Tidaklah adil untuk mengatakan bahwa orang yang melazimkan simbol-simbol syariat (syar’i) dalam kesehariannya adalah kurang toleran dan terbuka kepada kemajemukan lingkungannya atau bahwa orang yang tidak melekatkan kesehariannya pada simbol-simbol syariat adalah kurang mendalam katakwaannya.

***

Mari renungkan satu ayat al-Qur’an ini, surat al-Fath ayat 29, “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersamanya keras terhadap orang-orang kafir dan penuh kasih sayang di antara mereka. Kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaanNya, tanda-tanda mereka terlihat dari wajah mereka dan bekas sujud.

Demikianlah sifat-sifat mereka (yang dinyatakan) dalam Taurat dan Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya dan tunas itu tumbuh menjadikan tanaman itu kuat lalu besarlah ia dan tegak lurus di atas pokoknya, tanaman-tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya.”

Kita fokus pada kalimat kedua ke bawah dari ayat tersebut. Jelas sekali bahwa ayat tersebut menuturkan tentang dua pilar: pertama, kepatuhan syariat, dan, kedua, “buah nyata” kepatuhan syariat itu dalam praktik kehidupan keseharian kita.

Perihal perintah shalat, misal, al-Qur’an–tentu pula sunnah Rasulullah Saw sendiri—menekankan bahwa ia wajib dan waktu-waktunya telah ditentukan. Ini adalah ajaran syariat. Nabi Saw kemudian menguatkan dengan hadits: shalatlah sebagaimana kalian melihatku shalat.

Ini pilar syariatnya. Muslim yang punya ketakwaan kepada Allah otomatis takkan mempersoalkan hal-hal syariat macam perintah mahdhad tersebut.

Maka bila ada sejumlah muslim yang menegakkan shalat dengan melengkapi diri dengan simbol-simbol syariat masa silam, misal jubah, surban, penutup kepala, dll., itu baik tentu saja. Tidak ada sedikit pun alasan logis, apalagi naqli, untuk melekatkan simbol-simbol formal sejenis itu dengan keterbelakangan, kekurangkerenan, apalagi terorisme dan radikalisme. Tidak. Sama sekali tidak ada kebenarannya.

Sebaliknya, masih di ranah syariat, umpama ada sejumlah muslim yang menegakkan shalatnya dengan sandangan yang ia suka dan kekinian, sepanjang itu tidak melanggar perkara thaharah (misal), maka shalatnya pun baik saja. Tidak ada pula alasan logisnya untuk mengukur sandangan itu dengan mutu iman, takwa, dan khusyuknya shalat. Tidak. Sama sekali tidak ada kebenarannya.

Suatu perintah ibadah, sepanjang sesuai dengan syarat dan rukunnya, selesai. Beres. Tak perlu diseret ke mana-mana.

Adapun pada pilar berikutnya, sebutlah hakikat (substansi, esensi), mari kita renungkan bahwa Allah Swt juga berfirman, “Sesungguhnya shalat mampu mencegah dari kekejian dan kemungkaran ….”

Inilah hakikat shalat, substansinya, yang seharusnya menjenterah dalam jiwa dan perilaku para ahli shalat. Inilah inti saripati faedah shalat buat kehidupan kita di dunia ini.

Maka ketika ada ahli shalat kok suatu hari terbukti korupsi, menipu, berdusta, menyakiti orang lain, dan segala bentuk perbuatan yang dilarang Islam secara keseluruhan, itu pertanda bahwa yang bersangkutan belum mampu mencapai hakikat shalat. Itu harus menjadi introspeksinya, mengapa ujaran Allah Swt tidak mengejawantah dalam jiwa, pikiran, dan perilakunya. Pasti ada yang kurang kaffah dalam shalatnya. Pasti.

Perihal “atsarus shalat” (dampak/buah shalat) dalam kehidupan nyata kita sehari-hari bisa dijadikan paerameter apakah kita sudah menjadi mushalli atau belum dalam artian yang hakikat. Nilai-nilai mendasar dan mendalam begini tidaklah dicakup oleh kaifiyat shalat (syariatnya), melainkan menjadi ranah hakikat, nilai-nilai, atau dalam bahasa filsafat disebut ontologi. Ya, ontologi shalat.

Ayat 29 surat al-Fath itu menunjukkan bahwa para pengikut Rasulullah Saw di satu sisi niscaya memiliki kepatuhan syariat yang luar biasa, istiqamah, haqqa tuqatih, dan sisi lain memangku buah ibadahnya. Narasi “Kamu lihat mereka rukuk dan sujud” mewakili aspek syariatnya dan narasi “tanda-tanda mereka terlihat dari wajah mereka dan bekas sujud” mewakili aspek rohaninya, substansinya, hakikatnya.

Keduanya haruslah sejalan.

Alamiah belaka buat siapa pun yang baru kenal dan belajar Islam niscaya memulai dari hal-hal yang sifatnya permukaan, ritualistik, dan kasat mata. Itu sebabnya kitab fiqh (hukum Islam) selalu mencakup segala pasal agama yang terkait dengan tata cara, kaifiyat, tutorial, dan petunjuk praktis. Dari pasal thaharah, shalat, puasa, sampai pernikahan.

Orang yang baru belajar syariat Islam wajar saja untuk setahap demi setahap memasuki pelbagai ajaran syariat Islam sesuai dengan jangkauan pengetahuannya. Misal, soal jilbab. Ia akan memandang jilbab yang sesuai syariat adalah yang panjang atau sejenisnya (dalam pelbagai model dan rupa), sesuai dengan tangkapan pengetahuannya. Tak ada yang salah dan apalagi sampai dipersalahkan dari pandangan, paham, dan pengetahuan syariat tersebut.

Sebab alamiah sejenis itu, sebagai tahap awalan memasuki kedalaman syariat, apalagi hakikat berislam, sudah seyogianya diajarkan dan dilazimkan. Muskil mengharapkan seorang newbie tiba-tiba jadi pemangku hakikat, tasawuf. Biarkan semua itu berjalan natural dan step by step.

Sedekah, misal. Ayat 261 dari surat al-Baqarah memberikan iming-iming fantastis kepada palaku sedekah. Satu sedekah dibalas 10 atau 70 atau 700, dan bahkan tak terperi lagi luasnya. Orang yang baru akan bersedekah alamiah belaka tersugesti oleh motivasi ekonomuis ayat tersebut. Wajar saja ia tak mengedepankan ikhlas.

Biarkan saja ia melakukan sedekahnya, ibadahnya, apa pun, termasuk segala bentuk kebaikan dan kemanusiaan, dengan motivasi apa pun. Biar dia memulai, lalu belajar melazimkan dan terus melazimkan pada dirinya.

Kelak, jika dia berhasil, istiqamah, niscaya ia akan beranjak lebih tinggi, lebih dalam, melampaui definisi formal permukaan bunyi teks yang digugunya. Ia akan terbang sangat tinggi dan jauh dan tepat pada derajat itulah keikhlasan akan membuahi jiwanya, terus demikian, terus demikian dalam capaian nilai yang luar biasa tak terhingga.

Prihatin saya kepada kawan-kawan muslim sendiri yang mencemooh para pembelajar awal segala ajaran dan syariat Islam hanya gara-gara ia tahunya harus sesuai bunyi teks, bunyi syariat yang didengar dari gurunya atau bacaannya. Tunas yang baru tumbuh itu hendaklah kita turut rawat, siram, agar tumbuh subuh, menjulang, tegap, gagah, besar, kemudian menghadirkan kerindangan-kerindangan kepada siapa pun di sekitarnya.

Pada fase selanjutnya, kita harus belajar untuk menanjakkan diri ke pilar kedua dari ayat 29 tersebut: tanda-tanda mereka terlihat dari wajah mereka dan bekas sujud.

Shalat akan mencegahnya dari kekejian dan kemungkaran; sedekah akan menjaganya dari kekufuran dan kesombongan atas anugerah-anugerah Allah; ngaji akan menolongnya bisa selalu rendah hati; haji dan umrah akan membuatnya mampu menebar kebaikan dan keselamatan bagi semua; jilbab akan menjaganya dari pergaulan bebas yang melanggar syariat Allah; dzikir dan tafakkur ala Ulul Albab akan mendorongnya untuk selalu menyemaikan empati, simpati, dan etika kepada semuanya, siapa pun, bahkan alam semesta ini.

Kepatuhan kepada syariat Islam haruslah selalu ditegakkan oleh setiap individu muslim. Berikutnya, kepatuhan syariat itu seyogianya diluaskan dan dikembangkan agar makin hunjam mendalam di dalam jiwa, menyinari rohani, dan memancar dalam ekspresi-ekspresi kebajikan kepada semua orang tanpa kecuali.

Begitulah, misal, faedah bekas sujud dalam hidup seorang muslim yang kaffah.

Oleh: Edi AH Iyubenu.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: