impian seorang muslimah

Please, Jangan Hukum Aku Seperti Itu!

Harapanku pupus seketika. Teringat tempelan target di dinding kamarku, seolah telah jatuh diterpa angin yang menghantam. Air mataku berkaca-kaca mengingat jutaan mimpi. Apakah tiada jalan lain? Apa aku putus asa hanya karena satu mimpi yang tak tercapai? Oh tidak …. teriakku dalam hati.

Lulus bulan April 2019, inilah salah satu target yang membuat semangatku terbakar untuk segera mematangkan persiapan skripsi dengan jauh lebih baik. dan ternyata seketika itu sebuah kenyataan pahit menamparku.

“Jika kamu izin acara besok, maka kamu wajib mengulang PPL tahun depan!”

Begitulah ancaman dari seorang pimpinan tempat magangku. Aku menelan ludah. Menghirup napas perlahan, sembari menahan air mata supaya tidak lancang jatuh begitu saja.

“Tapi, Pak. Besok hari libur. Dan lagi, kegiatan weekend hanya sekadar hiburan bersama, kan? Tiada materi atau tugas yang diberikan besok? Saya ada acara penting yang sudah jauh-jauh hari telah dipersiapkan.” Ujarku.

“Tidak menerima alasan apa pun. Kemarin, salah seorang mahasiswa dari Malang pun izin untuk mengurus acara OSPEK mahasiswa baru di kampusnya minggu ini, seperti itu saja tidak saya izinkan!” tambahnya.

Aku mulai menunduk, cukup lama tak mengangkat wajah. Tiba-tiba air mata membasahi kedua lututku. Kok cengeng seperti ini, ya? Batinku. Dilematis, aku harus pilih yang mana?

Ana urid, wa anta turid, wallohu yaf’alu ma yurid, ishbir ya ukhti, ishbir. Aku punya keinginan, begitupun engkau. Namun Allah, maha melaksanakan atas apa yang menjadi kehendaknya. Sabar temanku, sabar.” Begitulah ujar salah satu teman dihadapanku yang belum terlalu aku kenali.

Aku mengangguk, dan mencoba untuk tersenyum. Kuhapus perlahan sisa air mata yang masih membekas di pipi. Tuhan, keinginanku untuk mengabadikan ilmu dalam satu buku sudah lama. Ketika sedikit pintu kesempatan telah terbuka, akankah aku harus menutupnya? Tidak! ini tidak boleh.

Bagaimana mungkin aku mendapati hukuman begitu berat hanya perkara yang remeh temeh?

Bagiku memang remeh, mungkin sebagian orang lain menganggap ini tidak remeh. Karena mereka menilai sebagai wujud menghargai kebersamaan. Aku mencoba konsultasi dengan seorang dosen, akan tetapi hasilnya nihil. Ia tidak mungkin membelaku, karena posisi hari ini aku menjadi kuasa seorang pimpinan magang.

Diantara dua pilihan. Izin tidak mengikuti weekend ke pantai dengan konsekuensi ppl mengulang tahun depan, atau batal mengikuti kegiatan TPY (Temu Penulis Yogyakarta) bertemu tim redaksi Penerbit Ziyad di Solo dengan konsekuensi menunda impian?

Semua penting, bagiku. Sudah terlanjur cinta dengan komunitas menulis di Jogja ini. Setelah kupertimbangkan dengan deretan konsekuensi, hatiku lebih tergerak untuk memilih kegiatan TPY. Jika aku pergi ke pantai untuk bersenang-senang minggu ini, justru yang ada hanyalah lamunan penyesalan karena hilangnya ilmu dan pengetahuan yang akan kudapatkan. Bila aku pergi untuk TPY, tiba-tiba aku yakin, di dalamnya akan ada obat pembunuh kegalauanku tentang masalah ini.

Pagi yang cerah itu, aku bersiap pergi ke Solo bersama kakak-kakak hebat di komunitas TPY. Aku berangkat dengan kereta Prameks, menepi di tempat duduk pinggir jendela. Pandanganku menyapu luas hamparan tumbuhan hijau secara gratis, begitu indah. Kuasa Allah memang tak ternilai.

Oh Tuhan, apakah adil hukuman yang aku terima ini? Hatiku terisak. Kubuka ponsel dan mengirim pesan kepada pimpinanku.

“Pak, mohon maaf saya izin tidak mengikuti weekend minggu ini.” Kukirim begitu saja tanpa keraguan, meski aku akan mendapati kenyataan yang lebih pedih lagi. Tak lama pesan balasan darinya mendarat begitu saja.

“Baik, bebas memilih, kamu manusia merdeka, asal siap dengan konsekuensi.”

Aku membacanya sekilas, lalu menutup ponsel. Kuhamburkan kedua telapak tanganku menutup wajah. Aku ingin menangis sekencang mungkin, supaya melupa apa yang sedang terjadi. Aku tahu bagaimana wataknya, aku mencari tahu dengan bertanya kepada para karyawan yang bekerja di sana. Memang benar, tidak ada kata loby, tidak ada istilah merayu, tidak ada yang berani menentang beliau sama sekali.

Dia manusia biasa, sama seperti manusia lainnya. Dia berkuasa atas segalanya. Tapi sangat tidak logis jika menyulitkan manusia yang sama sekali tidak merugikannya. Ah, segala ungkapan jengkel, dan ucapan menghibur diri seolah saling bersahutan dalam anganku. Aku sempat curhat kepada temanku, dan dia begitu antusias memberi solusi dan menghiburku. Aku cukup bersyukur beberapa diantara temanku masih mau menghibur dan peduli.

Siang hari itu, kucoba lapangkan hati. Aku mengirim pesan balasan kepada pimpinanku.

“Apa yang harus saya lakukan untuk mengganti kegiatan weekend yang tidak saya ikuti?”

Ia hanya membacanya saja, tidak membalas. Hatiku berdebar untuk menanti jawabannya. Bahkan sepahit apa zpun jawaban yang akan diberikan, aku harus siap menerimanya.

Hingga keesokan hari, tubuhku terasa enggan untuk berangkat ke tempat magang. Ada rasa ganjal luar biasa. Pasti ini karena rasa ikhlas yang belum tertanam. Aku tak bisa terbohongi dengan perasaan sendiri. Bismillah, banyak berdoa, dan meredakan rasa jengkel dihati agar ikhlas merasuk dalam jiwa. Aku terus berdiam di kamar, menanti tenangnya jiwa dan pikiranku.

Terlihat jarum pendek jam dinding tepat menunjukkan angka 9. Aku segera bangkit dan bersiap untuk berangkat. Bismillah, aku harus siap dan lapang dada dengan semuanya. Hidup itu pilihan, dan inilah jalan hidup yang telah aku pilih.

Seperti biasa yang aku lakukan setiap hari di tempat magang. Aku tidak mood sama sekali. Aku melihat pimpinanku berlalu lalang di hadapanku, aku tak peduli. Bahkan, aku siap bila harus dimarahin dihadapan banyak orang. Tiba-tiba kepalaku berat, sakit luar biasa. Seperti tertusuk jarum. Apakah ini karena stres? Ahh ….

***

Waktu istirahat siang, aku berani memutuskan untuk pulang. Aku ingin istirahat saja, bukan karena manja. Namun, aku tak ingin melakukan apapun dengan dasar tidak ikhlas. Karena semua akan sia-sia saja. Tak peduli, setengah jam perjalanan mengendarai sepeda motor seorang diri dengan keadaan sakit kepala.

Kutenangkan hati dan diri. Merayu Allah yang maha kuasa membolak balikkan hati para hambanya. Aku tak bisa melakukan apa-apa lagi, selain pasrah kepada-Nya. Sungguh, aku rela dan pasrah atas semua hal yang telah, sedang, atau akan terjadi. Menjelang waktu maghribpun, aku masih berdoa dan berharap dengan hal yang sama. Ketika saatnya aku membuka hp pukul 8 malam, mataku terbelalak melihat pesan dari pimpinanku. Yah, kini dia membalas pesanku.

Apa yang akan terjadi ini? Apa hukumanku? Ah, aku tak peduli. Segera kubuka dan membacanya.

“3 Cerpen di luar tugas!”

Allah … apakah hanya ini hukumanku? Apakah aku tak mengulang ppl tahun depan? Ah, beliau tidak mengungkapkan itu lagi! Semoga aku tidak mendapatkan hukuman mengulang ppl tahun depan … cukup ini saja. Segera kumenghambur dan bersujud syukur. Alhamdulillah, engkau memang mudah membolak balikkan hati hamba-Mu. Thanks my god.

Oleh: Sayyidatina A.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan