Pacaran? Mengapa sih istilah pacaran tak asing aku dengar dari kalangan remaja. Bahkan ketika mereka tidak pacaran, seolah menjadi manusia paling menderita di dunia ini.

Hidungnya mancung, wajahnya teduh dan bisa di bilang, mungil? Ya seperti itu. Bila ia sudah mengeluarkan kata-kata yang lembut dan ramah, seolah tiada wanita yang terpesona karenanya.

Seorang lelaki tak begitu tampan telah mencuri hati wanita yang baru saja mengenal dunia luar. Dunia dimana ia merasa lebih bebas dari sebuah tekanan. Meski ia tahu, meski ia paham tentang larangan pacaran, namun akibat rasa gengsi dan penasaran yang menjadi, membuatnya tak peduli dengan pemahaman sebelumnya. Mendadak ia hidup menjadi orang yang baru terlahir dan berjumpa dengan kekasihnya.

Sehari tanpa kabar, sehari tanpa melihatnya, seolah dunia menjadi suram. Tiada keindahan lagi meski sebenarnya keindahan murni sedang dinikmati oleh jutaan ummat lainnya. Ialah mereka yang tidak melabuhkan hati kepada orang yang haram baginya.

***

Ketika hujan deras mengguyur kota Malang, Arini masih duduk termenung di depan kantor Sekertariat para dosen. Ia menunggu hujan reda. Cukup lama hingga hari telah berubah menjadi gelap. Ia mengirim pesan kepada kekasihnya.

“Mas Joni, aku kejebak hujan di kampus nih, sudah malam enggak bisa pulang.”

“Tunggu di situ, aku menjemputmu.” Balasan pesan tak lama mendarat di handphone Arini.

Lima belas menit setelah itu, seorang lelaki dengan melipat celana hingga di bawah lutut kaki, datang menghampiri Arini, ia membuka payung yang dibawanya.

“Arini, ayo pulang! Kita gunakan payung ini untuk menghindari hujan.” Rayunya.

Awalnya Arini ragu, ia malu dilihat banyak orang jika memakai satu payung dengan lelaki. Namun, karena kondisi yang mendesak ia tak memperdulikan hal itu lagi. Sesegera mungkin ia bangkit dan melangkah menerjang hujan bersama di bawah payung tak berukuran besar.

Kondisi hujan yang tak kunjung reda membuat ia enggan untuk terus menerjangnya. Ia meminta Joni untuk berhenti sebentar hingga hujan tak begitu deras. Lambat laun, mereka saling merasa nyaman menghabiskan waktu bersamanya. Bahkan, malam sudah larut pun tak disangka lagi.

“Arini, hujan sudah reda, sebaiknya kamu istirahat di indekos saja.” Ujar Joni membangunkan Arini yang terlelap di kursi panjang tempatnya berteduh.

Arini mengucek-ngucek kedua matanya, dan perlahan membuka suara.

“Sudah malam, yaa. Antar aku ya, Jon. Aku enggak berani pulang sendiri.” Keluhnya manja.

“Pasti Arini, kamu selalu dalam lindunganku.” Kata-kata Joni membuat Arini semakin terpesona hingga ia melupa bahwa ada Allah yang selalu melindungi seluruh hamba-Nya.

Keseokan harinya Arini merasa badannya panas, ia izin tidak hadir di perkuliahan melalui Joni. Nyatanya justru Joni pun merelakan jam perkuliahannya demi menjenguk kekasihnya, Arini.

Bahkan ketika Arini sudah sembuh, ia merasa resah jika jauh dari Joni. Hari-hari awal perkuliahan yang seharusnya sibuk dengan berbagai aktivitas dan organisasi, mereka justru mengambil kesempatan dalam keadaan yang menguntungkan. Yakni mengikuti berbagai organisasi yang sama demi untuk sering bertemu dengan kekasihnya.

Jatah uang saku bulanan pun begitu cepat habis. Sebelum waktunya menerima transfer-an uang, Arini selalu minta terlebih dahulu kepada Ayah. Ia tak terasa bahwa selama ini uangnya sering di pakai untuk bermain, makan di kafe sering-sering dengan harga yang cukup mahal. Belum lagi fashion untuk mempercantik dirinya. Bagi Arini merawat diri secantik mungkin itu penting demi Joni agar tidak beralih ke wanita lain.

Suatu malam ia dilema perasaan yang begitu menghujam pikirannya. Ia kelaparan tak memiliki uang sepeserpun. Sialnya ia tak berani lagi meminta orang tuanya. Apalagi ke Joni, itu tidak mungkin terjadi. Arini itu wanita yang paling bergengsi jika minta uang kepada lelaki, meski itu kekasihnya. Bahkan, ia rela mengeluarkan uang demi kekasihnya.

Kuliahnya menjadi kacau, sebab ia sering izin. Dari alasan organisasi yang niat awalnya hanya untuk berjumpa sang kekasih, hingga alasan sakit karena ia sering telat makan, huh.

Di tengah malam ia terbangun, tak bisa memejamkan mata lagi. Perutnya perih tak tertahankan. Ia mengaduh, mengeluh, tapi tiada seorang pun yang menolongnya. Hingga datanglah sebuah hidayah dari Allah melalui cara berpikirnya.

Ia bangkit, mengambil air wudlu dan melaksankan sholat taubat. Ia sadar bahwa selama ini perasaanya salah. Ia menaruh sepenuhnya perasaan terhadap makhluk ciptaan-Nya. Ia merangkak mendekat kepada-Nya, dan Allah berlari mendekat untuk menjemputnya.

Sakit itu mulai reda ketika ia benar-benar menyerahkan semua permasalahan kepada Allah. Di waktu itu juga, ia menelponku dengan suara cukup serak di ujung sana.

“Kak, beri aku nasihat.” Pintanya.

“Nasihat tentang apa?”

“Apapun supaya aku bisa fokus kuliah, enggak pacaran terus yang dipikirkan.”

“Eh punya pacar?” ledekku berniat menggoda.

“Enggak sih, Kak. Cuma teman dekat saja.” Awalnya ia mengaku seperti itu dan pada akhirnya mengaku dengan cerita panjang kali lebar.

“Misal ketika kamu dekat sama orang itu, apakah kamu bisa menjadi mahasiswa yang berprestasi? Apakah kamu bisa menjadi aktivis yang banyak menebar manfaat? Apakah kamu bisa menjadi remaja yang produktif dalam meningkatkan kualitas diri?”

“Tidak sama sekali, Kak.” Jawabnya lesu.

“Lalu, apa yang kamu inginkan sekarang?”

“Aku ingin fokus kuliah saja. Kasihan sama orang tua yang megeluarkan banyak biaya untuk anaknya ini. Tapi, anaknya malah bersenang-senang tanpa memberi manfaat sedikitpun. Nilai kuliahku menjadi hancur sejak dekat dengan lelaki yang aku sayangi, aku sering melamun dan tidak fokus ketika dosen menjelaskan. Bahkan sering aku tinggal chattingan di dalam kelas.”

“Yakin nih berani move on? Siap untuk berjauhan dengan lelaki yang sedang kamu cintai?”

“Insyaallah siap, Kak.” Sahutnya dengan suara parau. Rupanya ia sedang menahan tangis di ujung telepon.

“Belajarlah dari setiap keadaan, Arini. Mungkin ini cara Tuhan agar kamu lebih dewasa dalam memaknai arti cinta. Setiap keinginan kita yang terlalu berlebihan, mari kita coba untuk melepaskannya. Karena bisa jadi itu semua datang dari sisi nafsu saja. Ikhlaskan semua yang akan terjadi, memaafkan semua kesalahan disetiap keadaan. Menjauhi orang yang kamu cintai dengan rasa ikhlas, maka percayalah Allah akan memberi surprize terindah untukmu.”

“Tapi, Kak. Hati ini mendadak sakit dan tak sanggup untuk jauh darinya.”

“Itulah mengapa kita harus belajar dari sebuah kesabaran. Bukan sekadar sabar yang diucapkan dari lisan saja. Namun, perlu juga usaha yang gigih untuk melupakan. Jika tak cukup waktu satu hari, usahalah lebih keras untuk hari esok, yakin dan bismillah semua pasti bisa. Kita serahkan semuanya kepada Allah. Yang paling penting sekarang adalah kebahagiaan orang tua. So, fokus untuk kuliahmu, tebar manfaat sebanyak mungkin untuk kawan, sahabat dan semua orang yang hidup di sekitar. Kita belajar bersama, ya …, saling mengingatkan, jangan sungkan-sungkan.”

Suara isak tangis terdengar perlahan dari sudut telepon. Lama ia diam tak bersuara. Aku paham, mungkin terasa berat memulai semua ini. Tapi aku yakin, Arini pasti bisa melakukan semuanya. Usia mudanya jangan sampai terlewat sia-sia. Begitupun kekuatan do’a kita kepada Allah. Selama kita tidak menjadikan-Nya tempat berlabuh ketika perlu saja, Insyaallah ia akan selalu memberi apa yang kita minta. Cukup dengan terus berusaha dan berdoa untuk semua kebaikan. Karena jalan hijrah tak hanya datang dari satu sisi saja.

“Lalu apa yang harus Arini lakukan, Kak?”

“Isilah waktumu dengan berbagai kesibukan yang bermanfaat. Jangan diamkan waktu luang sehingga angan mengingat kenangan indah bersamanya, karena itu hanya menghadirkan rasa sakit saja. Mendekatlah kepada Allah sang maha luas cintanya. Tentukan mimpimu, berusaha sebisa mungkin untuk meraihnya. Bahagiakan orang tua, dan pasrahkan segala rasa cinta dan duka yang pernah ada kepada-Nya.”

“Bagaimanapun sulitnya Arini akan terus berusaha, Kak. Doakan Arini, ya.”

“Pasti, kita ditakdirkan sebagai ummat manusia yang seharusnya saling mendoakan sesama. Barakallah, semangat!”

Tuut … suara telepon terputus, Arini mengakhiri bincang ringan via telepon malam itu. Dan aku, mulai berpikir lagi tentang semua hal yang telah aku ucapkan.

Oleh: Sayyidatina Anzalia.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: