Sedikit berbagi pengalaman …

Beberapa hari yang lalu: saya bersama suami, ketiga putri, dan seorang adik laki-laki saya berkesempatan berkunjung ke Pulau Dewata selama 3 hari. Pada salah satu hari, kami sengaja memilih menikmati makan malam di sebuah warung lesehan yang berada di emperan toko. Letaknya tidaklah terlampau jauh dari hotel tempat kami menginap, Jln. Patih Jelantik Badung Kuta.

Kami berjalan kaki sambil cuci mata, rugi rasanya jika tidak menyelami setiap sudut kota wisata surga ini. Belum habis menyantap hidangan yang kami pesan tiba-tiba saja hujan turun dengan lebatnya. Sedangkan kami tidak berjaga pelindung hujan/payung.

Hujan sudah agak mereda ketika si kecil (putri saya yang nomor 2) menyampaikan rasa ingin buang air besar. Karena di warung lesehan tersebut tidak terdapat toilet, akhirnya suami beranjak mengantar si kakak pulang ke hotel lebih dulu, meskipun harus menerjang gerimis. Suami menghimbau agar saya menunggu sampai hujan benar-benar mereda. Mengingat di antara kami ada anak nomor 3 yang masih berusia 8 bulan. Jadi saya tidak mungkin kembali ke hotel dengan ikut menerjang hujan pula, meskipun hanya tetesan air berjeda dari tepian genting.

Kami bertiga klesetan dulu sembari menunggu dan sekaligus memastikan jika hujan benar-benar berhenti. Namun, sampai setengah jam lebih kami menunggu, hujan masih tetap bertahan pada pendiriannya. Malahan rintiknya semakin menguat. Sedangkan malam semakin larut. Akhirnya saya berinisitif menggunakan jasa taksi. Banyak taksi lalu lalang di jalanan tersebut. Saya suruh adik saya menghentikan salah satu taksi di tengah guyuran hujan kala itu. Sebuah taksi berhenti, kami pun langsung berjalan cepat menghindari hujan dan meloncat ke dalam taksi.

“Hotel Kuta Central Park, Pak!” seru saya.

“Oh, iya,” jawab si sopir dengan sangat ramahnya.

Saya menduga umur bapak sopir tersebut tidaklah jauh dari kepala lima. Taksi merambat. Batin saya sangat lega, si kecil tidak kehujanan. Karena dari awal yang saya prioritaskan adalah bagaimana agar si kecil tidak terkena air hujan. Kalau kedua putri saya yang lain sudah sangat akrab dengan air hujan, hampir setiap turun hujan di rumah mereka selalu melepas keriuhannya bermain dengan hujan. 

Akhirnya kami diantar sampai di pintu gerbang masuk menuju hotel. Sebelum bersiap turun dari taksi saya tanya berapa ongkos taksi ke bapak sopir tersebut. Namun jawaban beliau cukup mengagetkan saya. Beliau tertawa renyah dan berkata, “Ah tidak usah dibayar, Nak.”

Beliau tidak berkenan dibayar. Saya terheran dan membatin di tempat begini kok masih ada ya orang baik yang rela menolong sesama, padahal kami tidak saling kenal. Sedangkan dari lubuk hati, saya tidak sampai hati dikasih gratisan sama beliau. Akhirnya kami saling desak-desakan. Saya ngotot membayar, sedangkan bapak sopir tadi ngotot tidak mau dibayar. 

Adik saya yang duduk bersebelahan dengan bapak sopir pun menjadi sedikit memaksa si bapak agar mau menerima uang pemberian saya. Pak sopir pun akhirnya dengan terpaksa menerima uang yang disodorkan adik saya. Tak lupa saya mengucap banyak terima kasih kepada beliau. Karena telah bersedia memberi tumpangan secara cuma-cuma (gratisan) meskipun pada akhirnya saya tetap mendesak beliau agar mau menerima uang tersebut. Bagi saya—saat itu—beliau adalah malaikat penolong, yang telah membawa kami terlindung dari derasnya hujan.

***

Cerita nyata yang saya sampaikan di atas barangkali terkesan sepele bagi sebagian orang, namun tidak bagi saya. Semula saya berpikir bahwa di suatu tempat di mana saya tidak mengenal banyak orang dan belum hafal daerah sekitar (asing) saya akan sangat sulit menemukan orang baik yang peduli dengan keadaan orang lain. Justru sebaliknya saya harus memasang kewaspadaan tingkat tinggi agar tidak menjadi korban kejahatan dan penipuan oleh orang yang tidak saya kenal. Namun ternyata pikiran pendek saya keliru, saya masih bisa menemukan orang baik di mana-mana. Selepas saya berkesimpulan bahwa orang jahat pun juga ada di mana-mana. 

Salah satunya kebaikan tersembunyi dari seorang sopir taksi tadi: menolong orang itu membutuhkan ketulusan hati dan empati tinggi, bukan materi.

Berapalah pendapatan per hari dari profesi seorang sopir taksi, meskipun berlokasi di pulau wisata ternama dunia yang notabene banyak dikunjungi wisatawan lokal maupun asing. Kalau beliau mau, pasti akan tetap memasang tarif walaupun jarak mengantar penumpang hanya sekian meter saja. Bahkan sejangkah pun tetap bernilai uang. Ternyata tidak, beliau sungguh mulia. Saya sebenar-benarnya yakin, jika kehidupan beliau dari segi ekonomi pastilah sangat jauh dari glamour. Dan saya berani taruhan jika beliau bukanlah dari golongan masyarakat kelas menengah ke atas. Namun, keadaan tersebut tidak menjadikan beliau buta rupiah.

Si bapak tidak mengedepankan uang sebagai tolak ukur kebahagiaannya. Empatinya yang tajam rela membantu kesusahan orang lain, menjadi cerminan contoh bagi semua orang khususnya saya pribadi. Saya tekankan bahwa untuk belajar kehidupan kita tak harus melihat dari derajat kehidupan orang di atas kita, namun kepada siapa saja. Salah satunya pada seorang sopir taksi, yang sepanjang kariernya tidak pernah berpangkat ataupun naik jabatan. Bahkan, tidak jarang dipandang sebelah mata.

Kini saya percaya jika orang baik itu ada di mana-mana. Kalian pernah bertemu dengan mereka dan punya kisah hampir sama dengan kisah saya?

Oleh: Zakiyya Sakhie.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: