“Lik, mbok daftar PNS?” pinta Ibu.

Kalimat Ibu kembali terngiang saat aku membaca postingan PNS di medsos. Seperti yang kita ketahui bahwa banyak postingan tentang seleksi CPNS. Apalagi setelah pengumuman lolos, semakin banyak saja postingan tersebut. Ada yang merasa senang. Ada juga yang merasa sedih. Kecewa. Kenapa tidak lolos? Beberapa orang menyalahkan sistem seleksi. Beberapa memaklumi model seleksi ketat seperti itu.

Ada juga yang berkata kalau mau mendapat abdi negara yang loyal dan bersih, ya harus seperti itu. Tidak ada culas. Semuanya murni dan bersih. Tidak menghalakan segala cara. Sehingga aku sangat salut kepada orang-orang yang telah berkali-kali ikut dan tidak lolos namun ikut seleksi lagi. Semangatnya perlu dicontoh. Gagal, coba lagi. Tidak lolos, ikut lagi. Begitu terus sampai usia tidak memungkinkan. Luar biasa, bukan?

Dalam sistem seleksi, gagal atau berhasil itu wajar. Wong namanya pilihan. Apalagi kuota PNS terbatas, jadi pasti ada yang masuk dan ada yang tidak. Ada yang diterima dan ada pula yang tidak. Ada yang menang dan ada yang kalah. Bagaimanapun ini semacam kompetisi, kan? Gagal itu biasa. Kalah itu mungkin. Tidak lolos, itu bisa terjadi. Yang tidak boleh terjadi adalah kita pesimis dan mengeluh serta menyalahkan orang lain. Jangan, ya?

Bicara tentang seleksi PNS, aku jadi ingat ceritaku dulu. Waktu itu aku juga ikut seleksi PNS. Cuma yang berbeda itu target atau ambisi. Sebab aku menjadi PNS bukan target pribadi. Malah tidak ada keinginan untuk menjadi PNS. Sebab aku sudah bekerja di swasta, menjadi kepala toko. Kepala toko lho. (Kenapa harus pakai penekanan? Ha..ha) Biar dianggap hebat dan luar biasa?

Ah, pokoknya tahu kan kepala toko, yang fasilitasnya banyak? Bahkan fasilitasnya lebih banyak daripada PNS. Makanya kupikir sayang saja kalau aku harus melepas menjadi kepala toko. Kemudian beralih profesi sebagai Guru PNS. Meskipun ijazah yang kupunyai ijazah guru bahasa Inggris. Ijazah yang memungkinkan dan seharusnya menjadi guru.

Namun sebelum menjadi guru, aku sudah merasakan enaknya menjadi pegawai swasta. Pegawai yang nyaman meskipun belum aman. Sebab menjadi pegawai swasta itu kadang penuh tanda tanya. Kadang di atas, bisa jadi besok di bawah. Kadang sekarang masih bekerja, besok bisa saja dipecat. Seperti yang kita ketahui banyak faktor yang memengaruhi perusahaan memperpanjang kotrak kita atau menghentikan. Siapa tahu juga perusahaan kita kolaps atau menurun pemasukkannya sehingga perlu mengurangi karyawan. Siapa tahu, kan?

Mungkin itu pula yang menjadi ganjalan di pikiran ibu. Menurut pandangan beliau, menjadi pimpinan toko belum cukup. Ibu, orangtua satu-satunya itu, menghendaki aku menjadi PNS. Biar seperti bulik (baca: tante), biar seperti tetangga dan biar seperti orang lain yang terlihat berhasil.

Mungkin pula ibu berasumsi bahwa menjadi PNS itu keren, lebih terjamin dan lebih membanggakan. Tampaknya ibu lebih bangga aku menjadi PNS meskipun pangkatku masih kecil. Tidak masalah, yang penting PNS. Oleh karena itu, beberapa kali ibu menyarankanku untuk mendaftar seleksi CPNS. Begitu seringnya, sehingga pas ada pengumuman penerimaan, aku mendaftar.

Ini untuk ibu, batinku. Lagian Nothing to loose kan? Tidak ada yang dirugikan. Yang penting aku mendaftar. Kalau aku lulus ya syukur dan kalau tidak, ya aku kembali menekuni perkerjaanku. Menjadi kepala toko. Yey. Terbayang juga kalau aku diterima, nanti aku bisa kehilangan pekerjaan sebagai kepala toko. Kepikiran saja, aku pasti rugi. Karierku di perusahan kan sudah tinggi, paling tinggi malah. Di perusahaan itu, aku telah menjadi tangan kanan owner. Ciee.

Waktu itu aku dipercayai membawahi 5 toko kamera dan cetak; 1 toko di Magelang dan 4 toko di Yogyakarta. Ya, rugi saja kalau kulepas dan “hanya” menjadi PNS. Apalagi fasilitas yang diberikan cukup menggiurkan. Gaji yang di atas UMR, bahkan gajiku lebih tinggi dari PNS. Belum lagi aku diserahi sepeda motor untuk wira wiri. Ditambah bensin gratis. Hanya sepeda motor? Tidak. Kalau aku bisa naik mobil, aku pasti diberikan mobil inventaris. Sayangnya, saat itu aku belum bisa menyetir.

Di samping itu, aku masih ingat bagaimana sulitnya aku mendapat jabatan tersebut. Melewati beberapa tahapan dan juga bersaing dengan banyak orang. Dari tes tertulis, tes psikotes dan terakhir tes wawancara. Semua kulakukan dengan sepenuh hati sampai diumumkan hanya dua orang yang lolos menjadi kepala toko. Salah satunya aku. Setelah selang setahun, aku diangkat menjadi pimpinan utama. Aku membawahi beberapa kepala toko yang bertanggung jawab terhadap toko mereka.

Mesti tugasku berat namun kupikir sepadan dengan fasilitas yang diberikan. Makanya sayang saja kalau aku harus lepaskan. Namun demi membuktikan dharma bakti kepada orangtua, aku mengikuti saja keinginan orangtua. Aku ingin membahagiakan ibu. Satu-satunya orangtuaku. Bapak meninggal waktu aku masih kecil. Masak orangtua yang tinggal satu-satunya meminta, tidak kukabulkan? Hikz.

Akhirnya, aku menuruti kehendak ibu. Berbagai persyaratan untuk mendaftar PNS sudah kukantongi. Sekarang tinggal menyerahkan dan menunggu panggilan tes. Meskipun seleksi PNS tidak serumit sekarang, namun sejak dulu PNS bersih sudah ada. Itu artinya kita hanya mengandalkan hasil tes. Bukan ada orang dalam atau membayar sekian puluh juta untuk diterima.

Saat itu santer terdengar, bahwa menjadi PNS itu harus memiliki channel atau orang dalam. Kalau tidak mempunyai -ada orang yang dititipi dengan imbalan puluhan juta- bisa tidak lolos. Bahkan ada orang di sekitarku menyiapkan sekian puluh juta untuk menjadi PNS. Termasuk menjadi tentara atau polisi. Bahkan dengar-dengar. pendaftar yang tidak terlalu pandai, membutuhkan uang sogok ratusan juta. Naudzubillah.

Untungya, aku tidak tertarik dengan hal tersebut. Apalagi aku tidak punya keduanya; orang dalam dan duit yang banyak. Lagian sayang kan, wong kita mau cari uang melalui pekerjaan kok disuruh bayar uang. Kok mau kehilangan uang? Kita mau kerja apa mau dikerjain? Ha..ha.

Tes telah kulalui. Entahlah, menurutku soalnya tidak terlalu sulit. Aku tidak mau berandai-andai, kerjakan tesnya dan lupakan. Kemudian aku kembali melakukan rutinitas. Berangkat kerja dan menjadi kepala toko. Bahkan aku melupakan kapan dan di mana pengumuman lolos PNS akan diberitahukan. Sungguh.

Aku tidak mengingat. Toh, aku sudah memiliki pekerjaan jadi santai saja. Tidak ada kerisauan kalau tidak diterima, malah aku risau kalau diterima. Aneh, ya?

“Lik, selamat ya? Kowe lolos PNS.” Suara ibu di ujung telepon.

Untuk beberapa saat, aku terdiam. Ya, Allah.

“Alhamdulillah,” jawabku. Padahal dalam hati bingung.

Aku lupa kalau hari itu, hari pengumuman PNS. Aku baru tahu setelah ibu meneleponku. Ternyata beliau membeli koran hari itu, koran tentang pengumuman PNS. Beliau mengabarkan dengan nada yang gembira. Aku masih shock. Masih belum percaya. Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana dengan pekerjaanku di toko?

Sampai rumah aku diciumi ibu. Ah, norak sekali ibuku. Ibu sangat senang sementara aku malah bimbang. Satu sisi, aku membahagiakan ibu, di sisi yang lain aku bakal kehilangan pekerjaan. Setelah pemberkasan, aku resmi menyandang profesi sebagai guru CPNS. Namun aku tetap mempertahankan pekerjaanku di toko kamera. Sebab logikaku, aku bisa menjalankan keduanya.

Lagian, aku bisa kerja di toko pada siang hari. Sementara menjadi guru di pagi hari, mulai pagi sampai pukul 2 siang. Setelah mengajar, aku langsung meluncur dan bekerja di toko. Perfect. Aku memiliki dua pekerjaan sekaligus, menjadi guru dan kepala toko. Tampaknya aku sanggup menjalani keduanya dengan baik, pikirku.

Waktu pun terus berlalu. Hampir setahun, aku menjalani dua profesi sekaligus. Namun namanya orang bekerja dan bergaul dengan banyak orang. Ada yang senang dan ada yang tidak. Dalam catatan kehadiran di toko, aku juga sering terlambat. Padahal kalau pun tepat waktu tidak banyak yang kulakukan. Namun ya itu tadi, ada saja yang tidak suka dengan posisiku. Entah siapa, aku tidak mau menduga-duga sebelum memiliki bukti.

Yang jelas, di awal bulan pemilik perusahaan memanggilku. Aku dipanggil di kantor pusat. Aku menghadap beliau. Hanya kami berdua di ruangan itu. Setelah intro yang cukup lama, pemilik perusahaan kamera terbesar di Yogyakarta itu memecatku. Beliau beralasan, aku sering terlambat. Sebagai pimpinan, seharusnya aku memberi contoh.

Baiklah aku mengakui, batinku. Aku pun mengakui dan menerima sanksi tersebut. Tidak perlulah, aku membela diri.

“Semoga kamu segera mendapatkan pekerjaan kembali.” Begitu doa ibu pimpinan itu.

“Ya, Bu. Makasih,” ucapku.

Namun dalam hati, aku pun tertawa, Bu aku sudah dapat pekerjaan. PNS lagi.

Sejak itu, aku hanya fokus dan bekerja menjadi PNS. Guru PNS tepatnya. Dan sekarang mulai mencintainya.

***

Oleh: Jack Sulistya.

Ilustrasi dari sini.

 

Facebook Comments

This is a demo store for testing purposes — no orders shall be fulfilled. Dismiss

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: