Apa sih, sebenarnya tujuan kita kuliah dan mengejar gelar sarjana? Pertanyaan itu, baru bisa kujawab belakangan ini. Ternyata, tujuan masuk kuliah simply, hanya untuk bekerja. Kerja apa? Apa saja, aku akan menyesuaikan diri dengan lapangan pekerjaan yang terbuka setelah lulus kuliah. Itu lah dia kesalahan pertama yang kulakukan, tidak menentukan tujuan sejak awal.

Rasanya masih ingat betul ketika Bapak memberi saran, “Nduk, kalau masih mau coba daftar universitas negeri, coba jurusan Kelautan. Siapa tahu rezeki, kayak Mas Fajar itu lho, lulus kuliah langsung ditawari kerja sama dosennya.”

Aku mengangguk, “Insyaallah, besok baru buka pendaftaran untuk Ujian Mandiri.”

“Mas Fajar itu kerja di tambak udang. Sekali panen, dapat bonus seratus rupiah per udang,” Bapak bercerita dengan antusias. “Kalau dalam seperempat hektare tambak bisa panen sampai sepuluh ton, misal. Hitung sendiri aja coba ya, anggap aja dalam satu kilo ada 70 sampai 90 ekor udang. Enggak sedikit, kan?”

 Aku hanya melirikkan mata ke kanan sambil mengernyitkan dahi, mencoba menjumlah bilangan yang jauh dalam bayanganku. Duh, kalau berurusan dengan angka-angka begini aku memang lemah. Tapi, nominal yang dimaksud Bapak itu memang tidak sedikit. Apalagi bonus itu belum ditambah dengan gaji pokok. Memang akhirnya, tujuan kuliah adalah untuk kerja agar bisa cari uang. Begitu kan, ya?

***

Memang, tidak ada yang lebih mujarab dari doa orang tua. Tidak ada perjuangan yang mulus, tanpa restu dari orang tua. Begitulah yang terjadi dalam perjuanganku kala itu. Allah melancarkan jalanku untuk diterima di salah satu universitas favorit di Semarang. Persis dengan yang diharapkan Bapak, jurusan Ilmu Kelautan.

Ada perasaan lega bisa membantu meringankan beban orangtua. Diterima di universitas negeri tentu bisa meringankan biaya yang harus dikeluarkan. Kakakku sudah kuliah di universitas swasta dan saat itu dia belum lulus. Tentu, aku tidak sampai hati membuat kedua orangtuaku mengeluarkan biaya yang fantastis.

Bapak dan Ibu percaya, anak perempuannya—yang pernah beberapa kali juara kelas di sekolah—mampu berprestasi di perguruan tinggi. Agar nanti, bernasib serupa dengan tetangganya: tidak perlu menganggur lama-lama. Alhamdulillah, kusyukuri apa yang pernah kujalani. Pada akhirnya, doa agar aku tidak lama menganggur juga dikabulkan.

Sebulan setelah diwisuda, aku pindah ke Yogyakarta untuk bekerja di sebuah konsultan pendidikan. Sebetulnya, aku sempat mendapatkan tawaran untuk bekerja sebagai asisten salah satu dosen. Sayangnya, Pak Profesor yang mencari asisten itu sibuk sekali. Bahkan hampir setiap pekan bolak-balik ke luar negeri. Jadilah aku sulit untuk menghadap beliau, bertanya—mencari info tentang apa saja yang nantinya akan jadi tanggung jawabku.

Akhirnya, aku memutuskan memilih ke Yogya saja agar tidak berlama-lama jadi pengangguran. Keputusan itu kuambil setelah berdiskusi dengan orangtua, tidak lupa konsultasi juga dengan salah satu dosen yang kukenal baik. Aku pun pamit pada Pak Profesor, kusampaikan permintaan maaf karena lebih memilih pekerjaan lain. Aku dengan sadar, memilih untuk keluar jalur. Bukan karena tak mampu bekerja sesuai bidang akademik, tapi aku memilih untuk segera mencari pengalaman.

***

Memang, menjalani pekerjaan yang melenceng dari bidang akademik kita itu tidak bisa dibilang mudah. Rasanya seperti memulai dari nol karena sebagian besar—atau bahkan semua—mata kuliah tidak kita aplikasikan dalam pekerjaan. Apalagi aku, dari laut mentas ke marketing. Masuk tim business development pula. Bulan pertama, rasanya kepalaku mau meledak. Ternyata aku kudet (kurang update) banget ya, banyak istilah bisnis yang belum kupahami. Dengar aja belum pernah, gimana mau paham.

Tantangan selanjutnya yang kudapat adalah masuk ke dalam kubangan informasi berbahasa Inggris. Bisa dibilang kemampuan membaca dan bertuturku not so good—jangankan mau ngomong full English, ngomong English campur bahasa ala #CrazyRichJaksel aja wagu (kaku; kurang pantas) kok. Ya, pokoknya wajar kalau dulu aku sering kena tegur atau dibantai habis-habisan saat evaluasi.

Tapi, jauh setelah hari-hari itu aku dapat bonus mengasah softskills dari mulai presentasi, public speaking sampai trik-trik soft selling. Jadi, tidak selamanya bekerja jauh di luar jalur akademik itu buruk. Malahan, ilmu-ilmu yang baru itu bisa bikin kita haus belajar. Awalnya terpaksa, lalu kemudian biasa. Eh, ujungnya jadi luar biasa. Alhamdulillah lagi, aku dapat kesempatan kunjungan kerja—nyambi jalan-jalan—ke Malaysia.

Bekerja di konsultan pendidikan luar negeri tentu membuatku diberondong pertanyaan, “Lho, kok enggak kerja sesuai jurusan aja?” Pertanyaan ini dulu terasa biasa saja, belakangan aku jadi ‘iritasi’ kalau dapat pertanyaan sejenis. Selain karena sudah ditanyakan sama ribuan orang—eh, tidak sebanyak itu ding, lebay—aku juga bingung menjawab, karena butuh setidaknya 1.250 kata untuk menjelaskan alasannya. Heuheu.

Dulu sih, aku dengan santai menjawab begini, “Hehe … Iya, mau cari pengalaman dulu sambil nunggu lowongan CPNS atau BUMN.” Meskipun sekarang, keinginan untuk menjadi pegawai negeri tidak sekuat cita-citaku menjadi penulis. Malah, cenderung hampir hilang.

***

Akhir 2016, ada perang batin dalam diriku. Sepertinya, hampir semua fresh graduate mengalami kebimbangan ini. Ya, apalagi kalau bukan keputusan untuk resign. Kebimbangan itu kemudian berakhir dengan sebuah surat pengunduran diri. Sayang, alasannya tidak bisa kuceritakan, nanti kisah ini gagal tayang karena kepanjangan.

Yang pasti, memilih resign adalah hasil dari perundingan bersama orangtua. Tidak lupa kutanya Dia, selepas melaksanakan dua rakaat salat sunnah. Menumpahkan gelisah dan kekhawatiran tidak mendapat pekerjaan—yang lebih baik—setelah ini. Lebih dari dua bulan kupertimbangkan keputusan besar itu. Pun aku membuat rencana, pantang rasanya melepas pekerjaan tanpa tahu apa yang mau dilakukan sesudahnya.

Beruntung sekali memiliki orang tua yang suportif, aku bisa sedikit nekat untuk cari pengalaman. Berbekal restu dan doa mereka, kugunakan gaji terakhirku untuk membeli sejumlah jilbab. Mulailah aku belajar bisnis online. Tebak, apa yang terjadi setelahnya? Alhamdulillah, aku belum berhasil mengembangkan bisnis itu.

Banyak sekali yang perlu dievaluasi dari kenekatanku, mulai dari minimnya ilmu sampai kena tipu. Tidak sedikit barang yang kuambil berbeda dari yang ada di gambar. Maklum, aku mencoba beli dari supplier online. Untungnya, aku juga bekerja sebagai guru privat. Jadi, punya back up pemasukan.

Waktu itu tekadku cuma satu, jangan berdiam diri. Udah gitu aja, cari kerjaan yang fleksibel biar punya waktu untuk introspeksi dan merenung. Benarkah sia-sia kuliahku?

***

Seiring pudarnya keresahan yang kurasa, aku kembali dekat dengan hobi lamaku. Menulis. Iya, aku telah menyukainya sejak SD. Bahkan puisiku dimuat di majalah hingga tujuh kali. Hanya saja, aku pernah berhenti—menyerah—karena puisi yang kubuat semasa kuliah tidak digubris oleh beberapa surat kabar.

Ternyata aku pernah sekerdil itu, menyerah hanya karena beberapa kali ditolak. Pernah sesombong itu, mengira bahwa kemampuan menulis puisiku tetap bertahan walau tidak pernah diasah lagi.  

Lalu akhirnya, menulis membawaku bertemu mereka yang sudah lebih dulu menulis. Bahkan karena menulis, aku merasa menemukan diriku. Aku menemukan apa yang sebetulnya aku cita-citakan. Aku melakoni beberapa pekerjaan bukan karena bingung pada passion-ku. Bagiku, passion tidak sesempit profesi. Keinginan terbesar dalam diri manusia sungguh lebih luas daripada itu.

Aku ingin berpenghasilan dari rumah. Itulah passion-ku. Maka, menulis, berjualan online dan menjadi guru privat adalah hal yang dekat dengan itu. Anak tangga menuju keinginanku. Lalu, apakah artinya aku akan berlayar jauh meninggalkan gelarku? Oh, tentu tidak. Aku telah mencatat sebuah mimpi jangka panjang: mengenalkan laut pada anak-anak melalui cerita.

Ya, aku dengan tegas menyatakan salah satu mimpiku ini. Suatu saat aku ingin menulis buku anak dan fokus pada tema kelautan.

Lagi-lagi, aku dihadapkan pada pertanyaan, “Lho, percuma dong kuliahnya kalau ujungnya kamu malah nulis?”

Bagiku, tidak ada kata percuma untuk ilmu. Kalau dikatakan tidak efisien, baru aku setuju. Kalau bisa menentukan tujuan, pastilah empat tahun masa kuliah itu bisa dimaksimalkan untuk mengasah kemampuan. Apalagi kalau sudah jadi passion, beuh … mau berjuang sampai berdarah-darah juga bahagia.

Aku sama sekali tidak menghitung-hitung lelahnya. Malah jadi bertanya, adakah perjuangan yang tidak melelahkan? Sekalipun sesuai jalur yang semestinya, bekerja itu bisa bikin kita lelah. Tidak percuma kok kuliah, karena kita pasti dapat sesuatu. Pola pikir, kemampuan analisis—ketika mengerjakan skripsi—itu jadi bagian dari ilmu yang terus kita gunakan.

Tidak apa-apa kalau ada yang menganggap percuma kuliahku. Mereka hanya tidak tahu dan tidak menjalani kehidupanku. Toh, keputusan ini kuambil secara sadar. Bukan karena tidak ada pilihan lain, lalu terdampar. Aku juga berusaha bertanya pada Allah. Belakangan, peluang-peluang menulis berdatangan dan aku sedang belajar meraba-raba pertanda. Barangkali itu memang petunjuk dari-Nya. []

Ditulis oleh: Hapsari T.M., S.Kel.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: