pengin sukses wirausaha sejak muda

Pengin Sukses Sejak Muda? Begini Caranya

Setiap pemuda pasti mengharapkan hidup dengan kesuksesan. Menjalani kehidupan dengan cara berbeda dari kebanyakan para pemuda yang bangga dengan identitasnya.

Perkara identitas yang bisa saja diwarisi oleh orang tua, semisal harta, kemewahan, dan ketampanan, atau identitas yang melekat pada diri sejak lahir seperti bersifat ego, enggan bermasyarakat, kemalasan, atau lainnya.

Namun, kesuksesan yang akan terasa lebih nikmat apabila diraih dengan perjuangan sendiri. Meski tak—jangan—sampai berdarah-darah, setidaknya kesuksesan yang dirintis sejak awal. Proses dari ‘nol’ sangat dipahami.

Pemuda yang pula tidak menambah tingkat angka pengangguran di tanah air. Sebagaimana data yang diwartakan Harian Kompas, 22 Oktober 2015, Badan Pusat Statistik (BPS) menginformasikan sedikitnya 4,5 juta penganggur muda di Indonesia atau 62 persen dari total pengangguran.

Pewartaan itu begitu menyakitkan publik. Para pemuda yang diyakini sebagai pemegang estafet generasi kepemimpinan belum mampu berbuat banyak untuk bersaing di dunia global.

Kegagalan dengan berstatus “pengangguran” menandai bahwa imajinasi dan daya kreativitas para pemuda belum optimal. Bila ini dibiarkan berlarut, bukan tak mungkin bila di kemudian hari, para pemuda—termasuk kita—akan digusur oleh praktisi, investor, atau semacamnya dari luar negeri yang diakui bergelimang potensi, ide, apalagi dana. Sebab itu, selagi usia belum berangka lebih besar, saatnya untuk merangkai sukses.

Meski begitu di usia yang masih tergolong muda, kita juga tentu bisa meraih kesuksesan. Beberapa hal yang mesti diperhatikan agar menjadi pemuda sukses, yaitu:

Berani Bermimpi Besar

Bermimpi bukanlah hanya yang sulit. Setiap orang sanggup untuk melakukannya. Adalah hal yang tak salah bila membuat deretan mimpi sebanyak dan sebesar mungkin. Deretan mimpi yang kemudian menagih untuk segera dijemput dengan penuh kebahagiaan. Harapan para mimpi tentu sebagai motivasi yang tak bisa dianggap sepele akan keberhasilan dari apa yang direncanakan, diupayaperjuangkan.

Pula, terlahirnya mimpi dari racikan pergulatan pikiran yang berjumlah banyak membikin orang untuk tak berdiam diri. Harus ada usaha yang diupayaperjuangkan semaksimal mungkin. Sebab, takkan pernah habis mimpi yang hendak dicapai setelah mimpi sebelumnya telah menuai kebahagiaan. Semakin banyak mimpi tercapai, kebahagiaan yang terasa. Selanjutanya, dapat dikatakan kesuksesan seseorang mulai tampaklah sudah.

Pernah menonton video “Jejak Mimpi” karya Danang Ambar Prabowo kan? Jika belum, segera menonton. Dari sini, kita bisa mengetahui keajaiban “Himpunan Mimpi.” Mimpi akan membuat kita tertampar sebab jika kita tak melakukan sesuatu untuk mendekati mimpi itu. Ingatan perihal mimpi tentu akan membuat kita bersemangat dan ingin mengapai mimpi lebih cepat.

Mengoptimalkan Hobi

Hobi menjadi hal yang istimewa bila seseorang bila mampu mengoptimalkan dengan baik. Apalagi sebagai pemuda, di tengah mencari jati diri, hobi semestinya tak sekadar dilakoni. Harus ada kepentingan lain yang tak hanya bermanfaat bagi kesenangan diri, melainkan keutamaan masa depan.

Banyak orang yang hobi menulis, namun banyak diantaranya pula yang hanya saja—bisa dibilang—belum berhasrat besar untuk mengoptimalkan lebih perihal kehidupan menulis. Misalnya menulis suatu gagasan di sebuah buku, hingga menjadi tumpukan buku yang super banyaknya. Atau, mengetik, yang kemudian didiamkan saja di dalam laptop filenya.

Padahal bila hobi bisa dioptimalkan—orang yang suka menulis tadi—sebab keperluan menulis tadi, akan mengajaknya untuk banyak membaca tulisan yang serupa atau membaca banyak sumber lainnya. Perkumpulan ide kemudian menjadi cerita-cerita yang kemudian bisa dikirimkan ke website tertentu, Koran, buletin, majalah, hingga ke penerbit bila sudah menjadi dalam bentuk buku.

Sudah banyak contohnya, bukan? Ya, misalnya Pendiri Pesantern Penulis, Mas Dwi Suwiknyo. Kegemaran menulis membikin dirinya hidup lebih bahagia di dunia kepenulisan. Selain menjadi penulis—terbilang produktif—pengoptimalan menulis juga diarahkan untuk membimbing orang lain dalam menulis.

Membuat Target

Target menjadi hal penting untuk dimiliki semua orang. Berkaitan dengan waktu, tiada seorang pun yang bisa mengaturnya. Maksudnya, memintanya untuk kembali. Bila waktu telah lewat, maka tiada hal yang bisa dilakukan untuk melakukan hal yang seharusnya dilakukan di waktu sebelumnya. Sebab itu, bila ada hal yang mesti dilakukan pada waktu tertentu, seharusnya diberikan panduan batasan penyelesaian agar bisa sesuai dengan rencana yang telah dirancang. Ya, inilah namanya target.

Pak Edi Mulyono, pemilik Diva Press Group—pada pertemuan berdua, yang lebih tepatnya mengajari saya untuk hidup dan kehidupan, pada 27 Agustus 2018 di suatu siang—mengatakan: “Di usia 50 tahun, Bapak ingin bebas dari kehidupan dunia, pekerjaan. Waktu bisa digunakan untuk keluarga dan ibadah.”

Tentu, ketika menargetkan ini, Pak Edi Mulyono sudah memiliki rencana yang besar. Bebas dari pekerjaan artinya dari segi finansial sudah tidak lagi menjadi pikiran.

Lagi, Mas Dwi Suwiknyo, di pelbagai kesempatan dan pertemuan baik berdua ataupun dalam lingkup lebih banyak orang, sering menyebutkan: “Dulu, saya pernah bertekad untuk menuliskan buku sebanyak angka usia saya, namun kini sudah melebihi angka itu. Pun, jika belum mampu seperti itu, setidaknya cukup satu buku saja dalam hidup sebagai tanda bahwa kita belajar dari kehidupan dan sebagai ucapan terimakasih.” Kurang lebih begitu yang disampaikan.

Nah, selagi masih muda, sudah sepantasnya kita memiliki target lebih cepat, lebih besar, dan lebih WOW. Hal ini tidak salah bukan?

Belajar dan Bersikap Iri dari Orang yang Sukses

Segala sesuatu adalah tempat belajar. Termasuk orang-orang yang memang sudah meraih kesuksesan tertentu. Dengan melihat, membaca, dan memahami cara-cara seseorang menjadi sukses akan membuat kita akan membikin kita terkesima. Namun, tak sekadar terkesima saja, melainkan ada energi positif untuk meraih setidaknya seperti yang diraih orang tersebut, meski dengan cara dan perlakuan yang berbeda.

Selain, bukan tak jarang juga lahir rasa iri dalam diri kita. Apalagi orang yang sukses adalah orang yang kita kenal dan biasanya berada dari kehidupan yang lebih kurang beruntung dari kita. Maka letusan isi kepala: “Dia aja bisa, masak sih aku yang lebih baik darinya tak bisa merubah kehidupan menjadi lebih baik.”

Dalam serial Anime “Boku Na Hero—Pahlawan Hero”, Bakugo yang sejak kecil memiliki keunggulan dari segala hal dari Midoriya, selalu merasa iri saat Midoriya berlatih, berlatih, dan berlatih hingga lebih kuat darinya. Rasa iri untuk kembali mengejar kehebatan Midoriya membuat Bakugo berusaha lebih giat.

Tak Pernah Putus Asa

Kegagalan adalah bagian terpenting pada proses pencapaian kesuksesan. Hendak di usia berapa saja, kegagalan akan menyertai. Meski kadang kita pula tak begitu menyadari bahwa yang kita lakukan adalah rentetan kesalahan yang bila dibiarkan akan melahirkan sumber kegagalan tertentu. Misalnya kegagalan dalam manajemen waktu.

Maka, sebagai pemuda, sudah sepantasnya menghilangkan pikiran untuk berputus asa. Apalagi ketika baru mengalami kegagalan yang masih bisa dihitung jari. Banyak orang yang harus mengalami puluhan, ratusan, hingga ribuan kali mengalami kegagalan baru meraih kesuksesan. Pernah dengar Thomas Alfa Edison? Ya, beliau adalah contoh nyata orang yang tak pernah putus asa.

Pada Forum Indonesia Muda ke-15 di Cibubur, Jakarta Timur 2013, pembicara menyebutkan saat ini kita harusnya berada di barisan “Leader of Change”. Yang bakal memajukan bangsa ini di masa depan adalah pemuda pemuda di era sekarang. Bila paradigma untuk menjadi pemimpin perubahan tekad terpatri, bukan tak mungkin di suatu hari banyak kesuksesan yang akan diraih para pemuda.

Sebelum usia menambah angka lebih banyak, sudah sewajarnya kita memikirkan jalan kehidupan kita di masa yang akan datang. Rentetan mimpi dan rencana mengapilkasikannya perlu dibuat sesegera mungkin. Bila di usia yang tergolong muda kita sudah berani memulai kesuksesan kita, apakah kita tak pantas untuk meraih kesuksesan di usia yang tergolong masih belia?

Oleh: Wahyu Wibowo, penjual buku sukses.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan