“Kamu kapan nikah? Si fulan, si fulanah sudah menikah semua. Mosok kamu kalah sama mereka. Jangan-jangan kamu takut menikah, ya? ”

Pernahkah terlontar pertanyaan seperti itu kepada kalian? Aku sering menerima pertanyaan seperti itu, baik dari kawan atau bahkan dari orang-orang tua di sekelilingku. Tidak selalu dengan pertanyaan yang sama, tapi isinya tetap saja ke arah itu. Menikah.  Kadang ada pula yang bertanya secara tidak langsung, tapi dengan menyinggung umur misalnya.

Tetap saja mengena di hati. Ada rasa canggung, mungkin lebih ke arah malu ketika usia sudah hampir kepala tiga, tapi rencana menikah saja belum ada. Terlebih saat datang ke pesta pernikahan. Pertanyaan kapan menyusul atau minimal datang dengan siapa adalah menu yang selalu tersaji selain es krim, bakso, siomay, dan kawan-kawannya.

Aku pernah sampai tak mampu mengontrol emosi. Mendapat pertanyaan kapan menikah di sebuah pesta pernikahan. Aku marah, konyol memang. Sebuah pertanyaan yang wajar, tapi sangat menyakitkan ketika dilontarkan di hadapan banyak orang. Ditambah nada pertanyaannya aku rasakan sebagai sebuah pelecehan. Aku pernah mengalaminya, maka berlapang dadalah wahai para jomblo sedunia. Rasa sakit yang kalian rasakan saat ini, sudah pernah pula aku rasakan.

Berangkat dari banyaknya teror seperti cerita tersebut membuat hatiku panas. Aku sering berkata dalam hati. Aku harus segera menikah. Menyegerakan salah satu sunnah rasul, juga menyempurnakan separuh agamaku. Ledekan orang-orang tak akan kudengar lagi.

Aku bertekad untuk segera mengakhiri masa lajangku. Dua tahun sebelum usiaku berubah menjadi kepala tiga, harus aku manfaatkan dengan baik. Berbagai upaya aku lakukan. Mulai dari bertaaruf dengan perantara ustaz, ikut acara kontak jodoh, sampai memberanikan diri sowan kepada beberapa kiai pengasuh pondok pesantren. Berharap ada santriwati di pesantren itu yang sesuai dengan kriteria harapakanku. Tentu saja yang mau menerimaku pula.

Nihil. Upaya-upaya itu belum membuahkan hasil. Rasa canggung saat menghadiri walimah teman terus menemaniku. Sedikit berkurang manakala aku datang bersama teman sesama jomblo. Namun, hal seperti ini tidak bertahan lama. Populasi jomblo semakin berkurang. Ketika aku hendak menghadiri pesta pernikahan, anak-anak yang usianya jauh di bawahkulah yang masih jomblo. Mana bisa aku bergabung dengan mereka. Obrolannya saja sudah banyak yang tidak nyambung.

Jodoh memang rahasia, baik siapa maupun kapan datangnya. Tidak kusangka, jodohku ada di dekatku. Bahkan aku sudah mengenalnya sejak dahulu. Putri paman, adik ibuku resmi menjadi istriku, sebelum usiaku berubah menjadi kepala tiga. Hilangkah teror-teror yang dahulu aku dapatkan ketika belum berstatus sebagai seorang suami?

Pertanyaan kapan menikah memang hilang tak berbekas. Namun, tahukah kalian, teror lain ternyata berlanjut datang silih berganti bak ratusan bahkan ribuan anak panah yang deras menghujam ke biduk sasarannya. Provokasi agar cepat punya momonganlah, jangan menunda-nundalah, dan lain-lain. Kalau direnungkan, bukankah itu sudah menjadi ranah pribadiku, ya?

Kenapa mereka masih hobi meneror sedemikian rupa? Kadang aku jadi merasa capai luar dalam kalau sudah begitu. Aku dan istri sudah punya rencana sendiri, kenapa pula mereka masih mau capai-capai komentar yang tentu saja tak mesti aku hiraukan.

Saat Allah sudah berkenan menitipkan amanah kepada keluarga kecilku, teror masih berlanjut. Kapan nambah? Si fulan sudah dua, si fulanah bahkan sudah tiga. Mosok kamu kalah. Nikahnya duluan kamu lho!

Nah, pertanyaan, dan pernyataan seperti ini akan terus ada, entah sampai kapan. Mungkin sampai mereka yang bertanya itu tak lagi diberi kemampuan bertanya oleh Allah, atau bisa jadi sampai aku tak mampu lagi menjawab pertanyaan mereka.

***

Apabila Anda sudah merasa gelisah berada pada malam yang sepi mencekam tidak ada teman yang mendampingi, inilah saatnya bagi Anda untuk menikah. Jika Anda sudah mulai tidak tenang saat sendirian, itulah saatnya Anda hidup berdua.

Jika Anda sudah begitu resah saat melihat akhwat di perjalanan, itulah saatnya Anda menguatkan hati untuk datang meminang. Hanya dua kalimat saja yang perlu Anda persiapkan, Alhamdulillah bila diterima, dan Allahu Akbar bila ditolak. (M. Fauzil Adhim, Saatnya untuk Menikah, halaman 43).

Kata-kata itulah yang akhirnya memotivasiku untuk segera menunaikan niat suci menggenapkan separuh agamaku. Setelah sekian tahun berjalan, dilengkapi dengan proses perenungan yang mendalam, ternyata aku dapatkan fakta bahwa menikah bukan sekadar meredam teror pertanyaan dari orang lain. Lebih dari itu pernikahan adalah sebuah gerbang awal menuju level kehidupan yang lebih tinggi. Bagaimana bisa?

Keutamaan menikah lainnya dikemukakan oleh Imam Al Ghazali dalam kitabnya yang amat masyhur, Ihya Ulumudin beliau menyebutkan bahwa Rasulullah SAW berkata “Siapa yang telah menikah, berarti telah melindungi separuh agamanya. Karena itu bertaqwalah kepada Allah untuk setengah agama yang kedua.”

Imam Al Ghazali dalam keterangan hadist ini, menyatakan bahwa keutamaan menikah adalah dalam rangka melindungi diri dari penyimpangan, agar terhindar dari kerusakan. Karena hal yang merusak agama manusia umumnya adalah kemaluan dan perutnya. Dengan menikah maka salah satu telah terpenuhi. (Ihya Ulumudin, 2/22)

Kehidupan pascamenikah akan jauh berbeda dengan kehidupan pramenikah (jomblo). Salat seorang jomblo, apalagi yang malas jamaah ke masjid tentu saja kalah jauh dengan salat seorang yang telah menikah. Tentu saja dalam hal ini pasutri yang rajin salat berjamaah, minimal di rumah lebih utama di masjid. Itu baru dalam hal salat. Dalam hal lain tentu saja sangat banyak.

Satu contoh saja misalnya. Saat masih jomblo, hasil berjualan kita hanya kita nikmati sendiri. Paling banter kita berikan sebagian ke orang tua atau kaum dhuafa. Semuanya hukumnya sunah. Nah, ketika sudah menikah, hasil jualan kita mau tidak mau akan kita nafkahkan kepada istri, yang sudah berputra akan kita berikan pula untuk anak-anak demi mencukui kebutuhan mereka, ini ibadah lho. Masalah nafkah itu amat kentara dan dapat dipastikan selalu menjadi obrolan yang panjang dan mengasyikkan.

Nah, dalam sebuah kehidupan pernikahan, banyak hal remeh yang seringkali tidak kita anggap vital tapi ternyata akan bernilai ibadah di sisi Allah Swt. Selain masalah nafkah pastinya. Misalnya, memeluk suami/istri, memanjakan anak, melayani istri/suami bahkan bercanda bersama pasangan saja akan termasuk ibadah. Pokoknya banyak deh. Nggak rugi menikah itu.

Dari sisi pola kehidupan, menikah tentu saja merupakan sebuah anak tangga yang akan menuntun kita ke arah yang lebih tinggi. Saat masih sendiri (bahasa halus dari jomblo nih) kita bebas saja mau berkegiatan di mana pun sampai kapan pun. Bebas yang bertanggung jawab maksudnya, ya. Misal dalam berorganisasi, kita bisa saja lembur atau menginap di kampus saat ada kegiatan. Atau kalau buat para pecinta alam, bisalah ikut kegiatan pendakian yang memakan waktu berhari-hari.

Nah, saat sudah menikah, ego itu harus diredam. Bukan kemudian meninggalkan seluruh aktivitas positif di luar rumah karena telah menikah, tapi membagi waktu antara kegiatan di luar rumah dengan keluarga kita. Anak dan pasangan adalah orang-orang yang membutuhkan kehadiran kita. Di sinilah apa yang saya katakan bahwa menikah akan menambah level hidup kita.

Di saat masih sendiri kita dapat mencurahkan tenaga, pikiran, bahkan harta benda untuk masalah sosial kemasyarakatan misalnya. Pada saat telah menikah, pertimbangan keluarga menjadi muncul dan harus diperhitungkan dalam hal ini. Pilihannya adalah menarik diri dari dunia positif yang telah kita geluti, atau tetap menjalaniinya dengan tidak meninggalkan keluarga. Pilihan kedua adalah jalur yang luar biasa jika kita mampu mengambilnya.

Permasalahannya, akankah keluarga (anak dan pasangan) akan dengan serta merta menerima posisi kita sebagai orang yang dimiliki masyarakat ini? Hal yang tidak mudah tentunya. Apalagi jika basic pasangan kita bukanlah orang yang gemar berkecimpung dalam dunia sosial kemasyarakatan.

Di sinilah tantangan bahwa menikah akan meningkatkan level kehidupan kita. Ibarat sebuah permainan, menikah adalah level lanjut dari jomblo. Level lanjut ini tentu saja memilik tantangan yang lebih tinggi dari level sebelumnya. Maka saya merasakan ironi manakala melihat pasangan yang menggelar pernikahan dengan kemewahan.

Banyak pasangan demi mengejar pujian dari sahabat atau kolega memaksakan diri menggelar pesta pernikahan dengan mewah. Padahal sesungguhnya sebagaimana telah saya sebutkan, menikah adalah sebuah gerbang menuju level kehidupan yang lebih menantang. Apakah pantas untuk menuju sebuah jalur yang lebih menantang kita awal dengan sebuah pesta yang berlebihan? Saya kira menatap masa depan, mempersiapkan kehidupan pascamenikah jauh lebih utama daripada menggelar pesta demi euforia belaka.

Di akhir tulisan ini, saya akan membuat sebuah benang merah berkenaan dengan permasalahan yang sering dihadapi oleh para penyendiri hingga fakta yang muncul ketika pernikahan telah berlangsung.

Begini. Awalnya banyak kasus munculnya semangat menikah karena didorong oleh banyaknya teror dari pihak luar. Kemudian dengan izin Allah pernikahan dapat berlangsung. Jodoh kita siapa, kapan dipertemukan jodoh kita, itu adalah hak prerogatif Allah. Seberapapun besarnya usaha kita, jika Allah belum berkehendak, maka semua usaha akan nihil belaka.

Nah, memasuki masa setelah menikah, kenyataannya teror-teror sebagaimana yang kita dapatkan pada masa pramenikah masih saja muncul. Hanya saja bentuknya lain. Kesimpulannya bahwa menikah bukan sekadar menghentikan teror dari orang lain, lebih dari itu menikah adalah sebuah ibadah yang bahkan mampu menyempurnakan separuh agama kita.

Bagaimana bisa demikian? Tentu saja sebagaimana uraian yang sudah saya sampaikan bahwa dengan menikah banyak hal yang sedianya tidak bernilai ibadah, tapi, setelah menikah akan menjadi ibadah jika kita laksanakan tentu saja dengan ilmu dan atas dasar lillahi ta’ala.

Pesan untuk kalian yang masih dalam taraf menanti datangnya pasangan hidup, bersabarlah. Jodoh tidak akan pernah tertukar ataupun telat datang. Tidak perlu berdoa semoga jodohku adalah si fulan atau fulanah. Cukuplah kiranya memohon jodoh yang salih atau salihah. Kemudian, niatkanlah menikah untuk mengharap rida Allah semata, jangan sepeti saya yang tidak tahan cemoohan orang lalu ingin membungkam dengan menikah. He-he-he.

Pesan terpenting, siapkan diri kalian, bahwa menikah adalah gerbang menuju level kehidupan yang lebih tinggi. Tantangan kehidupan akan otomatis mengisi hari-hari kita pascamenikah. Semua harus dibagi dua dengan pasangan, atau bisa pula semua harus dikalikan dua. Tidak perlu takut menghadapi kehidupan pascamenikah, tetapi jangan hanya berpikir tertang kebahagiaan pascamenikah.

Selebihnya, abaikan tulisan saya ini, anggap saja sebagai angin lalu. Yang terpenting kemudian adalah buktikan, rasakan, dan nikmati apa yang saya tuliskan ini. Semoga ada hal baik yang bisa dipetik dari tulisan ini.

***

Oleh: Wawan Murwantara, seorang suami dari satu orang istri, seorang bapak, dari satu orang anak.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

This is a demo store for testing purposes — no orders shall be fulfilled. Dismiss

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: