cara agar tidak plagiat

Plagiat Lagi … Plagiat Lagi. Mau Sampai Kapan? Malu Dong Ah!

Coba kita kaji lebih dalam, “Kenapa masih ada (ngakunya) penulis, tetapi tega mengakui tulisan orang lain sebagai tulisannya sendiri?”

Budaya copas (copy lan paste) semakin menggurita setelah teknologi internet berkembang. Tapi kita tidak bijak kalau menyalahkan teknologi, ya? Ini soal mental seseorang yang ingin hasil (karya) instan. Orang—yang ngakunya penulis—gegabah menyusun tulisan orang lain tanpa menyebutkan sumbernya. Bahkan disodorkan ke penerbit dalam wujud naskah buku. Gila!

Menurut analisis saya, sikap ceroboh (copas) seperti itu bisa disebabkan oleh banyak faktor. Seperti si pelaku mau menyusun naskah buku, tetapi tidak paham ilmunya. Malas meriset data primer, sehingga lari ke mbah google dan copas semua tulisan yang sedang ingin digarapnya. Alhasil, naskahnya itu cuma kumpulan tulisan dari berbagai web/blog tanpa perubahan apa pun. Persis kliping, lalu diakui itu karyanya. Gila!

Sekarang ada teknologi yang digunakan untuk mengecek tulisan itu copas atau tidak. Silakan cek aja di google soal aplikasi itu. Kalau saya ngeceknya sederhana saja. Baca naskah itu, lalu perhatikan gaya bahasanya, bisa dipastikan gaya bahasanya campur-campur. Ya jelas, itu kan gaya bahasa dari tulisan penulis yang beda-beda. Kalau naskah itu benar-benar hasil tulisannya sendiri, pasti gaya bahasanya sama. Termasuk konsisten pada pilihan kata (diksi).

Bisa jadi ada yang bertanya, “Lalu bagaimana solusinya?”

Sederhana saja, tulislah tema/ilmu yang dikuasai. Lebih baik belajar lagi—bahkan harus riset untuk dapat data primer. Lakukan observasi ke sumber data, dan juga wawancara pada narasumber. Olah data itu, bandingkan dengan data dokumen/hasil riset penulis terdahulu. Lakukan kajian pustaka, maka penulis kudu gemar membaca. Jadi tulisan tidak sekadar hasil dari menulis ulang (rewriting), apalagi copas.
Berat ya?

Ternyata tidak. Hanya butuh kemauan dan latihan saja. Insyaallah bisa. Bisa jadi orang melakukan copas, karena dia belum paham cara menulis dengan benar. Begitu saja kita berpikir positif. Kalau kita mendapati orang yang gemar copas, coba kita ajak diskusi saja. Tidak perlu disudutkan, dihakimi, apalagi sampai dipukuli. Hehehe ….

Semoga menjadi renungan untuk kita semua yang ingin menjadi penulis profesional (tidak terkecuali para dosen dan profesor sekalipun). Miliki rasa malu kalau editor penerbit berhasil mendeteksi tulisan kita hasil copas. Miliki rasa malu, karena malu itu bagian dari iman.

***

Ingat ya, untuk mendapatkan satu gram emas, kita harus memindahkan berton-ton tanah. Untuk merampungkan satu naskah berkualitas, kita harus melahap puluhan buku. Man jadda wajada!

Bila tumpukan puluhan buku terasa tak cukup sebagai referensi, maka pergilah keluar rumah. Jaringlah data-data yang beterbangan di sana. Kunjungilah kota-kota bersejarah, ambilah fotonya. Datangi para saksi sejarah, belajarlah dari mereka. Koleksi dokumen resminya, peraslah sarinya. Tersebab sari data yang murni itu lebih memikat hati.

Internet sungguh kaya materi. Tetapi, jika orang sudah bisa membacanya melalui dunia maya, untuk apa dikumpulkan menjadi buku. Padahal buku bukan sekadar kumpulan tulisan. Lebih dari itu. Sebab pembaca ingin sesuatu yang baru, sesuatu yang tidak mudah ia temukan di sumber referensi mana pun.

Nah, maka tugas penulis (idealis) memang tidaklah mudah. Daya pikatnya tidak sekadar olah bahasa. Lebih dari itu. Orisinalitas data menjadi pancaran kekuatan utamanya. Pembaca ingin yang ori, bukan ori-orian. Tinggalkan cara culas: copy lan paste, menuju era orisinalitas karya.

Meski membuat kliping ada ilmunya, tetapi menulis buku tidaklah pakai ilmu itu. Sungguh beda jauh antara mengkliping dengan menulis. Yang pertama mengumpulkan (menyusun) data, yang kedua menuangkan data dengan bahasa sendiri. 

Jelas. Menulis itu sama dengan memasak: memilih-memilah bahan, mengolahnya dengan bumbu-bumbu sedap, hingga siap dihidangkan. Sedangkan mengkliping itu seperti kita membeli lauk matang di warung, lalu disajikan begitu saja di atas piring. Tiba-tiba meja penuh dengan sajian makanan. Ups!

Oleh: Dwi Suwiknyo.

Ilustrasi dari sini.

Tinggalkan Balasan