti.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: