Pengin Sukses? Mintalah Restu Orangtua

Akhirnya, musim yang ditunggu pun tiba. Musim dimana bukan hanya anak yang akan mengalami kegalauan tingkat dewa tapi juga sanggup membuat para orangtua mendadak insomnia. Setidaknya, itu yang terjadi padaku, “Santai Mi, doakan saja terus anaknya.” Begitu selalu suami mengingatkanku jika kedapatan sedang asyik melamun. 

Dan aku? Alih-alih bisa santai, yang ada siang-malam tidak pernah bisa berhenti memikirkan “Apa yang harus aku lakukan di dalam segala keterbatasan ini, setelah berjuta untaian doa terpanjatkan untuk dapat membantu putriku tembus Perguruan Tinggi Negeri tahun ini?”

Sekali waktu, pernah aku sempatkan mampir untuk sekadar mencari tahu seputar bimbingan persiapan test SBMPTN dan hasilnya sungguh sangat mencengangkan! Untuk ukuran ekonomi keluarga kami tentunya, mengingat pekerjaan suamiku yang hanya seorang penjaga gedung kantor dengan gaji dibawah UMR tingkat Kabupaten.

“Biaya bimbingan selama 30 hari sebesar 2 juta rupiah, ini mumpung sedang promo untuk biaya pendaftaran hanya 50 ribu rupiah, Bu.”  Hanya satu jawaban singkatku saat itu seraya beranjak keluar ruangan, “Terimakasih.”

“Hasbunallah wa ni’mal wakiil … Allahu ya Rabb tidak ada yang tidak mungkin jika Engkau menghendaki. Ridhoilah dan mudahkanlah anak perempuanku melanjutkan pendidikannya jika itu yang terbaik baginya.” bisik batinku penuh harap seraya melompat ke boncengan motor suami yang sedari tadi menunggu di parkiran.

“Temanku sudah ada beberapa yang daftar ikut bimbingan test SBMPTN di situ, Ma..” Cerita putriku ketika kami berdua sedang santai di sofa kecil ruang tamu rumah dinas yang kecil namun asri ini.

“Don’t worry, Allah menjanjikan dua kemudahan dibalik satu kesulitan, remember?Kita masih punya waktu tiga puluh hari ke depan, gimana kalau kamu mulai pelajari buku kumpulan soal SBMPTN yang kita beli tempo hari sementara Mama akan bantu browsing dan print soal-soal dari internet untuk menambah wawasanmu? Jawabku penuh semangat sambil menatap ke dalam sepasang mata sipitnya yang mulai memerah menahan genangan air mata yang tak ingin dia tumpahkan.

Sungguh aku tak punya hati untuk sanggup meneruskan tatapanku jauh ke dasar hatinya. Aku tahu yang ada dalam pikirannya, ikut bimbingan SBMPTN adalah satu-satunya cara meraih impiannya, kuliah.

“Dik, Mama dan Papa yakin kamu bisa meskipun harus belajar sendiri. Sejauh ini sudah terbukti, sejak kecil kamu tidak pernah ikut bimbingan belajar tapi selalu meraih prestasi terbaik hingga kemarinpun berhasil menyabet peringkat satu untuk jurusan IPA! Itu artinya, Allah mudahkan segalanya untuk kamu selama ini, betul nggak sih?” Berapi-api aku panjang lebar menyemangatinya.

“So, let’s do it together! You and me, as a team. Bersama Allah tidak ada yang tidak mungkin. Yang harus kamu lakukan cuma belajar, belajar dan berdoa. Papa, Mama dan Kakak pasti juga bantu doa. Yakin Allah akan menolong selama kita melakukan usaha terbaik. Okeh, okeh, okeeeh?” Dan senyumnyapun seketika mengembang. Lega hatiku melihatnya.

Maka bisa dipastikan selama kurun waktu tersisa putriku setiap harinya berjibaku dengan buku-buku dan berlembar-lembar kertas print-out kumpulan soal SBMPTN yang memenuhi kamarnya. Kubiarkan dia mengatur sendiri waktu belajarnya, tugasku hanyalah memastikan asupan gizi dan waktu tidurnya terpenuhi agar selalu sehat hingga saat test yang telah ditentukan tiba. Selama itu pula tak pernah sejenakpun aku berhenti apalagi bosan memohon belas kasih sayang Allah untuk meridhoi segala usaha kami.

Hingga hari yang ditunggu itu pun tiba. Gelisah? Jangan tanya! Bahkan makan minum pun terasa sulit menelan. Lepas waktu Maghrib putriku menghampiri seraya memeluk erat dan berkata, “Alhamdulillah Ma, aku lulus SBMPTN di Psikologi UNS. Terimakasih, Ma …” Dan kami pun menangis berpelukan seraya tak henti menyebut nama Allah. Alhamdulillah wa syukurillah, Allahu Akbar.

Jangan pernah berhenti berdoa karena Allah tak pernah bosan mendengar doa kita. “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.”

Oleh: Sumayyah

Tinggalkan Balasan