kisah putus cinta dan ditinggalkan pacar

Pas Lagi Sayang-Sayangnya, Kamu Malah Ninggalin Aku

Nit, maaf kalau Mas harus bilang ini. Mas mau fokus buat ujian akhir. Maaf kita harus putus dulu. Kalau nanti selesai, kita bakal balik lagi kok.

Sebuah chat masuk ke Whatsapp-ku. Kamu yang kupanggil Mas, mendadak banget chat tanpa ba-bi-bu mutusin hubungan ini. Kamu tau enggak sih, aku tuh lagi sayang-sayangnya sama kamu? Oke fine, karena ujian akhir yang aku pun enggak bisa menggugat lebih jauh. Buat masa depanmu, aku bahkan rela bungkam setelah membalas chat tanpa memikirkan perasaanku yang hancur berkeping-keping.

Oke Mas, aku doakan semoga kamu sukses. Tapi tak bisakah aku terus ada di sisimu walau kamu sedang berjuang? Sepertinya aku memang mengganggu, ya.

Tak ada lagi balasan. Aku mencoba tegar. Memang sudah lama kamu mengirimkan sinyal bosan kepadaku. Tanpa aku tahu ada alasan apa di sana. Jarak ratusan kilometer memang membuat kita sering rindu. Apalagi aku yang duluan menyukaimu. Mungkin ini kesalahanku, seorang wanita yang terlalu mencintai makhluk berlogika. Bukan sebaliknya.

Pagi hari setahun yang lalu di jalan penuh cinta. Aku dan kamu menjadi lebih dekat karena memiliki hobi yang sama. Joging pagi. Kamu adalah sepupu dari sahabat dekatku. Kita–aku, kamu dan sahabatku–sering menghabiskan waktu pagi di hari Minggu untuk sejenak menelusuri jalanan lengang sebelum matahari terbit. Sahabatku bernama Radi, sering kali mengajakku tiap Sabtu malam via WA untuk datang menemaninya joging. Lalu, datanglah kamu yang tanpa sengaja kusukai sejak masih SMP, ke dalam hidupku.

Radi bahkan tak tahu sahabatnya ini memercikkan benih-benih cinta pada tiap joging paginya. Dia hanya tahu, aku sudah menyukaimu beberapa tahun yang lalu. Tepat tiga tahun ini, rasa suka yang kupendam saja seakan terlepas, memercik tanpa sulutan. Lalu, percikannya membentuk bunga-bunga api cinta. Ya, kepadamu, kamu yang kupanggil Mas.

Aku bahkan merasa baru saja kemarin kamu menembakku. Menyatakan cinta di kala aku dan kamu hanya berdua saja. Entah karena Radi memang sengaja meninggalkan kita dan berlari lebih kencang. Atau dia memang sudah kamu beri tahu bahwa inilah saatnya kamu menyatakannya. Kamu bercerita bahwa saat kita SMP, kamu tahu aku telah menyukaimu.

Dan aku pun tak menduga saat kamu bilang rasa tertarik padaku itu ada tiga tahun yang lalu. Ya, saat aku jatuh cinta pada sikapmu, kamu pun diam-diam mengamatiku dari jauh. Bisa jadi, Radi adalah perantaraku saat itu. Aku ingat, aku telah menyembunyikan dalam diam rasa ini. Tapi, aku tak pernah bisa berbohong pada Radi. Tepatnya, dia seperti cenayang yang tahu apa isi hatiku.

Kembali aku menyadari bahwa aku dan kamu masih dalam ruang dan waktu yang sama sekarang. Kamu yang telah menembakku kini diam seribu bahasa. Menunggu sang calon kekasih menjawab. Apakah kita akan bersama ataukah aku akan menolakmu pasti sedang ada dalam pikiranmu. Kamu tahu, aku rasanya ingin pingsan saja. Atau aku bisa saja lari pulang lalu menyembunyikan diri dalam kamar redupku. Sialnya, diri ini malah mematung. Memandangi jalan aspal yang biasanya kami lalui tiap Minggu pagi.

“Jadi, kamu mau terima aku sebagai kekasihmu, Nit?” Suara basmu memecah keheningan kala itu. Aku terkesiap, tak punya aji-aji untuk menghilangkan diri. Lama aku berpikir kalimat apa yang tepat aku ucapkan.

“Ko, ka-mu se-ri-us? Sial, aku malah terbata. Kelihatan sekali kamu menertawaiku dengan jelas di depan mukaku.

Tiba-tiba, mimik mukamu berubah, “SERIUS!” serumu.

“YA!” jawabku.

Maka, matahari yang ronanya menyinari pipi kita menjadi saksi. Radi, ah, aku tak tahu dia sudah sampai mana. Yang aku tahu, aku dan kamu akhirnya jadi kita.

Ucapan sayang, sekadar bertanya kabar, serpihan rindu yang tersampaikan menjadi keseharian kamu dan aku. Aku memang berada jauh darimu demi sekolahku. Kamu pun tak pernah mempersalahkan keadaan kita yang kerennya dinamakan LDR (Long Distance Relationship). Walau hanya hari Minggu jadwal kita bertemu, namun kita tetap satu.

Lewatlah sudah purnama demi purnama. Aku dan kamu saling memanggil dengan panggilan cinta. Kamu memanggilku Dek. Aku memanggilmu Mas. Jikalau orang lain tahu, mereka akan terkekeh dengan kisah asmara anak SMA yang konyolnya macam kita. Anak remaja kok manggil Mas-Adek, mungkin begitu selorohnya. Tapi, persetan dengan omongan orang. Aku dan kamu yang sudah terpilin tali cinta dan rindu, mana peduli. Sampai tiba saat-saat aku mengenali keadaan kamu yang jarang hadir walau hanya via chat.

Halo, Mas. Sedang apa?

Sedang belajar, Dek.

Abis belajar, mau ngapain?

Sudah malam, bobok. Kamu juga ya?

Oh ya.

Aku tak bisa memaksamu untuk terus menemaniku seperti biasa. Chat tadi sudah membuatku bahagia walau tak menghadirkan sosok nyatamu. Tapi, aku memang merasa ‘kehadiranmu’ via chat kendur. Selalu saja aku yang memulai untuk menyapa. Tak seperti di awal, saat kamu masih menggebu-gebu.

Kini, semua tinggal kenangan. Saat kamu sudah memberi ultimatum untuk berpisah, aku tak punya kuasa. Aku mencoba untuk mengingat lagi kesalahan yang mungkin aku buat. Ya, mungkin saja aku sering merengek, sering memintamu untuk menemuiku, atau hanya sekadar meneleponku tiap malam tiba. Bukankah itu wajar, Mas? Ah, aku tak tahu. Ini pertama kalinya aku menjalin cinta. Mungkin memang aku terlalu bodoh untuk tidak menghubungimu lagi. Aku terlalu naif.

Seminggu aku putus denganmu, aku masih merasa hancur. Berkawan mukena, aku kembali mendatangi rumah-Nya untuk bercerita. Kupanjatkan doa untuk sakit hatiku juga untuk kesuksesanmu. Jujur, aku merasa berada jauh dari-Mu setelah mengenal kamu. Tahukah, Mas, aku berpapasan lagi dengan seorang teman yang dulu kujauhi. Karena apa? Karena aku tahu dia akan bersikap nyinyir kalau dia mengetahui bahwa diriku memiliki kekasih. Jahatnya aku.

Aku menyapa temanku itu dengan sikap kikuk, Mas. Tapi, dia malah tersenyum bak mentari pagi. Hangat. Laila nama temanku ini. Kami berbincang agak lama. Entah kenapa Dia selalu mempertemukanku dengan Laila di kala aku mencari ruang untuk bersujud. Ada medan magnet besar yang mempertemukan kami. Lalu, di saat inilah aku dan Laila akrab. Akhirnya aku cerita semua kegundahanku. Alasanku kenapa aku selalu menangis setelah bersujud kepada-Nya.

“Mendekati zina saja itu dosa besar, apalagi menghampirinya,” begitu kata Laila kepadaku. Seorang gadis baik berjilbab panjang warna biru. Mungkin, jika saat itu aku masih sama kamu, aku tak akan menggubris kata-kata Laila ini. Sekarang, di saat aku hancur, kepingan nasihat ini melengkapi semua puzzle hidupku yang kosong. Aku hancur karena diriku sendiri. Aku hancur setelah mengiyakan kamu jadi kekasihku, Mas. Aku menduakan-Nya.

Puzzle yang sudah terpasang lengkap ini berada dalam hidupku sekarang. Aku mulai melupakanmu, Mas. Jalan demi jalan yang sudah kita telusuri dulu mulai pudar dalam ingatan. Mungkin inilah proses move on yang dulu pernah kudengar dari orang-orang, sampai saat kamu kembali menghubungiku.

Nit, kamu masih ingat aku?

Sebuah chat dengan nomor tanpa nama masuk di ponselku. Mas, walaupun aku sudah lupa tentangmu, namun jika kamu menghubungiku lagi dengan nomor lamamu, aku akan tetap tahu itu kamu.

Ya, aku masih ingat.

Tak ada kata ‘Mas’ di sana. Aku tak mau memberimu sinyal bahwa aku sebenarnya masih ada rasa. Bohong kalau aku sudah melenyapkannya. Tapi, boleh kan aku berusaha?

Adek, masihkah ada rasa buatmu ke Mas?

Kamu mulai melancarkan lagi kalimat kenangan itu. Ya Rabb, hati ini mulai goyah lagi, kuatkan hamba-Mu ini, kuatkan! Aku tak mau jatuh ke lubang yang sama lagi. Please!

Rasa apa ya? Maaf aku tidak paham.

Aku hati-hati membalas pesanmu. Sebenarnya dalam hati ini berontak. Ingin rasanya aku bilang, Mas, aku masih rindu padamu. Tapi bagaimana usaha demi usaha yang sudah aku bangun setelah kamu bilang putus. Proses move on ini tak akan kalah oleh hati yang goyah ini. Ya Rabb, kamulah pemilik hatiku. Aku meminta kuatkanlah imanku. Butuh waktu setahun bagiku untuk melepaskan rasa ini.

Beberapa menit kemudian, kamu membalas lagi.

Kamu masih sayang kan sama aku, Dek? Aku minta maaf, aku pengin balikan lagi sama kamu. Dulu aku khilaf.

Apa? Balikan? Kututup mataku. Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah. Kamu tak tahu, apa saja yang sudah aku pendam saat kamu memutuskanku secara sepihak. Lagi, enak saja kamu dengan gampangnya bilang putus, hilang tanpa kabar. Lalu tiba-tiba, dengan gampangnya juga minta balik. Kamu waras?

Kubisikkan kalimat basmallah sambil menggengam ponsel. Kuketik dengan cepat kalimat balasan yang tak akan pernah kamu balas lagi nanti.

Salah siapa kamu putusin aku pas lagi sayang-sayangnya. Maaf, sayang itu sekarang sudah hilang, bahkan tak ada secuil yang tersisa. Ini terakhir kalinya aku balas chat kamu ya. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Lega. Aku sangat lega. Tak lupa kupastikan chat itu sampai, lalu kucari tombol blokir untuk nomormu. Done! Bye-bye kamu yang di sana. Semoga kamu juga dapat hidayah ya.

***

Oleh: Dhita Erdittya.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan