Pertolongan Allah Datang Tepat Waktu

Sore itu ketika hujan baru saja reda, Wawa merengek ingin jalan-jalan. Sudah satu bulan ini memang kami tidak ke mana-mana. Biasanya, setiap weekend, kami selalu sempatkan untuk sekadar silaturahmi ke tempat saudara, setelah satu minggu penuh harus menjalankan rutinitas masing-masing.

Suami harus mengajar sampai sore, begitu juga denganku. Anak pertama kami juga jarang di rumah, Walaupun masih sekolah SD, tapi ia harus belajar di asrama dan jarang sekali pulang. Sedang si ragel Wawa, ia masih sekolah TK, sepulang sekolah ia harus dititipkan di rumah Uti, nenek satu-satunya yang ia miliki kini. Nyaris, tidak ada banyak waktu untuk kami berkumpul bersama. Karena ketika malam datang, anak kecil itu sudah kelelahan dan tidur.

“Bun … ayo ke tempat bude Ida,” ajak Wawa sabil agak memaksa.

Di teras depan tempat kami duduk menikmati pelangi, aku hanya memandang wajah suami yang masih membaca koran dengan asyiknya. Namun tak ada respon rupaya, walaupun Wawa sudah mengulanginya untuk kesekian kali.

“Iya, yah. Ayo ke tempat Budhe Ida. Mumpung Bara lagi di rumah. Kan sudah lama kita nggak ke sana,” kata Bara, kakak Wawa.

Kulihat wajah ayah dua anak itu lagi, dan tatapan mata kami beradu. Aku hanya bisa menggelengkan kepala atas isyaratnya. Iya, saat ini keuangan kami menipis. Gaji bulanan yang tidak seberapa, sudah kami gunakan untuk membayar hutang. Hanya tinggal selembar uang kertas berwarna hijau di dompet.

Kudekati suami dan mencoba untuk meyakinkannya. “Demi anak-anak, yah. Kasihan, mungkin anak-anak lagi bosan di rumah. Insyaallah, kalau hanya untuk beli bensin cukup, kok!” Kataku meyakinkan.

Jujur, hidup kami memang pas-pasan. Namun paling tidak kami bisa mengajarkan arti silaturahmi pada mereka. Dengan motor Yupiter hitam, kami tempuh jarak kurang lebih 35 km untuk sampai Wilis. Dan selama perjalanan, kedua anak itu begitu terlihat menikmatinya.

“Bahagia juga melihatmu bahagia, nak …,” bisikku.

Sampai di daerah Katang, hujan turun dengan derasnya. Kami putuskan untuk memakai jas hujan yang sudah kami siapkan. Setelah memakai jas hujan, motor kembali melaju. Namun, tak berselang lama, motor meliuk-liuk di jalan. Benar saja, bannya kempes dan harus ditambal.

Selesai menambal ban, perjalanan kami lanjutkan hingga sampai ke tempat tujuan. Akhirnya mereka bisa melepas kangen bersama Budhe dan para sepupu. Karena sudah malam, kami putuskan untuk kembali pulang. Puas rasanya melihat anak-anak bahagia. Motor kami kembali melaju. Dan di tengah perjalanan pulang, motor Jupiter itu terhenti tepat di sebelah timur pabrik rokok GG.

“Ups … bensinnya beneran habis, Bun, “ kata ayah pelan karena anak-anak sudah tidur.

“Pom bensin jauh, yah. Ne sudah malam, pasti penjual bensin eceran juga sudah pada tutup,” kataku sambil melihat jam yang sudah menunjuk pukul 23.00 WIB.

“Bunda, tunggu sini sama anak-anak. Ayah mau dorong cari bensin,” katanya.

Kurogok ke dompet untuk mengambil uang, tapi alhasil … uang kertas warna hijau itu sudah berubah menjadi recehan. Hanya 5 ribu, tidak lebih. “Allah … bagaimana kami bisa pulang,“ bisikku dalam hati. Namun suami menggenggam tanganku dan mengambil uang itu. “Jangan kuatir, di jok motor masih ada 2 ribu. Tunggu di sini.”

Suasana sekitar begitu sepi, sudah jarang ada yang lewat kalau jam segitu. Dan dari kejauhan, perasaan tak enak bergelayut di hati. Di balik kegelapan terlihat suami sedang dihampiri orang dan kemudian mendorong motor suami dengan motornya. Banyak pertanyaan yang berjubel di pikiran. Siapa dia? Apa maunya? Kenapa dia harus putar ke arah Barat padahal tadi mau ke arah Timur? Mata ini tak lepas dari pandangan, sampai bayangan suami dan laki-laki itu menghilang.

Semakin tak tenang, kudekap kedua anak itu erat. Wawa pulas dalam gendonganku, dan Bara duduk di sampingku. Lama waktu berjalan, 30 menit berlalu … tapi mereka belum muncul juga.

Aku hanya bisa nenangin anak usia 8 tahun itu ketika terus menerus menanyakan ayahnya. Dalam doa, semoga semua baik-baik saja. Dan benar, dari kejauhan sosok suami sudah mulai terlihat dalam gelap.

“Siapa tadi, Yah?” tanyaku penasaran.

“Ayah tidak kenal, yang pasti dia orang baik yang menolong kita. Membantu mendorong motor ayah sampai di ujung jalan dan mengisikan bensin. Cepat naik, nanti aku ceritakan di rumah. Kasihan anak-anak …”     

“Alhamdulillah, ya Allah …”

Oleh: Mimi Syane.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan