Siapa pun berhak bermimpi memiliki pasangan yang ideal, sesuai dengan harapannya. Baik, penyabar, penyayang dan penuh perhatian. Karena memang tidak ada orang yang menginginkan pasangan dengan karakter buruk atau jelek. Petualangan untuk mencari seseorang yang ideal pun dilakukan oleh beberapa orang.

Ada yang berpetualang dengan memperluas pergaulan, sehingga mengenal beragam karakter manusia. Ada juga yang tiap kali merasa ada nilai lebih dari seseorang, langsung mengagumi bahkan mencintai. Itu tentu hak siapa pun. Karena memang mengenal calon pasangan sebelum memutuskan untuk menikah itu sangat perlu.

Namun tahukah kamu? Bahwa sekuat apa pun kamu berusaha mengenal dan mencari karakter pasangan ideal menurutmu, jatuhnya tidak akan jauh dari karaktermu sendiri. Kalau pun ada perbedaan, itu hanya sedikit dan fungsinya untuk saling melengkapi.

Kalau kamu rajin ibadah, kamu akan mendapatkan jodoh yang rajin ibadah pula. Kalau kamu pemalas, kamu juga akan mendapatkan jodoh yang pemalas pula. Paling perbedaannya sangat tipis. Kalau tidak percaya, ini firman Allah dalam Al-Qur’an yang menjelaskan hal tersebut:

“Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga).” (QS. An-Nur: 26)

Mengapa bisa demikian? Apakah kalau orang yang karakternya buruk akan semakin buruk dan begitu pula sebaliknya. Ya. Memang kenyataannya demikian. Sebab dalam rumah tangga, kamu dituntut untuk berjuang bersama-sama untuk menjadi lebih baik. Makanya keseimbangan pada setiap pasangan itu diperlukan.

Kalaupun ada yang terlihat begitu timpang perbedaannya, biasanya dapat dihitung dengan jari. Kalau dibandingkan, hanya kisaran 1000:1. Nah, inilah alasan logis mengapa sifat jodohmu tidak akan jauh berbeda darimu :

Jodoh biasanya cenderung bertemu dalam lingkungan pergaulan yang sama

Orang yang berada dalam lingkungan pergaulan sama biasanya cenderung lebih berpotensi menjadi jodohmu. Sebab kebersamaan dan kekaguman yang perlahan tumbuh, hubungan biasa dapat berlanjut hingga ke pelaminan. Kebersamaan yang berlangsung lama juga membuatmu tidak harus berupaya ekstra untuk mengenal si dia. Sebab kamu sudah banyak mengenal sifat dan karakternya melalui interaksi sehari-hari. Dan orang yang berada di lingkungan yang sama biasanya cenderung memiliki beberapa persamaan.

Misalnya dalam hal visi misi hidup, hobi, serta pola hidup sehari-hari. Tak heran bila nanti kamu berjodoh dengan orang dari lingkungan yang sama, sifatnya tidak akan jauh berbeda dari dirimu.

Jodoh juga bisa bertemu berdasarkan kesamaan minat

Selain karena berada di lingkungan yang sama, kamu juga bisa bertemu jodoh berdasarkan kesamaan minat. Misalnya kamu suka travelling, bisa saja kamu bertemu jodoh sesama traveller. Tidak perlu jauh-jauh, artis juga banyak yang berjodoh sesama artis. Kalau bukan artis, intinya publik figur. Entah politikus, pengusaha atau minimal model.

Orang yang memiliki kesamaan minat juga bisa dipastikan memiliki banyak kesamaan yang lain, khususnya sifat. Pola hidup yang diterapkan juga tidak akan jauh berbeda.

Setiap orang yang menikah karena telah mencapai kesepakatan bersama

Sudah bukan zamannya menikah karena paksaan orang tua. Hampir semua orang yang menikah, karena telah mencapai keputusan bersama sebelumnya. Meski tentu saja restu orang tua tidak bisa diabaikan. Tetapi intinya, dua orang yang memutuskan untuk menikah biasanya didasarkan kesepakatan bersama.

Untuk mencapai kesepakatan bersama, tentu dibutuhkan proses yang tidak mudah dalam mempertemukan dua pemikiran; pemikiran berbeda namun berupaya menemukan kesepakatan bersama. Itu artinya, telah melalui proses menemukan kesamaan-kesamaan yang sekiranya menjadikan keduanya merasa cocok. Ini alasan yang tak kalah logis bahwa sifat jodohmu tidak jauh berbeda darimu.

Dalam pernikahan, pasangan itu saling melengkapi

Fitrah kehidupan berumah tangga ialah dalam rangka untuk saling melengkapi. Bukan saling meniadakan. Kamu adalah pakaian untuk dia. Dia adalah pakaian untuk kamu. Sejauh yang penulis ketahui, pakaian yang kita kenakan akan selalu menunjukkan identitas diri kita.

Pakaian sehari-hari seorang petani ya harus ramah dengan tanah atau lumpur. Pakaian guru identik dengan kerapian dan kesopanan. Begitu pun dengan pakaian artis. Identik dengan keglamoran, kemewahan karena keindahan yang selalu ditonjolkan. Jadi, bisa diprediksi bahwa jodoh kamu akan melengkapi siapa diri kamu.

Itulah alasan logis mengapa sifat jodohmu tidak jauh berbeda darimu. Konsekuensinya seperti ini. Kalau kamu ingin jodoh yang baik, kamu harus memperbaiki diri. Jadilah pribadi terbaik. Bonusnya, kamu akan mendapatkan jodoh yang baik. Sebaliknya bila kamu puas dengan dirimu yang sekarang, penuh kekurangan dan tidak berusaha menjadi lebih baik, kamu juga harus puas dengan jodohmu kelak. Karena kamu tetap akan mendapatkan jodoh sesuai dengan kualitas dirimu. Nah, bagaimana menurut kamu?

Oleh: Gafur Abdullah.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: