Mukmin Itu Mustahil Berkata Buruk

Ini adalah statemen yang saya yakini dengan haqqul yaqin benar: bahwa sangat mustahil seorang mukmin akan melontarkan kata-kata buruk yang menyakiti hati orang lain.

Begini.

Kita mafhum mutlak bahwa syarat menjadi mukmin adalah beriman kepada Allah, malaikatNya, kitabNya, rasulNya, hari akhir, qada’ dan qadar.

Mari kita buktikan kebenaran logika statemen di atas dengan mengambil satu item saja dari rukun iman itu, yakni beriman kepada kitabNya, al-Qur’an.

Bahwa al-Qur’an adalah kitab yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad Saw sebagai petunjuk bagi manusia yang tak ada keraguan sedikit pun di dalamnya (artinya: semua ayatnya benar, tidak mungkin saling bertentangan, dan berlaku hingga akhir zaman), itu mutlak wajib dipercaya. Jika ada secuil saja keraguan terhadapnya, berarti iman kita nonsense. Mengaku beriman tapi menyimpan keraguan secuil pun, itu sungguh tak masuk akal.

Orang yang percaya mutlak kepada al-Qur’an pastilah akan membenarkan seluruh isinya, seluruh ajarannya, dan senantiasa berjuang menjadikannya landasan hidup. Tidak mungkin tidak. Maka jika ada orang Islam yang tidak benar-benar menjadikan ayat-ayat al-Qur’an sebagai landasan bagi seluruh aspek hidupnya (way of life), sebutlah masih meminum minuman keras, berjudi, menipu, apalagi meninggalkan shalat, itu tanda bahwa ia bermasalah dengan imannya. Grup muslim begini, kita keluarkan dari maksud tulisan ini.

Sebab ia percaya dan mengamalkan seluruh ayat al-Qur’an, otomatis ia akan menjadikan (di antaranya) larangan berkata kasar dan melecehkan (manna wa adza; lihat surat al-Baqarah ayat 261-264) kepada orang lain yang menerima pemberiannya (kaum dhuafa dan fakir miskin) sebagai pantangan hidupnya.

Bukan saja spirit way of life ini akan mencetaknya jadi sosok yang dermawan, tetapi sekaligus simpatik-empatik pada pokoknya. Mustahil ia akan melemparkan uang yang diberikannya kepada orang lain atau membentak peminta-minta atau menghina orang yang membutuhkan bantuannya. Mustahil.

Orang yang yakin mutlak pada kebenaran al-Qur’an juga niscaya mustahil tidak merawat (menelantarkan) orang tuanya ataupun melontarkan kata-kata sengak dan kasar pada orang tuanya. Jangankan sampai membentak, sekadar mengeluh dengan misal lenguhan “Huuhhh ….” atau “Halahh …..”, ia takkan berani.

Mengeluarkan kata “Ah…” saja pantang ia tebarkan. Sebab itu dilarang jelas oleh al-Qur’an (lihat surat al-Isra’ ayat 23-24). Tambahkan di sini hadits kondang ini, “Di antara dosa-dosa besar adalah berkata kasar kepada kedua orang tua.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Mari bayangkan: berkata “Ah….” saja mustahil, apalagi lalu mengabaikan, menelantarkan, dan memusuhi orang tua. Itu kemuskilan yang amat muskil. Persis dalam ilmu logika soligisme, ketika kesimpulannya adalah “Bermain api itu rawan kena panas”, maka mustahil sekali kan kalian memegang api lalu tidak akan merasakan panasnya.

Lalu surat al-Ahzab ayat 58 melontarkan ancaman azab Allah kepada orang yang menyakiti hati orang lain, “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan tanpa kesalahan yang mereka perbuat, sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.”

Ayat ini mendapatkan penjelasan lebih detailnya dari hadits ini, “Sesungguhnya umatku yang bangkrut adalah orang yang pada hari kiamat datang dengan shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia telah mencaci-maki, menuduh, dan makan harta orang lain (dengan batil) serta membunuh dan menyakiti orang lain. Pahalanya akan diambil untuk diberikan kepada setiap orang (yang disakiti) hingga pahalanya habis padahal tuntutan mereka banyak yang belum terpenuhi. Maka sebagian dosa dari mereka itu akan diambil untuk dibebankan kepada orang tersebut, hingga akhirnya ia dilemparkan ke neraka.” (HR Muslim)

Saya tanbahkan satu ayat lagi ya ini, “Mereka mendapatkan tikar tidur dari api neraka dan di atasnya ada selimut (api neraka). Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang zalim.” (Qs. al-A’raf ayat 41).

Bagaimana nalar logisnya bagi kita untuk masih berani melakukan pelanggaran-pelanggaran terhadap larangan menyakiti orang lain dalam bentuk apa pun itu jika di hati kita benar-benar menyala iman kepada al-Qur’an? Bagaimana mungkin kita sanggup membayangkan tubuh kita kelak di bagian atas dan bawah dijepit oleh api neraka akibat kita menyakiti, menipu, melecehkan, mencaci, atau menghina orang lain?

Sungguh tak masuk di akal bila ada seorang muslim yang berani melakukannya kecuali ia mengidap masalah dengan imannya. Hanya itu jawabannya: bermasalah dengan keimanannnya; imannya palsu.

Secuil tamsil riil keseharian tersebut jelas sangat bisa dibanjarkan lebih panjang lagi. Tapi mestinya itu sudah cukup untuk membuat kita mengerti dan lalu berkomitmen dengan sungguh-sungguh dalam menetapi maqam iman kita di posisi terdalam dan terkuatnya.

Betul memang bahwa manusia macan kita tidaklah ma’shum alias tempatnya salah dan dosa (mahallul khata’ wan nisyan). Boleh jadi pada suatu waktu kita tergelincir pada ekspresi dan ungkapan yang menyakiti hati orang lain.

Atas keterbatasan watak dasar manusia ini, Allah yang Maha Adil telah menyediakan solusinya: beristighfar kepadaNya dan memohon maaf kepada orang yang kita sakiti. Jika itu berkaitan dengan hak orang lain (misal hutang), maka selesaikanlah.

Mukmin yang sungguh-sungguh yakin kepada al-Qur’an jika tergelincir pada ungkapan atau ucapan negatif, niscaya ia akan bersegera memenuhi solusi istighfar dan mohon maaf itu. Takkan berat, takkan ditahan, apalagi diabaikan. Atas nama apa pun, termasuk egoisme. Sebab ia jelas akan selalu memilih menjadikan ajaran Allah sebagai way of life-nya ketimbang apa pun, di hadapan siapa pun. Termasuk dalam hal meminta maaf kepada orang lain yang faktanya amatlah tak banyak di antara kita yang mampu melakukannya.

Ini sekaligus bisa dijadikan barometer empiris bagi kualitas iman setiap kita. Jika kita masih saja berberat hati untuk bersegera meminta maaf atas kesalahan kita, menundanya, waspadailah kualitas iman kita. Jika sebaliknya, itu sungguh anugerah atas kejembaran dada dan terselamatkannya kita dari belenggu hawa nafsu yang merupakan musuh abadi iman itu.

Sampai di sini, mendesak untuk secepatnya kita introspeksi diri masing-masing: bagaimana cara bicara dan kata-kata kita selama ini—sudah baikkah atau sebaliknya? Apa pun jawabnnya, di level itulah posisi iman kita.

Semoga kita bisa bersegera memperbaiki diri selagi hayat masih dikandung badan. Aamiin.

Oleh: Edi AH Iyubenu.

Tinggalkan Balasan