Pengin Sukses? Jangan Suka Bilang, “Nanti aja deh!”

Berwakaf itu jangan nunggu kaya, sebab kalau kamu kaya nanti, kamu juga tidak akan berwakaf, karena ketika itu kamu sudah terbiasa tidak berwakaf.

Perkataan tersebut saya dengar dari KH. M. Tsani, Pendiri Pondok Pesantren Al Falah. Benar apa yang dikatakan beliau. Kalau mau berwakaf, ya berwakaflah sekarang. Tidak usah pake nanti. Sebab kalau nanti, karena sudah terbiasa tidak berwakaf, ya tetap tidak akan berwakaf.

Menurut saya, apa yang dikatakan beliau itu, berlaku bagi setiap perbuatan baik. Kalau kita ingin melakukan perbuatan baik, ya lakukanlah sekarang. Jangan menunggu nanti. Karena kalau nunggu nanti, karena sudah terbisa tidak melakukannya, ya tetap kita tidak akan melakukannya.

Sebagai contoh, kalau kita ingin sholat berjamaah ya sholatlah berjamaah sekarang. Tidak usah membuat alasan. Misalnya mengatakan, “Saya akan sholat berjamaah nanti kalau rumah saya sudah dekat dengan masjid atau setelah saya pensiun kerja.

Tahukah kita bahwa alasan-alasan sepeti itu hanyalah perangkap setan agar kita tidak segera melakukan perbuatan baik itu. Supaya kita menunda beramal baik. Dengan membisikan alasan-alasan seperti itu, tujuan setan jelas, agar kita tidak melakukan kebaikkan dan dengan demikian kita tidak berhak mendapat keridhaan dari Allah.

Dia tidak mau dan tidak sudi melihat anak cucu Nabi Adam mendapat keridhaan dari Allah. Dia menghendaki agar kita menjadi temannya di dalam neraka kelak. Nauzubillah.

Jangan mau kita ditipu setan

Menunda beramal dengan alasan nanti itu adalah salah satu tipu daya setan. Sudah banyak orang yang tergelincir dengan tipu daya ini.

Jadi, resep yang diberikan Pendiri Pondok Pesantren Al Falah tersebut sangatlah tepat. Agar kita terhindar dari perangkap setan segeralah melakukan perbuatan baik pada setiap waktu dan kesempatan. Tidak membuat-buat alasan untuk menunda-nundanya. Lebih khusus dalam masalah berwakaf atau bersedekah.

Karena kita tidak tahu, apakah nanti kita masih punya kemampuan untuk berwakaf atau kemampuan ada tetapi tempat penyalurannya sudah tidak ada. Akhirnya apabila sudah terlambat, di akhirat kelak kita mengatakan,

Ya Tuhanku andainya aku dihidupkan kembali ke dunia, akan aku sedakahkan semua hartaku.

Atau kelak ketika ajal telah tiba, kita mengatakan, “Ya Tuhanku, berikan aku waktu sebentar untuk beramal dan mensedekahkan hartaku”.

Sebelum semuanya terlambat mari kita renungkan dua ayat berikut ini:

Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata), “Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), niscaya kami akan mengerjakan kebajikan. Sungguh, kami adalah orang-orang yang yakin.” (Qs. As-Sajdah ayat 12)

Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali), “Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)-ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.” (Qs. Al-Munafiqun ayat 10)

Agar kita tidak suka menunda amal kebaikkan berikut beberapa hal yang perlu kita renungkan:

Kata nanti itu senjata setan

Allah dan Rasul-Nya telah menyampaikan bahwa setan itu adalah musuh kita yang nyata. Maka jadikanlah dia sebagai musuh. Jangan sekali-kali kita mengikuti keinginannya karena semua keinginannya adalah untuk mencelakan kita.

Walaupun kadang dia menyuruh kita dengan sesuatu yang zhahirnya adalah kebaikkan, namun percayalah yang dia inginkan di sebalik itu adalah kejahataan. Dalam melancarkan tipu dayanya dia sering berkolaborasi dengan nafsu kita yang enggan berbuat baik.

Tak jarang dia membisikan kepada nafsu kita ketika kita ingin bersedekah, “Ah nanti saja, sedekah kepada kerabat itu lebih utama lo”, dan dia berkata “Nanti lah, mendingan uangmu untuk modal. Nanti kamu dapat bersedekah lebih banyak lagi kalau kamu sudah untung” dan Ah nanti, Ah nanti yang lainnya.

Ingat! Kata nanti adalah senjata setan untuk mencelakakan kita. Jangan sampai kita terpedaya dengan tipuannya. Lawan dan segeralah berbuat baik. Anas ra mengingatkan dengan katanya: “Nanti adalah sebagian daripada senjata setan. Sangat banyak dia menipu manusia dengannya.” Maka, waspadalah. Waspadalah.

Setiap waktu itu ada pekerjaannya sendiri

Ketahuilah pada setiap waktu itu ada pekerjaanya tersendiri. Jadi apabila kita menunda suatu pekerjaan berarti kita telah menabung pekerjaan yang akan kita kerjakan bersama dengan pekerjaan berikutnya dalam satu waktu.

Apabila itu terjadi walapun nanti kita tetap dapat mengerjakanya, namun badan kita akan letih karena mengerjakan beberapa pekerjaan dalam satu waktu. Tak jarang karena kita menunda suatu pekerjaan kemudian kita meninggalkannya atau mengerjakannya dengan tidak sempurna.

Ibnu ‘Athaillah dalam hikmahnya mengatakan, “Memindahmu akan suatu pekerjaan pada waktu lapang adalah termasuk kebodohan dirimu.”

Karena sebenarnya waktu lapang itu tidak ada. Pada setiap waktu itu ada pekerjaannya tersendiri. Jadi, ketika kita memindah atau menunda suatu pekerjaan sama hal kita telah menumpuk pekerjaan dan itu berimbas pada letihnya diri apabila dikerjakan dan atau ditinggalkannya suatu pekerjaan dan itu adalah suatu kebodohan.  

Maut itu datangnya tanpa permisi

Apakah kita yakin nanti dapat mengerjakan suatu pekerjaan apabila kita menundanya. Sedangkan maut datangnya itu tanpa kita undang dan tanpa permisi. Dia tidak memberitahu kita terlebih dahulu.

Dia akan datang ketika jatah umur kita telah habis. Tidak peduli apakah kita sudah mengerjakannya atau belum. Dia akan menjemput ruh kita kapan pun dan di mana pun ketika ajal kita telah tiba. Oleh karena itu, kerjakanlah kebaikkan di saat kita mampu dan jangan menunda-nundanya.

Rasulullah Saw mengingatkan dengan sabdanya, segeralah kalian berbuat kebajikan sebelum datangnya yang tujuh. Karena sebenarnya kalian tidak menanti kecuali tibanya kemiskinan yang melalaikan, kekayaan yang menyebabkan zalim, sakit yang merusak badan, tua yang melemahkan, kematian yang melenyapkan atau datangnya Dajjal yang dia adalah sejahat-jahat orang yang dinanti atau kiamat yang dia adalah sangat jahat dan sangat pahit.

Pernahkah kita memikirkannya?

Oleh: Imron Abu Farhan.

Tinggalkan Balasan