Pokoknya Nikah Dulu, yang Penting Sah Dulu

Bisa jadi tulisan ini akan menjawab kegelisahan kamu yang masih berpikir, “Ntar aja nikahnya soalnya belum punya uang.”

Kamu sudah cek belum, kalau nikah itu murah sekali. Cukup Rp 60 ribu sampai Rp 150 ribu saja. Intinya itu. Nikah di KUA, ijab qabul disaksikan keluarga, dicatat secara legal oleh negara, selesai. Soal mahar bisa dirembug sendiri ya dengan pasangannya. Lalu bagaimana soal resepsi?

Ketika saya tanyakan, “Bagaimana kalau menikah dulu, tanpa pesta atau resepsi? Apakah pihak cewek mau?”

Diluar dugaan, ternyata jawabannya kebanyakan, “Mau!”

Alasannya ritual wajibnya sudah terlaksana. Adapun soal resepsi itu bisa diadakan beberapa bulan, atau beberapa tahun lagi. Yang terpenting adalah tetangga, pengurus desa, dan sanak saudara tahu kalau kita sudah menikah. Itu pun bisa dengan acara yang sederhana saja. Acara syukuran di rumah gelar tikar dan pak ustaz untuk memimpin doa bersama. Tidak perlu harus menyewa panggung pelaminan, catering, orkes dangdut, dan ciri khas pesta pernikahan.

Malah ada teman yang bilang, “Setelah menikah cukup ganti status di fesbuk dari lajang, menjadi menikah. Lalu upload saja foto-foto ijab qabulnya, itu kan semua teman sudah langsung tahu semua.”

Jadi berpikirnya simpel saja. Tidak usah terbebani dengan biaya nikah sampai Rp 25 – 50 juta. Cukup beberapa juta saja untuk beli mahar, biaya nikah di KUA, dan biaya syukuran di rumah. Asal semua pihak ikhlas dan ridha ya. Pihak cowok sudah sepakat dengan pihak cewek, kalau yang penting menikah dulu, biar sah secara agama dan juga sah secara aturan negara.

Tetapi memang kendalanya kalau satu pihak orang tua yang keberatan. “Ini kan pernikahan sekali seumur hidupmu,” kata mereka, “ya baiknya dirayakan saja sekalian.”

Masalahnya berapa lama lagi harus menunggu dari waktu melamar sampai waktu menikahnya? Kalau harus menunggu satu tahun itu jelas kelamaan. Apalagi sampai ada yang sudah melamar (khitbah) tapi menunggunya tiga tahun! Aduuh … kalau kelamaan begitu khawatirnya hati dan pikiran bisa berubah. Hati kita ini kan mudah terombang-ambing kayak potongan busa di tengah lautan.

Kalau memang dalilnya butuh persiapan, ya sewajarnya saja. Misalnya persiapan ya maksimal satu sampai tiga bulan. Sebab semakin lama waktu menunggu, akan semakin rawan. Sebab akan banyak cobaan menjelang pernikahan. Jika tidak hati-hati, hati dan pikiran malah bisa ragu untuk menikah. Jadi kalau memang hati sudah sreg, mantap, dan sudah shalat istikharah, selanjutnya shalat hajat. Agar segala sesuatunya berjalan dengan lancar.

“Nanti kalau nikah dulu malah repot,” ada yang berpendapat begitu, “malah bikin kerjaan dua kali. Repot pas ijab qabul, repot lagi pas buat resepsinya nanti. Jadi sekalian saja repotnya.”

Iya kalau ada uang untuk resepsi, kalau tidak punya uang? Apakah kita harus dan wajib memaksa diri untuk berhutang? Apakah senang kalau menggelar pesta resepsi itu dengan uang hasil pinjaman? Jangan-jangan setelah acara digelar malah kepala pusing, karena harus memikirkan angsuran pinjaman itu. Nah!

Bukankah Allah itu Maha Memudahkan? Tetapi kenapa kita sendiri yang sibuk merepotkan diri sendiri? Maka terimalah diri kita apa adanya. Tidak usah gengsi. Kalau memang dana untuk menggelar acara resepsi tidak ada, ya lebih baik ijab qabul saja dan syukuran di rumah kumpul bersama saudara terdekat dan tetangga.

Insyaallah, setelah ijab qabul hubungan sudah halal, jadi hati tenteram, pikiran tenang, hidup semakin bersemangat menjemput rezeki.

Jadi mudahkanlah, jangan dipersulit. Rayakanlah cinta dengan kehalalan, bukan dengan pesta. Sambut kebahagiaan dengan kesederhanaan, bukan kemewahan. Nikmati hidup dengan tampil apa adanya, bukan risau tersebab jubah gengsi dan kesombongan.  

Oleh: Dwi Suwiknyo. 

Tinggalkan Balasan