perjuangan untuk kuliah dan meraih beasiswa

Perjuanganku Untuk Kuliah dan Meraih Beasiswa

“Kamu harus kuliah. Bayar pakai uang teteh. Ini uang tabungan buat nikah, tapi kamu pakai aja dulu buat bayar kuliah. Bismillah, semoga ilmunya barokah.”

***

Di satu sudut sebuah surau di kota yang sejak dulu kuimpikan tuk diinjak, Yogyakarta. Aku memeluk lutut, menenggelamkan kepala di dalamnya tak kuasa menahan air mata yang merembes melalui pipi hingga mulut merasa asin. Tubuh berguncang hebat karena perkataannya, ingatan masa lalu berkelebat dengan hebat. Masa SMA yang berat tanpa kehadiran ayah-ibu di samping kami, makan di ruang serba guna di rumah kecil kami hanya dengan sebuah santapan kecil, suara keroncongan perut menahan lapar pada kondisi tertentu.

Tentu saja, aku menangis bukan hanya tentang satu perkara ini saja. Ada banyak peristiwa yang garis-menggaris menghubung, bahwa ia sudah banyak sekali memberi arti bagi keluarga kami. Mengingat tubuh ringkih hitam-manisnya yang berjuang sendirian menghadapi kenyataan.

Semua ia lakukan sendiri tanpa perlu merepotkan kami, adik-adiknya. Pendidikan tanpa biaya karena mendapat beasiswa, menjadi seorang protokeler di sebuah institusi bergengsi, dan banyak hal lainnya.

Ia wanita terkuat sepanjang masa bagi kami. Contoh konkret atas kuatnya seorang wanita. Atas uang, yang bukan segalanya di dunia, karena ia dapat melakukan banyak hal tidak atas uang semata. Ia juga yang kemudian secara tidak sadar telah menancapkan kuat-kuat pada kami bahwa setiap manusia berhak bermimpi setinggi mungkin tanpa perlu memikirkan materi, meski mesti berani menghadapi realita di akhirnya.

Maka saat itu, tak lama seusai pernyataan kelulusan SLTA kuputuskan bahwa akan melanjutkan pendidikan di kota yang telah lama diimpikan, Yogyakarta. Saat mendengar hal itu, ia tak sedikit pun ragu ataupun memberi banyak pertimbangan, ia hanya katakan, “Ikuti semua tesnya!”

Ia juga yang mengarahkan untuk mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi dan mengikuti beasiswa yang sudah dialami oleh kakakku sendiri. Dengan semua bantuan itu aku semakin merasa percaya diri akan melanjutkan pendidikan di kota gudeg itu. Hingga akhirnya pengumuman seleksi itu muncul di layar HP dan namaku tak ada di antara beribu manusia yang ikut berjuang.

Namun aku tak juga patah semangat, sampai akhirnya diterimalah di sebuah perguruan tinggi swasta. Hati sudah senang berbunga-bunga hingga kabar ternyata beasiswa di sana sudah ditutup pendaftarannya, segera layu pulalah bunga-bunga itu. Hingga kemudian berbagai upaya dilakukan untuk bisa ikut seleksi beasiswa tersebut, melakukan lobbying ke pihak kampus walau berakhir dengan kenihilan.

Atas segala apa yang diajarkannya secara tidak langsung, aku sudah siap untuk menerima realita bahwa pada tahun tersebut mesti menunda untuk kuliah. Sampai akhirnya garis kehidupan menuntut lain, muncullah ungkapannya yang membuat mata basah, ia mengorbankan tabungan pernikahannya untuk biaya masuk kuliah.

Hari itu tiba, di stasiun Kiara Condong aku memeluk erat tubuh ibu yang memang cenderung ‘cengeng’, ibu melepasku dengan derai air mata dan membekali dengan doa. Kakakku tak ikut mengantar karena sibuk dengan pekerjaannya di Ibukota. Aku, juga semua kakakku tak pernah banyak menuntut pada orang tua, maka atas semua keinginan, kami mesti bertanggung jawab sendiri dengan semua risiko keinginan tersebut.

Setiba di kota yang juga disebut Kota Pendidikan itu aku hanya memegang sisa uang 350 ribu saja. Sungguh, memegang uang segitu saja aku sudah bersyukur, tak terpikir lagi untuk merepotkan banyak orang, apalagi ia yang sudah membiayai uang pertama kuliahku. Maka dengan perjuangan selama seminggu dibantu salah seorang kakak kelas akhirnya aku menemukan sebuah indekos sederhana seharga 200 ribu per bulannya. Sisa 150 ribu dan dengan itu mesti cukup untuk semua kebutuhan hingga sebulan ke depan, tekadku.

Memang entah bagaimana semesta mengaturnya, dalam waktu sebulan semua berjalan begitu menyenangkan meski dengan segala kesederhanaan. Tidur tanpa tikar, mandi mesti dengan cara nimba, makan hanya dengan menu sayur seharga lima ribu, dan segala kesederhanaan yang lainnya. Namun begitu aku puas, meski secara hitungan matematis bahkan dengan cara hidup sederhana seperti itu uang senilai 150 ribu tidak cukup untuk waktu satu bulan, tapi kehidupan selalu berkata lain, aku masih hidup dengan tenang.

***

Seiring berjalannya waktu, menghadapi masa-masa pembayaran uang semesteran akhirnya ketenangan itu luruh sudah, akhirnya dengan kesepakatan bersama, kakakku kembali mengeluarkan uangnya untuk membayar uang semesteran. Dari sana kemudian aku memutuskan untuk berhenti bergantung pada siapapun atas keinginan sendiri, maka diputuskanlah untuk mencari kerja sampingan.

Akhirnya setiap dari jam empat sore sampai jam dua belas dini hari kumanfaatkan untuk bekerja dengan penghasilan 25.000 per harinya. Kutabung uang tersebut meski beberapa kali tak berhasil karena untuk memenuhi semua kebutuhan.

Sampai suatu ketika saat pulang ke kampung halaman, ada peristiwa yang merusak keharmonisan di antara kami. Waktu itu kami sedang berekreasi ke sebuah situs di daerah Pangalengan, Jawa Barat. Sudah menjadi tradisi keluarga kami untuk bermain yang sering kami sebut ngablu, main dari satu tempat ke tempat yang lain. Aku, yang belum berpenghasilan seringkali dibiayai untuk semua biaya ngablu oleh ia, kakakku tentunya.

Kami sudah bersepakat sebelumnya bahwa dari situ akan lanjut main ke air panas. Aku yang sudah lama tidak berendam akhirnya bergairah sekali untuk ikut. Namun saat di Situ Pangalengan tetiba kami memutuskan untuk bermain arung jeram yang itu tentu saja cukup menguras saku. Maka, kakakku memutuskan untuk tidak jadi ke air panas dan merencanakan hal lain. Aku yang saat itu sudah berharap benar akan berendam tentu saja kecewa, maka kuputuskan saja untuk bersikuku melanjutkan rencana semula. Hingga tiba-tiba ia naik pitam.

“Kamu, tuh, punya uang enggak, tapi pengin main terus,” Ia katakan itu dengan suara yang keras dan tentu membentur hati.

“Biarin aja, orang ini bakal pake duit si Aa bukan duit kamu.” Aku pun tanpa sadar ikut naik pitam atas ucapannya.

“Tetep aja! Kamu tahu gak, si Aa juga pasti minta uangnya ke saya lagi!” Bentaknya lebih keras dan seketika membuatku memalingkan muka dengan luka lama dalam dada.

Setelah itu, atas harga diri yang merasa dicoreng oleh ucapannya kuputuskan tidak lagi meminta uang sepeser pun untuk biaya kuliah ataupun kehidupan sehari-hari. Hingga saatnya kembali ke Jogja aku tetap bungkam, tak sudi bahkan untuk berbicara dengannya. Atas nama harga diri aku telah menghilangkan semua jasanya, diganti rasa benci yang berlapis-lapis.

Ketika waktu pembayaran uang semester, aku akhirnya menyerah dan memutuskan untuk cuti kuliah. Sebelumnya kucoba lobbying kembali pada pihak kampus, tapi hanya menghasilkan kenihilan selanjutnya. Namun lihatlah, di akhir perjuangan itu Allah akhirnya kembali memberi jalan dengan cara membuka hati kakak untuk meminta maaf padaku. Saat itu juga kemudian aku tersadar dengan banyak hal, bahwa aku telah melakukan kekeliruan yang besar. Dengan tanpa meminta akhirnya ia memberikan uangnya untuk kembali kupakai biaya kuliah.

Begitulah perjalananku dalam menempuh pendidikan di kota ini, begitu banyak aral melintang. Namun dengan Allah dan keluarga yang ada di sampingku akhirnya mampu juga hingga saat ini bertahan di bangku kuliah. Namun begitu tidak sekali aku mengikuti seleksi beasiswa, entah sudah berapa banyak SKTM yang dikeluarkan kelurahan atas namaku, dan semuanya gagal. Bahkan sampai terakhir cahaya itu sudah mulai tampak jelas karena tinggal melakukan tes komitmen, cahaya itu seketika sirna lagi karena kembali gagal.

“Gak apa-apa, terus coba sampai giliran gagalmu berakhir!”

Aku tersenyum saja menanggapi hal itu. Banyak hal yang sudah terjadi, dan itu kuyakini bahwa hidup adalah pengajaran yang baik. Terserah bagaimana kita menghadapi banyak hal, banyak pristiwa. Bahkan aku kini yakin, mesti tidak dengan beasiswa, Allah pasti beri jalan hebat lainnya agar tetap bisa menuntut ilmu, mencapai ridho-Nya.

Ia selalu berpesan kepadaku bahwa, “Usaha akan selalu berbanding lurus dengan hasil yang baik. Jika beasiswa tidak juga kamu dapat, itu berarti beasiswa bukan jalan yang baik untukmu, karena jalan yang baik itu mungkin saja adalah dengan membuatmu menjadi seorang pengusahawan muda, maka teruslah berkarya!”

Oleh: Tazkia Royyan Hikmatiar.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan