Salah satu sahabat Rasulullah, yang kisahnya mampu membuat saya tiba-tiba menitikkan air mata ketika membacanya. Dialah Mush’ab bin Umair.

Pernah dengar cerita tentang Mush’ab bin Umair? Dia seorang sahabat Rasulullah yang wajahnya sangat mirip dengan Rasulullah. Berkulit putih dengan rambut sebahu. Pakaiannya terkenal bagus dengan kualitas kain istimewa dari Yaman. Sendal yang digunakannya juga berkualitas sangat baik, ditambah dengan aroma parfum yang awet dan tahan lama.

Setiap kali Mush’ab melintasi sebuah tempat, maka bau harumnya tertinggal, meskipun Mush’ab telah jauh pergi meninggalkan tempat itu. Orangtua Mush’ab sangat kaya raya dan begitu menyayangi Mush’ab dan adiknya, Abu Aziz bin Umair. Dia pemuda yang paling unggul di kalangan orang-orang Quraisy, bagaimana tidak sudah kaya, tampan, dan perangainya pun sangat baik.

Saat ia mendengar kedatangan seorang Nabi, ia menyambut berita baik yang didengarnya. Dengan diliputi rasa penasaran, ia pergi seorang diri menuju Darul Arqam, tempat yang biasa digunakan oleh Rasulullah saw untuk mendakwahkan Islam di awal-awal kemunculannya.

Di sana, ia mendengarkan apa yang disampaikan oleh Rasulullah, tentang tak boleh menyekutukan Allah dalam peribadahan, meninggalkan berhala-berhala, berbuat baik kepada sesama, dan tidak boleh berbuat zalim, serta tidak boleh membunuh orang lain tanpa hak.

Mush’ab mendengarkan semua yang disampaikan oleh Rasulullah, hingga tak sdikit pun keragu-raguan singgah di hatinya. Ia ulurkan tangannya untuk bersyahadat di hadapan Rasulullah. Mush’ab masuk Islam, dan sejak itu ia tak pernah sekalipun meninggalkan majelis-majelis yang diadakan Rasulullah.

Namun, perjalanan keislamannya tak berjalan mulus. Saat orangtuanya mengetahui bahwa Mush’ab telah meninggalkan ajaran nenek moyangnya, serta merta apa yang telah diberikan kepada Mush’ab diambil kembali oleh orangtuanya. Tak ada lagi makanan enak, baju-baju mahal, dan aroma wewangian yang sedap lagi.

Mush’ab harus menerima dinginnya sebuah ruang gelap yang dijaga oleh para algojo yang sengaja dibayar oleh orangtuanya. Orangtua yang dulu begitu mencintainya pun kini berbalik malah menyiksa Mush’ab, sehingga warna kulitnya menjadi kelam bekas luka-luka akibat hukuman yang dia terima atas konsekuensinya dalam menempuh agama Islam.

Mush’ab menerima semua konsekuensi yang dia terima atas kegigihannya dalam berpegang teguh kepada agama Allah. Ia rela kehilangan fasilitas dunia yang dulu pernah dimiliknya. Maka sejak itu, mulailah kehidupan baru Mush’ab yang sangat jauh dari kemewahan.

Orangtuanya berpikir jika suatu hari Mush’ab tidak akan tahan menanggung penderitaan yang panjang dan lama, sehingga mereka berharap Mush’ab mau kembali kepada ajaran nenek moyangnya dan meninggalkan agama yang dibawa Rasulullah. Tapi, Mush’ab tetap gigih berpegang pada agama Allah.

Suatu hari, Mush’ab pernah datang mengunjungi masjid Quba dengan pakaian yang sangat buruk dan memiliki tambalan. Saat itu, para sahabat yang sedang berkumpul di masjid langsung memalingkan pandangan dari Mush’ab, mereka tidak sanggup melihat keadaan Mush’ab yang kini sangat buruk dengan tubuh yang semakin terlihat kurus.

Bahkan, kala bercerita tentang Mush’ab, Rasulullah pun sampai menitikkan air mata. Bagaimana tidak, orang yang nyaris sempurna itu, rela kehilangan segala kemewahan dan nikmat yang dimilikinya, demi iman yang ditanggungnya.

Mush’ab tak sedikit pun peduli dengan keadaan yang djalaninya setelah ia memeluk Islam. Ia tetap teguh dan gigih menuntut ilmu. Ketekunannya dalam belajar menjadikan Mush’ab memiliki pengetahuan agama yang sangat mendalam. Sebab itu pula, Rasulullah menunjuknya untuk berdakwah di Madinah. Mush’ab adalah da’i pertama dalam Islam.

Dalam berdakwah, Mush’ab mengedepankan sikap bijaksana dan lemah lembut dengan tutur kata yang santun. Ia berdakwah melalui akhlak baik yang dimilikinya. Mush’ab berhasil mendakwahi dua orang kepala suku di Madinah, yang keduanya sangat disegani oleh rakyatnya.

Dengan masuk Islamnya dua orang kepada suku tersebut, maka serta merta diikuti oleh para rakyatnya. Jadilah, dalam sekejap hampir seluruh Madinah telah memeluk agama Islam. Mush’ab miskin di dunia, tetapi ia memiliki begitu banyak tabungan di akhirat.  

Mush’ab memiliki kecintaan yang besar terhadap Allah dan Rasul-Nya. Ia menjadi garda terdepan untuk membela agama Allah, bahkan karena kecintaannya yang begitu mendalam kepada Rasulullah. Mush’ab pun wafat karena melindungi Rasulullah dari serangan musuh yang hendak membunuhnya.

Ibnu Qami’ah melesatkan anak panahnya ke tubuh Mush’ab dalam peristiwa Perang Uhud, hingga akhirnya Mush’ab bin Umair wafat. Bukan main senangnya Ibnu Qami’ah kala itu, karena ia berpikir bahwa baru saja ia membunuh Rasulullah, tetapi ternyata salah, yang ia bunuh sebenarnya adalah Mush’ab bin Umair—seorang pemuda yang wajahnya memang benar-benar mirip dengan Rasulullah.

Mush’ab bin Umair wafat demi melindungi orang yang paling dicintainya dan ia gugur dalam keimanannya kepada Allah dan Rasul-Nya. Mush’ab bin Umair wafat tanpa mewarisi kemewahan apa pun, kecuali hanya selembar kain.

Selembar kain yang ketika digunakan untuk menutupi bagian kepalanya, maka bagian kakinya akan terbuka, sedangkan jika ditutupi bagian kakinya, maka bagian kepalanya akan terlihat. Maka, para sahabat pun menutupi bagian kaki Mush’ab dengan rumput idhkir yang harum baunya.

Mush’ab bin Umair mengajarkan kepada kita bahwa popularitas dunia tak berarti apa pun dan segala kekayaan hanya bersifat sementara. Sebaik-baik bekal untuk kembali “pulang” hanyalah iman dan takwa. Allah mencintai Mush’ab bin Umair karena ketakwaannya.

Oleh: Annisa Pratiwi, dari berbagai sumber.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: