Pacarmu Ingin Aku Jadi Pacarnya

Jika ada yang menasihati kita, sebagai cewek yang sedang kesengsem dengan cowok, sebaiknya tahan dulu, kalau bisa ya diam, maka nasihat ini bukan kolot. Ini benar adanya. Mungkin memang ada yang akan bilang, nasihat itu cocok disampaikan pada zaman old. Tapi percaya deh, bisa jadi kamu akan setuju dengan nasihat tersebut, kalau mengalami apa yang terjadi di kisah berikut …

Sudah setengah jam, cowok berbadan tegap itu ada di toko ini. Dia masih mengecek hasil rekap penjualanku. Meneliti bila saja aku melakukan kekeliruan. Saat wajahnya terlihat yakin dengan hasil kerjaku, dia memberi kode, mengacungkan jempol seraya tersenyum.

Desta.

Begitu orang-orang memanggilnya. Dia adalah orang kepercayaan bos. Segala pekerjaan bisa dilakukannya. Tidak hanya cek stok barang, mengecek rekap penjualan karyawan, tapi Desta juga bisa membetulkan AC yang rusak, menyetir, dan mendampingi anak-anak bos saat belajar. Desta juga tinggal di rumah bos. Hanya dia, tidak ada karyawan yang lain tinggal di sana.

Katanya, Desta diidolakan banyak karyawati bos karena hal itu. Awalnya, aku biasa saja. Menanggapi dengan “oh” atau “masa?” sesekali saja, bila kami sedang kumpul, dan ada teman bercerita. Namun, karena sering bertemu dan dia begitu perhatian, aku jadi mulai sepakat dengan pendapat teman-teman.

Aku masih ingat, saat pertama bertemu dengannya. Sepatunya casual dan bersih, dia memakai kemeja biru muda bergaris-garis putih. Masuk kategori tampanlah. Dulu, dia mendekatiku dengan sikap yang sangat ramah.

“Kamu suku Jawa, ya?” tanyanya sambil menatapku.

Sekilas, aku melihat dua alis tebalnya ikut bertanya serius.

“Betul. Kok tahu?”

“Tahu dong. Aku kan cenayang. Hahaha. Biasanya, hanya gadis suku Jawa yang kerjanya sangat jeli. Setidaknya, selama tujuh tahun terakhir di sini, aku mengamati itu.”

Mungkin Desta berlebihan, atau bisa jadi benar. Karena di awal melamar kerja, semua juga ditanya sukunya apa, dan sebagian besar karyawan di tempat bos adalah suku Jawa.

Sikapnya yang hangat menjadikanku nyaman jika ngobrol dengannya. Tapi, sudah sepekan ini aku kurang nyaman dengan apa yang diungkapkan Desta.

“Kamu belum punya pacar, kan?”

“Kenapa?”

“Boleh, aku jadi pacarmu?”

Percakapan itu terus terngiang.

Aku ingin sekali menerima Desta, tapi, hatiku masih belum yakin. Paklik pernah memberi nasihat, saat aku baru diterima kerja, “Jangan gampang percaya sama cowok, ya? Meskipun dia baik. Ini Jakarta, beda sama di kampung.”

Aku ingin juga tanya pendapat Yena. Tapi, suasana sedang kurang mendukung. Lihat saja tuh! Cewek baru di toko ini yang pindah dari toko, di tempat lain (masih milik bos juga), sedang butuh didengar. Dia yang sudah lebih dulu kerja dengan bos, dibanding aku, Sore ini, yaitu setengah bulan setelah Desta bilang kalau dia minta aku jadi pacarnya, Yena datang padaku membawa album foto. Isinya banyak sekali model gaun.

Rambut gadis itu bergoyang-goyang lembut saat memintaku mendekat. Aku suka sekali dengan harum hair mist yang dipakainya. Segar. Rambutnya selalu bersih, rapi, lembut, dan mengkilat. Mirip bintang iklan sampo.

“Lulu! Tolong pilihin dong, mana model yang cocok. Ini, ini, atau itu?”

Wajahnya tampak seperti sinar matahari yang baru saja dikecup pagi. Kedua bola matanya yang sipit, berkilat-kilat menyiratkan kebahagiaan.

“Mau nyewa? Ada acara apa?” tanyaku penasaran.

“Aku sekarang udah punya pacar. Gini hari di Jakarta dan enggak pacaran? Paling kamu doang cewek yang kuat! Ikut party dong!”

Aku tertawa mendengar ocehannya.

Mata ini tertuju pada satu gaun panjang. Lengannya panjang juga. Untuk Yena yang belum berkerudung, kupikir itu cocok dipakainya. Warnanya maroon, dan kulit Yena bersih. Pasti Yena akan terlihat bercahaya.

“Ini aja, gimana? Tapi, kamu belum cerita sama aku, kan, siapa pacarmu itu?”

Yena hanya menggeleng. Dia melihat harga sewa gaun yang kupilih tadi. Kalau enggak salah lihat, tadi angkanya, bagiku termasuk mahal. Ya, untuk ukuran pelayan toko seperti kami.

“Kamu lagi banyak duit?”

“Enggaklah. Kita kan senasib.”

“Lalu?”

“Cowokku yang bayarin nanti.”

Aku ikuti saja alur tebak-tebakan Yena. Gadis yang berasal dari Bogor itu sepertinya memang sudah memboyong matahari pagi ke wajahnya. Enggak siang, enggak malam, terus-terusan berbinar.

Hingga keesokan harinya, Yena mengajakku ikut bertemu dengan pacarnya. Katanya si, gadis berlesung pipit itu mau ngenalin aku sebagai teman yang paling mengerti Yena. Enggak pernah protes, meski nyata-nyata kami berbeda. Duh, mendengar alasan itu, mendadak aku ingin pura-pura batuk agar Yena berhenti bicara.

Kami duduk menunggu di sebuah kafe. Aku mulai merasa kurang nyaman, karena dari tadi, yang terlihat gadis-gadis berbaju seksi, dan aku saja sendiri yang memakai kerudung. Semoga cowoknya Yena lekas muncul. Rempong banget si nurutin dan nyenengin teman.

“Kak Desta!”

Aku serta merta berdiri.

Cowok yang dipanggil oleh Yena melihatku. Aku mengalihkan pandangan ke tempat lain. Pura-pura pusing, dan pamit. Yena mencegah, aku tetap melangkah. Di belakangku, Desta mengikuti. Aku tidak melihat Yena ada di belakangnya. Rasanya ingin sekali memaki dengan keras, tapi aku sedang di tempat rantau. Akhirnya, daripada aku dongkol, tangan ini mengepal dan menyarangkannya di ulu hatinya.

Aku tidak peduli dia mengaduh. Aku berlari dan terus berlari. Sayup-sayup, kudengar suara Yena. Kemudian hilang saat aku berbelok.

Sosok yang akan dikenalkan Yena, adalah …

Maaf, aku sedang tidak ingin menyebut namanya. []

Oleh: K. Mubarokah.

1 thought on “Pacarmu Ingin Aku Jadi Pacarnya”

Tinggalkan Balasan