Mungkin Kemarin Aku Terpuruk, Tapi Sekarang Aku Kudu Bangkit!

Brakk!

Pintu berwarna cokelat gelap terhempas kasar. Aku membantingnya. Napasku tersengal, bedakku luntur. Hari ini harusnya aku bahagia, namun nyatanya semua tak seindah yang kuharapkan. Rio, cowokku, berjanji temu di kafe. Momen hari ke-100 kami sudah lama direncanakan dengan pertemuan, namun Rio tak tampak ujung hidungnya.

Di-chat tak dibalas, bahkan hanya tanda centang 2 berwarna biru yang kudapatkan. Ditelpon masuk, tapi tak diangkat. Kamu ke mana sih?

Busa kursi kutekan sambil menggeram. Selebihnya, aku sesenggukan. Menahan air mata yang jatuh. Malu sama pengunjung kafe lain. Setelah 3 jam aku menunggu, aku pun harus pulang karena jam kafe tutup.

Di kamar, aku tak bisa menutup mata. Sebenarnya melupakan kekacauan tadi adalah hal yang sangat kuinginkan, tapi perasaan mendayu-dayu ini memaksaku.

Kenapa dia nggak ada kabar sih? Kalimat tanya itu yang selalu terngiang-ngiang di kepala. Tak habis pikir, aku merasa sudah mendapatkan kepastian bahwa kami akan menghabiskan malam Minggu ini bersama.

Apa dia lupa? Kalau dia lupa, kok centangnya biru? Berarti kan dia online. Pertanyaan-pertanyaan itu hanya membuatku kesal.

Orang yang selama beberapa bulan ini menemaninya, seperti hilang ditelan bumi. Kuambil lagi smartphone yang tadi sengaja kulempar ke sudut kamar. Dengan cepat, aku mencari sebuah kontak nama dan mengetik di ruang obrolan penerimanya.

“Mim, kamu dah tidur?”

Mima, temanku, selalu jadi tempat pelarian kalau ada masalah. Seperti hari ini, aku ingin berbagi cerita. Siapa tahu Mima bisa bantu kasih saran.

“Ya, Na. Belum. Ada apa nih malem-malem chat? Gimana tadi jalan sama Rio?”

“Aku lagi sedih. Tadi jalannya gagal, Mim. Kalau aja ada kabar dari Rio, sampai saat ini malah nggak ada kabar dari dia. Jahat banget deh dia.”

“What! Weh, nyebelin banget tuh cowok. Ke mana dia?”

“Ah tau deh, Mim. Aku jadi males bahas ini lagi.”

Sampai larut malam, Mima jadi tempat curhatku, mengosongkan pikiran tentang si dia. Setelah sadar jam sudah menunjuk ke angka 2, aku menghentikan percakapan. Kasihan Mima, besok kami juga kudu sekolah.

***

“Gimana, Mi? Sudah ada kabar?”

Mima menyejajarkan kursinya di sampingku. Di kelas baru ada beberapa teman yang datang.

“Belum nih. Ada apa ya? Selama 3 bulan ini, baru sekali ini. Nggak biasanya Rio kaya gini.”

“Udah coba nanya ke temen dekatnya?”

“Udah nanya ke Eza, katanya berangkat sekolah. Tapi katanya Rio menghindar kalau ditanya tentang aku.”

“Lah kok? Aneh deh.”

“Aku kudu gimana ya Mim? Masa aku kudu ke sekolahnya? Iya kalau ketemu, kalau nggak aku cuma jadi bulan-bulanan anak-anak sekolah sana. Cowok semua duh.”

“Jangan ih! Tunggu kabar aja. Anti ngemis, An, kamu cewek. Inget itu.”

Bel berbunyi. Sebenarnya aku tak kuasa lagi menahan sesak ini. Rasanya duniaku runtuh. Tapi kupaksakan, guru sudah masuk. Aku kudu belajar.

***

Hari, minggu bahkan bulan berganti. Aku masih saja merasa ada yang kosong dalam hati. Hari-hariku banyak dihabiskan untuk mengobati luka ini. Tapi kok, nggak ilang-ilang sih?

Mima memang selalu ada buatku. Saat aku nangis karena tiba-tiba ingat Rio. Saat aku marah-marah pas mantengin status Rio yang kaya nggak ngerasa pernah ninggalin tanpa kabar.

Chat yang tak pernah dibalas, puluhan misscall. Bahkan terakhir kali kukontak, nomornya tidak aktif. Aku cuma bisa pasrah, aku nggak berani nyamperin. Malu. Masa kudu ngemis?

“An, bentar lagi ujian loh. Kamu nggak boleh terus seperti ini.”

Kami berada di kamar indekosku. Mima datang karena aku bolos beberapa hari.

“Demi apa kamu kaya gini? Rio pun nggak peduli. Aku yakin, dia di sana malah nggak inget kamu. Buktinya, dia nggak ngabarin.”

Mulutku masih bungkam. Rasanya pengen teriak gini, Kamu kan nggak berada di posisiku, Mim! Kamu nggak bakal tau perasaanku! Tapi, aku malas berdebat. Energiku habis buat nangis.

“Ada aku, An. Masih ada aku. Apa ayah ibumu juga bakal rela kamu kaya gini?”

“Gini aja, aku bakal ke sini tiap hari. Kamu mau diem ya silakan. Mau belajar bareng aku, aku dengan senang hati melakukannya.”

Setelah dibujuk ini dan itu, aku rasa aku sudah keterlaluan kalau tak mencoba apa yang dikatakan Mima. Esoknya dia datang, lusa juga. Lagi dan lagi. Karena bantuan Mima, aku berangsur-angsur merasa tenang.

***

Ujian semester akhir selesai sudah. Dua bulan kemarin aku tertatih-tatih menata kehidupanku dengan bantuan sahabatku. Sebelumnya, pelajaran pun tak pernah kusentuh. Hanya Rio, Rio dan Rio yang selalu jadi prioritas. Bahkan, waktu sholat masuk pun, aku tak menghiraukannya. Aku lebih suka menjawab atau menelpon Rio.

Astaghfirullah, inikah teguran-Mu?

“Selamat Mim. Juara satu nih ye!” Aku mengulurkan tangan. Menatap sahabatku yang hari ini merona bahagia. Walaupun agak sesak di dada, karena posisiku “direbut” olehnya.

“Maafin ya, An. Aku ambil rankingmu … weeek!” Mima melet, menggodaku tanpa membalas salaman.

“Hahaha. Nih rasain! Aku piting.”

Mima lari dari pitinganku. Aku sudah merelakan kesedihanku kemarin. Dari Rio, aku sadar bahwa tak hanya dia yang bermakna di hidup ini. Ada Mima, sahabat yang seringnya aku cuekin pas aku memilih menemui Rio.

Mima yang baru aku hampiri setelah aku merasakan sakit. Ternyata Allah menegurku untuk memerhatikan seseorang yang selalu memedulikanku. Mungkin kemarin aku sakit, sekarang aku kudu bangkit.

“Semester besok, ranking satu jadi milikku lagi!”

Seruanku membuat Mima menoleh. Tersenyum hangat kepadaku. Terima kasih, sahabat. Selamat tinggal, cowok!

Oleh: Dhita Erdittya.

Tinggalkan Balasan