Rahasia Agar Rezeki Semakin Bertambah dan Berkah

Jika saat ini kita dalam keadaan sehat, maka bersyukurlah atas kesehatan itu.

Jika ada yang sedang sakit, tetap bersabarlah. Mungkin dengan itu Allah mengampuni dosa kita. Tidak ada seorang pun yang tahu apa yang akan terjadi esok hari.

Bahkan tidak ada yang tahu apa yang terjadi satu menit ke depan. Hari esok adalah gaib. Nabi Muhammad Saw bersabda:

“Lima kunci perkara ghaib, tidak ada yang mengetahuinya melainkan Allah yaitu:

(1) Tidak ada yang mengetahui apa yang ada di dalam rahim melainkan Allah,

(2) Tidak ada yang mengetahui apa yang terjadi esok hari melainkan Allah,

(3) Tidak ada yang mengetahui kapan hujan turun melainkan Allah,

(4) Tidak ada yang mengetahui di negeri mana dia akan mati melainkan Allah,

(5) Tidak ada yang mengetahui kapan Kiamat terjadi melainkan Allah.” (H.R. Bukhari).

Di antara kita tidak ada yang mampu menjamin besok masih bisa bernapas. Semua adalah rahasia Allah. Manusia tidak memiliki daya apa pun. Jiwa raga, harta benda, kekayaan, jabatan tidak ada yang kekal.

Semua milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Sebelum semua terlambat, marilah syukuri semua nikmat yang masih kita rasakan.

Walaupun apa yang di depan kita bersifat gaib, kita tidak perlu kawatir dan bersusah hati. Allah telah memberi jaminan kepada kita seperti firman-Nya berikut ini:

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengumumkan, ‘Jika kamu bersyukur atas karuniaku, pasti Aku tambah untukmu, jika kamu berlaku ingkar, sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.’” (Q.S. Ibrahim [14]: 7)

Kita tidak perlu takut akan rezeki kita, karena dengan bersyukur Allah akan menambahnya.

Oleh karena itu, syukuri setiap nikmat yang ada. Apa pun itu semua datang dari Allah.

Jika dikaruniai kepandaian, kecerdasan, bisa menghasilkan sesuatu yang besar, itu semua bukan karena kita hebat, tapi Allah yang membuat kita mampu melakukannya.

Bersyukur bukan berarti hanya mengucapkan secara lisan. Kemudian sesuka hati bertindak.

Bersyukur yaitu menggunakan nikmat Allah dengan sebaik-baiknya untuk kebaikan. Misalnya, diberi harta yang melimpah.

Setelah bersyukur, kemudian menggunakan harta tersebut sesuka hatinya. Jika demikian, maka itu sesungguhnya bukan bersyukur. Dalam sebuah hadits Nabi Muhammad pernah mengingatkan kepada salah seorang sahabat Muaz bin Jabal.

Rasulullah berpesan: “Hai Muaz demi Allah sesungguhnya aku amat menyayangimu.”

Rasulullah melanjutkan sabdanya: “Wahai Muaz aku berpesan jangan samapai kamu tinggalkan pada setiap selesai shalat berdoa:

“Ya Allah, tolonglah aku agar selalu ingat kepada-Mu, mensyukuri nikmat-Mu, dan baik dalam beribadah kepada-Mu.”

Dalam Al-Qur’an juga dikisahkan tentang doa Nabi Sulaiman kepada Allah yang terdapat dalam surah An Naml berikut ini:

“Wahai Tuhanku, bimbinglah aku untuk selalu bersyukur atas kenikmatan yang Engkau berikan kepadaku, juga kepada kedua orangtuaku dan agar aku melakukan amal yang Engkau ridhai, dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu bersama hamba-hamba-Mu yang shalih.” (Q.S. An-Naml [27]: 19).

Kesadaran seseorang untuk selalu bersyukur juga merupakan rezeki Allah.

Karena tidak semua orang mendapatkan nikmat itu. Contohnya yaitu raja mesir Firaun. Setelah dilimpahi kekayaan dan tahta ia justru kufur nikmat.

Berbeda dengan Nabi Sulaiman. Beliau dianugrahkan kekayaan dan kekuasaan namun tetap berdoa agar diingatkan untuk bersyukur.

Seseorang yang hatinya senantiasa bersyukur insya Allah termasuk orang yang beriman. Karena disadarkan Allah untuk bersyukur.

Sesungguhnya hanya Allah yang mampu menggerakkan hati seseorang. Dan semoga kita termasuk golongan orang yang beriman.

Oleh: Rindang Nuri.

Tinggalkan Balasan