Mungkinkah Kita Bisa Beriman Secara Saintifik Ilmiah?

Anggap saja kamu tergolong orang rasional murni yang hanya mau memercayai apa-apa yang bisa dijelaskan secara rasional dan sains ilmiah. Di luarnya, nonsense, hanya mitos, ilusi, dan khayali. Termasuk beriman kepada Hari Kebangkitan.

Baiklah, tak mengapa. Iman memang bersumber pada keyakinan belaka atas segala (catat tebal: segala) apa yang dinyatakan oleh hal yang diimani. Tatkala al-Qur’an menyatakan adanya hari akhir, hari pembalasan, surga yang di bawahnya mengalir sungai madu dan susu, para bidadari yang selalu perawan, cawan-cawan dari emas dan perak, dll., yang sampai kini tak terbuktikan kebenarannya secara empiris-rasional atawa saintifik ilmiah, hanya orang berimanlah yang akan meyakininya benar. Di sebelahnya, golongan yang menyandarkan hidupnya pada sains ilmiah belaka, niscaya menolak.

Tentu saja, penolakan meyakini benar pada segala apa (atau sebagian saja) yang dituturkan al-Qur’an merupakan perkara serius dalam ketauhidan Islam. Tak terhindarkan, kelompok demikian oleh Islam dilabeli kaum kafir, musyrik, atau sesat (dzalim).

***

Empat belas abad lalu (bayangkanlah!) adalah zaman yang tidak kenal metode kerja sains ilmiah dalam memahami dan menjelaskan pelbagai realitas hidup ini. Mengapa misalnya unta bisa tahan hidup tanpa minum dan malah sebegitu lamanya di antara padang pasir yang amat gersang? Mengapa terjadi hujan? Juga gempa? Bagaimana proses penciptaan manusia di dalam rahim ibu? Dan sebagainya.

Kita mengerti betapa zaman itu capaian nalar rasional dan ilmu pengetahuan amatlah sederhana. Perangkat-perangkat riset dan laboratorium tidak terbayangkan. Kajian-kajian empiris ilmiah terbetik pun tidak.

Itu adalah masa di mana kabilah-kabilah manusia hanya kenal cara hidup nomaden sebagiannya, lalu berniaga, dan selebihnya berperang satu sama lain untuk saling menguasai. Lalu, lahirlah dan diutuskan seseorang dari kalangan zaman sejenis itu, dan bertutur begitu banyak hal yang muskil mampu dilahirkan oleh zamannya. Dialah Rasulullah Muhammad Saw yang mewariskan al-Qur’an ini.

Sebagai bagian dari anak zamannya yang ala kadarnya demikian, Muhammad digambarkan sebagai sosok yang buta huruf. Ummi, alias tak bisa baca tulis. Tak logis tentu ada orang yang buta huruf kok tiba-tiba mampu berbicara tentang hal-hal yang saintifik ilmiah yang terbukti benar di ribuan tahun berikutnya.

Tetapi, bukankah memang begitu yang tejadi?

“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (Terjemah surah Al-Anbiya ayat 30)

Lihat pula surat Ibrahim ayat 32, yang artinya, “Allahlah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai.”

Al-Baqarah ayat 164, yang artinya, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.”

Al-Haj ayat 5, yang artinya, “Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan.

Kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang dahulunya telah diketahuinya.”

Ar-Rahman ayat 19-20, yang artinya, “Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing.”

Dan lain sebagainya, dan masih sangat banyak ayat lainnya lagi.

Pertanyaan kritisnya buat kita di masa kini yang menyandarkan hidupnya pada nalar rasional: bagaimana penjelasan logisnya tuturan-tuturan yang kini terbukti benar secara saintifik ilmiah itu mampu dijabarkan oleh Muhammad pada 14 abad lalu itu?

Bagaimana logikanya seorang Muhammad mampu menjelaskan proses penciptaan manusia di alam rahim itu? Bagaimana mungkin Muhammad berhasil menjelaskan adanya lautan-lautan yang tak bercampur air-airnya yang kini tebukti benar? Dll.

Akal, ilmu pengetahuan, dan temuan sains ilmiah kita hari ini tak mampu menjawab dengan memuaskan terhadap pertanyaan-pertanyaan itu. Maka, apa lagi gerangan yang bisa memuaskan jawabannya kecuali mengimani bahwa dialah Muhammad sang utusan Allah, yang kepadanya diturunkan al-Qur’an, yang sebagian kandungannya bicara tentang hal-hal yang melampaui kemungkinan nalar zamannya yang kini terbukti benar secara sains ilmiah!

Jadi logis belaka sesungguhnya untuk karenanya lantas kita pun meyakini benar seluruh kandungan al-Qur’an itu, termasuk hal-hal yang belum berhasil dibuktikan benar oleh sains ilmiah. Begitu mestinya konsekuensi logis dari kepercayaan mutlak kita kepada ilmu pengetahuan dan sains ilmiah.

Ketika al-Qur’an menuturkan tentang terbentuknya alam raya ini dari air, yang kini terbukti oleh sains ilmiah, lalu ada lagi sejumlah ayat al-Qur’an yang bertutur tentang alam kubur, hari kebangkitan, dan surga neraka, yang tidak berhasil dipecahkan bukti empirisnya oleh sains ilmiah, mengapa kita bersikukuh menolaknya? Bukankah itu tidak fair, tidak logis, dan bukan sikap gentle cendekiawan atau ilmuwan?

Mengapa kita tidak berkenan mengakui bahwa semakin banyaknya tuturan al-Qur’an yang terbukti benar secara sains ilmiah dari masa ke masa, dan besar kemungkinan secara rasional ayat-ayat lainnya pun yang belum terpecahkan kebenarannya akan terbukti benar di kemudian hari seiring perkembangan sains ilmiah, itu tidak kita jadikan alasan logis, rasional, dan ilmiah bahwa al-Qur’an sungguhlah benar kandungannya dan yang memungkinkannya demikian semata karena ia adalah kalamullah?

Bila berpikir fair demikian, apakah ada sikap lain yang logis untuk dikedepankan di hadapan al-Qur’an kecuali mengimaninya? Tak ada. Sama sekali tak ada.

Dengan bukti-bukti tersebut, yang masih sangat bisa dibanjarkan lebih panjang lagi, terlihat jelas bahwa siapa pun yang menolak kebenaran al-Qur’an, mengimani kemahakuasaan Allah, atas dasar argumen-argumen logika rasional dan saintifik ilmiah, tepat di detik dan sudut yang sama sejatinya tengah mengingkari marwah empiris pemikiran rasional dan sains ilmiah itu sendiri.

Oleh: Edi AH Iyubenu.

Tinggalkan Balasan