Pergantian tahun sudah di ambang pintu. Tahun 2018 setapak demi setapak mulai meninggalkan kita dan segera kita songsong tahun 2019. Sudah siap menyongsong tahun baru? Tahun babi tanah.

Dalam Fengshui, shio babi tanah itu memiliki sifat rajin, bersemangat, tekun dan mengabdikan diri pada pekerjaan serta keluarganya. Itu artinya tahun 2019, tahun yang penuh harapan dan masa depan. Entah itu benar atau salah, namun tidak ada salahnya kan kita memasang resolusi.

Apa sih resolusi itu?

Menurut KBBI, resolusi adalah putusan atau kebulatan pendapat berupa permintaan atau tuntutan. Bisa juga berarti pernyataan tertulis. Dalam bahasa kita resolusi sering diartikan sebagai target atau harapan. So, apa dong resolusimu untuk tahun 2019?

Sebelum membahas tentang tahun depan, tahun 2019, ada baiknya kita mengingat pencapaian kita di tahun 2018. Namun tetap diingat, apa pun pencapaian kita di tahun 2018 ini baiknya menjadi catatan. Kemudian renungkan, apakah kita cukup puas dan merasa berhasil. Ataukah belum sesesuai target yang kita rancang di tahun sebelumnya.

Ya, apapun hasil yang kita peroleh di tahun ini jadikan sebagai tonggak untuk lebih baik di tahun depan. Jadi jangan terpuruk atau malah menjadi pesimis menghadapi tahun 2019. Kita masih kok merancang lagi dan mengulang kesuksesan bila itu yang kita inginkan. Atau malah kita bisa membuat resolusi yang sama sekali baru.

Tidak perlu khawatir, masih banyak kok hal atau capaian yang bisa kita raih. Dalam bahasa yang slank, masih banyak kok kegagalan yang belum kita coba. Jadi mari kita tetapkan target atau capaian di tahun mendatang. Entah resolusi kita tersebut berhasil atau tidak, alangkah baiknya kita targetkan mulai sekarang. Mumpung belum memasuki tahun 2019.

Bukankah merencanakan itu merupakan elemen keberhasilan. Katanya juga orang yang tidak punya rencana, itu artinya dia telah merencanakan kegagalan. Mari kita susun resolusi kita. Nah, resolusi tersebut mestinya kita sesuaikan dengan kondisi kita. Hal terbaik yang ingin kita gapai di tahun 2019 nanti.

Sebab perlu kita akui bahwa setiap orang memiliki resolusi yang berbeda. Orang yang masih sekolah atau kuliah tentu berbeda dengan orang yang sudah bekerja. Demikian juga orang yang sudah bekerja dengan orang yang sudah menikah. Setiap orang pasti memiliki resolusi masing masing dan berikut contoh resolusi tersebut.

Pertama, resolusi bagi orang yang masih belajar.

Meskipun anak SMA dan kuliah sama-sama masih belajar, tentu resolusi mereka berbeda. Bisa jadi anak SMA targetnya masih tentang mendapat nilai bagus atau rangking di kelas/sekolah. Kemudian tentang status percintaan mereka yang masih jomblo atau taken. Mungkin juga resolusi mereka tentang universitas atau kampus yang diimpikan.

Itu sebagian resolusi anak yang masih putih abu-abu. Meskipun tidak semua siswa SMA begitu targetnya. Namun sebagian keresahan mereka tentang ketiga hal di atas. Bagaimanapun targetnya tidak seluas anak kuliah. Lihat saja kalau anak kuliah, mereka pasti akan berpikir tentang skripsi, bisnis dan ingin cepat-cepat kelar kuliah.

Bahkan ada mahasiswa yang masih S1, menargetkan diri untuk melanjutkan kuliah S2. Tidak sebatas kuliah di dalam negeri, mereka juga memiliki resolusi kuliah ke luar negeri. Resolusi mereka jauh ke depan walaupun soal percintaan mereka juga sering dijadikan resolusi. Namun percintaan bukan sesuatu yang utama.

Malah banyak mahasiswa yang berkeinginan untuk mendapatkan pekerjaan terlebih dahulu. Sebab targetnya, mereka selesai kuliah dapat membantu perekonomian keluarga. Ada juga yang mandiri, membuka usaha sendiri dan menjadi wirausahawan. Namun intinya sama mencari penghasilan untuk menolong perekonomian atau membantu keluarga. Itu resolusi bagi orang yang masih mengenyam pendidikan.

Kedua, resolusi bagi orang yang sudah bekerja.

Berbeda dengan orang yang masih kuliah, orang yang sudah bekerja resolusinya biasanya seputar pekerjaannya. Bagaimana karier dan penghasilannya? Apakah tahun depan dia akan dipromosikan? Apakah tahun depan dia akan naik pangkat? Apakah tahun depan gajinya naik?

Kalau semisal dia merintis usaha sendiri maka resolusinya usahanya tambah lancar dan maju. Bisa menambah barang atau pegawai sehingga usahanya semakin besar dan berkembang. Termasuk laba yang diperoleh semakin banyak dan berhasil membuka cabang di berbagai tempat.

Resolusi bagi orang yang sudah bekerja sangat perlu agar dia termotivasi untuk bekerja. Ada harapan dan impian yang bisa dia raih. Namun tetap diingat juga, meskipun harus meraih ini dan itu, niat dan cara harus yang benar. Jangan sampai hanya untuk memuluskan resolusi sampai menghalalkan segala cara. Naudzubillah.

Makanya dalam agama Islam dianjurkan bagi siapa saja untuk berdoa sebelum melakukan sesuatu. Termasuk para pekerja atau pengusaha yang akan memulai usahanya. Kalau tidak bisa berdoa yang panjang, bisa juga sekadar mengucapkan bismillah. Namun alangkah baiknya bila berdoa sebagai berikut:

Alloohummarzuqnii rizqon halaalan thoyyibaa, wasta’milnii thayyibaa. Alloohummaj’al ausa’a  rizqika‘alayya‘inda kibari sinnii wanqithoo’i‘umrii.

Alloohummakfinii bihalaalika‘an haraamika. wa aghninii bifadhlika‘amman siwaaka. Alloohumma in nii as-aluka rizqon waasi’an naafi’an.

Alloohumma innii as alukan na’iimaan muqiiman, alladzii laa yahuulu wa laa yazuulu.

Yang artinya,

Ya Allah, berilah padaku rezeki yang halal dan baik, serta pakaikanlah padaku segala perbuatan yang baik. Ya Tuhanku, jadikanlah oleh-Mu rezekiku itu paling luas ketika tuaku dan ketika lemahku.

Ya Allah, cukupkanlah bagiku segala rezeki-Mu yang halal daripada yang haram dan kayakanlah aku dengan karunia-Mu dari yang lainnya. Ya Allah, aku mohonkan pada-Mu rezeki yang luas dan berguna.

Ya Allah, aku mohonkan pada-Mu nikmat yang kekal yang tidak putus-putus dan tidak akan hilang.

Itu doa yang bisa diucapkan setiap akan mengawali pekerjaan atau usaha. Itu orang yang masih fokus kepada pekerjaan atau usahnya.

Namun ada juga orang yang sudah bekerja memimpikan untuk berumah tangga. Tidak ada salahnya sih. Malah orang yang sudah bekerja termasuk golongan yang sudah mampu untuk menikah. Berdasarkan sabda Nabi Muhammad Saw, orang yang sudah mampu dianjurkan untuk menikah. Sebab dengan menikah tersebut, seseorang akan lebih terjaga; dia menjauhi yang dari pandangan yang tidak baik serta bisa menjaga kemaluannya.

Namun apa cukup mampu saja? Enggak sih. Di negara kita, Indonesia, ada aturan seseorang boleh menikah. Menurut Undang-undang (UU) Perkawinan Nomor 1 pasal 7 tahun 1974 batas minimal menikah untuk perempuan 16 tahun. Sementara untuk laki-laki 19 tahun.

Meskipun ini menjadi polemik dan isunya UU ini akan direvisi. Sebab menurut Undang-undang perlindungan anak, usia minimal menikah itu umur 18 tahun. Sementara menurut studi di Journal of Social and Personal Relationship tahun 2012 batas usia idela menikah adalah 25 tahun.

Bahkan di Amerika Serikat, sebuah Biro Sensus menyatakan bahwa usia ideal adalah 27 tahun untuk perempuan dan 29 tahun untuk laki-laki. BKKN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional) sendiri menilai bahwa usia ideal menikah untuk perempuan Indonesia, minimal 21 tahun.

Namun faktanya usia tidak mempengaruhi langgeng atau tidaknya sebuah hubungan keluarga. Para pelaku atau orang yang akan menikahlah yang mampu memutuskan sudah cocok atau belum dengan pasangan. Sebab banyak faktor yang memengaruhi harmonis atau tidaknya sebuah rumah tangga.

Meskipun faktor ekonomi yang paling banyak membuat rumah tangga bercerai. Maka sangat ideal dan betul, bila untuk menikah tidak hanya butuh cinta, namun juga pekerjaan (baca: penghasilan). Sebab dalam perjalanan rumah tangga, sebagian besar kebutuhan keluarga membutuhkan uang.

Ketiga, resolusi bagi orang yang sudah menikah.

Untuk orang-orang yang sudah menikah tentu berbeda lagi harapannya dengan orang yang belum menikah. Bisa jadi orang yang sudah menikah berharap di tahun 2019 nanti bisa memiliki momongan atau memiliki rumah sendiri.

Sebab pada umumnya pasangan muda (baca: yang baru menikah) belum mempersiapkan sebuah rumah untuk ditempati. Meskipun mereka tidak tinggal bersama orangtua—misalnya mereka indekos atau kontrak—sehingga mereka berencana untuk memiliki rumah sendiri. Ada juga orang yang sudah berumah tangga memiliki resolusi untuk berangkat ke Baitullah bersama pasangan. Entah sebagai jamaah umrah atau jamaah haji.

Di luar ketiga kondisi di atas (yang baru mengeyam pendidikan, yang masih bekerja dan yang sudah berkeluarga), masih banyak orang menyimpan resolusinya. Mungkin pula berbeda dengan resolusi yang di atas sebab setiap orang memiliki keperluan dan mimpi sendiri. Misalnya bagi orang yang merasa kegemukan maka bisa jadi dia ingin diet atau menguruskan badannya.

Sebaliknya orang yang kurus kering, dia mungkin ingin menambah berat badan. Ada juga yang memiliki resolusi untuk hidup sehat, tidak peduli apakah dia gemuk atau malah kurus kering. Ada juga orang yang berkeinginan memiliki barang baru seperti gadget baru, sepeda motor baru, mobil baru dan lainnya. Tidak ada yang salah, sah sah saja. 

Namun menurut penulis, apa pun resolusimu untuk tahun 2019, pastikan hal tersebut sesuatu yang terbaik. Paling tidak lebih baik dari tahun 2018. Sehingga dari waktu ke waktu, dari tahun ke tahun ada peningkatan diri ke arah yang lebih baik. Oke?

Oleh: Joko Sulistya.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: