Kebangkrutan Pertama; Rumah Disita?

“Dek, rumah ini mau disita. Kalau sertifikat rumah enggak bisa ditebus, ya kita harus pindah,” kata kakakku.

Entah sudah berapa orang ngomongin tentang rumahku yang jadi jaminan utang. Ya, Kakak, Ibu, Tante, sampai tetangga-tetangga, tapi belum ada satu pun yang membuka suara di depanku. Mungkin karena aku cuma anak kecil yang kalaupun dijelaskan tidak bisa memberi solusi apa pun. Sampai sore itu Kakak tiba-tiba bilang saat kondisi rumah sepi.

“Disita itu gimana, sih?” tanyaku polos.

“Ya, rumah kita nanti diambil sama bank. Kita enggak bisa tinggal di sini lagi.”

“Terus kita tinggal di mana, Mbak?”

“Belum tahu, sih. Kayaknya di Solo aja, biar keluar dari Klaten.”

Rumah disita dan pindah. Di benak seorang anak kelas empat SD, ya seru aja. Apalagi, kata Kakak, kemungkinan besar kami akan pindah ke Solo. Wah, malah pindah ke kota, asyik dong, batinku saat itu. Bahkan aku membayangkan rumah yang akan kami tinggali di Solo nanti ada kolam renangnya. Pikiranku waktu itu, rumah di Solo itu semuanya punya kolam renang.

Tanpa cukup tahu resiko apa yang kami hadapi, aku tetap menjalani hari seperti biasa. Masih tetap sekolah, bermain dengan teman-teman atau boneka-bonekaku di rumah. Namun, memang sesuatu yang berbeda terjadi sejak hari itu. Banyak orang yang tiba-tiba datang ke rumah. Kadang saudara, teman Bapak atau Ibu, tetangga atau mungkin dari pihak bank. Aku enggak terlalu paham.

Satu hal yang kuingat, setiap kali mereka datang, beberapa di antara mereka ada yang suka nanya di mana aku berada.

“Lha, Tika di mana?”

Lalu, mereka mencari di mana aku berada, menatapiku sambil tersenyum dengan sedikit terpaksa. Aku merasa seperti seekor beruang yang ada di kandang kebun binatang. Bukan karena aku seperti binatang, tapi aku dipandangi dari jauh seakan dalam hati mereka berkata, “Tuh … itu, beruangnya di sana. Udah lihat belum? Lucu nggak? Ko kurus, ya? Coba kasih makan, deh.” Aku nggak suka tatapan mereka, sungguh.

Bertahun-tahun aku masih ingat rasanya tatapan “beruang di kandang” itu. Setelah dewasa baru kusadari, mereka hanya ingin memastikanku baik-baik saja. Aku adalah satu-satunya anak yang masih ada di rumah. Ketiga kakakku semua sudah hengkang dari rumah untuk sekolah maupun kuliah. Ya, memang sudah jadi nasibku berada di situasi itu.

Satu hal yang begitu terasa setelah kejadian rumah jadi jaminan utang adalah uang jajanku yang makin menipis. Sebenarnya perihal uang jajan ini nggak terlalu mengganggu, karena jajan di masa itu memang masih sangat murah. Namun, ada satu kebiasaan di keluarga kami yang sirna dan kuanggap jadi imbas besar dari kejadian itu.

Dulu, kami adalah salah satu potret keluarga yang tidak begitu terpengaruh dengan adanya krisis moneter. Di rentang tahun 1997-1998, kami masih dengan rutin menghabiskan akhir pekan dengan jalan-jalan, jajan-jajan, juga belanja-belanja. Aku ingat, kala itu aku pernah pamer ke seorang teman bahwa keluarga kami baru saja makan pizza di gerai pizza paling terkenal di Indonesia yang ada di Solo.

“Eh, aku habis makan pizza lho, kemarin. Heuum … enak banget rasanya. Kamu belum pernah, kan?” ujarku dengan raut muka penuh kesombongan, ala anak kecil pamer barang yang enggak dimiliki temannya.

“Oya? Gimana, sih rasanya pizza?” Temanku benar-benar kemal (kepo maksimal).

Ah, momen kesombongan seperti itu tak bisa lagi kuulangi setelah rumah kami berstatus jaminan utang. Baju baru? Itu juga jadi barang langka. Jalan-jalan? Boro-boro. Iya, sih, orang tuaku jalan-jalan, dari rumah ke bank, begitu sebaliknya. Tapi, lagi-lagi, apa pun yang terjadi, kami masih bisa mempertahankan rumah.

Kebangkrutan Kedua; Mobil Dijual!

“Bapakmu bangkrut! Mobil udah dijual. Bapakmu … snjfejhjfkj.”

Aku ingat hari itu Ibu pakai baju warna merah. Aku tepat berada di rumah kala seseorang memberi kabar, Bapak sudah menjual mobil kami dengan harga yang sangat murah. Ibu menangis sangat kencang, memanggil nama Bapak dengan amarah yang memenuhi ruangan. Bahkan, aku tak mengerti lagi untaian katanya kala itu, cuma sebagian yang kuingat.

Aku enggak tahu harus berbuat apa. Tak ada yang pernah mengajariku cara menenangkan orang yang marah hingga wajahnya memerah. Apalagi itu orang tuaku sendiri. Bisa-bisa, kalau aku salah langkah, semuanya jadi kacau.

Kabar mobil dijual ternyata lebih menghentakkan hatiku. Jika saat mendengar rumah akan disita aku masih bisa santai, kali ini aku ikut merasa kacau. Pasalnya, satu-satunya simbol kesejahteraan keluarga kami akan disita. Kendaraan yang dipakai untuk mengantarkanku ke SMP selama duduk di kelas 1 akan berpindah tangan.  

Mikirin banget masih mau pamer antar jemput sekolah pakai mobil?

Aku sempat bertanya seperti itu dalam hati. Iya, pastinya mikirin banget. Untuk ukuran anak remaja, itu jadi penting. Apalagi, semua orang tahu kalau Bapak itu dokter. Gengsi dong, dokter enggak punya mobil. Aku kan udah mulai berpenampilan sederhana, uang jajan menipis, masak iya sekarang masih mau ditambah lagi?

Saat itu aku pun akhirnya memaksa orang tua agar dibolehkan naik motor ke sekolah (SMP). Udah pasti aku enggak punya SIM, jangan ditanya lagi. Akhirnya, permintaan itu pun dipenuhi. Jadilah aku naik motor dengan seragam putih biru dongker, tanpa helm pula. Duh, bandelnya aku di masa itu.

Sejak rumah terancam disita dan mobil sudah dijual. Kehidupanku pun ikut berubah total. Secara kasatmata, kakak-kakak melihatku terancam tumbuh jadi anak “enggak bener”. Di SMP punya pacar, ke sekolah naik motor, suka pulang sore, temennya cowok-cowok, mereka jadi khawatir. Ketiga kakakku pun kompak menyuruhku pakai jilbab saat SMA dan masuk ROHIS.

Kebangkrutan Ketiga; Hampir Gagal Kuliah.

Memasuki masa SMA aku masih setia dengan motor Supra yang sudah kupakai sejak SMP. Sebenarnya, di rumah cuma ada dua motor. Aku merajuk satu motor itu untukku. Hingga tak berapa lama, motorku pun dijual untuk menutup utang.

Kali ini aku sedih bukan dengan perasaan yang sama seperti saat mobil kami dijual. Aku lebih sedih karena enggak bisa leluasa ke mana-mana. Sebagai bentuk perlawanan atas ditariknya motor kesayanganku, aku pun memutuskan ngekos di dekat sekolah.

Aku mulai berdamai dengan gaya hidup dan cara berpikir materialistis di sini. Misalnya, aku mulai terbiasa makan nasi pecel dan tempe, makan mie instan terus-terusan, enggak banyak jajan dan belajar mengatur keuangan. Ini seperti momen perpisahan dengan daging dan ayam, untuk PDKT sama tempe, telur dan peyek. Bye, makanan enak kesukaanku.

Salah satu cara yang membantuku bertahan atas perubahan situasi di hidupku adalah fokus dengan kegiatan organisasi. Aku ikut OSIS, ROHIS, FARISKA (Forum Aktivis Remaja Islam Klaten), Remaja Masjid, jadi penyiar radio dan gabung dengan Lembaga training. Nah, dua hal terakhir itu bukan sekadar organisasi, dari sana aku juga menghasilkan pundi-pundi uangku sendiri. 

Selama di SMA, dompetku kerap tak bersalam sapa dengan mata uang. Namun. karena aku aktif di beberapa tempat, sekadar untuk kecukupan makan semuanya bisa terpenuhi. Rapat, makan-makan. Panitia acara, dari snack sampai nasi semua aman. Ada acara training, dapat nasi kotak sama uang jajan. Pas siaran, senior-senior sering bawain makanan. Dan, satu hal lagi, senang itu mengenyangkan. He-he-he.

Menjelang lulus SMA, aku hampir memilih enggak lanjutin ke jenjang berikutnya. Ya, apalagi kalau bukan karena biaya.

Pak, Bu, kalau aku enggak usah kuliah aja, gimana?

Pertanyaan itu sudah kusimpan baik-baik. Setiap kali ada kesempatan untuk bertanya, mulutku malah terkunci rapat. Kalau aku sampai enggak jadi mahasiswa, pasti mereka juga akan malu. Semua Kakakku kan udah kuliah.

Bismillah aja, deh. Akhirnya aku daftar kuliah di UGM, jurusan Sastra Asia Barat. Sebelum tiba hari pengumuman, aku sempat berharap, semoga namaku enggak ada di deretan yang lolos. Jadi, aku bisa ngeles untuk enggak kuliah.

“Gimana, Dek, hasilnya?” Tanya Ibuku di detik-detik pengumuman tiba.

“He-he-he, alhamdulillah diterima, Bu.” Jawabku, setelah mengucek-ngucek mata, masih enggak percaya ada namaku di barisan diterima.

Satu hal yang belum kuceritakan ke orang tua adalah tentang uang pangkal. Aku memasukkan kesanggupan bayar uang pangkal di deret paling rendah, lima juta. Meski begitu, aku tahu mereka belum sanggup membayarnya.

Hari-hari pertama ke kampus, aku mulai mencari informasi beasiswa. Dari mulut ke mulut, aku dengar BEM UGM akan memperjuangkan nasib orang-orang sepertiku. Deal, aku meluncur ke BEM. Temanku senasib seperjuangan ternyata banyak. Kami semua dibawa ke kantor rektor untuk memperjuangkan nasib.

“Besok bikin surat keterangan tidak mampu, ya!” ujar salah satu anggota BEM setelah negosiasi mereka dengan pihak kampus berhasil.

Surat keretangan tidak mampu adalah syarat mutlak didapatkannya keringanan pembayaran uang pangkal. Dalam hati aku merasa ragu. Bagaimana aku minta surat keterangan tidak mampu? Bapakku, kan …? Apa iya, aku bisa dapat surat sakti itu?

Setelah mengurus semua persyaratan, di tengah himpitan ragu, apakah aku dan teman-teman senasib denganku bisa tetap kuliah, kabar mengejutkan datang. Alhamdulillah, Allah sudah menjamin rezekiku bisa kuliah di UGM, tanpa membayar uang pangkal di muka. Bahkan setelah itu, aku juga dapat beasiswa tambahan dari salah satu perusahaan ternama. Dari uang beasiswa itulah aku punya modal untuk jualan gamis di kampus. Hasilnya membuatku tak bergantung dengan uang jajan dari orang tua.

Rezeki Tak Pernah Tertukar

Kalau mau dipikir pakai Ilmu Manajemen Keuangan, Matematika, Fisika, Kimia–hehe, jalan hidupku takkan tergambar jadi seperti ini. Kami sekeluarga hidup dengan rezeki yang mengendap di langit, tak tampak di dompet atau pun kartu ATM, tapi datang secara nyata saat dibutuhkan. Dan, tak ada rahasia atas semua ini, sudah jelas kan, rezeki dari Allah Yang Maha Kaya dan tak pernah tertukar.

***

Oleh: Mariana Suci Swastika.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: