Passion Saja Tidak Cukup, Jangan Buru-Buru Resign

Lho serius ini. Karena akhir-akhir ini banyak kampanye untuk resign dan menjadikan hobi sebagai pekerjaan utama.

Apa provokasi seperti itu tidak boleh? Boleh saja, tapi ada syaratnya. Biar hasilnya nggak ngenes gitu.

Ada lho seorang teman yang terprovokasi dan ikutan resign dari kantornya—padahal jabatannya di kantor udah oke—eh setelah resign bilang begini:

“Aku mau ketemu sama motivator itu!”

“Lho kenapa?” tanya saya.

“Ya gara-gara ikuti saran dia, kondisi (keuangan) keluargaku jadi amburadul begini.”

Saya tanggapi santai, “Ah, bukan salah dia kali, kamu saja yang terlalu gegabah dan salah langkah.”

“Lho salah langkah gimana?” suaranya semakin meninggi, “jelas-jelas kok dia yang provokasi kami dulu untuk hidup merdeka dengan resign. Tapi hasilnya malah begini ini.”

Curhat dia itu, lumayan agak lama sih. Jadi sekalian saya tulis di sini saja ya. Apa yang saya sampaikan ke dia? Inilah ringkasannya:

Apa ‘hasil’ dari hobi kamu sudah bisa menggantikan gaji kamu?

Ini harus saya bahas di awal, karena kebanyakan orang resign itu kan meninggalkan gaji bulanan. Logisnya, kalau penghasilan bulanan sudah tidak ada lagi, dari mana penggantinya?

Okelah kamu bertawakal kepada Allah Swt, tetapi para sahabat Rasulullah Saw tidak berdiam diri di masjid lho. Mereka juga berikhtiar pergi ke pasar, bekerja sama orang lain, juga bertani (berkebun).

Lha terus kalau kamu resign, kamu mau ngapain? Itu intinya. Ada ikhtiar yang tetap harus dilakukan, kan?

Sebutlah kamu mau menekuni hobi, lantas apakah hasil dari hobi itu sudah bisa mengganti gaji bulanan kamu? Minimal nilai penghasilannya sama lah. Atau kalau kurang, jangan terlalu banyak. Syukur-syukur bisa lebih.

Jadi di awal, kamu kudu siap-siap. Setidaknya kamu punya tabungan untuk tiga bulan ke depan. Tidak terlalu masalah kalau kamu masih lajang. Tapi bagaimana kalau kamu sudah berkeluarga? Kan kasihan anggota keluargamu.

Perlu persiapan tiga sampai enam bulan sebelumnya.

Beneran ini, kalau memang niat mau resign, persiapannya jangan mendadak. Minimal tiga bulan lah. Misalkan selama masa persiapan itu, kamu siapkan tabungan dulu, lalu siapkan proyek (jualan) yang bisa kamu kerjakan di rumah.  

Banyak kok temen-temen yang kerja di kantor, tapi malamnya masih mengerjakan proyek dari luar kantor. Kasihan banget ya: siang udah kerja, eh malam masih juga kerja, untuk apa? Ya untuk persiapan tadi.

Bolehlah kerja malam, tapi punya batasan waktu. “Saya mau kerja nglembur nyari tambahan begini cukup sampai tiga bulan saja.”

Minimal sampai kamu yakin kalau kamu bisa mandiri bekerja di rumah (sudah tidak ngantor lagi), atau selama tiga bulan itu kamu membuka usaha—dari hobi kamu itu—sampai ‘bisnis’ kamu jalan (menghasilkan uang).

Hobi kamu benar-benar harus bisa dijual!

Lho ya, kalau hobi kamu tidak bisa dijual, ngapain kamu resign?

Hobi ini bisa berupa jasa yang bisa kamu tawarkan kepada calon klien. Tapi kamu jangan mengukur sendiri jasa ini, lihatlah para pesaing kamu.

Misalnya kamu jago desain, coba lihat pesaing menjual jasa desain berapa ratus ribu atau malah harganya jutaan? Lalu kamu mau main di harga berapa? Dengan kualitas karyanya seperti apa?

Silakan ukur kemampuan kamu, tapi jangan lupa juga kamu punya pesaing. Kalau kamu jual lebih mahal, sedangkan kamu pemain baru, ya orang lebih memilih jasa yang lebih murah dengan pengalaman yang lebih lama dong.

Tapi jangan juga jual jasa dengan murah. Logisnya, berunding saja dengan calon klien. Agar ketemu harga yang cocok dan kualitas tetap terjaga. Ingat lho, penentuan harga ini sangat penting karena inilah sumber penghasilan kamu—sebagai pengganti gaji bulanan.

Kamu juga harus jago jualan juga.

Jualan apa? Jualan hobi kamu tadi. Kan hobi sudah dipastikan bisa dijual, tapi siapa yang jualan? Ya kamu sendiri. Begitulah.

Awal-awal merintis ya semua dikerjakan sendiri: kamu jualan, kamu negosiasi harga dan waktu pengerjaan, kamu kerjakan sendiri, kamu atasi keluhan klien sendiri, sampai semua kerjaan benar-benar clear ya kamu kerjakan sendiri.

Cara jualannya gimana? Ya paling mudah, kamu harus tahu hobi kamu itu bisa dijual ke siapa? Intinya kenalilah siapa yang butuh hobi kamu?

Apa yang mereka butuhkan bisa kamu bantu melalui hobi kamu itu. Coba dibuat daftarnya, siapa saja yang bisa jadi calon klien, lalu jual hobi kamu kepada mereka. Buatlah proposal (promosi) dan tawarkan kepada mereka.

Jadi selama masa persiapan itu, daftar calon klien benar-benar bisa kamu kantongi dulu. Misalnya nih, kamu hobi bikin website, kamu sudah punya berapa daftar calon klien?

Logisnya begini, kalau kamu berhasil buat daftar 50 calon klien, terus kamu tawarkan jasa kamu kepada mereka, ada 10% yang tertarik dan jadi bertransaksi, itu artinya ada 5 klien yang deal.

Jadi semakin banyak daftar calon klien, semakin besar peluang kamu untuk bertransaksi dengan mereka.

***

Nah, setelah dia mendengar penjelasan saya seperti itu, teman saya tadi bilang, “Waduh ternyata secara teknis harus persiapan begitu ya?”

“Ya iya lah, apa iya kita mau terjun ke lautan luas tanpa perahu, tanpa pelampung, dan tidak bisa berenang?”

“Ya, ya …” pinta dia kemudian, “nah, sekarang kamu ajari aku cara jualan juga dong.”

“Wani piro? Hehehe …”
***

Oleh: Dwi Suwiknyo, penulis buku laris Karyawan (Juga) Bisa Kaya (Elex Media Komputindo).

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan