Saya pernah jadi korban penipuan di media sosial. Tertipu sama akun milik seseorang yang selama ini saya anggap sebagai orang baik dan dermawan. Parahnya lagi ternyata bukan hanya saya yang jadi korban. Ada beberapa orang, termasuk salah satu di antaranya adalah teman saya di Jogja.

Terus terang saat itu saya merasa jengkel dan bodoh. Kenapa begitu mudahnya percaya sama akun media sosial yang baru dikenal. Padahal hanya melihat dari profil dan aktivitas yang dia posting saja.

Awalnya cuma penasaran saja soal postingan dia. Beberapa kali mampir di beranda dengan menunjukkan kedermawanannya. Dia sering posting tentang ajakan sedekah, dan suka bagi-bagi uang.

Wah kebetulan nih, pas lagi banyak butuhnya. Mumpung ada yang lagi baik mau bagi-bagi duit, pikir saya waktu itu.

Yang bikin saya penasaran lagi, banyak sekali orang yang ikut berpartisipasi dalam program sedekahnya. Setiap hari dia update daftar orang yang sudah transfer sedekah. Biasanya dalam seminggu jumlah pesertanya sampai belasan orang.

Semakin penasaran ketika dalam daftar tersebut ada nama teman saya. Lalu saya cek berandanya. Ternyata memang mereka sudah cukup lama berteman.

Wah, dia ikutan. Lalu iseng saya chat dia via whatsapp. Tanya-tanya soal program itu. Sekadar meyakinkan diri saya sebenarnya. Akhirnya kok ya saya jadi teryakinkan atas penjelasan teman saya.

Dia menceritakan bagaimana dermawannya si Fulan. Kaya, tapi tetap tampil sederhana. Punya panti asuhan dengan beberapa anak yatim piatu yang asuh di sana. Si Fulan katanya punya perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi. Dan tentu saja masih banyak hal yang diceritakan teman saya.

“Kamu sudah pernah dapat hadiahnya, Bu?”

“Belum sih, tapi kalaupun tidak dapat hadiah kan dapat pahalanya.”

Wah bener juga, batin saya. Kan duit yang kita transfer disedekahkan untuk anak-anak yatim di panti asuhan si Fulan.

Saya putuskan minggu itu memantau perkembangan daftar peserta sedekah. Semakin hari, semakin bertambah. Hingga pada suatu ketika salah seorang dari mereka memamerkan hadiah uang yang katanya didapatkan dari program itu.

Wah ternyata beneran. Untuk memastikan, saya kemudian inbox akun orang yang mendapat hadiah tersebut. Menanyakan secara langsung apakah dia benar-benar mendapat hadiah. Dia jawab, benar.

Maka kemudian saya ikut program sedekah berhadiah tersebut. Waktu itu perorang sedekah sebesar seratus ribu rupiah. Ditransfer ke rekeni si Fulan.

Setelah menunjukkan bukti transfer, baru kemudian nama-nama peserta ditambahkan pada daftar peserta program. Setiap minggunya akan dipilih satu orang untuk mendapatkan hadiah dari si Fulan.

Agak janggal sih sebenarnya. Ajakan sedekah, lalu menjanjikan hadiah undian buat yang ikutan programnya. Tapi kok ya saya bisa ketipu juga.

Untung enggak seberapa besar duit yang hilang, jadi ya mudah saja saya ikhlaskan.

Saya ceritakan kejadian ini sebenarnya untuk menunjukkan bahwa media sosial tuh bisa jadi alat untuk mencari duit. Ada yang melakukannya dengan cara baik-baik, ada juga yang sengaja memanfaatkannya untuk kejahatan.

Kalau melihat kasus yang saya alami di atas, ini erat kaitannya dengan masalah manipulasi identitas. Semacam ada upaya pemalsuan identitas yang dilakukan secara sengaja untuk kepentingan tertentu. Dalam hal ini untuk melakukan penipuan.

Iya, begitu mudahnya kita memanipulasi identitas akun media sosial sesuai dengan yang kita inginkan. Mudah sekali.

Karena kita tinggal tuliskan biografi dan beberapa keterangan di informasi akun. Berhubung sistem verifikasi dari media sosial kurang kuat, maka banyak akun yang tidak mencerminkan informasi pemilik yang sebenarnya.

Hal itu selaras dengan pernyataan Wood dan Smith bahwa, identitas merupakan konstruksi komplek bagi diri, dan secara sosial terkait dengan bagaimana kita beranggapan terhadap diri kita sendiri dan bagaimana pula kita mengharapkan pandangan atau stigma orang lain terhadap kita, serta bagaimana orang lain mempersepsikannya. (Nasrullah, halaman 143).

So, terserah kita mau dikenal sebagai apa di media sosial. Kalau mau dikenal sebagai penulis ya perkuat karakter dan sifat-sifat sebagai penulis dalam akun media sosial. Share kegiatan yang berkaitan dengan tulis menulis. Atau silakan unggah postingan jenaka di beranda kalau mau dikenal sebagai sosok komedian.

Kalau si pembuat akun sengaja hendak menggunakannya untuk tipu menipu, ya mereka akan menuliskan info bohong mengenai identitas mereka. Kalau real kan bisa mudah kebongkar dong kedoknya.

Ada tiga jenis identitas yang biasa dipakai seseorang dalam berinternet. Ke tiga jenis identitas tersebut meliputi: real-life identity (menunjukkan siapa sebenarnya individu di internet), pseudonymity (identitas asli mulai disamarkan atau bahkan palsu, meskipun dalam beberapa hal ada representasi yang bisa menunjukkan identitas asli), dan anonymity (bentuk baru identitas yang benar-benar terpisah dan tidak bisa dirujuk siapa pemilik identitas).  (Nasrullah, halaman 145).

Kita mungkin sudah terlanjur membuat akun dan termasuk dalam salah satu dari ketiga jenis identitas tersebut. Enggak apa-apa sih, asal akunnya enggak kita salah gunakan untuk kejahatan. Apalagi untuk cari rezeki yang enggak halal.

Yakin deh, hasilnya enggak bakalan berkah. Meskipun kepepet, semoga kita enggak pakai cara-cara haram kayak gini ya?

Masih banyak kok orang-orang yang sukses mencari rezeki dengan cara halal di media sosial. Saya punya beberapa teman yang sampai sekarang masih aktif berjualan di facebook. Ada yang jualan buku, produk kecantikan, ada juga yang jualan jasa internet marketing.

Saya ingat, di buku Road to Jannah ada bab yang membahas mengenai perbuatan menipu dan berbohong. Di sana dituliskan bahwa menipu dan berbohong adalah perbuatan yang jelas dilarang dalam Islam. Karena berbohong merupakan sebuah perbuatan buruk yang bisa mencelakai pelakunya dan juga orang lain. Orang-orang yang suka berbohong digolongkan dalam kelompok orang-orang munafik. Dan, di nerakalah tempat mereka. (Road to Jannah, halaman 143).

Entah kebohongan yang dilakukan secara langsung, maupun kebohongan melalui media sosial hukumnya tetap sama. Selama hal itu enggak sesuai dengan yang sebenarnya dan bisa merugikan orang lain, namanya tetap bohong.

Efek parahnya kalau seseorang sudah sekali melakukan kebohongan, biasanya akan diikuti kebohongan selanjutnya. Terus begitu karena butuh kebohongan-kebohongan baru untuk menutupi kebohongan yang lama.

Kalau sudah seperti ini efeknya ngeri. Dosa yang diperbuat bisa jadi dosa berantai yang bakal terus nambah seiring mudharat yang diakibatkannya. Naudzubillah min dzalik.

Otomatis orang tidak akan mudah percaya lagi ketika tahu sudah dibohongi. Kalau sudah begini butuh usaha berlipat untuk mengembalikan kepercayaan. Umumnya sih akan ada jarak yang membuat silaturahim menjadi renggang.

Seperti akun facebook yang telah membohongi banyak orang tadi, setelah ketahuan ya semua kontak temannya di-block. Dia memutus kontak agar enggak berurusan lagi dengan orang-orang yang sakit hati dan kecewa karena sudah dibohongi. Dia hanya akan mempertahankan kontak orang-orang yang baik sama dia saja.

Coba bayangkan kalau kebohongan itu terungkap oleh teman dekat atau keluarga kita, kan malu jadinya?

Mendingan kita selalu berusaha jadi orang jujur. Toh jaminan buat orang jujur itu sudah jelas bakal mendapatkan surga. Karena kejujuran akan membawa kebaikan. Dalilnya jelas, kok.

Dari Abdullah bin Mas’ud, bahwasanya Rasulullah SAW pernah bersabda, “Sesungguhnya kejujuran itu membawa pada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan ke dalam surge. Tidaklah seseorang berbuat jujur hingga Allah SWT mencatatnya sebagai orang yang selalu jujur. Dan berbohong itu membawa pada kejelekan, dan kejelekan itu mengantarkan ke dalam neraka. Sungguh seseorang terbiasa berbohong hingga Allah SWT mencatatnya sebagai seorang pembohong.” (HR Bukhari dan Muslim).

Mengenai kejujuran, KH. Abdullah Gymnastiar juga menegaskan dalam bukunya Menggapai Derajat Ihsan. Beliau tuliskan: Orang mau apa saja jujurlah kuncinya. Begitulah sifat Nabi Muhammad SAW. Jadi jangan takut tidak punya uang, tapi takutlah tidak barokah. Karunia Allah itu tidak identik dengan uang, tapi kemuliaan setiap saat. Yang pasti tidak pernah rugi orang yang selalu menjaga kebaikan dan kejujuran. (Menggapai Derajat Ihsan, halaman 218).

Nah, mulai sekarang mari kita sama-sama berusaha untuk selalu berbuat jujur. Jujur dalam interaksi langsung, maupun jujur ketika menggunakan media sosial. Toh kelak di akhirat kita akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang telah kita perbuat di dunia.

Enggak usah kita gunakan media sosial untuk menipu orang lain atau menyebar berita bohong. Selain akan mendatangkan keburukan buat diri kita sendiri tentu juga akan menyakiti hati orang lain.

Meskipun dunia maya bukanlah dunia nyata, bukan berarti kita bisa bebas berbuat kejelekan di sana. Yang beda kan medianya saja, tapi dosa yang ditimbulkan ya sama. Baik di dunia nyata maupun maya, kalau berbuat yang enggak baik ya sama-sama diganjar dosa.

Sekarang mungkin efeknya belum terasa, tapi kelak di akhirat kita akan kelabakan ketika dimintai pertanggung jawaban. Karena setelah kita meninggal memang sudah enggak ada kesempatan lagi untuk memperbaiki kesalahan.

So, mari kita lebih bijak bermedia sosial. Menjadi orang jujur dan selalu menebarkan kebaikan pada siapa pun. Agar kelak bisa merasakan pertemuan dengan Allah SWT di surga.

***

Ditulis oleh: Seno Ns.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: