Pacarmu Belum Tentu Jodohmu. Yakin Masih Mau Pacaran?

Setiap orang memiliki cara tersendiri untuk bertemu dengan pasangan hidupnya. Ada yang jodoh dengan orang yang ternyata teman sejak kecil. Ada pula orang yang baru beberapa saat kenal, tapi tiba-tiba membuat kesepakatan untuk menikah. Ada pula orang yang dijodohkan orang tua, keluarga atau teman. Atau pertemuan dengan jodohnya lewat perantara orang lain. Ragam cara pertemuan tersebut kadang tidak pernah terduga sebelumnya.

Soal jodoh, hanya Tuhan yang bisa menjamin. Mau kamu punya kenalan 1000 orang lawan jenis dan semuanya dekat, salah satunya belum tentu jodohmu. Begitu pula dengan kamu yang memilih untuk menjalin hubungan bernama ‘pacaran’. Atau mungkin kamu yang sedang menjalani ta’aruf tapi rasa pacaran.

Tidak ada seorang pun yang bisa menjamin bahwa dia akan menjadi jodohmu. Siapa tahu suatu saat nanti, saat kamu sudah berencana menikah, eh malah putus di tengah jalan. Dalam hal ini, penulis tidak merekomendasikan cara pacaran untuk menjemput jodoh. Inilah alasan mengapa pacaran bukan cara tepat menjemput jodoh:

Pacaran itu hanya petualangan asmara

Bisa dipastikan bahwa alasan utama kamu pacaran ialah karena cinta. Ya. Cinta memang selalu menjadi dasar seseorang untuk menjalani hubungan asmara sejenis pacaran. Oke lah setiap orang memiliki prinsip berbeda-beda. Tetapi kalau dilihat faktanya selama ini, pacaran hanya menjadi ajang petualangan cinta atau asmara. Mengapa demikian?

Kita semua tahu dan merasakan bahwa hati mudah sekali berubah. Ketika ada sedikit salah paham, pertengkaran, dan konflik lainnya, cinta hilang berganti amarah dan kekecewaan. Saat cinta berganti amarah, hatimu akan mudah terisi oleh orang lain. Saat itu, hatimu mudah sekali berbalik. Kalau tidak berucap kata putus, ya hatimu mendua.

Tidak ada yang bisa menjamin pacarmu menjadi jodohmu

Sudah pacaran bertahun-tahun, tapi ternyata putus. Ada yang pacaran baru seminggu juga putus. Bahkan yang sudah merencanakan pernikahan sekalipun bisa gagal hanya dalam hitungan menit. Apa sebabnya? Penyebabnya memang beragam, tetapi intinya sama. Tidak ada yang bisa menjamin bahwa pacarmu itu akan bersanding denganmu hingga di pelaminan. Siapa yang bisa menjamin? Hanya Allah yang bisa menjaminnya. Dan sayangnya, pacaran juga tidak direkomendasikan oleh Dia Sang Penentu Takdir.

Komitmen dalam pacaran itu memiliki dasar yang rapuh

Kembali lagi pada alasan utama kamu menjalani hubungan sejenis pacaran. Alasan utamanya pasti karena cinta. Tapi cinta bahkan tidak selalu bertahan di antara dua orang yang sudah menikah sekalipun. Apalagi hanya hubungan pacaran. Komitmen sebuah hubungan yang hanya didasarkan pada cinta akan mudah sekali hancur. Ketika cintanya hancur, hubungannya juga hancur. Dan ada banyak sekali penyebab cinta kamu kepada dia itu bisa pudar bahkan bersih tak berbekas. Keburukannya sedikit saja terlihat olehmu, penilaianmu tentangnya akan langsung berubah.

Masih mau buang-buang uang hanya untuk sesuatu yang tidak pasti?

Kita akui bersama bahwa pacaran itu butuh uang yang tidak sedikit. Uang untuk jalan-jalan, makan, nonton, nongkrong, termasuk juga uang beli bensin saat mau menjemput dia. Ditambah lagi uang pulsa untuk bisa telponan setiap saat.

Belum termasuk uang untuk membeli hadiah bila ada momen tertentu, semisal dia sedang ulang tahun. Kalau mau bermain alias ngapel  ke rumah si dia, mesti bawa oleh-oleh. Dan itu juga butuh uang. Kadang kamu juga harus keluar uang buat membayarkan belanjaan si dia. Banyak sekali ya uang yang harus dikeluarkan olehmu hanya untuk pacaran. Hasilnya? Tidak pasti. Sebab memang tidak ada jaminan kalau dia akan menjadi jodohmu.

Pacaran, senangnya sesaat, ruginya banyak

Oke lah penulis tidak mau membantah bila kamu tambah semangat belajar saat jatuh cinta. Kamu juga semakin disiplin, rajin serta berusaha menjadi pribadi lebih baik. Dan itu hanya terjadi saat kamu masih berada dalam kondisi ‘baru’ jatuh cinta. Kondisi itu lumrah terjadi. Karena mampu mengubah segalanya. Cinta juga mampu membuat orang waras menjadi gila. Dan ketika cintamu terjawab olehnya, kamu senang bukan kepalang.

Saat menjalin hubungan pacaran, merasa ada yang begitu perhatian. Meski kenyataannya perhatian orang tuamu jauh lebih besar daripada perhatian si dia. Senangnya hanya karena itu. Selebihnya adalah sengsara dan rugi. Sengsara saat kamu dan dia harus bertengkar, apalagi bila harus putus.

Sengsara bila ternyata kamu begitu percaya, tapi dia berkhianat. Belum termasuk kerugian yang harus kamu tanggung hanya untuk menyenangkan sang pacar. Kalau hanya kerugian materi itu masih bisa dimaklumi. Tapi kalau kerugianmu disebabkan kamu terlanjur menyerahkan kehormatanmu? Duh, jangan sampai itu terjadi.

Saat putus, yang tersisa hanya patah hati

Terakhir, ketika kamu putus, semua sudah habis. Yang tersisa hanyalah patah hati, kekecewaan dan amarah. Dulu dia adalah orang yang begitu kamu kagumi. Berubah menjadi orang yang terlihat begitu menyebalkan di matamu. Hubungan yang awalnya baik berubah buruk. Dan julukan ‘Sang Mantan’ pun tidak dapat terelakkan.

Itulah alasan mengapa kamu tidak perlu memilih pacaran sebagai sarana bertemu jodoh. Masih banyak cara yang lebih elegan, dan tentunya direkomendasikan ketika kamu siap menikah yakni ta’aruf dan khitbah. Jodohmu belum tentu dia yang kini ada di hatimu. Jadi cukup lah menyukai. Kalau memang jodoh, Allah pasti bukakan jalan. Oke?

Oleh: Gafur Abdullah.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan