Sudah biasa, dia begitu saja meninggalkanku yang belum selesai makan. Setelah puas mencaciku dengan kata brengsek, bangs*t atau sejenisnya. Kadang aku bertanya-tanya, apa aku memang seburuk itu? Aku terisak di pojok ruangan sebuah rumah makan yang tampak sepi pengunjung. Tadi, Kak Nurdin—pacarku—minta ditemani makan malam. Tanpa ragu, aku langsung setuju. Kurang dari sepuluh menit, dia sudah sampai di depan rumah. Aku tergesa-gesa menghampirinya agar tak lama menunggu. Hingga dompet pun tak sempat kubawa.

Tetapi sayang, usahaku untuk tidak membuatnya marah, gagal. Dia malah meluap-luap karena ada teman—kuliah—laki-laki menyapaku akrab. Padahal kami tidak sengaja bertemu. Usai mengambil makan, mendadak dia menghujatku. Saat kutanya apa salahku, dia justru tambah geram, lalu pergi tanpa pamit. Membiarkanku bingung, bagaimana cara membayar makanan dan pulang?

Hemm … dalam kondisi begini, aku tak berani minta dijemput Kak Fatma—Kakakku. Dia hanya akan mengomeli dan mendesakku untuk putus. Teman-teman pun tak akan ada yang mau menemaniku. Mereka perlahan menjauh. Barangkali bosan mendengar curhatanku yang selalu sama.

Ada satu orang yang kupikirkan, Mbak Aliza. Aku belum lama kenal dengan teman Kak Fatma itu. Namun, kami cukup nyambung dan dia satu-satunya orang yang tidak memaksaku berpisah dengan Kak Nurdin.

Aku: Assalamu’alaikum Mbak Al, lagi sibuk ya?

Mbak Aliza: Wa’alaikumsalam warrahmatullah, enggak Dek, kenapa? J

Aku: Maaf, bisa ketemu Mbak? Pengin curhat.

Mbak Aliza: Oh, boleh banget, Dek. Mau ketemu di mana?

Aku: Sekarang aku lagi di Olala Glagahsari, Mbak bisa nyusul ke sini?

Mbak Aliza: Oke, Dek. Siap.

Sambil menunggu Mbak Aliza datang, kenangan-kenangan indah bersama Kak Nurdin bermunculan.

***

Nurdin Cahyadi—kakak kelas semasa SMA dan teman seangkatan Kak Fatma. Dia punya banyak fans cewek karena perawakannya yang tinggi besar, kulit putih dan selalu juara umum. Aku salah satu penggemarnya. Tak kusangka dia pun menaruh simpati padaku. Siapa yang mengira seorang idola sepertinya memerhatikanku—cewek pendiam, berkacamata tebal yang bahkan tak memiliki kelebihan selain berat badan.

Dia dan Kak Fatma lulus tahun kemarin. Aku menyusul di tahun ini. Meski lama tak melihatnya, aku ingat, hari ini dia berulang tahun. Sedikit ragu, aku minta nomor Kak Nurdin pada Kakakku.

“Buat apa?” selidik Kak Fatma curiga.

“Hari ini kan dia ulang tahun, Kak. Aku mau ngasih ucapan,” jawabku sedikit malu.

“Halah, ngapain? Dia juga enggak kenal kamu.”

“Ya enggak apa-apa. Aku kan cuma mau ngucapin, enggak butuh dikenal juga. Ayolah, Kak!” bujukku

Meski berat hati, Kak Fatma mengeluarkan HP dari kantong, “Nih, cari sendiri!” ucapnya ketus. Menurut Kak Fatma, Kak Nurdin itu playboy, jadi dia kurang sreg aku nge-fans sama Kak Nurdin.

Aku beberapa kali minta nomor Kak Nurdin, selalu gagal. Baru sore ini Kak Fatma luluh. Aku bersorak bahagia. Segera kucari kontak atas nama Nurdin, lalu mengirimkannnya ke WhatsAppku (WA). Kutata kata sedemikian rupa.

Aku: Assalamu’alaikum Kak Nurdin, selamat ulang tahun, semoga panjang umur, sehat selalu dan makin cakep J

Kak Nurdin: Wa’alaikumsalam, makasih. Maaf ini siapa, ya?

Aku tak menyangka dia akan menjawab pesanku secepat itu. Sedikit gemetar, aku membalas lagi,

Aku: Saya Indah Kusumaningtyas, Kak. Adek kelas Kak Nurdin. Maaf ganggu.

Kak Nurdin: Oooh adeknya Fatma, ya?

Hah, Kak Nurdin tahu kalau aku adiknya Kak Fatma? Aku sedikit mengerutkan dahi.

Aku: Kok Kakak tahu aku Adeknya Kak Fatma?

Kak Nurdin: Tahu, dong. Fatma kan sering bikin story foto kalian. Hehehe …

Aku: Wah, Kakak suka stalking Kak Fatma, ya?

Kak Nurdin: Ups … ketahuan, iya stalking Kakaknya biar lebih tahu tentang Adeknya. Hehe

Aku sedikit malu-malu membaca WhatsApp dari Kak Nurdin. Bunga-bunga yang tadinya menguncup di sudut hati, mendadak bermekaran mewarnai duniaku. Dia tidak hanya mengenal aku, bahkan sering kepo tentangku. Uhh … serasa tubuhku melayang-layang di udara. Sejak saat itu, kami jadi intens chatting. Mulai dari membahas sesuatu yang penting sampai hal paling sepele.

Tidak butuh waktu lama untuk menjadikan nomornya nangkring di list pertama orang yang paling sering kuhubungi. Ucapan-ucapan selamat pagi, jangan lupa makan, met bobok, jangan lupa mimpi indah, dan perhatian-perhatian kecil lainnya, membuatku semakin jatuh cinta. Lalu puncaknya, suatu malam dia mengajakku makan bersama. Di sana lah dia mengutarakan isi hatinya. Dia bilang, dia mencintaiku dan ingin aku menjadi pacarnya.

Aku yang memang sejak awal menaruh hati, tentu tidak butuh waktu lama untuk menjawab iya. Kami resmi jadian. Satu tahun berjalan, hubungan kami aman. Dia selalu setia mengantarku kemana pun aku mau. Panggilan sayang senantiasa terngiang di telingaku.

Sampai suatu kali, aku memergoki dia berselingkuh dengan adik kelasnya. Hubungan kami pun sempat kandas. Namun, aku memang terlalu mencintai dia. Sehingga, ketika dia putus dengan selingkuhannya dan minta balikan, aku tak kuasa menolak. Mulanya, semua kembali seperti awal pacaran, manis.

Tetapi, semakin lama, perhatiannya kian berlebihan. Dia menghapus semua kontak cowok di HP-ku, gampang sekali ngambek jika aku tak segera membalas chatnya. Yang lebih parah, dia marah-marah tidak jelas saat aku berkumpul bersama teman-teman, padahal mereka cewek semua.

“Oh jadi kamu nongkrong enggak jelas di sini? Enggak bilang sama aku? Bagus kamu, ya! Dasar Munafik!” ucap Kak Nurdin yang tiba-tiba muncul.

“Eh, Kak, maaf HP-ku sudah keburu lowbat sebelum aku pamit ke Kakak.” Aku membela diri.

“Goblok kamu, ya! Di sini banyak tempat buat nge-charge. Anj**g! Cewek enggak tahu diri!” Dia memarahiku, kemudian ngeloyor pergi.

Aku berusaha mengejarnya. Namun, dia tak menghiraukan ucapan maaf dan penjelasanku. Akhirnya, aku kembali ke meja tempat teman-teman mengobrol. Mereka menyambutku dengan tatapan penuh tanya. Aku belum bisa bercerita apa pun. Pikiranku masih kalut dengan kemarahan Kak Nurdin.

Apa cinta memang seperti ini? Suka menyakiti perasaan orang yang dicintainya? Atau kata-katanya selama ini, hanya bualan yang seharusnya tak kupercaya?

Aku menutup wajah dengan kedua tanganku. Mengaduh untuk sakit yang tak bisa dilihat oleh mata biasa. Pria yang setahun lalu memintaku menjadi pacarnya dengan amat romantis, lagi-lagi membentak dan mengataiku di hadapan teman-teman.

“Kamu enggak apa-apa, Ndah?” tanya Putri sambil menepuk punggungku.

Dengan terpaksa, aku menceritakan perlakuan Kak Nurdin terhadapku pada sahabat-sahabatku. Respon mereka sama seperti Kak Fatma, ingin kami secepatnya putus.

***

Begitu lah kisahku. Tak terasa, aku sudah bertahan tiga tahun bersamanya. Luka akibat kata-kata kasar yang dia lontarkan ternyata membekas dan kian bertambah. Aku harus membebaskan diri sebelum dia menginfeksi bagian tubuh lain. Tetapi, aku masih ragu untuk berpisah dengannya.

Lamunanku buyar ketika seorang wanita berjilbab biru muda mendekatiku. Dia tampak tenang dan berwibawa. Diucapkannya salam, lalu bercipika-cipiki denganku.

“Maaf ya, Dek, nunggu lama,” kata Mbak Aliza sambil meletakkan tas di kursi sebelahnya.

“Enggak apa-apa kok, Mbak.” Aku mengusap air mataku.

Mbak Aliza berpindah duduk di sampingku. Dia memeluk dan membiarkan tangisku tuntas. Selepas itu, dia mendengarkan cerita-ceritaku tanpa komplain sedikit pun. Mbak Aliza baru membuka suara saat aku lebih tenang.

“Baik, sekarang giliran Mbak yang bertanya, ya! Jadi, apa yang kamu harapkan dari pertemuan kita malam ini? Sekadar curhat, atau ada maksud lain?” tanya Mbak Aliza.

“Aku enggak mau seperti ini terus, Mbak,” suaraku melemah.

“Kira-kira gimana caranya biar enggak mengalami ini lagi?” Mbak Aliza memandangku yang sedang menunduk. Tangan kanannya memegang bahu kananku.

“Kak Nurdin harus berubah atau kami putus,” ucapku lesu.

“Nurdin sudah menunjukkan perubahan?”

“Belum, dia cuma ngomong mau berubah tapi ujungnya begini lagi.”

“Solusi keduanya tadi apa, Dek?” Mbak Aliza tersenyum simpul.

“Kami mesti putus, Mbak.” Aku mendongakkan kepala, menatap Mbak Aliza.

“Kira-kira apa resikonya, kalau kalian putus?”

“Kami gagal menikah, aku akan kehilangan perhatian darinya, Mbak.”

“Sudah siap untuk menghadapi resiko itu, Dek?”

“Belum, Mbak.”

“Berarti masalahnya apa?”

“Aku belum siap.”

“Oke, kita bahas satu per satu, ya!”

“Apa tanpa pacaran, kalian sudah pasti tidak berjodoh?”

“Belum tentu.”

Good, resiko pertama gugur ya! Yang kedua, apa sekarang dia memerhatikanmu? Porsinya banyak mana antara menyakiti dan perhatiannya?”

“Banyak menyakiti.”

“Nah, sekarang masih belum siap?”

“Tapi aku mencintai Kak Nurdin, Mbak.”

“Kamu bahagia dengan cintamu sekarang, Dek?”

“Enggak.”

“Menurutmu, Allah menanamkan rasa cinta di hati manusia, untuk membahagiakan atau menyakiti?”

“Membahagiakan.”

“Jadi, yang terus-menerus membuat sakit di hati, cinta atau bukan, Dek?”

“Bukan.” Deg! Pertanyaan terakhir Mbak Aliza membuatku ragu pada cinta yang selama ini kuyakini.

“Baik, yang Mbak pahami dari pembicaraan kita, kamu enggak siap putus karena mencintainya, akan gagal menikah, dan kehilangan perhatian Nurdin. Apa sekarang masih merasa begitu?” Mbak Aliza meminta persetujuan.

“Enggak, Mbak. InsyaaAllah sekarang aku siap putus dengannya. Tapi, apa boleh aku minta didampingi Mbak Aliza sampai benar-benar bisa move on?” jawabku mantap.

Sure, tunggu apa lagi? You’re deserve to be happy now!” Sembari menarik ke atas kedua sudut bibirnya, Mbak Aliza melirik HP-ku yang berada di meja.

Aku langsung mengambilnya. Kuketik dengan penuh percaya diri,

Kita putus, Kak! Terima kasih untuk tiga tahun ini. Jangan mencariku lagi!

***

Satu bulan setelah kami putus, kudengar Kak Nurdin sudah memiliki pacar lagi. Ada rasa lega yang luar biasa. Aku mengabaikan ajakan balikan darinya sesuai pesan Mbak Aliza dan alhamdulillah dia tidak lagi menggangguku. Selain itu, ternyata Mbak Aliza adalah seorang mahasiswi jurusan psikologi tingkat akhir yang sedang melakukan penelitian tentang Kekerasan Dalam Pacaran (KDP). Katanya,

“Kamu tahu, Dek? Delapan ribu sekian perempuan di Indonesia mengalami kekerasan, dan seribu di antaranya adalah korban KDP. Bayangkan, setiap dua jam, terdapat tiga perempuan yang dianiaya baik secara fisik, psikologis, ekonomi atau lainnya oleh pacar mereka. Mbak heran, bukankah sesuatu yang baik itu membaikkan, ya? Lalu kebaikan apa yang didapat dari pacaran? Wong jelas-jelas nambah dosa. Apalagi sampai tersiksa batin seperti kamu kemarin.”

Aku mengangguk setuju. Cinta adalah sesuatu hal baik yang Allah berikan kepada manusia. Jadi ketika yang kita lakukan tak dapat membaikkan kita, maka kita perlu mempertanyakan kembali, apakah yang kita rasakan sungguh-sungguh cinta? Atau sebatas topeng yang kita gunakan untuk membenarkan nafsu saja?

Oleh: Fitri Ayu Mustika.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: