Oke-Oke, Aku Ngaku, “Aku yang Baper!”

 

Pagi ini aku menjerit kegirangan begitu melihat notifikasi di instagram. Dia, senior yang selama ini aku idolakan, akhirnya mem-followback akunku. Senang bukan main. Tidak sia-sia aku spam like hampir semua foto-fotonya semalam.

Segera aku memberi tahu pada sahabatku tentang kabar yang menggembirakan ini.

“Pagi-pagi buta kamu nelpon, cuma mau bilang ini, Et?” ucapnya menggerutu, aku lirik ke arah jam dinding jarum terpendeknya berada di angka lima.

Menyadari hal tersebut aku hanya nyengir. Dia tidak tahu bagaimana rasanya di-followback sama sang idola, sih.

“Heh, ini sebuah kemajuan, ya. Prestasi yang harus dibanggakan. Haha …,” ucapku menghibur diri.

“Ya, iya, deh.  Udah dulu, aku harus bantu ibu nyiapin dagangan.”

Percakapan berakhir. Aku menempelkan ponselku ke dada, seakan-akan sedang memeluk dia, si jagoan basket.

***

Hari ini aku berangkat ke sekolah rasanya seperti melayang. Bibirku tidak berhenti merekahkan senyuman begitu memasuki gerbang, membuatku menjadi pusat perhatian anak-anak lainnya. Biarin aja, pikirku.

“Eciee, yang di-follback girang amat,” goda Aya begitu aku memasuki kelas.

Aku berjalan sambil melompat-lompat kecil, mendekatinya. Lalu duduk di samping cewek berponi itu. “Oh, jelas. Siapa sih yang tidak seneng di-follow sama senior hits di sekolah ini.”

“Tapi, tetap percuma kalau hatinya enggak di-follow.”

“Eit, jangan salah. Berawal dari IG bisa loh, nanti berlanjut ke hati,” timpalku.

Pandanganku mendadak terfokus ke arah luar begitu terlihat Kak Jhony lewat, aku sampai berdiri supaya bisa tetap menikmati wajah manisnya dari barisan jendela di dinding.

Aku langsung membuka aplikasi WA, Ya ampun, manisnya my future husband.

“Buset dijadikan status WA,” komentar Aya yang hanya kutanggapi dengan senyuman manis ke arahnya.

“Aku tahu kamu iri,” ucapku bercanda.

“Idih. Ety … Ety, jangan tinggi-tinggi girangnya, jatuh sakit kamu.”

“Kok gitu bilangnya?” ucapku yang tidak habis pikir dengan ucapan sahabatku sendiri.

“Lagian, heboh.” Dia menjulurkan lidahnya ke arahku.

***

Istirahat menjadi waktu istimewaku, karena saat itulah aku bisa bebas memandangi dia beraksi di lapangan basket. Bibirnya yang tipis dan sedikit kemerahan seolah daya pikat yang dimilikinya.

Seperti saat ini, aku duduk manis di bangku yang tersedia di tepi lapangan. Ya, meskipun tidak terang-terangan menatapnya, karena ada sebuah buku sebagai alasanku pura-pura membaca. Ya … sambil sesekali melirik ke arahnya.

“Hai, sendirian aja?” Aku menoleh ke sumber suara. Ternyata Kak Aryo—teman dekat Kak Jhony.

Menganggu saja, batinku protes.

“Iya, Kak,” jawabku singkat.

“Geseran dikit, dong,” pintanya. Terpaksa aku bergeser ke kiri untuk memberi ruang dia duduk. “Terima kasih,” ucapnya.

“Kak Aryo tahu siapa yang disukai Kak Jhony?” tanyaku tanpa sadar, segera aku menutup mulut ini, Kak Aryo pun sontak menatapku tajam.

“Kamu … suka ya sama Jhony?” selidik Kak Aryo.

Aku menggeleng cepat. Bodoh! runtukku sendiri.

“Kabarnya sih dia suka sama anak kelas sepuluh,” jawabnya, membuatku  cepat menoleh ke cowok di sampingku.

Siapa, Kak? Siapa? Apa itu aku? tanyaku dalam hati. Aku tidak berani juga terlalu frontal dihadapannya.

“Aryo, ke kantin, yuk!”

Suara Kak Jhony yang begitu dekat, berhasil membuat jantungku berdetak hebat. Aku sekilas memberanikan untuk mengangkat pandanganku, aaah dia tersenyum.

Aku yakin pipiku memerah, parah. Segera aku berlari menuju kelas begitu dia dan temannya meninggalkan lapangan.

“Aya! Aya! Kamu harus tahu, kamu … Kak Jhony … senyumnya.”

“Kamu apa-apaan, sih, Ety?!”

Aku mencoba untuk mengatur napas, lalu duduk di bangku samping Aya. “Kamu tahu, ternyata Kak Jhony suka sama anak kelas sepuluh.”

Aya menepuk jidatnya. “Ety, kelas sepuluh bukan kamu saja. Bisa jadi Kak Jhony sukanya aku.”

“Apaan sih, Aya,” jawabku lalu menekuk wajah.

“Enggak-enggak, becanda. Ya, setidaknya ada kesempatan kamu dari sekian banyak cewek kelas sepuluh.”

“Dan yang paling mendebarkan, saat dia tersenyum manis ke arahku. Rasanya pengin melaminating senyumannya.”

“Buset, serem amat.”

Aku segera membuka ponselku, begitu terdengar notifikasi dari instagram. Ternyata chat dari Kak Jhony. “Nih, lihat-lihat Kak Jhony nge-DM,” bisikku ke Aya.

Hai, Manis. Lagi di mana?

Membaca pesan singkat itu saja, aku merasa jadi cewek paling bahagia. Lagi di kelas, Kak.

Ooh, kapan-kapan bisa dong ketemuan?

“Etdah, di dunia nyata aja belagak cool tuh cowok.” Aya berkomentar, “Eh, genit juga.”

“Ssst, berisik!” timpalku.

Iya, bisa, Kak. Kapan di mana?

Nanti Kakak kasih tahu, ya.

Aku langsung memasukan ponsel ke tas, karena bu guru sudah memasuki ruang kelas, bersamaan dengan suara bel.

“Aku semakin yakin kalau akulah orangnya, Ay,” bisikku.

Di tengah-tengah penjelasan bu guru, tiba-tiba suara nyaringnnya tertelan oleh deru hujan yang turun dengan deras. Karena kurang kondusif untuk menjelaskan, maka kami diberi latihan untuk dikerjakan. Aku juga yakin soal-soal ini akan menjadi pekerjaan rumah, karena waktunya sudah mepet dari jam pulang.

***

Derasnya hujan membuat sebagian murid-murid tertahan di sekolahan. Mereka memilih menunggu hujan sedikit meredah sambil ngobrolin artis-artis korea. Atau, sebagian cowok memilih berkumpul menonton atau sekadar bermain game dari ponselnya.

Bosan di dalam kelas, aku pun memilih keluar. Begitu melangkahkan kaki di teras, Kak Jhony lewat bersama cewek kelas sepuluh, aku tahu dia seorang model di kota ini. Melihat keduanya yang cukup akrab, menghidupkan api cemburu di hati ini.

Senyumku terabaikan. Aku dilewati begitu saja, tanpa ada sapaan darinya. “Kak Jhony!” Aku tidak habis pikir dengan apa yang kulakukan. Teriakanku menghentikan keduanya, lalu menoleh.

Aku berjalan lebih mendekat pada mereka. “Jadi, Kak untuk … jalannya?” tanyaku butuh kepastian darinya.

Dia yang kutanya justru tampak bingung, dahinya mengkerut. “Maksudnya apa, ya?”

Aku terkejut mendengar pertanyaan balik darinya. Segeraku keluarkan ponsel dari dalam tas. Lalu membuka akun instagram-ku, untuk menunjukkan hasil chattingan kami. Ya, akunku dan dia.

“Astaga! Kemarin itu hp-ku hilang, demi Tuhan,” ucapnya sambil mengangkat jari telunjuk dan tengah membentuk huruf ‘V’. “Parahnya, aku lupa password e-ma ….”

Suara guntur di angkasa seakan-akan menertawakan hatiku yang kini hancur. Mendengar pernyataan itu, ada getir menjalar di tubuh ini. Aku memasukan kembali ponsel ke tas, menjauh dari Kak Jhony. Tidak butuh penjelasan lagi, aku menerobos milyaran rintik hujan.

“Ety! Nanti kamu sakit!” teriak Aya dari teras sekolah. Dia tidak tahu, kalau aku sudah sakit. Sakit karena perasaan yang kuciptakan sendiri.

Aku merelakan tubuh ini basah, membiarkan hujan menyamarkan air mata ini, alam seakan tahu akan begini akhirnya. Kamu benar, Ya. Kini aku merasakan sakitnya.

Oleh: Nurwa R.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan