Perawatan yang Justru Merusak Wajah. Kok Bisa?

Wanita mana yang tidak ingin mendapatkan wajah kinclong, dan putih? Ada yang bilang glowing. Aku juga memimpikan hal itu, sayangnya tidak semua keinginan tercapai dengan mulus. Ada pengalaman berkesan seputar obsesi memiliki wajah sempurna, yang tidak bisa kulupa hingga saat ini.

***

Siang yang cukup hangat. Aku memasuki gedung salon perawatan kulit ternama di kota ini. Setelah mendapatkan nomor urut, aku segera duduk mengantri. Sekitar lima menit, namaku sudah dipanggil. Seorang mbak berseragam khas tempat itu memberikan plastik bening. Isinya adalah kain yang harus aku kenakan pada waktu melakukan perawatan.

Kaki ini melangkah mengikuti sosok sintal tanpa tutup kepala itu memasuki ruangan lain. Ada dipan-dipan berkasur khusus untuk perawatan. Banyak yang sedang berbaring di sana. Ada yang sedang dipijat mukanya, bermasker, serta ada juga yang sedang dibersihkan.

“Mbak mau perawatan apa saja?” tanya seorang mbak yang membantu mengenakan bandana kain di rambut. Aku mulai berbaring, dan merasa rileks. Udara dingin membuat perasaan nyaman datang berangsur. Wangi tipis dari pengharum ruangan membuat diri seolah ada di tengah hutan pinus. Sejuk, dan segar.

Facial saja, Mbak.”

Karena untuk facial saja butuh waktu dua jam. Aku tidak banyak memiliki waktu, apalagi, sebentar lagi ada latihan karate gabungan beberapa dojo. Dojo berarti tempat latihan bela diri tangan kosong tersebut.

“Ini kayaknya dulu biasa dipencet ya, jerawatnya?”

Pertanyaan itu belum kujawab. Mbak masih memijit lembut wajahku. Pikiran ini justru melesat ke beberapa waktu silam. Waktu aku pernah merasa sedih dengan kondisi kulit wajah ini.

Aku memiliki dua orang teman, saat itu kami masih kelas Dua Tsanawiyah (setara dengan kelas VIII, saat ini). Satu teman memakai produk perawatan X, dan satunya lagi memakai produk perawatan Y. Aku sendiri belum memakai produk perawatan apa pun.

Kondisi kulit wajahku, dulu berwarna cokelat muda, mendekati kuning, kata Mamak. Wajahku masih bersih, tanpa noda, hanya saja, aku tidak sebersih dua temanku itu. Karena sering mendengar mereka ngobrol, akhirnya aku tertarik untuk ikut mencoba. Rasa hatiku saat itu adalah betapa tidak asyiknya saat sedang membicarakan perawatan, dan aku hanya celingukan.

“Iya, kan, Mbak?”

Mbak yang siap memakaikan peeling mengulangi pertanyaannya.

“Eh, iya nih. Aku memang dulu seneng mencetin jerawat waktu masih sekolah.”

Aku merasakan sapuan peeling yang harum rempah-rempah di wajah. Mata mulai memejam. Biasanya, paling enak memang tidur saat perawatan wajah. Tapi, aku tidak melakukan itu.

Ingatan kembali hinggap ke masa ketika jerawat mendadak muncul secara berkelompok. Aku sudah memakai produk X, seperti yang dipakai satu teman.

“Kamu enggak cocok pakai yang X, tapi coba pakai yang Y. Mungkin jerawat bisa hilang,” saran teman yang sudah memakai produk X.

“Iya, coba saja,” sahut teman yang memakai produk Y.

Aku sebenarnya panik. Bagaimana mungkin wajah yang belum pernah jerawatan mendadak diserbu lebih dari lima jerawat? Demi mendengar penjelasan teman, aku pun mengganti produk perawatan dengan produk Y.

Sekitar sepekan setelah itu, aku mendapati pengubahan drastis di wajah. Bukan, bukan jerawat yang hilang. Tapi, jerawat yang mirip bisul muncul menggenapi celah di antara jerawat kecil.

Ya Alloh. Kenapa ini jerawat menyerbu wajah secara susul menyusul?

Teman menyarankan obat jerawat kocok, ada yang menyarankan memakai salep khusus, dan semua membuatku bingung. Karena kondisi itu, aku putuskan ke perpustakaan. Siapa tahu ada buku yang membahas persoalan wajahku. Sayang, setelah mencari dan bertanya pada petugas, buku itu tidak ada.

“Mbak, sekarang mau ngeluarin sebum. Ini pas bagian hidung. Mbak butuh tisu?” tanya Mbak kapster yang menghempaskan lamunan.

Biasanya, jika proses membersihkan komedo, apalagi bagian hidung, airmata memang mengalir karena sedikit sakit.

“Boleh,” jawabku seraya menengadahkan tangan.

Sekotak tisu kuterima. Segera kuambil secukupnya untuk bersiap mengelap airmata yang mungkin mengalir nanti.

Ketika wajahku mulai penuh jerawat, dulu, aku belum kenal treatment salon. Aku hanya menghentikan semua produk yang kupakai. Melihat wajah penuh jerawat dengan warna merah di bagian pipi sana-sini.

Ketika Bapak datang menjenguk, beliau juga kaget.

“Jerawatnya banyak amat?”

Bapak memandangi wajahku dengan heran.

Aku memang tinggal di madrasah yang jauh dari rumah kami. Biasanya, Bapak datang menjenguk setiap satu bulan sekali. Karena malu, dan bertepatan dengan hari libur, aku meminta pulang pada Bapak. Beliau pun setuju.

Di rumah, Mamak membelikanku tablet yang dicairkan dengan air, kemudian dioleskan di wajah sebagai obat jerawat tradisional. Perlahan, jerawat mulai layu dan kering. Tapi, wajahku tidak bersih lagi. Alih-alih jadi putih, wajahku justru jadi seperti anak yang mengidap penyakit aneh.

Penyesalan pun datang. Andai saja aku tidak ikut-ikutan teman-teman. Biar saja kulit wajah cokelat, yang penting bersih. Tidak usah ikut-ikutan ingin kinclong, malah jadi lebih dari sebatas cemong. Wajah seperti parut dengan kondisi memprihatinkan.

“Adaw!” teriakku saat tangan lembut kapster menekan bagian cuping. Airmata betul-betul merembes, dan kuhapus dengan tisu.

“Mbak, ini bisa bersih setelah beberapa kali perawatan, ya? Yang penting jangan lupa dipakai semua produknya. Karena kemarin Mbak sudah konsultasi, maka kemungkinan salah perawatan akan sangat kecil.”

Aku mendengarkan penjelasan dalam diam. Sesekali tersenyum, karena respon anggukan sulit kulakukan dalam posisi berbaring.

Ingatan kembali melanjutkan kenangan. Setelah jerawat mulai berkurang, aku kembali ke madrasah. Bila muncul jerawat lagi, aku langsung memencetnya dengan geram. Itulah awal kulit pori-pori wajahku mulai melebar. Jerawat menjadi karib. Bopeng-bopeng pun mengganti posisi setelah jerawat pergi.

Tahun berlalu, aku sudah ‘Aliyah (setara SMU). Satu, dua kali jerawat masih singgah. Saat ada kesempatan menjenguk teman ke rumah sakit besar, aku menyempatkan diri masuk ke ruangan dokter kulit.

Aku hanya diizinkan memakai bedak tabur merk yang direkomendasikan dokter. Tidak boleh memakai bedak padat, kecuali dalam kondisi harus. Misal ada pernikahan, atau acara yang harus make-up.

Sejak itu, aku semakin berhati-hati dengan produk perawatan apa pun, semenawan dan menarik-menariknya iklan, belum tentu cocok dengan kulitku.

Sapuan masker mulai menyapa pipi. Rasa dinginnya menggiring kantuk semakin merapatkan mata. Sepertinya aku akan tertidur setelah masker selesai dioleskan.

Apa kamu pernah mengalami hal semacam itu? Ingin sempurna tapi malah jadi berantakan? Boleh share di kolom komentar.

Oleh: K. Mubarokah.

Facebook Comments

2 thoughts on “Perawatan yang Justru Merusak Wajah. Kok Bisa?”

Tinggalkan Balasan