Dibandingkan dengan jenis tulisan lainnya, menulis true story (kisah nyata) jelas jauh lebih mudah. Ia tidak serumit menulis esai, apalagi menulis artikel ilmiah. Cukuplah modal curhat saja, jadi kok itu tulisan true story.

Modal menulis true story ini kan pengalaman pribadi (apa yang pernah dialami, dirasakan, dan dipikirkan), tidak harus mencari sumber referensi ala menulis artikel. Tidak juga harus berburu data dari jurnal ini dan buku itu. Sebab semua data ada di dalam diri kita sendiri.

Ya, pengalaman hidup itu mahal lho, dan sangatlah berharga.

Karena setiap orang punya pengalaman unik yang berbeda-beda. Bahkan dua orang yang punya pengalaman sama pun akan merasakan dan mendapatkan hikmah/pelajaran yang berbeda-beda. Kenapa? Sebab cara mengolahnya berbeda.

Satu kejadian yang dialami dua orang, akan punya dampak yang berbeda pada dua orang tersebut. Maka, ketika keduanya menuliskan pengalaman—yang sama itu—tetaplah hasil tulisannya akan berbeda. Banget!

Dari tulisan kedua orang tersebut, pembaca akan mendapatkan dua tulisan dengan perspektif yang beda. Inilah asyiknya menulis true story, yakni penulis bercerita dengan perspektif pribadinya tentang suatu hal—yang telah dialaminya sendiri.

Masalahnya, siapa yang mau baca curhat kita?

Memang kalau isinya curhat ala alay-jablai-nggak-jelas dan nggak inspiratif, ya ogah banget orang lain membacanya. Beda dengan true story yang dikemas dengan penyajian cerita yang lebih inspiratif.

Oke, jadi sekarang kita bagi dua ya, true story yang ngasal curhat, dan satunya true story inspiratif. Tulisan ini lebih mengarah pada jenis yang kedua. Karena kalau sekadar curhat, sudahlah nggak usah kita bahas, langsung saja corat-coret di buku diary.

Jadi ini soal true story yang inspiratif. True story yang isinya—kalau dibaca—memang memberikan pesan positif bagi pembaca. Ada nilai universal atau pesan moralnya. Karena itulah, meski ceritanya ‘sesuka gue’, tetap ada aturan yang kudu dipenuhi. Apa itu? Minimal ada unsur-unsur pembentuk ceritanya.

Apa saja unsur-unsur pembentuk cerita itu?

Pertama, tentukan satu konflik saja.

Karena tulisan true story biasanya 6-8 halaman kertas A4 (1.600-2.000 kata), cukuplah tentukan satu konflik saja. Tidak usah banyak konflik di dalam satu tulisan. Cukup satu dan ceritakan dari awal sampai akhir.

Konflik ini adalah masalah yang dihadapi si tokoh—ya si penulis sendiri. Bisa bentuknya konflik sosial (benturan masalah dengan tokoh lain), dan bisa juga konflik batin (galau or gelisah tentang suatu hal). Eh, bisa juga kombinasi keduanya: ya ada konflik sosial dan juga batinnya bergejolak.

Misalnya? Mudah. Kisah saat mencari pekerjaan. Si tokoh pengin jadi penguasaha, tetapi orangtuanya berkehendak lain. Dia harus jadi PNS. Ribut. Itulah konflik sosial. Konflik batinnya ditunjukkan dengan sikap si tokoh yang galau menentukan pilihannya: ikuti kemauan orangtua atau keinginan diri sendiri?

Kedua, siapa saja yang bakal terlibat dalam cerita? Tokoh.

Kalau memang konfliknya ada unsur benturan sosial, tentulah dalam cerita akan menghadirkan tokoh lain selain si penulis. Gunanya untuk apa? Supaya cerita lebih hidup.

Anggap saja dalam cerita ada adegan-adegan tertentu, maka pada setiap adegan itulah, si tokoh utama (penulis) berhadapan dengan tokoh lainnya. Terbentuklah plot.

Kalau di dalam cerita hanya ada si tokoh seorang diri, maka jadinya tulisan curhat. Isinya tentang kegalauan hatinya saja. Itu kurang menarik. Tidak ada percikan di luar konflik batinnya. Bakal membosankan. Jadi, tetaplah menghadirkan tokoh lain dalam cerita. Bisa jadi ada tokoh-lawan atau sekadar tokoh pendamping.

Semakin kuat karakter (penokohan) masing-masing tokoh yang terlibat dalam cerita, tentulah jalan ceritanya bakal semakin kuat. Alhasil, pembaca pun semakin mempercayai isi cerita, dan jalan cerita akan tampak lebih logis (bisa diterima akal sehat).

Ketiga, ada tokoh yang terlibat, jadi bakal ada dialog di dalamnya.

Ya, dialog itu penting. Biar karakter tokoh terlihat dari bagaimana cara dia berbicara. Dialog dalam kalimat langsung itu sebagai hal penting, bukan sekadar pengulangan dari narasi cerita. Dialog dibutuhkan untuk penekanan-penekanan tertentu pada jalan cerita.

Misalnya, dibutuhkan dialog saat terjadi adu mulut (ribut) antar tokoh. Atau dialog saat berdiskusi. Hadirnya dialog ini juga memecah kejenuhan pembaca saat menyimak cerita, sekaligus membentuk cerita lebih hidup lagi. Porsi dialog pun berimbang dengan porsi narasi ceritanya. Misalnya, porsi narasi 70% dan dialog 30%. Agar keduanya—narasi dan dialog—bisa saling menguatkan (tidak saling mengulang).

Jadi fungsi dialog lebih jelas ya? Bukan hanya sebagai variasi dalam tulisan (memperbanyak jumlah halaman) saja, melainkan untuk penguatan karakter tokoh, sebagai pembentuk plot, dan menghidupkan suasana cerita.

Keempat, cerita punya satu nilai universal.

Karena ini jenis kisah yang inspiratif, usahakan satu cerita punya satu nilai kebaikan yang bisa diterima umum (semua kalangan mengiyakan). Dari mana dapat disimpulkan nilai tersebut? Ya dari konflik yang terjadi dan bangunan cerita secara utuh.

Misalnya, satu cerita mengajarkan nilai kejujuran. Ada juga satu cerita memberikan inspirasi tentang arti perjuangan (gigih berjuang). Nilai seperti itu penting. Sebab pembaca tidak akan hafal satu per satu kata yang kita tulis. Mereka hanya bisa menangkap satu pesan moralnya saja.

Untuk beberapa lomba menulis true story yang sering diadakan penerbit, terkadang nilai moral ini sudah ditentukan sejak awal. Yakni disesuaikan dengan tema lomba. Alhasil, kalau nilai universalnya sudah ditentukan sejak awal, tentu akan mempermudah kita saat menuliskannya. Kita tinggal menyesuaikan modal cerita yang kita miliki, dan membuat cerita yang sesuai dengan nilai moral tersebut.

Kelima, bisa menyentuh emosi pembaca.

Ini penting lho. Jangan sampai tulisan kita lempeng dan membosankan. Cerita itu kan harus hidup. Ini bagian dari setting—tetapi bukan sekadar setting tempat, yakni membangun suasana cerita.

Misalnya, apakah ceritanya mampu membuat pembaca sedih? Atau menyentuh sisi emosional lainnya: terharu, marah, membuat pembaca bersemangat/bahagia, atau bisa sampai menangis. Maka menulislah dari hati. Apa-apa yang dituliskan dari hati, akan sampai ke hati pembaca. Itu sangat berkesan.

Keenam, alur ceritanya tampak jelas.

Minimal ada permulaan, puncak konflik, dan ending/penyelesaian. Pembaca bisa membaca jalan ceritanya dengan utuh. Apa yang terjadi dengan tokoh? Bagaimana si tokoh mengatasi konfliknya? Dan bagaimana cara mengakhiri jalan cerita? Semua diserahkan kepada si penulis.

  1. Opening: memulai cerita.
  2. Tubuh cerita: si tokoh bergelut dengan masalah.
  3. Ending: sikap akhir tokoh atas masalahnya.

Kalau bagi pemula, bisa kita membuat kerangka alur terlebih dahulu. Yakni menentukan apa isi opening, apa saja yang akan terjadi pada tubuh ceritanya, dan dituliskan dulu inti endingnya. Setidaknya kita jadi punya guide atas apa yang mau kita tuliskan.

Karena, kalau kita langsung menulis saja, bisa-bisa tidak ada alur yang jelas dan justru kita bingung sendiri saat membaca hasilnya. Jadi, main aman saja dulu. Sejak awal buatlah kerangka ceritanya terlebih dahulu.

Oh ya, ada beberapa catatan penting apabila kita mau menulis true story. Apa saja itu?

Apakah menulis true story harus selalu pakai POV1 (subjek aku, saya, gue)? Bagusnya sih iya, agar menulisnya lebih personal. Menulis dari sudut pandang diri sendiri, perasaan sendiri, pikiran sendiri, tanpa tahu apa yang dirasakan tokoh lain—kecuali melalui dialog/ucapannya.

Soal menjaga aib. Bagaimana caranya menulis kisah nyata, tapi tetap menjaga nama baik? Gampang. Segala sesuatu yang bakal mengumbar aib, ya tidak perlu ditulis. Apa itu aib? Mudahnya segala hal yang kalau diketahui publik, seseorang bisa merasa malu.

Nama tokoh disamarkan. Boleh kok penulis memakai nama samaran agar pembaca tidak langsung tahu kalau kisah yang ditulis itu adalah kisahnya, dan nama tokoh yang terlibat pun boleh disamarkan.

Bahkan lokasi (setting) dalam cerita pun bisa disamarkan jika hal itu dirasa lebih baik ketimbang menuliskan nama sekolah, nama kantor, nama desa tertentu, atau nama tempat lainnya.

Tidak apa-apa keduanya disamarkan, karena ini bukan menulis berita. Kecuali untuk menulis buku biografi/autobiografi ya, nanti ada beberapa catatan khusus.

True story yang bagus bisa berbagi perspektif baru terhadap suatu masalah. Ini agak berat memang, tapi cerita yang bagus memang memberikan efek positif bagi pembaca. Salah satunya, keberanian kita untuk memberikan cara pandang baru terhadap masalah/konflik yang kita hadapi.

Sehingga pembaca tidak hanya menikmati sebuah rentetan adegan cerita, melainkan bisa mendapatkan secercah solusi baru. Minimal pembaca akan bergumam, oh begini ya cara menghadapi masalah itu.

Nah, kira-kira apalagi ya yang belum kita bahas soal menulis true story? Silakan ajukan pertanyaan ya. Kita diskusikan.

Oleh: Dwi Suwiknyo.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

This is a demo store for testing purposes — no orders shall be fulfilled. Dismiss

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: