Peluk Aku Kembali, Tuhan

Pepatah bilang, “Orang bodoh lah yang jatuh ke satu lubang sama, lebih dari sekali.” Dan mungkin, kita semua pernah mengalaminya. Aku termasuk yang mengalami, namun, di awal melangkah, aku belum sadar, bila lubang itu sama persis.

Hari itu, aku baru sembuh dari sakit parah. Pelan-pelan, aku memperbaiki pola hidup. Baik pola untuk jasmani, atau rohani. Aku mulai lari pagi untuk memulihkan berat badan yang sampai ke angka 40 kg. Berat badanku biasanya 48 kg.

Aku juga mulai latihan karate lagi. Dan setelah sekian tahun, aku kembali bertemu dengan Kak Rezi. Kau mungkin tidak tahu siapa dia, tapi kau bisa membaca ceritanya di sini.

Kupikir, waktu pasti bisa mengubah karakter orang. Yang tadinya buruk, jadi baik. Meski bukan tidak mungkin, yang tadinya baik menjadi buruk. Tapi, aku terbiasa belajar berbaik sangka pada siapa pun. Setidaknya itu akan membuatku lebih nyaman saat bergaul dengan siapa saja.

Aku juga melihat ada pengubahan pada diri Kak Rezi. Dia yang dulu gondrong, sekarang berambut rapi. Pakaiannya juga demikian. Jauh lebih rapi dari beberapa tahun lalu. Biasanya, Kak Rezi memakai kaus dengan celana jins belel, atau agak koyak. Sekarang sudah memakai celana kain biasa, dan kemeja. Beda, kan?

 Kak Rezi juga biasa latihan bersamaku, juga teman-teman lain. Kak Rezi biasa mengantar saat akan pulang ke terminal, dan menjemput, ketika baru datang di terminal. Aku bahkan sering sekali ke rumahnya, setiap kali selesai latihan. Dan jujur, aku tidak memiliki harapan apapun, saat itu, hingga satu waktu aku sadar, kami sudah terlalu sering bersama.

“Kamu bisa kan baca sari tilawah?” tanyanya usai Iedul Fitri hari kedua kala itu.

“Bisa lah, wong baca. Kalau enggak baca, mungkin aku salah,” jawabku enteng.

“Kalau gitu, kita bisa dong ngisi di acara silaturahim perusahaan besar di kota ini?”

Aku terkejut ketika Kak Rezi menyebutkan nama perusahaan itu. Dan aku belum pernah maju bersama naik panggung, apalagi dengan laki-laki. Mendadak saja, aku merasa kami jadi sepasang pria-wanita yang harus kompak di depan umum. Sulit sekali jika bersandiwara. Harus betul-betul kompak.

Kami pun merencanakan beberapa hal. Dari pakaian, hingga lainnya. Kami mau memakai baju warna apa, sepatu yang bagaimana, sepatu sandal atau sepatu formal. Apa tidak apa-apa jika aku memakai sepatu berhak tinggi. Apa aku perlu memakai selendang.

“Bajuku ada garis oranyenya, ada warna hitam, dan aku pakai celana hitam.”

Aku langung membuka lemari, memastikan bahwa ada juga baju dengan warna senada. Iya, benar. Ada, dan aku juga memiliki kerudung oranye. Terus, selain sibuk menyiapkan pakaian, pikiranku juga sibuk berkhayal, apakah Kak Rezi sudah benar-benar baik, sudah siap untuk menikah kah? Dengan siapa? Apakah aku masuk kriterianya?

Hingga pada hari yang ditentukan, kami benar-benar memakai baju yang sangat serasi. Padahal, kami sama-sama belum pernah melakukan itu sebelumnya. Ah, andai saja. Andai saja saat itu juga Kak Rezi bilang bahwa dia … astaghfirullah, aku mulai berkhayal.

Kenapa aku bisa berkhayal dengan orang yang pernah melukaiku?

Apa mungkin karena wajah Kak Rezi jauh lebih mature dibanding dulu. Jangan-jangan karena sejak aku dekat dan sering bersamanya, terus tidak pernah mendengar dia bicara tentang wanita? Tentu ini akan sangat nyaman, bukan? Bersama pria dan dia tidak pernah memuji wanita lain.

Kami duduk terpisah. Kak Rezi ada di bagian tamu laki-laki, dan aku di antara tamu ibu-ibu. Acara membaca Al-Quran dan sari tilawah tentu saja menjadi acara pertama. Dan itu artinya, aku akan mendengar suara Kak Rezi yang menjadi Qori, sedang dia juga akan mendengar suaraku sebagai pembaca puisi tingkat kelurahan. Hahahaha …. Eits. Tapi, berbekal itu lah aku biasa membaca sari tilawah jika ada acara-acara tertentu.

Tiba juga waktu Kak Rezi maju. Aku sempat menghirup minyak wanginya yang tajam, tapi tidak murahan. Sedetik, dadaku berdesir. Ada rasa tak pantas hadir di acara yang terlalu baik. Rasa berharap, bila mungkin saja Kak Rezi bilang, “Aku mencintamu.”

Aku berusaha menguasai diri, saat kami berjalan berdampingan. Ratusan orang pasti melihat kami. Aku merasa, ini bukan acara membaca Al-Quran, tapi mirip acara lamaran. Oh, Tuhan. Ternyata aku bermain dengan hatiku. Aku membawa perasaan di sini. Pada orang yang tidak kutahu pasti bagaimana hatinya.

Bulu halusku berjingkrak, ketika suara ta’awudz keluar dari bibir Kak Rezi. Tuhaaan. Suara itu sangat merdu. Apalagi ketika lantunan Basmalah dan tilawahnya menggema ke seluruh gedung. Di hadapan para tamu pria berbatik, dan para ibu berkebaya cantik, aku sedang mendampinginya.

Kedua kalinya aku coba menguasai diri. Aku harus membaca sari tilawah dengan baik. Tidak boleh gemetar, hanya karena perasaanku yang berdenyar pada pria beralis tebal di sampingku. Aku harus bisa.

Bersyukur, semua berjalan mulus. Kami selesai juga mengisi acara itu.

“Lulu, kita langsung pulang saja,” katanya saat kami sampai di belakang para tamu.

“Ya.”

Kami kemudian menuju ke satu warung makan. Di sana, Kak Rezi membuka amplop putih. Mengeluarkan beberapa lembar uang merah, dan membagi dua denganku. Gemetaran aku menerimanya.

“Ini tadi honornya.”

Jadi, honor untuk pembaca sari tilawah tinggi juga rupanya. Tentu aku tidak akan menyebutkan, berapa persisnya. Aku hanya akan memberitahu bahwa pikiranku melayang membayangkan bahwa bila kami memang harus bersama dengan cara begini, ya tidak apa. Tapi, apa itu tidak menjual kebisaan? Entahlah.

“Kok melamun?”

“Em, em, enggak kok.”

Aku mendadak ingin bertanya. Bertanya hal yang mungkin saja bisa melegakan hati.

“Kak, Kak Rezi selama ini menganggap Lulu sebagai apa?”

“Maksudnya?”
“Apa, kebersamaan kita selama ini, berarti kita tidak membangun apa-apa?”

“Membangun apa?”

“Rasa di hati misalnya.”

Dia tertawa.

Aku melihat rahang kukuhnya ikut menertawakanku juga.

“Kamu ini ada-ada saja. Aku belum ingin menikah. Kita berteman. Ya?”

Jadi, setelah dulu aku dilukai karena Kak Rezi berpacaran dengan anak SMU. Hari ini aku yang melukai diriku sendiri dengan kebodohan perasaanku. Tuhan, peluk aku kembali. Aku baru saja jatuh di satu lubang, dua kali. Mendapat luka yang senada dari satu pria. Bedanya, dulu aku jatuh karena lubang itu ada tanpa kusadari, kini aku menggali sendiri lubang itu dan terperosok dengan sempurna. []

Oleh: K. Mubarokah.

2 thoughts on “Peluk Aku Kembali, Tuhan”

Tinggalkan Balasan