Deru mesin maskapai penerbangan Korean Air rasanya tak mampu menutup gerung-gerung gundah di hati Umaya. Pandangannya nanar menatap ke luar jendela. Sebentar lagi, awan-awan kota Jeonju dan sekitarnya akan ia tinggalkan. Awan yang di samping telah benar-benar berhasil melelehkan hujan di kalbunya, di sisi lain telah mengukir sinar-sinar kenangan yang tidak ingin ia ingat kembali. Tapi seperti lazimnya sebuah kenangan, ia tak akan pernah hilang, hanya bisa diterima dan disimpan rapi pada tempatnya.

Dua minggu lalu, sebelum dering handphone-nya berbunyi pada suatu sore di tengah salju bulan desember, perasaannya pada lelaki yang hampir empat tahun mengisi hari-harinya dan menjadi alasan untuknya menjadi Buruh Migran Indonesia (BMI) di Korea itu masih sama seperti saat mereka bertemu. Gadis Jawa Timur itu menaruh hati pada sahabat sepupunya, Martin. Lelaki Jawa Tengah, yang dengan segala rupawan dan kemampuannya mampu meluluhlantakkan jiwa Umaya.

“Aku ingin menemanimu di sana, menjadi BMI bukan hal yang hina, kan? Dari pada aku hanya liburan dan menghabiskan uangmu jika ingin bersamamu di sana.”

Umaya terkekeh di telepon. Ia telah dengan giat mempelajari bahasa Korea dan lulus tes penerimaan BMI. Usaha kerasnya tidak sia-sia. Proses yang panjang di samping rasa cinta membuatnya merasa mudah menjalani semua itu.

Umaya tidak pernah seyakin itu dengan hubungannya bersama seorang lelaki. Maka ketika suara di seberang sana menggema di gendang telinga melalui handphone-nya yang mengabarkan sebuah pernikahan tak terduga, dia perlu mendengarnya berulang kali. Dan kalimat itu sama. Tubuhnya seperti salju di bawah terik matahari. Perasaannya lebur tak sersisa. Jaket musim dinginnya mungkin mampu menahan dingin salju, tapi tidak dengan beku di hatinya yang mendadak.

“Dia mengatakan bahwa setahun lagi, selepas kontrak kerja kami habis, akan mendatangi orangtuaku untuk melamarku. Aku tidak sanggup jika di sini terus, La. Aku ingin pulang. Melupakan semua tentang dia.” Kata-katanya mantap.

Nala, sahabatnya di tanah air paham, bahwa Umaya tidak bercanda dengan keputusannya. Tak peduli kontrak kerja yang belum habis. Masalah perusahaan bisa ia urus belakangan, tapi hatinya tidak. Lelaki itu akan menikah, ya, menikah, tapi tidak dengan Umaya. Sejak telepon terakhir, Umaya kehilangan kontak. Tak ia dapatkan penjelasan selain surel yang menjelaskan bahwa lelaki itu sudah di Indonesia bersama calon pengantin wanita. Martin seolah menutup akses komunikasi dengan Umaya.

Tadinya Umaya berharap bisa melupakan kesedihannya dengan memutuskan untuk kembali ke tanah air, namun tidak. Nala mengunjunginya. Mahkota hitam itu bahkan tak tersisa. Umaya memangkas habis rambutnya. Badannya terlihat seperti hanya tulang belulang, pandangannya nanar.

“Aku kehilangan jodohku, La. Kamu tahu betapa aku mencintainya, mengorbankan seluruh waktuku, hidupku selama ini.” Sengguk-sengguk kepedihan seolah tak pernah habis. “Aku ingin mati saja, aku tak bisa mencintai orang lain selain dia, La.”

“Maya, dengarkan aku. Jodoh itu bukan karena seberapa lama kita bertahan dengan seseorang pada hubungan yang tidak halal. Tapi jodoh adalah seberapa kita sabar menantinya dalam taat.”

“Jangan ceramah, La.”

“Kamu lupa satu hal, May. Bahwa kamu punya Allah.” Nala semakin memeluk sahabatnya. Sejatinya, ada hati yang lebih remuk redam di balik daun pintu kamar Umaya yang sedikit terbuka. Wanita lima puluh tahun itu tak mampu membendung air matanya sejak kepulangan putrinya. Ia bahagia dapat bertemu kembali dengan putrinya, tapi bukan dalam keadaan seperti ini.

Terseok Maya menjalani hari-hari pertama setelah mendarat ke tanah air. Hingga sebuah panggilan di handphone-nya lagi-lagi menggetarkan jiwa. Kebekuan itu sama seperti saat ia menerima panggilan di tengah hujan salju di bawah gedung Bueyong Ica di Jeoju. Kabar pernikahan dari orang yang berbeda, tapi pelaminan yang sama.

“Kau?” Umaya limbung.

Lama sekali Umaya mematut dirinya di cermin. Menahan tanya, mengapa dia begitu pantas dicampakkan. Penghianatan seolah hantu yang sedang menggerus seluruh persendiannya. Nasihat-nasihat Nala yang masih ia simpan terngiang. Apa benar ini teguran?

“Allah …,” bisiknya pelan.

Selembar kain di tangannya ia geraikan pada kepala yang tampak mulai ditumbuhi rambut. Air matanya mengalir. Rasa sakit itu menusuk-nusuk, namun seolah ada hembusan angin sejuk di relungnya saat ia menyebu nama Tuhannya pelan. Dosa-dosa masa lalu bersama sang mantan terekam jelas di kepala, semakin membuatnya mengarung sungai kecil yang mengalir di pipi.

“Kau tidak harus hadir, May.” Sosok Nala muncul dari balik pintu kamar Umaya.

Umaya dalam balutan gamis dan kerudung sempurna menutup hingga bawah dada terpantul dari cermin.

“Masya Allah, kau cantik sekali, May.” Nala bergumam sambil mendekati Umaya.

“Aku siap, Nala,” ujarnya mantab sembari menghapus kumpulan air bening di sudut matanya.

Umaya tak henti menatap lelaki tampan di sampingnya dengan tuksedo hitam yang membuat ia terlihat semakin gagah. Gamisnya sendiri menjuntai anggun. Mereka terlihat sangat serasi. Beberapa tamu undangan menyalami. Mengucapkan selamat. Rasanya lengkaplah sudah kebahagiaan Umaya. Ini mimpi yang lama sekali ia rajut sejak kepergiannya menyusul Martin ke Korea.

“Kau baik-baik saja, May?” Nala mengagetkan.

Umaya seperti terhempas dari angan. Pandangannya beralih dari pelaminan. Dari dua orang yang sebelumnya sama-sama mengabarkan sebuah pernikahan. Pelaminan itu bukan miliknya. Dan mulai detik ini meski susah payah tetapi Umaya berikrar bahwa ia mengikhlaskan mantan kekasihnya menaut akad bersama wanita lain.

“Aku baik-baik saja, Nala. Seperti yang kau bilang. Mungkin benar, ini cara Allah menyematkan hidayah padaku agar aku meninggalkan kehidupanku di masa lalu.”

Selanjutnya Umaya mantap melangkahkan kaki menuju pelaminan dan memberikan selamat pada sepasang pengantin. Martin dan sepupu Umaya yang dulu mengenalkan Umaya kepada lelaki itu.

Oleh: Ummu Ayyash.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: