Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi

Aku tenggelam dalam lautan luka dalam

Aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang

Aku tanpamu butiran debu

(Butiran Debu – Rumor).

***

“Hari gini masih sedih gara-gara patah hati. Laki-laki nggak cuma dia aja, Bebh. Banyak kali laki-laki yang lebih baik dari dia. Inget, Bebh … kamu punya mimpi yang harus kamu raih.”

“Dunia nggak selebar daun kelor kali ….”

“Allah tuh, ya sudah siapin Fuad lain yang lebih baik dari dia. Wes toh ojo ngelarani ati dewe (sudahlah jangan menyakiti hati sendiri).”

Begitulah beberapa kalimat yang saya ingat. Kalimat yang terlontar dari mulut sahabat-sahabat saat saya sedang terpuruk–berkubang dalam luka, dulu.

Jujur, saya pernah patah hati yang membuat saya kehilangan diri sendiri, bahkan dunia pun nyaris tiada. Waktu yang saya miliki habis hanya untuk meratapi nasib dan menangisi keadaan. Saya lupa saat itu tengah berada di negara orang–jauh dari keluarga demi sebuah mimpi. Saya juga lalai dengan tanggung jawab sebagai seorang ART (Asisten Rumah Tangga) di Hong Kong.

Saat itu saya benar-benar kehilangan akal sehat, lupa dengan tujuan awal merantau ke Hong Kong untuk apa. Saya lupa selain datang ke negara itu untuk bekerja, ada mimpi yang harus saya raih. Yakni, melanjutkan sekolah sampai lulus perguruan tinggi.

Saya hanya sibuk mengingat kenangan bersama laki-laki itu, lalu menangisinya. Meratapi keadaan kenapa kebahagiaan saya dengannya hanya sampai di sana. Saya juga banyak menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi. Bahkan saya berani menyalahkan Allah kenapa mempertemukan saya dengan laki-laki itu kalau akhirnya harus patah hati.

Sedahsyat itukah dampak dari patah hati?

Sebenarnya tidak jika dipikir secara logis. Semua kembali pada diri masing-masing. Mungkin saya tidak akan terpuruk seperti itu, seandainya saya bisa menjaga hati. Saya tidak akan merasa sesakit itu andai saya tidak mencintai dia secara berlebih.

Lalu, apa sih sebenarnya patah hati itu?

Patah hati sendiri berasal dari kata dasar patah. Dalam KBBI, patah hati berarti kecewa karena putus percintaan. Kecewa karena harapannya gagal.

Tetapi, patah hati bukan alasan kita untuk menyiksa diri, kan? Dan patah hati itu tidak akan terjadi kalau kita bisa menjaga hati kita. Seperti yang ditulis oleh Dwi Suwiknyo pada halaman 09, dalam bukunya yang berjudul ‘Ubah Patah Hati jadi Prestasi’. Kita terlahir dalam keadaan suci, hanya perilaku bodoh kita yang akan membuat diri kita menjadi kotor. Maka milikilah prinsip hidup agar kita bisa menjaga diri sendiri dari kebodohan yang bisa merusak diri sendiri.

Nah, dari kalimat tersebut tentunya dapat kita simpulkan, siapa yang bertanggung jawab untuk menjaga hati kita? Bagaimana caranya agar hati kita tidak patah. Jangan sampai gara-gara patah hati, kita terjebak dalam kesedihan jangka panjang. Jangan sampai gara-gara patah hati membuat masa depan kita suram.

Bicara tentang patah hati dan masa depan atau kesuksesan, saya jadi ingat beberapa orang sukses yang lahir dari patah hati. Adele Laurie Blue Adkins, penyanyi wanita dari London itu pernah mengalami patah hati juga. Dia merasakan kecewa tingkat dewa. Adele pernah dicampakkan oleh kekasihnya yang lebih memilih menikah dengan perempuan lain. Tetapi berkat pengalaman pahit itu, terciptalah lagu ‘Someone Like You’ yang semua orang tahu bagaimana suksesnya lagu itu dan siapa Adele sekarang?

Ada juga Joanne Kathleen Rowling. Siapa yang tidak tahu dengan J.K Rowling, penulis buku fantasi ‘Harry Potter’ ini? Adalah seorang penulis yang terlahir dari rahim patah hati. Sebelum meraih kesuksesannya, dia juga pernah mengalami sakit hati yang luar biasa.

Kehilangan ibunda tercinta membuatnya hancur berantakkan. Ditambah lagi dia ditinggalkan oleh suami pertamanya dan akhirnya dia diagnosis menderita depresi klinis. Bahkan dia pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun, dia memiliki kekuatan/alasan untuk melanjutkan hidup dan tidak menyerah hanya karena patah hati. Dia bangkit dari keterpurukannya untuk meraih mimpi. Seperti yang kita semua tahu dia sukses dengan karya-karyanya.

Nah, kisah sukses mereka membuat saya sedikit demi sedikit sadar. Berlarut dalam kesedihan itu percuma, hanya akan membuat saya tersiksa. Hati hanya akan terasa semakin sakit. Mimpi-mimpi yang telah tersusun rapi jadi kacau balau. Planning untuk membahagiakan orangtua berantakan.

Harusnya dengan patah hati saya bisa membuktikan pada semua orang, pada dunia siapa saya sebenarnya. Bolehlah sedih karena patah hati asal jangan berlarut-larut. Kalau mau, kita bisa kok mengambil hikmahnya.

Sebenarnya di balik patah hati itu ada rezeki yang tersembunyi. Kok bisa? Positive thinking saja. Bukankah kenyataan memang tidak selalu selaras dengan keinginan kita? Tanamkan dalam hati bahwa apa yang Allah gariskan adalah yang terbaik untuk kita.

Jadi, saat patah hati karena seseorang katakan dan yakinkan dalam hati, ‘Allah telah menyiapkan yang lebih baik untukku’. Begitulah yang pernah dikatakan Ibu saat membantu saya bangkit dari keterpurukan–move on.

Patah hati bukan berarti dunia kita berhenti. Dunia tidak peduli bagaimana keadaan hati kita. Ia akan terus berputar sampai Allah menghentikan. Begitupun dengan orang yang telah mematahkan hati kita, dia tidak akan peduli bagaimana kita sekarang. Yang dia lakukan hanya terus berusaha untuk hidup bahagia.

Berlarut dalam kesedihan hanya akan membuat kita jauh tertinggal. Misalnya, teman kuliah sudah lulus dan sukses bekerja di perusahaan besar. Mantan kita sudah menemukan pasangannya dan hidup sangat bahagia. Atau saudara kita berhasil mewujudkan impian kedua orangtua. Sementara kita? Kita masih sibuk membelai hati yang patah. Masih asyik berkubang dalam keterpurukan.

Kalau terus-terusan begitu kapan majunya? Kapan suksesnya? Masih seperti tulisan Dwi Suwiknyo di buku yang sama. “Kualitas diri kita akan tampak ketika kita sedang terpuruk. Sebab bagaimana sikap kita menghadapi keterpurukan itu yang mencerminkan diri kita.” (Halaman  32)

So, ayo move on! Jangan biarkan masa depan kita tergerus oleh kesedihan. Memang sih, sulit untuk menyembuhkan hati yang terlanjur sakit dan patah. Tetapi, sulit bukan berarti tidak bisa. Kita hanya butuh waktu saja untuk berproses.

Menyegerakan move on lebih baik dari pada menundanya. Kenapa?

Bukankah, sekecil apapun luka di tubuh akan semakin parah atau fatal kalau kita membiarkannya tanpa berusaha mengobati? Begitu pula dengan hati yang sakit. Jika tidak lekas diobati bisa menyebabkan penyakit hati lainnya. Melakukan hal-hal bodoh yang akan merugikan banyak orang–bunuh diri, misalnya.

Tentu saja itu bukan yang kita inginkan, bukan?

Keberhasilan adalah kemampuan untuk melewati dan mengatasi dari satu kegagalan ke kegagalan berikutnya tanpa kehilangan semangat.” (Winston Churchill)

Kalimat di atas berhasil membantu saya move on. Tidak seratus persen karena kalimat itu sih, ada banyak orang yang andil dalam penyembuhan hati saya. Ada orangtua yang selalu menantikan kesuksesan dan kebahagiaan saya. Ada sahabat yang juga peduli dengan masa depan saya.

Jadi, jangan biarkan patah hati membuat kita gagal meraih mimpi-mimpi dan menjadikan kita orang yang rugi. Tetapi jadikan patah hati sebagai anak tangga untuk meraih prestasi. Ya, alhamdulillah, meski belum berhasil seratus persen saya sudah membuktikan pada masa lalu kalau karenanya saya bisa mengukir sedikit prestasi dengan berkarya (menulis).

Mungkin tanpa patah hati yang pernah diciptanya, tidak akan ada kisah-kisah romance untuk saya tulis dan berhasil menang di beberapa lomba menulis. Mungkin, kalau saja saat itu saya memilih berlarut dalam keterpurukan, tidak segera move on saya tidak akan menjadi saya yang sekarang ini. Boro-boro mau nulis dan berkarya, mau makan saja rasanya malas. He-he-he ….

Ya, pada akhirnya sedikit banyak ucapan terima kasih perlu dihaturkan untuknya, masa lalu. Sebab, kesedihan yang dia suguhkan membantu kita untuk menemukan kebahagiaan selain bersamanya.

Benar kata seorang sahabat saat itu, “Patah hati bukan berarti dunia kita berhenti. Kita bisa mengubahnya menjadi prestasi dan menjadi pribadi yang lebih berarti.”

Jadi, tidak perlu berlarut dalam kesedihan, kekecewaan apalagi terpuruk berlama-lama karena patah hati. Semakin kita menunda untuk menyembuhkan luka hati akan semakin jauh kebahagiaan dan kesuksesan untuk bisa kita nikmati. Yuk, move on

***

Oleh: Isti Syarifah.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

This is a demo store for testing purposes — no orders shall be fulfilled. Dismiss

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: