Sudah sebulan lewat sepuluh hari aku merantau ke Jakarta, menumpang di rumah Uwak Abdi, kakak sulung Ayah. Tujuannya untuk mencari kerja, berbekal ijazah sarjana dari salah satu perguruan tinggi negeri di Sumatera.

Sudah ratusan surat lamaran yang kuajukan, dikirim via pos, email atau bahkan kuantar sendiri. Tetapi hingga sekarang belum juga ada panggilan kerja. Bahkan untuk sekedar wawancara pun tak kunjung ada kesempatan.

Resah di hati sudah tidak bisa digambarkan. Mungkin karena pertanyaan-pertanyaan bernada sinis dari Wak Incim, istri Uwak Abdi, yang dilontarkan setiap saat bila kami bertatap muka. Tentang kapan aku akan bekerja? Surat lamarannya sudah dikirim belum? Hingga pertanyaan yang meragukan, benarkah aku ingin bekerja atau sekedar gaya-gayaan merantau ke Jakarta, biar dianggap keren oleh orang-orang di kampung.

Air mata ini juga selalu menetes saat berada di atas sajadah. Mengadukan semua pada Rabb pemilikku. Ada begitu banyak kantor di Jakarta, izinkan aku ya Allah, mencari rizki di sini, sesuai kehendak Ayah.

Memang Ayah lah yang memintaku untuk merantau, sebulan sebelum Ayah menghembuskan napas terakhir. Alasannya, agar ada salah satu anak Ayah yang dekat dengan Uwak Abdi, saudara Ayah yang memutus silaturahim semenjak berhasil di Ibukota.

Uwak memang tidak lagi pernah pulang ke kampung halaman. Bahkan tidak juga berkirim kabar. Susah payah Ayah, selaku saudara laki-laki Uwak satu-satunya mencari tahu keberadaan Uwak, baru bertemu delapan tahun kemudian, setelah Ayah beberapa kali mencari ke Jakarta.

“Mengapa harus ke Jakarta, Yah?” tanyaku. Agak berat juga sebagai anak perempuan harus pergi jauh dari rumah. Apalagi aku anak sulung dengan tujuh orang adik yang juga masih butuh bimbinganku.

“Itu pesan almarhum Kakekmu, Nang (panggilan untuk anak perempuan Batak). Ikuti saja, ya,” pinta Ayah, sambil terbatuk-batuk.

***

“Nilam, lihat itu si Ela, sudah dapat kerja. Kamu kapan?” Wak Incim tiba-tiba masuk ke kamar yang lebih pantas disebut gudang, secara tiba-tiba.

“Astagfirullah, Uwak,” aku hampir melompat dari sajadah  karena kaget.

Lagi-lagi Uwak membandingkanku dengan orang lain. Tentang rezeki, aku hanya bisa berusaha dan berdoa, lebihnya terserah Allah.

“Pantaslah kamu nggak dapat kerja. Dari hari kehari hanya bisa duduk di atas sajadah. Heh, Nilam, Uwak beritahu ya, kalau kamu niat kerja, jangan cuma berkurung diri di sini!” Wak Incim rupanya tidak tega menyebut kamar tidurku sebagai kamar. Ia terus berdiri sambil berkacak pinggang.

“Iya Wak,”

“Setidaknya bantu saya, ngapain, kek. Ini bukan hotel, seenaknya saja makan minum gratis. Hotel saja bayar!”

Tidak ingin mendengar lebih banyak lagi kata-kata menyakitkan, kuputuskan segera bangkit menuju dapur, mencari pekerjaan rumah yang masih tersisa setelah sebelum Subuh telah mulai kukerjakan.

Pakaian sudah dicuci dan terjemur di halaman belakang, setrikaan yang menggunung sudah rapi di lemari, makanan sudah masak, lantai rumah pun sudah disapu dan pel. Apalagi? Aku berusaha jeli, agar menemukan sesuatu yang menjadi penyebab Uwak Incim marah-marah.

“Kenapa bengong?” Wak Incim sudah menyusulku. “Itu, kamu buang sampah di tong. Bau sekali!”

Aku bergegas menuju tong sampah di dapur. Agak heran karena seingatku tadi pagi, setelah mencuci piring, tong sampah itu sudah kosong, mengapa bisa penuh lagi? Padahal sampah di rumah sudah kuambil semua dan saat ini hanya tinggal aku, Wak Incim dan Rania, putri bungsu Uwak yang masih balita.

Terjawab sudah rasa penasaran itu saat membuka bungkus besar berisi sampah. Makanan yang kemarin kumasak ditambah panganan oleh-oleh Wak Abdi yang dibawa pulang kerja, tetapi kata Wak Incim sudah habis saat aku hendak buka puasa, sehingga aku hanya berbuka dengan air dan nasi putih.

Keras sekali hidup di perantauan ini.

***

Tinggal lima belas menit lagi waktu yang tersisa untuk mengakses internet. Aku bersegera membuka lebih banyak lagi situs lowongan kerja. Sayangnya fokusku terpecah saat membaca email alumni di kampus.

Sederet nama menyatakan dirinya sudah diterima kerja di beberapa tempat yang cukup benefit menurutku. Aku membatin. Mereka itu teman-teman angkatanku. Kami sama-sama lulus, tetapi secara akademik mereka masih jauh di bawahku.

Rezeki mereka sungguh baik sekali.

Perasaanku makin tak menentu. Di antara mereka, aku yang paling butuh pekerjaan lebih dahulu, tetapi justru aku yang belum juga dapat kerja. Mungkinkah usahaku kurang keras? Ahh, aku tidak ingin larut dalam rasa tidak bersyukur.

Sabar Nilam, nanti juga pasti dapat kerja. Berusahalah lebih giat lagi!

Sebuah pengumuman dari kampus yang menyatakan aku lulus bea siswa S2 tidak bisa menenangkan hatiku. Saat ini yang kubutuhkan pekerjaan, bukan kembali kuliah seperti cita-citaku dahulu, ketika Ayah masih hidup.

Kalau saja Uwak tahu aku juga mendaftar beasiswa, pasti akan ribut lagi. Menyebutku tidak tahu diri. Sudah yatim, punya banyak adik, bukannya memikirkan pekerjaan untuk membantu Ibu menafkahi adik-adik, tetapi sibuk ingin kuliah.

Klik. Komputer yang kusewa di warnet mati. Rupanya sudah dua jam aku di sini. Tanpa hasil. Ada rasa sesal karena tadi terlalu lama memperhatikan web kampus. Andai aku fokus mungkin empat lamaran terkirim.

Aku pulang menuju rumah Uwak dengan langkah gontai. Di perempatan gang, aku berhenti tepat di depan warung bakso. Bukan untuk makan sebab uang bekal yang diberi Ibu sudah semakin menipis, hanya kugunakan untuk kebutuhan mencari kerja.

Entah darimana, pikiran itu muncul. Aku segera masuk menemui pemilik warung yang sedang duduk santai sebab warungnya kosong.

“Mau makan bakso, Neng?” tanya Ibu pemilik warung.

“Nggak Bu, saya mau melamar kerja,” kataku, sambil menyodorkan map berisi ijazah dan surat lamaran.

“Lho, Neng ini, kan, keponakan Bu Incim, yang suaminya direktur BUMN itu, kan? Rumahnya paling besar di perumahan itu, kan?” Ibu itu menunjuk ke arah rumah Uwak.

Aku mengangguk dengan harapan besar bisa diterima.

“Wah, mana berani Mpok nerima sarjana kayak Non. Apalagi Non keponakan orang kaya. Jangan becanda, ah,” ucap Mpok itu, setelah melirik ijazahku.

“Tolonglah Mpok, saya bisa nyuci dan masak juga, kok,” pintaku.

“Aduh Non, Mpok nyarinya yang nggak sekolah, bukan sarjana,” Ibu itu berjalan keluar warungnya, ia melepas kertas berisi lowongan kerja yang ditempelkan di dinding warung, yang sempat kubaca sepekan lalu saat mengantar Sari, anak kedua Uwak untuk membeli bakso.

***

Niatnya malam ini aku ingin diskusi dengan Uwak karena tadi dapat  telepon, dua panggilan kerja di hari yang sama, tetapi tidak jadi karena lagi-lagi aku mengundang amarah Uwak setelah mendapat berita bahwa aku melamar kerja di warung bakso. Semua makian dialamatkan kepadaku, yang dianggap sudah mencoreng keluarga Uwak. Kaya dan berpendidikan, tetapi ngelamar kerja jadi tukang cuci mangkuk bakso.

“Orang seperti ini yang dikirim ke rumah kita, cuma bisa bikin malu!” Wak Incim masih ngomel. “Lagi pula adik Papa itu aneh sekali, dia kan tahu, anak perempuan di kampung enggak ada yang kuliah, tetapi disiapkan untuk menikah. Ini malah di sekolahkan jadi sarjana, setelah itu diwasiatkan numpang bareng kita. Nyusahin saja! Mau sekolah setinggi apa, tetap saja ngelamar di warung bakso karena mentalnya memang rendah!”

“Sudahlah, Ma ….” terdengar suara Wak Abdi membujuk istrinya.

“Kalau Papa enggak mau Mama marah-marah lagi, segera suruh anak itu pergi dari rumah kita. Rumah ini bukan tempat penampungan pengangguran!” teriak Wak Incim.

“Papa bertanggung jawab padanya, Ma,”

“Kalau begitu nikahkan saja dia biar tanggung jawab Papa lepas. Lagipula kita kan sudah pernah bikin perjanjian, kalau kita enggak akan punya hubungan dengan keluarga besar Papa lagi supaya hidup kita tenang. Kita enggak butuh mereka Pa, sebab dari dahulu mereka selalu menyusahkan kita. Pinjam uang lah, minta bantuan berobat orang tua, minta dikunjungi dan sekarang nitipin anak dengan alasan biar silaturahim enggak putus. Memang kalau putus kenapa? Itukan memang tujuan kita!”

“Ma ….”

“Pa, sekarang pilih, nikahkan si Nilam sama siapa saja yang Papa kenal, setelah itu jangan pernah berurusan dengan keluarga besar Papa lagi!”

“Tunggu Nilam dapat kerja saja, Ma,”

“Dia itu enggak niat kerja, cuma mau numpang makan gratis saja?”

Allah … Sesak sekali mendengar tuduhan dan hinaan itu. Percayalah, aku juga ingin bekerja.

***

Pukul enam pagi, setelah semua pekerjaan rumah selesai, aku pamit pada Uwak untuk tes kerja. Lagi-lagi Wak Incim menatap curiga kalau-kalau kepergianku hanya untuk membuat malu keluarganya.

“Nilam ada tes di perusahaan obat dan perusahaan minyak, Wak,” jawabku, sambil menunduk.

“Kalau begitu pergilah. Naik bis dua kali, lalu nyambung naik angkot ya,” kata Wak Abdi, ia memberiku dua lembar ratusan ribu.

“Bagaimana mungkin bisa dapat panggilan di perusahaan minyak? Palingan karangan kamu saja biar bisa main keluar!” tuduh Wak Incim.

“Ma, Nilam kan lulusan hukum, ya bisa saja. Apalagi posisinya legal,” bela Wak Abdi.

“Halah, tetap saja aku enggak percaya. Buktinya selama ini tidak pernah ada panggilan kerja, baru ada setelah dia membuat masalah!” Uwak Incim masih tetap dengan prasangkanya.

Sabar Nilam, inilah saatnya membuktikan bahwa kamu bisa!

Aku melangkah pergi setelah menghapus bulir bening air mata karena kata-kata Uwak. Banyak orang-orang yang berhasil setelah melewati ujian yang menyakitkan. Akupun harus lulus.

Pukul delapan pagi, tes dimulai. Setelah psikotest, dilanjutkan wawancara. Usai Zuhur, barulah diumumkan hasilnya. Namaku dipanggil dan dinyatakan lolos. Ingin sujud syukur terapi tertahan sebab syarat yang diajukan sangat berat karena aku tidak mungkin melakukannya. Semua pegawai tak diizinkan berjilbab.

Harapan itu sirna. Aku merutuki peraturan aneh itu. Apa hubungannya pekerjaan dengan jilbab? Sempit sekali cara berpikirnya.

Haruskah aku kembali pulang dan menyatakan semua pada Uwak? Sudah bisa dipastikan aku akan dimarahi habis-habisan.

Tetapi aku baru ingat, ada panggilan kedua di perusahaan minyak yang ada di daerah Jakarta Selatan. Tes pukul dua, masih tersisa satu jam lagi. Tetapi ada rasa ragu sebab terngiang-ngiang kata-kata Uwak Incim, orang seperti aku mana mungkin diterima.

Sudah kuputuskan untuk tetap ikut tes. Setelah naik angkot sekali, lalu nyambung bis. Aku turun tepat di depan kantor berwarna biru.

Ini ujian kedua. Agak ngos-ngosan karena otak sudah dipakai berpikir sejak pagi ditambah belum sarapan. Tetapi aku hanya bisa pasrah sambil berdoa pada Allah. Semoga ada hasil yang terbaik.

Usai ujian, aku kembali ke rumah Uwak. Benar saja dugaanku. Uwak kembali marah-marah, bahkan terkesan mengusirku karena sudah diterima kerja, tetapi malah aku yang mengundurkan diri.

***

Sepekan sudah berlalu. Wak Incim dan kini Wak Abdi pun mendiamkanku. Kata-kata kasar terus-menerus dialamatkan padaku secara terang-terangan. Kini, di hari ketujuh, tidak ada makanan dan minuman yang bisa kudapatkan. Mereka mengunci lemari makan. Bahkan saat aku mandi, air pun sengaja dimatikan.

Saat semua terasa benar-benar tidak nyaman. Aku mendapatkan telepon yang mengabarkan lulus di perusahaan minyak tempat aku tes yang kedua. Allah membalas semua dengan luar biasa.

“Uwak ….” aku berlari keluar kamar sambil meneteskan air mata. “Alhamdulillah, terima kasih Uwak sudah menampung Nilam di sini.” Aku memeluk Wak Incim erat.

“Kamu kenapa Nilam?” tanya Wak Incim, kebingungan, sambil berusaha melepas pelukan.

Semula Ibu adalah orang pertama yang ingin ku beritahu bila aku dapat kerja, tetapi semenjak tahu Uwak meragukan niatku mencari kerja, aku bertekad Uwak lah orang pertama yang akan kuberi tahu.

“Nilam diterima kerja Wak, di perusahaan minyak. Ternyata Uwak salah, Nilam bisa masuk kok, Wak!” ucapku. Aku sudah membuktikan kalau aku memang berniat kerja. “Sesuai janji Nilam pada diri sendiri, setelah gajian nanti, Nilam ingin membelikan sesuatu sebagai bentuk terima kasih untuk Uwak, Wak Abdi dan adik-adik di sini.”

“Nilam ….” Wajah Wak Incim memerah menahan malu, tidak menyangka, aku berniat membalas budi karena sudah ditampung. Bukan seenaknya numpang seperti dugaan Uwak selama ini.

 

Ditulis oleh: Fitria Susanti

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: