Ilustrasi dari Google Image

Muslimah Keliling Dunia, Kenapa Tidak?

Menulis impian adalah sebuah keharusan dalam keluarga kami. Bahkan masing-masing dari anggota keluarga memiliki buku impian yang didalamnya berderet impian-impian kami, mulai dari yang paling sederhana hingga paling utama. Abi dan umi selalu mengingatkan bahwa impian yang paling utama haruslah masuk surga, supaya kami sekeluarga dapat berkumpul kembali di surga. Nah, salah satu dari sekian banyak impianku adalah jalan-jalan ke Malaysia.

Sederhana mungkin ya? Hanya Malaysia. Bukan negara jauh, hanya negara tetangga. Bahkan teman-temanku banyak yang sering bolak-balik ke Malaysia. Tapi bagiku, justru negara terdekat itu harus menjadi destinasi pertama. Rizal, salah seorang sahabat sekaligus motivator muda, mengatakan bahwa setiap pulang dari luar negeri pasti menumbuhkan semangat tersendiri bagi diri kita. Jadi bagiku, Malaysia harus menjadi destinasi luar negeri pertama, agar semakin tumbuh semangat dalam diriku untuk bisa mengunjungi negara-negara lain bahkan mengelilingi dunia! Tentu saja Arab Saudi dan Palestina menjadi destinasi yang sangat ingin kukunjungi bersama keluarga saat umroh kelak suatu saat.

Hampir bertahun-tahun impian mengunjungi Malaysia itu hanya sekedar deretan kata yang tertulis rapi di buku impianku. Hingga akhirnya di pertengahan tahun 2017, tepatnya di bulan Juli, Rizal menawarkan di grup whatsapp Inspirator Muda tentang trip ke Malaysia. Perkiraan perjalanan di bulan September, dengan harga tiket pesawat pulang pergi hanya 600 ribu! Wah! Sebuah kabar gembira yang membuatku terlonjak gembira! Jalan menuju salah satu impianku mulai terbuka secara perlahan. Itu adalah sebuah kesempatan emas. Pergi ke Malaysia bersama Rizal dan Istri serta anaknya pasti seru. Rizal menikah di usia 22 tahun dan istrinya merupakan adik kelas di kampusku dulu, Lipia.

Tawaran dari Rizal sempat mengganggu pikiranku. Rasanya keinginan ini begitu membuncah tak terbendung. Tapi aku takut. Aku tak punya uang. Kondisiku saat itu sedang menyelesaikan skripsi di salah satu kampus swasta di Jakarta Timur. Sembari menggarap skripsi aku menyempatkan untuk menerima tawaran les privat. Akan tetapi sudah sebulan ini aku berhenti mengajar privat karena ingin lebih fokus dalam penyelesaian skripsi yang tinggal sebentar lagi. Itu artinya tak ada pemasukan selain uang saku dari orangtua yang harus kuhemat-hemat. Hidup di Jakarta mahal kawan.

Aku sedih, takut kesempatan itu tak bisa kuambil. Tapi Rizal menyemangati kami di dalam grup whatsapp tersebut. Rizal berkata bahwa jika Allah berkehendak maka tidak ada yang tidak mungkin. Rizal meminta kami yang benar-benar ingin pergi untuk menulis nama kami di list, perkara punya atau tidak punya uang itu belakangan. Allah Maha Kaya, tambahnya. Semangat dari Rizal itupun akhirnya membuatku semakin yakin. Akhirnya, aku nekat menulis namaku di list anggota grup yang akan berangkat. Bismillah. Allah Maha Pemberi Rezeki.

Keesokan harinya Rizal meminta kami untuk segera melunasi tiket pesawat agar tidak kehabisan promo. Lalu aku memberanikan diri untuk menceritakan kondisi keuanganku secara pribadi pada Rizal. Alhamdulillah Rizal ternyata bersedia untuk menalangi dulu tiket pesawatku. MasyaAllah, Allah hadirkan teman-teman baik di sekitarku.

Dua minggu kemudian, tanteku menelpon. Tante yang merupakan asli Jawa menikah dengan orang Jakarta kemudian berdomisili di Bogor. Ia adalah wakil kepala sekolah di sebuah SMP Boarding School khusus akhwat. Tante memberitahukan bahwa sekolah tempat ia mengajar sedang membutuhkan guru bahasa Arab, dan karena tante tahu bahwa aku pernah kuliah dengan jurusan bahasa Arab, maka tante memintaku untuk mengajar di sana. Kujelaskan kondisiku saat itu sedang sibuk menyelesaikan skripsi dan belum sarjana. Namun tante meyakinkan bahwa itu semua bisa diselesaikan sambil mengajar. Akhirnya setelah berdiskusi dengan orangtua, kuterima permintaan tante. Alhamdulillah, Allah mulai bukakan pintu rezeki untukku.

Satu bulan kemudian, tepatnya saat Idul Adha, aku pulang kampung untuk melepas rindu dengan keluargaku. Di momen itulah aku menyampaikan perihal keinginanku untuk pergi ke Malaysia bersama Rizal dan kawan-kawan. Orangtua pun menyetujui, dan bahkan mereka bersedia meminjami aku uang dulu untuk membayar tiket dan biaya penginapan serta sangu. Aku berjanji untuk menggantinya setelah aku memiliki gaji. Ternyata benar. Allah Maha Kaya. Allah beri rezeki melalui keluarga dan orang-orang terdekat.

***

Memasuki bulan September, skripsiku sudah memasuki tahap finishing. Tante memintaku untuk segera masuk dan melakukan wawancara di SMP Boarding School tersebut. Perlu diketahui, pesantren ini bermanhaj ahlus sunnah wal jama’ah, yang sering dikenal orang dengan sebutan salafi. Orangtuaku sendiri tidak mempermasalahkan hal itu, walaupun kedua orangtua bukan salafi, tapi pengetahuan mereka tentang Islam tidak awam. Singkat cerita, aku mulai mengajar di SMP tersebut. Terkadang saat weekend aku pergi ke Jakarta untuk mengurus revisi skripsiku. Di sela-sela kesibukan mengajar dan revisi skripsi, aku menyempatkan untuk mengurus paspor. Proses yang dibutuhkan tidak lama. Hingga akhirnya paspor berhasil ada dalam genggamanku.

Pekan terakhir di bulan September beberapa hari lagi. Dan aku sudah tidak sabar menantinya. Grup whatsapp dengan judul ‘Road to KL’ pun sudah dibuat oleh Rizal. Di dalamnya Rizal sering mengingatkan kepada kami tentang kelengkapan-kelengkapan menjelang hari H keberangkatan. Tak lupa juga kami diingatkan untuk menjaga kesehatan agar tubuh fit saat memulai perjalanan.

Malam itu, empat hari sebelum keberangkatan, sembari menyiapkan perlengkapan yang harus dibawa, aku menyampaikan kepada tante perihal keberangkatanku ke Malaysia dan bersama siapa saja aku berangkat. Tante yang sedang mengoreksi pekerjaan para murid seketika terdiam.

“Pergi ke Malaysia kan shafar. Kamu harus pergi sama mahrammu, kan?” tanya tanteku tanpa menoleh sedikit pun kepadaku.

Aku terdiam lama, berusaha mencerna perkataan tante. Hingga akhirnya aku bergumam lirih, “Umi abi ngizinin kok.”

“Iya tapi itu kan shafar, terus kamu juga baru masuk ngajar masak sudah izin. Memangnya nggak malu?” Lanjut tanteku dengan nada mulai meninggi.

Aku diam dan kaku. Mencoba memikir otak atas jawaban apa yang harus kuberikan. Namun lidahku kelu. Tak satu pun kata keluar dari mulutku. Hingga keesokan harinya tante masih tidak membahas sama sekali tentang kejadian semalam. Aku pun segan untuk menanyakannya kembali. Sesekali aku cari di internet dan buku-buku yang ada di rumah terkait kasus shafar. Kesimpulan yang aku dapat adalah ada dua pendapat. Karena takut berdebat dengan tante, kesannya tidak sopan, aku pun hanya berani mengirim dalil-dalil dan perbedaan pendapat tersebut melalui Whatsapp kepada tanteku. Namun responnya masih tetap sama hingga keesokan harinya.

Di hari kedua menjelang keberangkatan, aku sudah pasrah. Dalam hatiku merasa begitu pilu. Impian yang tadinya sudah di depan mata terpaksa hanya kembali menjadi deretan kata dalam buku impianku. Barang-barang yang tadinya sudah kucicil dimasukkan ke dalam tas ransel, mulai kukeluarkan kembali. Aku pun tidak berani bercerita apa-apa kepada orangtua maupun teman-temanku. Aku pasrah. Mungkin Allah belum menakdirkan impianku ke Malaysia terwujud di waktu ini. Uang yang sudah kukumpulkan untuk mengganti biaya itu pun harus kuikhlaskan hangus. Ya Rabb, ajari aku ikhlas.

***

Tibalah di hari menjelang keberangkatan. Aku dan tante bersiap untuk berangkat ke sekolah. Kami biasa mengendarai motor dengan jarak tempuh kurang lebih 10 menit menuju sekolah. Pagi itu cerah, angin sepoi menambah syahdu suasana pagi. Di atas motor, tanteku yang biasanya berdzikir, tiba-tiba memanggilku, “Nid …”

“Iya ada apa, Tan?” tanyaku sambil tetap berkonsentrasi menyetir.

“Kamu besok berangkat saja sama teman-temanmu itu. Nanti izin di sekolah gampang. Biar tante yang atur,” ucap tanteku datar.

“Hah! Nida nggak salah denger kan, Tan? Alhamdulillah!” ujarku kegirangan sampai motor hampir oleng karena aku melonjak-lonjak.

Astaghfirullah Nid! Pokoknya kamu jangan bilang-bilang sama guru-guru yang lain ya. Jangan sampai mereka tahu kamu pergi. Karena kamu kan nggak ajak mahram,” jelas tanteku.

“Siap laksanakan, Tan! Alhamdulillah. Makasih, Tan,” jawabku dengan senyum lebar.

Jadilah hari itu, tanggal 27 September 2017, kami berenam berkumpul di Bandara Internasional Soekarno Hatta. Sembari menunggu jadwal check in, kami melepas dahaga di sebuah restoran cepat saji. Di situ, Rizal mengingatkan kepada kita untuk kembali memperbaiki niat, agar perjalanan kali ini bukan sekadar jalan-jalan dan hura-hura. Tetapi juga bagaimana kita bisa mengambil pelajaran di setiap perjalanan yang terjadi. Nantinya sepulang dari Malaysia, Rizal meminta masing-masing kami untuk membuat minimal satu tulisan tentang ‘Malay Trip’ itu. Bahkan istrinya pun juga kena tugas. Hehe …

Setelah check in, kami memasuki ruang tunggu. Dengan menggendong tas ranselku, aku berdiri di balik kaca melihat pesawat-pesawat berjejer rapi sesuai dengan letak maskapainya. Awan putih membentuk gumpalan-gumpalan yang lucu di langit. Buku paspor beserta tiket berada erat dalam genggamanku. Sembari memandang buku hijau kecil itu, dalam hati kuucapkan, Hai buku paspor, temani aku keliling dunia ya!

Oleh: Nida.

Tinggalkan Balasan