Ibu saya bukanlah lulusan kampus mana pun, tetapi beliau adalah guru kehidupan bagi saya. Bahkan beliau tidak lulus SD! Namun nasihat-nasihat yang beliau sampaikan, terasa seperti kuliah sepanjang masa.

Ibu bilang, “Adik itu nantinya bakal jadi imam di keluarga, jadi kudu mandiri.”

Itu adalah pesan pertama dari ibu yang tidak pernah saya lupakan. Saya paham kenapa ibu bilang seperti itu. Tidak lain karena saya anak terakhir. Ibu khawatir saya tumbuh menjadi anak yang manja.

Maka sejak awal, ibu sudah memberi ‘pondasi-mental’ itu: mandiri. Alhasil, sebab itulah saya dimasukkan ke pondok pesantren. Ya, masuk ponpes bukan sekadar buat belajar ilmu agama, melainkan juga tantangan untuk menjadi pribadi yang terlatih mandiri.

Berhasilnya minta ampun!

Sejak di pondok pesantren, saya jadi bisa mencuci dan nyetrika baju/celana sendiri, mengatur jadwal aktivitas harian, membagi pikiran untuk pelajaran nasional dan agama, cara bergaul dengan teman-teman dari berbagai wilayah se-Indonesia yang beda-beda karakternya, sampai urusan yang kecil-kecil kudu dikerjakan sendiri.

Ibu memberi nasihat, “Harus berani wujudkan impian meski harus mati di tengah jalan ketimbang berdiam diri di rumah.”

Karena nasihat itulah, saya memutuskan untuk merantau. Jauh dari orangtua sejak SMP. Terlebih saat kuliah dan setelah wisuda. Karena setelah lulus kuliah, saya merasa tidak bisa mengembangkan diri di kampung halaman. Maka saya pergi dari rumah demi mengejar impian, ke Yogyakarta.

Sangking gilanya ngejar impian, satu tahun full saya tidak pulang ke rumah. Padahal jarak dari kota Yogyakarta ke kampung itu bisa ditempuh dalam waktu 3-4 jam saja. Akhirnya keluarga yang ngalah dan datang mengunjungi saya di asrama.

Mereka memaklumi karena waktu itu saya harus kerja pada hari Senin sampai Jumat. Sedangkan hari Sabtu dan Minggu saya melanjutkan kuliah S2.

Untuk biaya kuliah S2 ini, sama sekali saya tidak merepotkan orangtua. Untuk hidup sehari-hari, saya memakai gaji dari kantor. Sedangkan biaya kuliah S2 sebagian dari beasiswa sebuah bank syariah swasta, dan dari upah menggarap beberapa proyek lemburan dari kantor.

Pagi sampai sore kerja seperti biasa. Lalu malamnya saya ngetik naskah buku, garap lemburan kantor, dan juga merampungkan proyek lainnya. Sampai teman-teman di indekos bilang, “Kamu ini kerja terus, belajar terus, kerja lagi, belajar lagi, kapan mainnya?”

Lho, bagi saya, ngetik naskah itu seperti bermain alias refreshing. Bha-ha-ha ….

Mumpung masih muda, saya pengin lulus S2 pada usia 24, lalu mengajar di kampus (jadi dosen), dan menikah pada usia 25. Alhamdulillah, semua terwujud tepat pada waktunya.

Nasihat beliau ketiga, “Setiap anak punya rezekinya masing-masing.”

Empat bulan setelah menikah, alhamdulillah istri hamil anak pertama. Masa kehamilannya dijalani di kota perantauan, tetapi ketika istri akan melahirkan, kami pulang ke rumah orangtua. Maklum kami belum pengalaman dan harus didampingi orangtua.

Nah, setelah anak pertama lahir, rupanya butuh dana yang tidak sedikit. Padahal waktu itu penghasilan saya dari menulis tidak menentu. Setidaknya saya harus menyiapkan dana 7-8 juta mulai dari membayar biaya kelahiran dan aqiqah. Anak pertama cowok, jadi kudu potong dua kambing dan gelar acara syukuran di kampung. Uangnya dari mana?

Ibu tahu saya gusar dan tidak punya uang. Namun ibu memberikan kesempatan saya untuk tampil menjadi suami dan ayah yang bertanggungjawab. Beliau bilang, “Setiap anak punya rezekinya masing-masing.”

Dan benar saja, godaan itu datang. Seorang senior yang sedang kuliah S3 di salah satu kampus negeri meminta saya untuk menggarapkan disertasinya!

Ini gila, pikir saya. Saya butuh uang, tapi jangan melalui cara seperti itu.

Jujur saja waktu itu saya bingung, apakah harus menerima tawaran itu? Karena feenya sangat lumayan untuk biaya persalinan istri. Tapi hati saya tidak nyaman kalau harus mengerjakan disertasi orang lain.

Tidak, batin saya, jangan dari proyek ini, insyaallah ada rezeki dari yang lain. Maka bismillah, saya putuskan untuk tidak mengambil tawaran itu. Selesai.

Anak pertama sudah lahir, dan biayanya tidak terlalu banyak. Lantas bagaimana dengan biaya aqiqah dan syukurannya? Mertua pun tahu kalau kami tidak punya uang. Mereka bermaksud memberikan bantuan juga, tetapi saya masih menahan tawaran mereka.

Maka, setelah shalat magrib berjamaah, saya duduk sendiri di dalam mushala sampai waktu isya. Saat duduk itulah, saya perbanyak doa—yang pada intinya cuma bertanya kepada-Nya, “Gimana ini ya Rabb caranya dapat uang tujuh juta?”

Selesai shalat isya berjamaah, saya balik ke rumah mertua. Istri bilang, “Tadi ada telepon masuk.” Saya cek, nomor tidak dikenal. Kemudian nomor itu menelepon lagi.

“Dengan Mas Dwi?”

“Iya. Ini siapa ya?”

Beliau pun menjelaskan kenal saya dari seorang pegawai distributor buku. Beliau melihat buku saya dan suka dengan gaya menulis di buku itu.

“Jadi saya pesan naskah ya, berapa yang harus saya transfer?”

Belum juga saya jawab pertanyaan itu, berkali-kali saya berucap alhamdulillah di dalam hati. Allah langsung menjawab doa saya.

Hari berikutnya ada lagi yang telepon, “Mas nomor rekening masih sama, kan?”

“Ini siapa ya?”

“Ini pakai nomor kantor, Mas. Saya Pak David.”

“Oh ya, Pak. Pripun?”

“Biasa mau kirim royalti buku.”

Alhamdulillah ya Allah, rupaya dari salah satu penerbit yang menerbitkan empat buku saya memberi kabar gembira itu—pada saat yang tepat.

Allah benar-benar mboten sare. Allah benar-benar tidak tidur. Benarlah kata ibu, “Setiap anak punya rezekinya masing-masing.”

Nasihat ibu lagi, “Jangan suka jual barang-barang di rumah.”

Rupanya, masalah keuangan keluarga-baru saya masih amburadul. Lagi-lagi karena faktor penghasilan tidak tetap dari menulis. Tapi saya tetap bertahan menjadi penulis dan istri setuju-setuju saja. Cuma risikonya, ketika uang habis dan honor belum cair, saya harus putar otak, kan?

Nah, jalan pintasnya, saya selalu menjual apa yang saya punya. Salah satunya HP. Dulu, saya jual HP. Rupanya mbak saya melapor ke ibu. Pasalnya, saya sering kirim SMS ke mbak, “Sebentar HP off dulu ya mbak.”

Uangnya sih hanya untuk makan sampai honor menulis naskah cair. Begitu sudah cair uangnya, saya beli HP lagi. Karena bagi saya, HP tidak begitu penting saat itu. Karena saya kerja pakai laptop, asal ada laptop ya insyaallah punya penghasilan.

Menurut ibu, pola ngatur keuangan seperti itu tidak bagus.

Lalu ibu mengajari kami mengatur keuangan yang lebih aman. Salah satunya lebih giat menabung dan investasi emas. Sejak anak kedua lahir, pola keuangan saya ubah dan alhamdulillah sangat berhasil sampai sekarang.

Kelima, ibu ngasih nasihat, “Jangan memarahi istri dan anak-anak.”

Nah ini, ketika kerjaan ngetik naskah lagi banyak-banyaknya dan urusan rumah masih berantakan, kadang emosi ikut terganggu, kan? Akhirnya nada bicara saya pun meninggi. Ngegas. Itulah yang ibu lihat dari saya.

Setelah agak malam—istri dan anak-anak sudah tidur—ibu menyampaikan, “Kalau anak dan istri sudah tidur, coba pandang wajah mereka. Agar rasa kasih sayangnya bertambah-tambah.”

Saya coba saran dari ibu dan memang ada rasa kasihan kalau melihat anak dan istri sedang tidur pulas. Semacam ada perasaan nyesel kenapa masih suka ribut dengan mereka.

Saya merasa belum menjadi suami dan ayah yang baik. Ini menjadi muhasabah saya setiap malam, karena saya selalu tidur paling akhir.

Rupanya, PR saya bukanlah menjadi penulis profesional dan populer (terkenal se-Indonesia), melainkan bagaimana menjadi suami dan ayah yang baik.

Esoknya lagi, sebelum saya balik Yogya, ibu berpesan, “Jangan suka memarahi istri dan anak-anak.”

Saya menganggukkan kepala, tanda mengiyakan. 

Nasihat ibu yang keenam, “Shalat tahajud biar terwujud apa yang kita mau.”

Selain shalat lima waktu, ibu tidak pernah putus untuk shalat dhuha. Untuk shalat tahajud, ibu lakukan khusus untuk memohon hajat. Seperti saat beliau ingin punya rumah yang lebih besar, tak henti-hentinya beliau shalat malam. Setiap hari membaca ar-Rahman, al-Waqiah, al-Mulk, dan al-Kahfi sudah hafal—tidak usah membuka musyaf al-Quran.

Maka ketika beliau tahu saya pengin sesuatu, pastilah beliau bilang, “Shalat tahajud biar terwujud apa yang kita mau.” Soal apapun, sekali lagi: apapun.

Akhir-akhir ini, saya pun sering membaca sebuah quote di IG, tulisannya: kalau kamu belum bangun untuk shalat tahajud, berarti kemauan kamu untuk meraih impian belumlah kuat.

Namun, betapa beratnya menjalankan nasihat yang terakhir itu.

Sekarang kalau shalat, ibu sudah harus pakai kursi (duduk di kursi), tetapi semangat beliau untuk shalat tepat pada waktunya benar-benar menjadi teladan bagi kami dan cucu-cucunya.

Sekarang, apakah kalian percaya bila semua nasihat itu disampaikan oleh beliau yang tidak lulus SD?

Oleh: Dwi Suwiknyo.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: