Pengin Punya Rumah? Mintalah Hanya Kepada Allah Saja

Selalu ada fase perjalanan hidup yang tak tuntas-tuntas pada diri setiap kita. Semakin kita melanturkan, semakin tak ada habisnya ia. Risikonya, pikiran dan hati kita terus digerus kegundahan, harap-harap cemas, atas tercapai/gagalnya kegemilangan demi kegemilangan.

Malang. Sungguh kemalangan yang luar biasa untuk mengarungi hidup yang terus mencemaskan itu. Tragisnya, di satu sisi, hati kita mengerti bahwa cara mengendalikan keterombang-ambingan keadaan itu ialah dengan semata menyandarkan segala apa hanya kepada Allah Swt, tapi, di sisi lain, pikiran dan perilaku kita malah melanturkan keterombang-ambingan itu.

Bukankah itu sungguh cara hidup yang menyedihkan?

Fase sekolah/kuliah, kita ingin sukses. Fase menikah, kita ingin mudah jodoh. Fase berikutnya, kita ingin rezeki dan keturunan. Fase lanjutannya, teruslah begitu deraan ingin dan ingin itu.

Suatu hari, seorang kawan berkisah tentang keinginan terbesarnya saat ini, yakni nemiliki rumah sendiri. Tidak ngontrak lagi.

Saya menyimak dengan seksama sejumput hikayatnya tentang perjalanan hidup sebelumnya yang bisa dikatakan mudah, tapi tak mudah-mudah amat pula. Singkatnya, rumah impian yang dihasratinya bisa dihuni istri dan anak-anaknya membuatnya terus bertanya: sanggupkah aku mewujudkannya?

Saya teringat surat al-Hadid ayat 29, yang artinya, “… mereka tak punya kuasa sedikit pun pada karuania Allah dan sungguh karunia Allah hanya diberikan kepada orang yang dikehendakiNya dan Allah lah Maha Pemilik Karunia yang Agung.”

Ada banyak ayat setema sebagaimana kandungan ayat di atas, yang pada intinya menyatakan bahwa Allah lah Yang Maha Menentukan kejayaan atau kejatuhan siapa pun. Saya catat satu ayat itu saja di sini.

Jadi, bagaimana caraku bisa memiliki rumah?

Beli. Tentu saja begitu. Tak ada uang, uang kurang, belilah bertahap. Belum cukup juga, menabunglah dulu. Berhematlah. Berprihatinlah. Sedikit demi sedikit, sejuta dua juta, dalam masa tiga tahun, lima tahun, sudah berapa uang yang bisa kamu kumpulkan?

Anggaplah dalam sebulan kamu bisa menabung dua juta rupiah. Dalam lima tahun ke depan, uangmu sudah ada 120.000.000. Belum cukup beli rumah di Jogja, tapi sudah cukup buat beli tanah. Alhamdulillah.

Saat sudah siap beli tanah, hasil nabung lima tahun yang penuh prihatin, demi masa depan istri dan anak-anak, tiba-tiba kamu sakit. Harus opname. Dua minggu. Butuh dana sampai 40.00.000. Alhamdulillah sehat lagi, siap kerja lagi, tapi tabunganmu kini hanya ada 80.000.000. Cukup sulit beli lahan.

Lalu kamu menabung lagi, berprihatin lagi, sekeluarga. Dua tahun berlalu. Uangmu kini telah ada 80.000.000 + 48.000.000 = 128.000.000. Alhamdulillah, mari mulai cari lahan buat rumah.

Ternyata, harga tanah telah melonjak jauh. Dulu, dua tahun lalu, uang segitu sudah cukup. Sekarang tidak lagi. Duh, harus nabung lagi, kerja lagi.

Tiga tahun kemudian, anggaplah uangmu sudah ada 180.000.000. Dua anakmu harus bayar uang masuk sekolah. Orangtua mengeluh butuh bantuanmu untuk berobat. Juga adik kandungmu di kampung butuh modal untuk menikah. Tambah adik dari pihak istrimu kekurangan dana untuk modal bertani dan beli traktor.

Sisa berapa kini uangmu?

Demi Allah, Allahu Akbar, betapa rapuhnya segala bentuk kalkulasi otak manusia beserta segenap planningnya.

Tanah saja tak kunjung terbeli, apalagi rumah. Kamu tetap saja ngontrak hingga sepuluh tahun kemudian. Tenagamu makin kurang, kemawasanmu meluruh, mulai digeser tenaga-tenaga muda yang andal, cekatan, dan berstamina tinggi.

Kalian punya Allah, mengapa tak kalian mohon saja padaNya, minta karuniaNya?

Hitungan akalmu tak salah secara matematis. Tapi, ingat kembali, jelang siap beli tanah, kau sakit. Siapa yang menterjadikan rintangan beli tanah itu? Allah. Kau menabung lagi. Siap beli tanah, harga tanah melambung, beserta seabrek kendala lainnya dari urusan orangtua hingga saudara? Kau gagal lagi dapat tanah, siapa yang menterjadikannya?

Allah. Hanya Allah. “Tidak ada yang terjadi di bumi dan dirimu kecuali telah ditetapkan oleh Allah di Lauh Mafhudz sebelum Kami menterjadikannya.” (Terjemah Qs. al-Hadid ayat 22)

Sebagai orang beriman, kalian sangat tahu hukum mutlak yang dicatatkan dalam al-Qur’an ini. Kalian juga tahu bahwa semua anugerah adalah dari Allah, milik Allah, dan oleh Allah hanya diberikan kepada siapa yang dikehendakiNya.

Masihkah kau punya alasan logis untuk melupakan Allah dalam proses mendapatkan karunia berupa rumah itu? Masihkah kau yakin untuk semata mengandalkan akalmu, rencanamu, dan kerja kerasmu sebagai cara mewujudkan rumah impian itu?

Sudah jelas, logis, dan pasti, jalan terbaik secara lahiriah dan batiniah ialah memohon karuani rumah hanya kepada Allah. Bukan pada akal dan kerja kerasmu.

Maka, mestinya apa yang kamu lakukan kurang lebihnya sesederhana ini:

Pertama, “huwallahul ladzi la ilaha illa huwa ‘alimul ghaibi was syahadah, Allah lah Dzat yang tiada Tuhan selainNya, yang Maha Mengetahui perkara yang gaib dan nyata.”

Ini artinya perhunjam imanmu, keyakinanmu akan kemahakusaan Allah atas segala sesuatu. Bahwa Allah lah yang menciptakan langit dan bumi, menurunkan hujan, menyediakan api, angin yang dengannya perahu bisa melaju, dll., lalu apalah sulitnya untuk memberimu rumah?

Kedua, dengan fondasi iman yang menghunjam itu, maka ekspresi nyatamu kemudian ialah ‘laa haula wala quwwata illa billah, tiada daya dan kekuatan apa pun kecuali atas izin Allah.”

Tidak mungkin kamu bisa memiliki rumah impian itu tanpa pertolongan Allah, dipilih oleh Allah untuk diberi karuniaNya.

Bagainana cara agar dipilih oleh Allah?

Ketiga, “Jika kalian bersyukur maka akan Kami tambahkan nikmat Kami kepadamu tapi kalian kufur sungguh azabKu sangat pedih.”

Bersyukur kepada Allah maujudnya bersifat batiniah dan lahiriah.

Yang bersumber batiniah, pertama, sebutlah kepatuhan pada ibadah-ibadah dan kemampuan berakhlak karimah sesuai perintahNya dalam berelasi dengan sesama, menghantar kita untuk makin takwa kepadaNya.

Semakin takwa, semakin dekat padaNya. Bila sudah dekat, bagaimana mungkin Allah mengabaikan kita, menutupi doa-doa kita, dan tak mengarunia kita dengan karunia-karunia terbaikNya buat kita? Mustahil Allah demikian.

Sebab Allah telah berjanji dalam al-Qur’an dalam banyak ayat, di antaranya al-Hadid ayat 21 yang artinya:

“Berlomba-lombalah kalian kepada ampunan Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasulNya. Itulah karunia Allah, diberikanNya kepada siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha Pemilik karunia yang besar.”

Lihat janji tersebut: karuania Allah diberikan kepada (hanya) orang yang dikehendakiNya, dan “orang tepilih” itu adalah mereka yang beriman kepada Allah dan RasulNya.

Tegasnya, kedekatan kita kepada Allah merupakan prasyarat yang kasat mata bagi terpilih/tidakterpilihnya kita untuk diberi karunia oleh Allah. Sebutlah rumah impian itu.

Yang bersumber lahiriah, kedua, sebagai bagian integral dari kebersyukuran kepada Allah, ialah beriktiar: ya mikir, ya bekerja yang gigih, ya mengatur pengahasilan, dan sejenisnya.

Babakan ini jelas tak bisa ditinggalkan atau diberaikan dari hakikat kesyukuran itu. Tapi, ingat, bagian ini haruslah selalu dibingkai oleh iman dan keyakinan bahwa capaian finalnya (berhasil/gagal) merupakan Hak Prerogatif Allah. Agar kita tak putus asa jika belum dikabulkan dan sombong kalau diwujudkan.

Sudah lebih tenangkah hati kalian sekarang?

Yakinlah pada kemahakuasaan Allah, mendekatlah padaNya dengan lebih dekat dan dekat lagi dengan cara lebih memperbanyak ibadah, dzikir, dan syukur, berkahlak karimalah pada siapa saja, senua orang, bekerjalah dengan gigih dan menabunglah dengan disiplin tinggi.

Iman sudah, ibadah sudah, ikhtiar sudah. Selesai. Tunggu saja hari karunia Allah tiba, rumah impianmu tergenggam!

Oleh: Edi AH Iyubenu.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan