No Bra Day? Tak Perlu Feminisme, Ikuti Saja Aturan Al-Qur’an

Mohon maaf, saya cukup akrab dengan kajian feminisme sejak tahun 1997 silam. Dari Betty Freidan sampai Julia Kristeva. Dari Fatima Mernissi sampai Amina Wadud. Dari feminisme Islam (adakah ini sesungguhnya?) sampai feminisme liberal.

Buat saya, isu feminisme adalah isu yang mengada-ada pada ontologisnya (hakikatnya). Isu-isu ketimpangan relasi, dominasi lelaki (patriarki), lalu kini berkembang dengan istilah obyektivikasi, seksis, dan bahkan masokis, semua itu apalah-apalah. Hanya etimologi, istilah. Epistemologinya saja belum, apalagi ontologinya.

Ya, persis dengan berkembangnya istilah now untuk menggantikan sekarang, tubir untuk menggantikan ribut, dll. Etimologi-etimologi itu pada epistemenya hanya ingin mengatakan bahwa “bersikap adillah tanpa parameter gender (seks, jenis kelamin) sebab lelaki dan perempuan sama derajatnya, sama potensinya, dan sama kompetensinya.”

Tentu saja itu benar. Tak perlulah bawa-bawa etimologi-etimologi antahberantah itu, semua kita secara instingtif ngerti bahwa tak ada manusia yang rela didiskriminasi, meski dalam kenyataanya semua manusia juga punya insting menguasai. Etika universal akan selalu seiringan dengan praktk homo homini lupus.

Dan, ini bukan hanya soal lelaki dan perempuan yang terlampau seksis alias berparameter jenis kelamin. Ini perkara kemanusiaan universal, dan tentu saja Islam melalui al-Qur’an dan hadits berada di antara barisan tata nilai yang menentang segala bentuk diskiriminasi dan hegemoni dan ketidakadilan itu.

Untuk alasan inilah di awal saya bilang bahwa isu feminisme ini hanyalah isu yang mengada-ada untuk diakui ada.

Lalu apa soal vitalnya yang perlu diumbulkan terus-menerus, apalagi ujungnya malah rawan menjadi diskriminasi baru bagi Islam? Bahwa Islam kurang menghormati kaum Hawa, bahwa kaum muslimah hanya cenderung jadi obyektivikasi di hadapan muslim, dll.

Kita sudah sangat sering mendengar tudingan-tudingan negatif terhadap Islam dengan menggunakan teropong feminisme ini. Tudingan-tudingan yang membabi-buta, membenarkan diri sendiri, dan tentu saja mengada-ada.

Saya tak perlu berpanjang-panjang dalam kajian ini, sebab (sekali lagi) isu ini amatlah basi, mentok, dan parahnya mengada-ada.

Saya akan bandingkan dua kondisi saja antara pandangan feminisme sekular liberal dengan ajaran Islam.

Sejumlah feminis kekinian menyeruakkan ide dan bahkan action yang menghentak dengan mengatakan bahwa penggunaan bra merupakan simbol dari hegemoni lelaki. Bra adalah bentuk nyata dari tancapan kekuasaan lelaki yang mengorbankan kaum perempuan.

Mereka berpandangan bahwa (maaf) payudara adalah organ tubuh manusia yang tak beda belaka sama susu sapi. Bagian dari alat reproduksi. Lalu kenapa harus disembunyi-sembunyikan sedemikian rupa? Sudah pakai baju, masih juga dipaksa pakai bra atas nama keadaban.

Betul bahwa payudara adalah bagian dari alat reproduksi. Tapi menghentikan makna kultural dan psikologis payudara sebagai itu belaka, tanpa simbol-simbol lainnya, misal sensualitas, jelas itu ketidakadilan berpikir alias maunya sendiri dan tidak menimbang keberadaan pihak lain yang juga punya pikiran dan kemauan. Sebutlah kaum lelaki.

Ketika kamu keluar rumah dengan tanpa bra, walaupun kamu mengenakan baju, risiko penampakan payudara jelas sangat riskan terjadi dalam pelbagai wujudnya. Dan saat itu benar-benar terjadi, terjadilah apa yang kamu anggap kebiadaban dan kebarbaran: mata para lelaki yang melirik, melotot, mendesis. Kamu menyebut mereka tidak beradab, kan? Kamu menyebut mereka bagian dari pelaku obyektivikasi dan seksisme yang menjijikkan.

Sebentar. Ada cacat pikir yang harus kamu revisi dari situasi tak nyaman yang kamu alami itu. Kamu sedang berada di ruang publik. Di dalamnya bejibun manusia dengan segala latar, pendidikan, pengalaman, pergaulan, psikologi, dan pegangan agamanya. Semuanya campur-aduk di ruang publik.

Pencopetan juga terjadi di ruang publik. Bukan di kamarmu. Kalau kamu pergi ke sebuah mal, dengan tanpa bra, itu serupa kamu menampakkan dompetmu di saku celanamu dan boleh jadi di antara keramaian itu ada seorang pencopet.

Bahwa pencopetan yang kamu alami itu buruk, iya. Tetapi bukannya kamu tanpa peran sama sekali yang memantik terjadinya keburukan itu. Pada insiden semacam itu, siapa sebenarnya yang menjadi bagian dari kebiadaban dan kebarbaran itu?

Itulah letak cacat pikirnya.

Mustahillah kamu pergi ke jalanan, tanpa bra, lalu kamu meminta semua orang di jalanan untuk memenuhi pintamu: untuk respect pada pandangan pribadimu tentang bra, bahwa itu simbol hegemoni lelaki, bahwa kamu tidak suka didiskriminasi, dll.

Ruang publik hanya akan membuahkan harmoninya dalam prinsip saling kerjasama, kooperatif, take and give, mutualis simbiosis. Tidak hanya tentang kamu, tapi juga tentang orang-orang lain di sekitarmu.

Bila ada insiden pelecehan seksual pada perempuan yang berhijab rapat di ruang publik, misal, bagaimana lagi denganmu yang tak pakai bra? Pelaku pelecehan itu jelas amoral, tetapi caramu berada di ruang publik tanpa bra juga tak kalah amoralnya.

Di sini, terlihat jelas bahwa bra bukan hanya tentang milikmu, maknamu, pandanganmu, tetapi juga makna publik, dan pandangan publik. Maka mutlak dibutuhkan sinergi antarorang di ruang luas begitu.

Apa lagi yang kurang dari ajaran al-Qur’an tentang sinergi ini?

Surat an-Nur menjelaskan bahwa “kaum lelaki hendaklah menundukkan pandangannya” dan kaum perempuan “hendaklah tidak menampakkan perhiasannya yang tidak lazim tampak”.

Jika di sini, di Jogja, ruang publiknya tidak lazim dihuni dengan tanpa bra, maka pakailah bra. Aman lagi, jangan hanya soal bra, tapi berhijablah. Jika kamu sudah berhijab, level kontribusimu pada harmoni ruang publik jelas lebih kaffah ketimbang mereka yang tidak.

Sebaliknya, di sisi lelaki, menundukkan pandangan adalah ajaran al-Qur’an. Praktiknya, ada lelaki yang tetap jelalatan, ada yang setengah menunduk setengah jelalatan, dan ada yang benar-benar menundukkan pandangan matanya. Itu soal iman masing-masing di dalam dada. Ketika tiga jenis lelaki itu berada di ruang publik, bersalipan atau berbincang dengan perempuan, sikap sosialnya akan seberagam itu pula.

Lelaki yang imannya baik akan menahan pandangan matanya. Tugasmu sebagai perempuan memastikan situasi yang sama, dengan cara menjaga “perhiasan-perhiasanmu”. Ini tugas simbiosis mutualisnya.

Lalu, di mana letak masih perlunya mencemaskan praktik masokisme dan obyektivikasi yang didengung-dengungkan kaum feminis kekinian itu? Jika ada insiden demikian, jawabannya jelas: pelakunya yang lelaki pastilah kurang baik imannya dan kepatuhannya pada ajaran al-Qur’an; jika itu dipantik oleh kaum perempuan, maka pastilah perempuan itu kurang baik imannya dan kepatuhannya pada ajaran al-Qur’an.

Maka, finalnya, tanpa perlu mengerek isu-isu feminis yang berbasis lifestyle liberal yang bukan tradisi sosial dan psikologi kita, dapat digaransi bahwa lelaki yang imannya baik otomatis akan memulikan kaum perempuan dan perempuan yang imannya baik otomatis akan menjaga “perhiasan-perhiasannya”. Inilah ajaran al-Qur’an tentang relasi lelaki dan perempuan.

Oleh: Edi AH Iyubenu

Tinggalkan Balasan