Ngebet Dakwah? Sampeyan Hanya Perlu Belajar Cuek

Telah benar-benar ditegaskanNya dalam al-Qur’an (bahkan tidak hanya dalam satu ayat) bahwa Dia sendiri yang tak menginginkan semua kita menjadi satu umat yang beriman kepadaNya dan beribadah dengan taat kepadaNya dan melulu berbuat kebaikan-kebaikan di dunia ini.

Lha, Allah saja telah memutuskan begitu, kenapa ada di antara kita yang ngotot banget hendak menjadikan dunia seisinya ini mukmin semua, ‘amilus shalihat semua, sampai mengesahkan sikap kasar dan keras?

Ya ngatain orang lain, ya menghujat, ya nyesatin, ya ngafirin, ya nerakain, ya mentungin pula.

Amar ma’ruf nahi munkar, begitu dalihnya. Jalan dakwah, begitu tegasnya.

Ya iya, memang titah demikian benar ada dalam al-Qur’an, tapi itu ada aturannya dan pula ada batas finalya, yakni kehendak Allah Swt untuk tak menyeragamkan kita dalam satu keimanan.

Tamsilkan saja begini:

Dalam permainan sepak bola, telah digaris dengan jelas batas-batas lapangannya. Juga aturan mainnya. Silakan saja berlomba memenangkan pertandingan, silakan saja semua pemain berjempalitan sedemikian tata-tikinya atau gegenpressingnya atau parkir bisnya. Boleh.

Tapi jangan langgar batas-batas garisnya. Masak pemain mau ngotot terus giring bola sampai melampaui batas-batas garisnya? Ini pemain profesional atau badut tergerus dolar?

Juga boleh beratraksi skill gimana saja, tapi tidak boleh melanggar batas-batas aturan mainnya. Masak demi gol tega mengangkat kaki sampai setinggi kepala waktu rebutan bola pojok di depan gawang? Ini pemain profesional atau badak berkacamata seng?

Nah.

Batas-batas amar ma’ruf nahi munkar di al-Qur’an sudah dinyatakan dengan terang olehNya, yakni “wala takunu kalladzina tafarraqu wakhtalafu min ba’di ma ja-ahumul bayyinat, dan janganlah kalian menjadi seperti orang-orang yang berpecah-belah dan berselisih setelah datangnya petunjuk yang terang ini (al-Qur’an).”

Pegang saja dua pilar pokok “petunjuk yang terang” dalam urusan dakwah amar ma’ruf nahi munkar ini, yakni (1) Allah tak menginginkan semua kita jadi satu umat, seragaman dalam iman, paham, dan amaliah, (2) dilarang berpecah-belah dan berselisih.

Begitu batas-batas aturan main yang tak boleh dilanggar.

Tapi, ya nampaknya semakin ke sini kok ya semakin banyak saja populasi penyeru ittiba’ al-Qur’an dan RasulNya yang ndak profesional dalam mengocek al-Qur’an dan sunnah RasulNya. Main terabas, melanggar batas-batas dakwah amar ma’ruf nahi munkar itu. Bentuk-bentuk kelakuan para pemain dakwah abegeh-amatiran itu ya beraneka rupa, dari demen melontarkan ungkapan-ungkapan kebencian yang menyakiti kelompok lain, penyesatan-penyesatan amaliah orang lain, penghinaan-penghinaan, hingga pentung-pentungan.

Ngatain amaliah orang lain sesat di panggung terbuka, misal, jelas dampaknya hanya memuncratkan permusuhan, pertikaian, dan perpecah-belahan. Jelas ini menabrak teraan dakwah yang diukir al-Qur’an sendiri.

Maka, sebenarnya, atas nama siapa sih kita berdakwah yang model begitu-begitu? Mengikuti siapa sih kita sebenarnya dalam menguarkan amar ma’ruf nahi munkar yang nyata-nyata tak berakhlak karimah begitu?

Ngikut al-Qur’an tidak, wong jelas melanggar batas-batas amar ma’ruf nahi munkar itu sendiri, kok. Ngikut Rasulullah Saw, kok aneh banget, wong Rasulullah Saw itu akhlaquhu akhlaqul Qur’an, seluhur-luhurnya praktik akhlak manusia. Seorang Yahudi buta yang memaki-maki Rasul setiap hari selalu disuapinya dengan kurma sepenuh kasih begitu kok.

Lalu sampeyan ngikut siapa sebenarnya?

Ngikut hawa nafsu!

Hawa nafsu yang dibeliti kelebayan rohani abegeh dengan mengangkat diri lebih adiluhung, kudus, dan kekasih Allah dan RasulNya.

Hawa nafsu yang bermandikan kembang-kembang truth claim and salvation claim: merasa diri paling benar dan paling selamat. Lalu, kembang-kembang perasaan lebay-kebocahan-keidihan ini mendorong diri untuk meraup siapa pun di luar dirinya yang dipandang tak sesuai dengan levelnya, pahamnya, lelakunya, dan amaliahnya. Demi menjadikan mereka benar dan selamat, seperti dirinya!

Ealah, Makjang!

Sudah macam Tuhan saja kau ini, Us ….

Mari, Us, bersantailah sembari ngopi sehabis Subuh, agar bisa membumi lagi, mikir dengan tenang, dan ngerasa dengan penuh kerendahan-hati.

Seyogianya, urusan ini sederhana saja, lho, Us. Begini.

Sikap asyik bagi kita sebagai mukmin yang ngerti benar bahwa di dalam al-Qur’an ada perintah “Ud’u ila sabili rabbika, ajaklah (mereka) ke jalan Tuhanmu ….” yang mesti dijalankan–sebagai ekspresi kepatuhan mutlak kita kepada semua tuturanNya—ialah memahami dengan utuh dan seksama, lalu menempatkan kewajiban amar ma’ruf nahi munkar dalam tata aturan permainannya. Yakni, kata ayat-ayatNya, “dengan cinta, nasihat-nasihat yang baik, dan (jika diperlukan) dengan perdebatan yang lebih baik (baca: dialog)” dan “tidak boleh memicu perpecah-belahan dan perselisihan”.

Beres, kan? Ya iya mbok.

Lha sampeyan mau ngapain lagi?

Tatkala kita mengajak teman, kerabat, tetangga, atau orang lain yang belum istiqamah shalat, misal, ya cukup lakukan dengan koridor etik-kemanusiaan tersebut. Jangan kasar, galak, keras, marah, ngomel, ngotot, nyesatin, ngafirin, apalagi bawa pentungan.

Semua ngerti dengan nalar paling balita betapa itu hanya akan merusak harmoni sosial, meletupkan pertikaian dan perpecah-belahan. Itu karenanya melanggar aturan al-Qur’an dalam berdakwah dan teladan Rasulullah Saw dalam berakhlak karimah.

Soal lantas dakwah sampeyan membuahkan hasil atau tidak, teman yang enggan shalat itu lalu jadi rajin ke masjid atau tidak, itu bukan lagi wewenang sampeyan, lho.

Itu mutlak karunia Allah untuk memberikan hidayahNya kepada siapa yang dikehendaki dan pula tergantung pada “kesiapan rohani” setiap orang untuk menerima pancaran cahaya hidayahNya. Itu mutlak otoritas Allah untuk tidak menjadikan semua manusia satu umat, satu iman, satu amaliah. Bukan lagi urusan sampeyan.

Andai hidayah beneran ada di kantong kita sendiri, bisa kita bagi-bagiin sendiri, nampaknya yang kudu pertama kali dibagiin hidayah itu ya sampeyan sendiri, yang hobi galakan, kasaran, dan ngehinaan orang lain yang beda paham dan amaliah.

Santai sajalah, Us, cukup sampaikan kebenaranNya dengan baik, sabar, dan istiqamah, plus doa-doa memohon anugerah hidayahNya, lalu sandarkan saja pada Rahman-RahimNya soal akan beriman/tidaknya orang-orang yang kita dakwahi.

Santai sajalah, pasrahkan saja kepadaNya segala hal yang kita tak punya daya untuk mengubahnya.

Santai akan sangat menolong kita untuk bisa tetap waras dalam bersaudara, berteman, dan bertetangga, sekaligus melindungi marwah kemanusiaan kita tetap sebagai manusia dari gelegar ambisi merebut singgasana Tuhan di muka bumi ini.

Toh, takkan pernah berkurang sedikit pun kekuasaan dan kekayaan Allah andai semua manusia di muka bumi ini durhaka kepadaNya.

Oleh: Edi AH Iyubenu.

Ilustrasi dari sini.

Tinggalkan Balasan