Usai memenangkan perang Badar yang luar biasa besarnya, dengan jumlah tentara Islam yang sangat kecil, sahabat bertanya, “Adakah perang yang lebih besar daripada perang ini?” Rasulullah Saw menjawab, “Perang melawan diri sendiri.”

Riwayat tersebut amatlah populer, niscaya kalian pernah mendengarnya, kan? Tapi, apakah lantas riwayat tersebut telah mendorong kalian untuk merenung bahwa perjuangan menaklukkan diri sendiri (ego, ambisi, hawa nafsu) adalah pertarungan paling hakiki, abadi, dan sepanjang usia? Apakah kita telah berhasil berkali-kali memenangkannya ketimbang terkalahkan; lebih banyak menangnya daripada kalahnya?

Uwais al-Qarni dikenal luas dalam sejarah Islam lantaran Rasulullah Saw pernah berkata kepada Umar bin Khattab untuk menjumpainya dan meminta didoakan olehnya. Lihat, seorang Umar bin Khattab, sahabat terdekat Rasulullah Saw, bagian dari khulafaur rasyidin, sosok yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah Saw, didorong untuk “merendah” di hadapan Uwais al-Qarni yang “bukan apa-apa” dibandingkan popularitas dan integritas Umar bin Khattab.

Umpama yang berada d posisi Umar bin Khattab adalah kamu, sudikah kamu melakukannya? Anggap saja yang menyuruhmu adalah ibumu atau ayahmu atau gurumu. Anggap lagi saja kamu sedang punya banyak uang, sedang terkenal, sedang di puncak kejayaan, sudikah melakukannya?

Di sepanjang jalanan yang setiap hari kita lintasi, tersebutlah sejumlah orang yang menurut amatan mata kita adalah kelompok dhuafa, lemah, fakir, miskin, bukan siapa-siapa. Jika berpapasan dengan mereka dalam jarak yang sangat dekat, boleh jadi terlintas rasa jijik di hati pada penampilan dan sandangan mereka yang tidak benderang.

Apakah di hatimu terkesirapkan perasaan enggan bersentuhan dengannya—sebutlah untuk sekadar bersalaman atau menguluk salam—ataukah terbetik empati pada keadaan mereka yang terbatas dan fakir?

Yang mana gerangan perasaan yang menguar di hatimu?

Yang bisa menjawabnya adalah kamu sendiri. Hanya kamu dan Allah saksinya. Kepada orang lain, di dalam ucapan lisan atau tulisan, sangat mungkin bagi kita untuk berseru betapa kita sangat mengasuhinya, empati padanya, dan ingin merangkulnya dengan penuh kasih lagi sayang.

Tetapi hati tetaplah hati: isinya hanya diri dan Gusti Allah yang mengetahuinya sepenuh sebenarnya.

Di dalam hati itulah berdenyar perasaan atau pandangan hikiki tentang siapa gerangan diri kita sesungguhnya.

Rasa empati ada di dalam hati, tetapi rasa jijik dan menghina juga beriak di dalamnya. Rasa belas kasih berpijaran di dalam hati, tetapi rasa malu, enggan, dan amit-amit juga bergolak di dalamnya.

Sekali lagi, yang tahu adalah diri kita sendiri, serta Allah.

Maka, untuk alasan itulah sesungguhnya sabda Rasulullah Saw tentang “jihad melawan diri sendiri”; “jihad melawan hawa nafsu” yang bergolak di dalam hati, menjadi persoalan pertama, utama, dan sepanjang hidup yang harus selalu kita hadapi, sehatkan, dan utamakan.

Jika statemen ini dikaitkan dengan seruan dakwah kepada kebaikan (kuntum khaira ummatin ukhrijat linnas ta’muruna bil ma’rufi wa tanhauna ‘anil munkari, kalian telah dijadikan sebaik-baiknya umat yang dihadirkan kepada manusia untuk menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran), maka obyek pertamanya adalah diri kita sendiri. Serulah diri sendiri kepada kebaikan sebagai sosok yang pertama kali dituju dan serulah diri sendiri untuk menjauhi kemungkaran sebagai sosok yang pertama kali diceramahi pula.

Jika pun dikaitkan dengan ajaran “khairukum man ta’allamal qur’an wa ‘allamahu, sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar al-Qur’an dan mengajarkannya”, maka jelas yang pertama adalah kepada diri sendirilah obyek pertama yang harus diseru untuk belajar mengaji, mendaras, merenungkan, dan mengamalkan kandungan al-Qur’an, dan kepada diri sendiri pulalah mengajarkannya.

Begitu pun bila dikutipkan ayat “ud’u ila sabili rabbika bilhikmati wal mau’idhatil hasanah, ajaklah kepada jalan Tuhanmu dengan kasih sayang dan nasihat yang baik”, maka yang pertama kali disasar adalah diri sendiri.

Selalu diri sendiri, selalu diri sendiri, selalu diri sendiri, berikutnya orang lain di sekitar. Inilah alasan paling logisnya mengapa sifat teladan dalam segala hal seyogianya selalu hadir dalam diri para penceramah. Ya, tak lain dan tak bukan, lantaran mereka telah selalu memenangkan pertarungan dan jihad melawan hawa nafsunya sendiri.

Ini PR kita, PR seumur hidup, mari berjuang selalu ….

Oleh: Edi AH Iyubenu.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: