Merasa Dicintai: Belajar dari Kesuksesan Roger Federer

Beberapa pekan lalu, legenda hidup tenis dunia: Roger Federer sesenggukan di podium juara Australia Terbuka: satu di antara empat turnamen superbesar: grandslam yang hanya digelar empat kali dalam setahun: Australia, Perancis, Inggris, Amerika.

Gelar grandslam ke-20, terbanyak di sektor putra. Tak ada tandingannya. Spekulasi bersahut-sahutan di balik misteri tangisan Federer yang begitu dramatis. Berkali-kali ayah empat anak itu tak bisa berkata apa pun dan sibuk mengusap air matanya.

Sebagian pecinta tenis mulai patah hati karena mengira ini sinyal Sang Maestro untuk segera mengakhiri karier panjangnya di dunia tenis. Sebagian lagi menebak ia begitu terharu karena mampu meraih capaian yang tak sanggup diraih raksasa tenis lain sejak tenis menjadi olahraga global.

Bahkan, Federer sendiri tak mampu mengurai dengan tepat apa alasan dia begitu emosional.

Sedangkan saya punya teori sendiri. Apa yang membuat Federer kehilangan kekalemannya yang terkenal adalah “perasaan dicintai”.

Tak ada seorang pun petenis di dunia, baik laki-laki maupun perempuan yang begitu dicintai publik sebesar Roger Federer.

Dia adalah sosok mendekati sempurna di dalam dan di luar lapangan. Beberapa komentator bahkan mulai menggadang-gadang, sosok Federer telah lebih besar dibanding tenis itu sendiri.

Empatinya yang sangat besar terhadap tenis, sesama petenis, penonton, wasit, hingga ballboy amat mengesankan.

Tidak pernah tidak, dalam “pedato” nya di podium kemenangan, Federer selalu membesarkan terimakasihnya kepada pihak-pihak yang tidak langsung berkaitan dengan kepentingannya.

Di Australia terbuka kemarin bahkan berulang-ulang Federer menyelamati tim Marin Cilic: lawan yang ia kalahkan di final.

Sania Mirza, mantan petenis nomor satu dunia di nomor ganda mencatat khusus kesannya tentang Federer dalam biografinya. Bahkan keduanya tidak pernah berpasangan dan amat jarang berinteraksi, tapi Sania yang India dan Muslim mencatat kesan luar biasa ketika Federer khusus meneleponnya suatu kali.

Federer tahu dari media bahwa Sania dibully oleh publik India sendiri hanya karena sebuah insiden “salah duduk” dan Sania dipertanyakan nasionalismenya.

Federer meneleponnya, memastikan Sania baik-baik saja dan memberinya dukungan moral.

Rafael Nadal, raja tanah liat yang juga kompetitor paling mengerikan bagi Federer juga menyimpan kesan amat baik terhadap lawan abadinya itu. Dua tahun lalu, ketika sama-sama didera cidera dan dunia menyangka karier keduanya telah berakhir, Federer rajin menelepon Nadal dan memberi dukungan agar Nadal segera bisa kembali mengayun raket.

Setahun kemudian keduanya kembali ke lapangan dan mengulang dominasi satu dekade sebelumnya: berbagi gelar grandslam berdua lalu mengakhiri musim 2016 dengan posisi berurutan: nomor satu dan nomor dua dunia.

Memori romantis pun dikatakan Belinda Bencic, petenis muda Swiss yang baru saja kembali dari cidera panjang. Bencic kecil berfoto dengan Federer yang tengah di salah satu puncak kariernya.

“Aku adalah Martina selanjutnya,” kata Belinda merujuk legenda tenis putri asal Swiss yang seangkatan Federer: Martina Hingis.

Federer tertawa sembari memberi semangat kepada Bencic kecil, “Tentu saja kamu bisa.”

Tak berselang lama Bencic dikenal dunia, menjadi remaja yang menembus sepuluh besar tenis dunia sebelum cidera memaksanya beristirahat sementara. Tahun lalu, Bencic tak terkalahkan di beberapa turnamen akhir tahun dan puncaknya membawa pulang tropy Piala Hopman bersama Federer untuk Swiss.

Itu tidak bisa direkayasa. Empati itu tak bisa dibeli atau dipelajari. Pribadi seperti Federer yang mampu menginspirasi bahkan orang-orang yang tidak dia kenal seolah-olah lahir dengan berkah begitu saja.

Meski kita percaya itu bermula dari cinta. Dia sangat mencintai tenis dan memperlakukannya bukan lagi sekadar olahraga. Jika tidak demikian, bagaimana dia bisa bertahan hingga berusia menjelang 37 tahun dan masih berkeliling dunia setiap pekan? Bahkan dia membawa seluruh keluarganya. Pula, dia masih memenangi banyak gelar juara.

“Kalianlah yang membuat saya gugup. Kalianlah yang membuat saya terus berlatih. Kalianlah yang memenuhi stadium. Terimakasih atas cinta kalian. Saya tidak bisa mendiskripsikannya,” kata Federer di antara tangisannya yang menjadi-jadi, di hadapan puluhan ribu penonton yang menyaksikan pencapaiannya di Rod Laver Arena.

Maka, itulah sejatinya. Malam itu, Federer merasa sangat dicintai. Itu teramat pelik. Bahkan lebih rumit dibanding kisah cinta Romeo-Juliet.

Kisah manusia mencintai manusia lain adalah cerita tentang seseorang yang merasa pantas untuk seseorang yang ia cintai namun takdir mengatakan lain. Maka rasa kehilangan menyiksa seluruh hidupnya. Sedangkan rasa kehilangan hanya akan ada ketika manusia pernah merasa memiliki.

Tapi, merasa dicintai amatlah beda posisinya. Ia adalah rasa ketika kita merasa tak berhak mendapatkan sesuatu tapi sesuatu itu tetap saja menghampiri kita. Mendekap hidup kita.

Seperti juga nikmat kehidupan. Serupa dengan air mata yang selalu mengambang setiap Ar-Rahman diperdengarkan. Rasa tak layak, tapi berlimpah ruah perasaan dicintai.

Kita, saya, kebanyakan manusia, terlalu fokus dengan apa yang kita cintai dan mengabaikan mereka yang mencintai kita, karya kita. Padahal rasa dicintai itu teramat agung, tanpa syarat, membungkukkan punggung, melembutkan hati.

Merasa dicintai adalah cinta positif yang hanya menuntut versi terbaik hidup kita. Memaksa kita keras kepada diri sendiri dan terus menerus berusaha menjadi pribadi yang lebih baik.

Oleh: Tasaro GK.

Tinggalkan Balasan